Karnaval Poster Film Jiplakan



kayaknya bukan negara Indonesia kalo nggak ngejiplak. mulai dari lagu di album pertama D'Masiv, sinetron  Buku Harian Nayla, girlband-boyband abal-abal itu, eh, sekarang poster film. astagfirullah, gak kreatif banget sih kalian?!?! *ngemut kursi*

so, dengan niat mulia gue kasih daftar POSTER JIPLAKAN film Indonesia yang gue rangkum dari beberapa sumber plus ada beberapa temuan jiplakan baru yang nggak ada di site blog lain. Dan... tertawalah sampe mati!


1. BELUM CUKUP UMUR vs THE TIME TRAVELER'S WIFE


2. PRIDE & PREJUDICE vs SELAMANYA


3.THE PRESTIGE vs ROH



4. DITTO vs HANYA UNTUKMU



5. THE HEIRLOOM vs TALI POCONG PERAWAN


6. THE WIG vs SETAN BUDEG



7. FREEDY VS JASON vs POCONG VS KUNTILANAK


8. CLOSER vs RASA


9. LOST SEASON 2 vs PULAU HANTU 2


10. LOVE ACTUALLY vs LOVE


11. THE SKELETON KEY vs KALA



12. HOT CHICK vs NAMAKU DICK


13. CITY OF ANGELS vs CINTA TIA MARIA



14. EMPLOYEE OF THE MONTH vs BESTFRIEND?


15. SWADES vs BANYU BIRU


16. FANAA vs AYAT-AYAT CINTA



17. TRUE BLOOD vs PAKU KUNTILANAK


18. KILLING ME SOFTLY vs PINTU TERLARANG



19. SCREAM vs TAKUT


20. SHROOMS vs MATI SURI


21. COUPLES RETREAT vs AIR TERJUN PENGANTIN


22. MARRYING THE MAFIA vs GET MARRIED 2



23. THE SLEEPING DICTIONARY vs LOVE IS CINTA


24. HORORFEST 2007 vs HANTU PUNCAK DATANG BULAN



25. [REC] vs TE[REKAM]



26. WHERE THE TRUTH LIES vs RAYUAN ARWAH PENASARAN



27. DRIVE ANGRY vs DEDEMIT GUNUNG KIDUL


28. LOVE & OTHER DRUGS vs PELUKAN HANTU JANDA GERONDONG


29. AZUL OSCURO CASI NEGRO vs PUTIH ABU-ABU DAN SEPATU KETS


30. JOHN TUCKER MUST DIE vs ARISAN BRONDONG


31. A WALK TO REMEMBER vs LOVE STORY


32. KITES vs HEART 2 HEART


33. SKANDAL vs ZEBRA LOUNGE


34. SUSTER KERAMAS 2 vs BLOODY REUNION


35. PUPUS vs SAD MOVIE


36.POCONG MANDI GOYANG PINGGUL vs MUOI

Masih Bukan Cinta Biasa [2011]


“Voni Vino, nggak mau susah banget sih mamamu kasih nama?!” – Tommy

Kisah berlangsung satu tahun pasca kejadian dalam predesornya. Kini Tommy (Ferdy Taher) berubah menjadi rocker insyaf. Dia bukan lagi vokalis The Boxis karena Lintang (Wulan Guritno), sang istri, melarang Tommy nge-band lagi. Alhasil, kerjaan Tommy tiap hari hanya menjadi penjaga rumah selagi istri dan anak gadisnya yang bernama Niki (Olivia Jensen) sibuk dengan urusan masing-masing di kantor dan sekolah.

Pada suatu hari ketenangan dalam rumah tangga Tommy berubah 180 derajat ketika datang sosok pemuda dengan style berandal bernama Vino (Axel Andaviar) yang mengaku sebagai anak dari Tommy. Benarkah dia anak Tommy? Kalau memang benar, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Lintang dan Niki menerima Vino jika memang dia anak kandung dari sosok rocker tobat tersebut?

Masih Bukan Cinta Biasa memang masih menawarkan hal yang tak jauh beda dari prekuelnya. Masih memiliki kisah yang serupa. Serta masih dibintangi oleh pemain yang sama pula. Bahkan, sampai ke jajaran bintang tamunya! Lalu, jika memang seperti ini, apa yang sebenarnya ingin ditawarkan dari film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh sineas bernama Benni Setiawan ini? Lupakan premis yang sebelas-dua belas dengan Bukan Cinta Biasa. Toh, film produksi ketiga Wanna B Pictures ini tetap layak menjadi hiburan.

Meski 60% durasi diisi dengan adegan serupa tapi tak sama, Masih Bukan Cinta Biasa tetap memiliki beberapa poin yang seru untuk dilihat. Pertama poin drama yang lumayan menyentuh. Iya, mata gue berkaca-kaca melihat suasana sentimentil yang berhasil diciptakan oleh Benni Setiawan dengan baik. Apalagi tone film yang dibuat sedemikian soft. Kedua, poin komedinya yang lumayan bikin tertawa meski nggak sampe ngakak kayang ke Afrika.

Malangnya, meski sudah agak gue puji-puji, film ini masih juga memiliki cacat yang lumayan ganggu bagi gue. Pertama soal perkembangan antar karakter yang stuck di jalan. Bahkan demi ambisi membuat kisah semakin menarik dan beda, Benni menenggelamkan karakter sentral Niki yang jadi penguasa pada film pertama. Diganti dengan sosok annoying dari Vino dengan progres karakter flat yang terkadang nggak menarik untuk diikuti. Kedua soal baju seragam Niki. Hell, terserah kalian mau bilang gue kurang kerjaan atau apa. Tapi hal ini sedikit banyak mengganggu mata gue. Bukankah pada Bukan Cinta Biasa seragam sekolahnya berwarna merah marun? Lalu kenapa sekarang jadi putih abu-abu? Pindah sekolah? Kenapa nggak pake kostum lama aja sih demi menyempurnakan kontinuitas? Dan kenapa nggak dijelaskan kalo memang pindah? Ketiga, unsur tearjerker yang ditawarkan terbilang over the top. Nggak perlu kaleee dilama-lamain. yang ada jadi aneh juga bawaannya! Keempat, posternya yang SHIIIT, itu siapa yang bikin? Ngeditnya ngasal banget. Gue yakin banget itu bukan kesengajaan! Coba perhatikan lengan Ferdy Taher yang terjepit sosok Olivia dan Axel. Dan silahkan benturkan kepala anda ke tembok!

Anyway, dibalik kekurangan tersebut, gue masih menikmati film ini kok ketimbang predesornya. Gue enjoy lihatnya, duduk santai dikursi sambil beberapa kali mengernyitkan dahi sedikit dan sesekali menahan tangis. Lebih untung lagi gue nggak mengeluarkan handphone dari tas untuk live tweet di twitter seperti biasa. Bukan, bukan karena gue begitu terbius akan kisahnya. Tapi sinyal SOS di dalam studio 4 membuat hidup kedua gue itu nggak berguna sesaat -___-

Rating 5.9/10

Tarung: City of Darkness [2011]


ADVISORY WARNING: REVIEW INI TIDAK BEGITU PENTING. PELIS, JANGAN DIBACA! 

Info mengenai film dari sutradara kebanggaan kita satu ini sudah tercium lama sekali dengan judul awal Fight: City Of Darkness. Sebelum memakai nama asli dia-yang-tak-boleh-disebut, sutradara 'serba bisa' dengan seribu nama ini mencantumkan alter ego Lee Ngan Cheong yang entah dicomotnya darimana (asumsi gue sih setelah puasa boker 2 hari 2 malam di gunung Hua kuo) pada poster teasernya dibawah produksi Videocam Film. Tapi menjelang peluncuran resmi, apalagi dengan dilepasnya trailer yang sangat bergaya dia-yang-tak-boleh-disebut, film ini akhirnya berganti judul menjadi Tarung: City of Darkness dibawah rumah produksi yang namanya ikutan berganti pula menjadi Jelita Alip Film.Wah, dunia yang aneh -____-

Dibilang terobosan untuk genre sebenarnya tidak juga. Dia-yang-tak-boleh-disebut pernah bermain-main dengan ranah action dan kriminal pada film drama galau yang muncul dan menyampah lebih dulu di jaringan 21 meski porsinya hanya sekedar tempelan. Makanya, begitu melihat trailer Tarung yang tersebar lebih dahulu di youtube, gue sudah antipati. Sangat bercita rasa dia-yang-tak-boleh-disebut sekali. Plus kebiasaan trailer dari film hasil kreasinya yang suka membunuh isi filmnya sendiri. Yup, gimana nggak membunuh kalau dengan melihat trailernya saja kita sudah tau bagaimana nasib film ini.

Sudah, lupakan soal cerita karena sama sekali nggak worth it. Dimana nantinya hanya akan membuat kalian mengerutkan jidat dan nggak bisa kembali rata sampai pulang ke rumah, bahkan kalau mau, hingga berhari-hari kemudian. Seperti biasa lah, naskah yang ditawarkan sangat lemah bin maksa. Meski jujur saja at the first time memiliki premis yang cukup menarik kalau saja jatuh ditangan sutradara dan penulis skenario yang tepat. Bukannya jatuh di sineas yang lagi-lagi bermental sakit jiwa seperti ini. Lalu, apakah Tarung layak untuk disimak?

TIDAK! ABSOLUTETY NO! Kecuali kalian ini membuang waktu dan uang lalu mereview seperti gue. Yah, setidaknya gue masih mempunyai niat lain, disamping hobi rare ini, yaitu menyadarkan kalian dari sialnya menonton sampah model beginian. Memang apa sih yang membuat film ini sebegitu buruknya dimata gue meski dia-yang-tak-boleh-disebut sudah mencoba alternatif berebeda? Apa? Apa?

1. Akting kancrut dari semua pemain! Gimana nggak kancrut, kalo hampir semua aktor cowok yang pernah bermain di film-film dia-yang-tak-boleh-disebut minus Zaky Zimah, Andhika Pratama, Fero Walandouw dan Dallas Pratama pada reuni menunjukkan akting ternajis, terlebay dan kawan-kawan. Momen terburuk adalah ketika mendapati Volland Humangio berada ditengah-tengah mereka. Hampir dikatakan Volland tidak sedang berakting. Lalu ngapain? Bokerkah? Bukan, tentu aja untuk jadi bahan sempalan supaya cerita jadi panjang. Toh tanpa kemunculannya, sebenarnya film ini masih tetap bisa berjalan.

2. Akting kancrut Cinta Dewi yang awalnya ditujukan sebagai pemanis namun tidak manis sama sekali Sayang, aktingnya gitu-gitu melulu dan dia tak mau berusaha melakukan improvisasi selain improv untuk lebih berani pamer badan yang memang,  hell, lumayan seksi. Cinta Laura eh Cinta Dewi kelihatan beneran lagi akting ketika sedang menari diatas meja pada opening film. Selebihnya, forget it. Apalagi begitu mengetahui bulu keteknya belum dicukur dengan begitu sempurna. Oh shit, mau nyaingin Eva Arnaz? Langakahi mayat KKD dulu (?).

3. Kebodohan karakterisasi yang dibuat tanpa latar belakang dan seperti biasa, hanya untuk mempermudah dia-yang-tak-boleh-disebut mengeksplorasi jalan cerita hingga menjadi makin tidak-tidak

4. Kebodohan jalan cerita. Coba cek logika ketika tokoh Galang yang diperankan oleh ubur-ubur menolong adik tololnya dengan janji akan melunasi hutang dalam 3 hari. Tapi selama 3 hari kok dia cuma jalan-jalan, lontang lantung nggak jelas? Tolong KKD, buruan cium gue daripada terus lo siksa gue kayak gini *eh, salah cantumin nama woy!*

5. Editing yang berantakan dari Tiara Puspa Rani. Apalagi pace film yang lumayan cepat seperti ini membuat TPR sepertinya sangat kewalahan. Makanya jangan mau kerja sama KKD *salah sebut lagi woy!*

6. Banyak kebiasaan buruk sang sutradara yang akhirnya malah menjadi trade mark. Mari kita cek.

A. Hujan? Ada!
B. Clubbing? Jelas!
C. Cewek buka-bukaan? Tentu!
D. Gas elpiji 3kg? Hell of course!
E.  Gelap-gelapan? Yes iyeslah, judulnya aja uda mengandung kata Darkness!
F.  Adegan tengok kanan kiri sebelum berjalan? Tetep!
G. Darah? Gak usah ditanya!
F. Kereta api? WOW, GUE SYOK KENAPA BANYAK SEKALI FOOTAGE KERETA API NONGOL TANPA TUJUAN YANG JELAS DI FILM INI! APAA MAKSUDNYA?!?!

Kurang apalagi ya? Sepertinya kurang efek angin-anginan layaknya film india doang deh. Tumben dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya lupa masukin.

7. ....

Kayaknya udahan deh yah, gue kan nggak lagi mau bikin skripsi!

Baiklah, masih yakin untuk menonton? Keputusan ada ditangah kalian. Akhir kata, tontonlah film Indoensia bermutu. Sekian dan sampai jumpa di review film dia-yang-tak-boleh-disebut  bergenre selain horor selanjutnya.

FAKTA TIDAK PENTING: Itu tolong ya, komentar-komentar di poster bisa dibuktiin nggak? Terutama yang terakhir. Mungkin maksudnya "KICKASS NAYATO" kalee, bukan "KICKASS ACTION!"

Rating ?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...