Showing posts with label Ngomongin Poster. Show all posts
Showing posts with label Ngomongin Poster. Show all posts

Hot: Yang Jiplak... Yang Jiplak...


Rasanya udah sering ya Indonesia melakukan plagiat or jiplak or something like that. Dari mulai lagu, sinetron, poster film layar lebar sampai isi filmnya sendiri. What the hell's going on? I don't know...

Kini menyusul film-film kacrut lain, yang dijiplak malah semakin tidak bermutu, bahkan hancur, muncul sebuah plagiat baru dari blockbuster perfilman Korea Selatan produksi 2003 yang akan rilis akhir Desember di seluruh Indonesia berjudul My Blackberry Girlfriend. Yup, dari judul emang sudah sedikit mengingatkan dengan My Sassy Girl yang dibintangi oleh Cha Tae Hyun dan Jun Ji Hyun itu. Coba tanya deh, siapa sih yang nggak kenal film ini? Hampir semua pecinta film drama romantis pasti udah nonton dong atau paling nggak, pernah dengar hypenya.

Awalnya sih gue nggak begitu notice sama proyek adaptasi Rapi Films dari novel besutan Agnes Davonar ini. In my opinion, karya-karya Agnes terlalu corny dan lebay untuk ukuran sebuah novel. Jualan dia emang sesuatu yang lagi hitz. Nggak heran kalo banyak produser tertarik mengadaptasi setiap karya dia. Dari mulai kisah Gaby dan Lagunya, Surat Kecil Untuk Tuhan sampai yang baru aja rilis pertengahan bulan November; Ayah, Mengapa Aku Berbeda? hingga yang lagi gue omongin. Dan dua adaptasi novelnya lagi yang akan edar tahun depan di bawah bendera MD Pictures berjudul My Last Love dan My Idiot Brother.

Tapi setelah ngelihat trailer My Blackberry Girlfriend gue langsung syok dan pengen bentur-benturin jidat di tembok dengan bersahaja. Kok mirip? Nah, gue langsung aja ubek-ubek google dan nggak lupa buka website resmi Agnes Davonar sendiri. Dan dilihat dari sinposis serta pernak-perniknya memang terlihat amat mirip. Oh come on! Kalau nggak percaya coba compare dua trailer film yang lagi gue omongin dibawah ini!



Gue juga nemuin dua film hasil plagiat yang masuk daftar rilis tahun 2011. Film pertama adalah Skandal yang 80% mirip dengan box office India berjudul Murder besutan Anurag Basu sampai 13B yang dijiplak dengan trash quality oleh The King of Kancut; KKD, menjadi Pelukan Janda Hantu Gerondong. Mirip gimana-gimananya nggak bisa gue jelasin dengan detail sih secara gue agak gaptek dalam soal membuat skrinsut. Kalo curious boleh deh lihat filmnya via donlod atau youtube.



Terakhir, gimana yah tanggapan kalian dengan poster film-film ini? Aduh gue pengen ngakak nih...


The Perfect House [2011]


“Anda tidak kenal dengan cucu saya Nak Julie...” ~ Madam Rita

The Perfect House adalah film keempat arahan Affandi Abdul Rahman, salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Indonesia. Memulai debut lewat Pencarian Terakhir yang cukup dapat beragam tanggapan positif. Setelah dua tahun berturut membidani dwilogi komedi romantis pasca debut, ditahun ini dia kembali mengangkat sebuah film dengan genre jarang terjamah yang melambungkan namanya di ranah scene lokal: thriller berbumbu psikologis.

Rencana cuti satu bulan yang telah lama diidamkan terpaksa Julie (Cathy Sharon) tunda lantaran harus menggantikan Lulu, private tutor satu agensi, yang kabur ketika mengajar di tempat Madam Rita (Bella Esperence). Awalnya Julie memang menolak, bahkan tidak berminat. Tapi setelah merasa memiliki kenangan silam yang sama dengan Januar (Endy Arfian), cucu Madam Rita, calon murid barunya, diapun mengiyakan tawaran dari atasannya tersebut. Tak masalah, meski jarak yang cukup jauh mengharuskan Julie untuk ikut tinggal di rumah besar bergaya Belanda milik kliennya itu.

Di hari pertama bekerja, sudah terlalu banyak perintah yang harus Julie patuhi. Termasuk mengiyakan peraturan yang tak masuk diakal. Makin lama tinggal, Julie merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan pemilik rumah. Terutama perlakuan Madam Rita kepada sang cucu yang terlampau protektif tanpa dibarengi dengan tendensi yang jelas. Dan hal itu membuat Julie tak mau tinggal diam. Pelan-pelan dia berusaha menguak misteri yang tercecer di sekitarnya. Semakin berhasil menguak satu persatu misteri, semakin dekat saja kematian menghampiri Julie. Sanggupkah Julie bertahan?

Actually, untuk ukuran pecinta film sejati, apa yang ditawarkan The Perfect House bukanlah sesuatu yang baru. Plot seperti ini sudah sering kita temui di film-film luar. Tapi untuk Indonesia, bolehlah kita sedikit memberi applause. Daripada disuguhi sajian membosankan dan repetitif horor kacrut yang tetep saja tak pernah kehilangan penonton, film yang sempat jadi official selection di Puchon ini mampu memberi nuansa baru yang cukup mengembirakan dengan tampilan dan cita rasa kelas internasional.

Sayangnya, The Perfect House tak sesempurna judulnya. Memang, memang bukan film yang sempurna yang gue cari. Hadir dengan kualitas diatas rata-rata saja sudah lebih dari cukup. Tapi tak dapat dipungkiri kalau ketidak sempurnaan itu cukup mengganggu kenikmatan menonton.

Seperti biasa, naskah cerita jadi kendala utama. Diberbagai sisi, skenario olahan Affandi Abdul Rahman dan Alim Sudio terlihat kurang matang. Sehingga banyak menimbulkan plot hole yang cukup mengganggu. Bahkan twist yang seharusnya terjaga diakhir harus rela kita ketahui dimenit-menit awal. Belum lagi semakin mendekati penutup, semakin kita dibuat bertanya-tanya tentang tujuan adegan demi adegan yang tak terjawab hingga film berakhir. Salah jika ingin menjadi sajian cerdas disaat penonton kita maunya nonton yang horor ringan. Minimal diberikan konklusi akhirlah. Itu saja lebih dari cukup. Hingga kekecewaan pun bisa sedikit terobati.

Beruntung gue nonton film ini bersama sutradara dan Vera lasut selaku produser. Jadi gue sempet mencetuskan beberapa pertanyaan yang dengan berani ditanyakan teman gue ketika dibuka sesi Q and A. Dan gue agak kaget dengan reaksi mereka yang terlihat kebingungan menjawab. Kemungkinan, masih kemungkinan, akan ada sekuel (atau prekuel) yang nantinya bisa menjadi jembatan rasa tidak puas penonton atas ceritanya. Itupun jika The Perfect House sukses. Tapi melihat kenyataan jumlah penonton sekarang, rasanya impossible harapan untuk mewujudkan hal itu meski segala kemungkinan selalu ada.

Terlepas dari hal diatas, The Perfect House tetaplah film bermutu dengan tampilan diatas rata-rata film nasional. Affandi dan Faozan Rizal, selaku sinematografer, mampu membuat gue nyaman dengan gambaran creepy yang disajikan lewat tone yang lembut. Didukung musik besutan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang mampu memacu adrenalin dibeberapa partnya. Sedang untuk urusan akting, lumayan lah. Kerja sama Cathy dan Bella pasca Hantu Bangku Kosong sedikit mengalami peningkatan yang signifikan. Terakhir, salut untuk spesial efek di ending cerita yang gokil banget. Bahkan sempet menutup mata saking ga tega ngelihat apa yang disajikan Affandi dengan begitu awesome dibarengi tone cerah ceria bermandikan darah. Sick!

IMO: Bisa gue bilang kalo poster The Perfect House adalah salah satu poster thriller Indonesia terkreatif yang pernah gue lihat. Coba perhatikan bentuk judulnya yang meski dibolak-balik akan tetap terbaca sama.

Pocong Minta Kawin [2011]


Guess what, siapa hantu paling eksis di Indonesia raya tercinta? Jawabannya nggak lain dan nggak bukan adalah POCONG. Sebagai setan yang memiliki ciri khas tersendiri dan hanya muncul di Indonesia saja, hantu berbungkus kain kafan ini sudah membuat sineas kita yang pada dasarnya memang suka kekeringan ide, semakin annoying dalam hal mengekplorasi genre horor dengan pocong sebagai pionir untuk menarik penonton ke bioskop.

Pocong Minta Kawin adalah film horor kesekian yang memakai judul pocong. Film horor kesekian yang membuat imej pocong sebagai hantu menyeramkan di Indonesia rusak. Film horor kesekian yang akhirnya harus masuk ke tempat sampah seperti film berjudul pocong-pocong sebelumnya. Film horor kesekian yang... what the F?

Ningsih (Chika Waode) adalah cewek yang mesti galau seumur hidup karena bergigi maju lima meter. Gara-gara itu pula calon suaminya membatalkan acara pernikahan mereka. Ketika sedang asyik curhat nasib diatap rumah susun, Ningsih dikagetkan oleh seruan Yuli Gaga (Julia Perez) yang malah membuatnya terjatuh dari atap dan meninggal. Nggak lama kemudian, empat mahasiswa kere sebut saja cowok A, B, C dan D, mencari kos murah dan menemukan bahwa kamar bekas Ningsih disewakan dengan harga meriah selangit. Dari sinilah teror Ningsih, pocong bergigi maju lima meter, di mulai.

Plotnya simpel. Plotnya basi. Dan coba tebak siapa penulis naskahnya. Oh my god, yes, Armantono. Tapi gue nggak yakin kalo ini hasil pikiran Armantono. Gue yakin banget kalo ini bualannya Harry Dagoe Suharyadi (HSD) aja biar filmnya bisa sedikit terangkat. Mengingat track record Armantono sangat jarang menulis skrip untuk genre horor. Tapi gatau lagi sih kalau dia maksa-maksa nulis horor sehingga jadinya ancur kayak gini. Buktinya PMK adalah kali kedua HSD dan Armantono duet setelah sampah lainnya bertajuk Di Kejar Setan.

Film ini disutradarai oleh Chiska Doppert. Merupakan film ketiga Jeng Chis setelah Ada Apa Dengan Pocong? Dan Tumbal Jailangkung. Lupakan judul Missing karena Jeng Chis memberikan konfirmasi  bahwa di film itu dia hanya bertindak sebagai asisten sutradara. Dan entah kenapa Nayato memakai namanya. Jadi cukup jelas, Missing adalah bagian dari sampah om Naya.

Meski ada kesamaan di bebeberapa part yang bisa dimaklumi secara dia udah bertahun-tahun kerja bareng sang guru, semakin kesini jeng Chis jelas memiliki teknik yang berbeda. Pembeda Nayato dan jeng Chis adalah dari standar eksplorasi dan tidak terlalu suka memakai pakem flashback yang menjadi kedigdayaan sang guru tersebut. Di satu sisi itu horor menjadi mudah dinikmati. Tapi disisi lain horor itu jadi kehilangan taji; yaitu rasa curiousity atas apa yang terjadi.

Dan hasilnya, Pocong Minta Kawin telah gagal menjadi horor ataupun horor komedi. Komedinya super garing level biadap. Sedang horornya sama sekali tidak menyeramkan. Lalu apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh proyek aji mumpung HDS ini jika pada akhirnya nyampah lagi-nyampah lagi? Apa dada Julia Perez? Apa gigi maju yang dipake Chika Waode? Atau akting kancrut ensemble castnya? Om my evil, please, mending HSD balik aja bikin film-film niat festival mengingat dia ga ada bakat eksis di genre ginian. Kayaknya HSD kurang belajar dari Di Kejar Setan. Atau entahlah... hanya Tuhan dan HSD yang tau. Seperti gue yang pengen boker di dalam bioskop gara-gara pas masuk studio liat poster resmi PMK dipajang dengan elegan. Terlebih lagi dengan tagline “gagal cuci centong, jadi pocong deh” yang sumpah najis abis. Bikin gue pengen sumpelin mulut HSD pake kancut mbak-mbak penjaga tiket. Ups..!

Perempuan² Liar [2011]


Tampaknya 2011 menjadi tahun sial bagi rumah produksi MVP Pictures. Gimana nggak sial kalo film-film yang mereka edarkan tahun ini hampir semuanya flop dipasaran. Lalu ada Perempuan² Liar yang sepertinya akan bernasib sama seperti Cewek Gokil, Cowok Bikin Pusing dan Mudik yang rilis terlebih dahulu.

Dom (Tora Sudiro) dan Mino (Dallas Pratama) adalah kakak beradik yang bekerja sebagai debt collector di Jakarta. Saat asyik melakukan ‘pesta perempuan’ di sebuah hotel, mereka berdua dipertemukan dengan Mey (Maeeva Amin), cewek yang sedang galau ditengah prosesi pernikahannya dengan Rocky (Gary Iskak), pria pilihan sang ayah yang tak dia cintai. Seolah mendapat kesempatan, bersama Cindy (Rina Diana), sang adik, Mey pun memaksa Dom dan Mino untuk membawa mereka kabur. Petualangan gila dan liar pun dimulai setelahnya.

Premis yang terlihat menarik? Jawabannya adalah tidak setelah melihat hasil keseluruhan film yang dibidani oleh Rako Prijanto ini. Lagi dan lagi. Sebuah proyek kekeringan ide. Proyek tambal sulam yang entah dengan tujuan apa dibuat kalo hasilnya nggak begitu menarik—parahnya lagi, almost nyampah. Lebih parah lagi, merupakan hasil mix and match dari beberapa film luar seperti The Hangover, American Pie 2, The Sweetest Thing, A Life Less Ordinary dan salah satu film korea yang judulnya nggak sempet gue inget.

Naskahnya ditulis oleh Raditya Mangunsong dan merupakan duet ketiganya dengan Rako Prijanto setelah menjiplak mentah-mentah komedi korea berjudul A Tale of Legendary Libido yang kemudian bertransformasi menjadi Penganten Sunat. Sedang Perempuan² Liar menjadi film ke 13 sang sutradara. Setelah debut lewat Ungu Violet yang ceritanya juga hasil jiplak dari music video solois wanita asal negeri ginseng bernama Kiss. Oh my evil, parah sekali fakta di balik filmografi orang-orang ini!

Oke, kalo dari sisi cerita udah super duper nggak beres, hal apalagi yang setidaknya bisa menarik penonton untuk berbondong menyaksikan film ini? Sebenernya gue ragu sih bilang, tapi mungkin hanya adegan buka-bukaan ga niat antara Maeeva Amin dan Rina Diana dengan muka standard itu saja yang bisa menarik penonton terutama laki-laki. Bahkan kehadiran Tora dan Dallas sangat tidak menarik minat wanita. Satu karena akting mereka kancrut. Dua, karena mereka sudah bosan dengan muka yang itu-itu aja. Selebihnya, mending uangnya ditabung untuk keperluan yang lebih worth it. Semisal, beliin gue pulsa gitu. Pasti pahala kalian nambah deh hehehe…

Terakhir, coba bandingkan poster film ini dengan poster film komedi romantis fenomenal asal Thailand: Hello Stranger!




Simfoni Luar Biasa [2011]


"And I'm flying into the night. Flying into the sky. And go higher and higher again...." - Jayden

Sebagian orang mungkin akan mengira jika karya terbaru dari Awi Suryadi ini merupakan kloningan film Perancis berjudul Les Choristes yang rilis pada tahun 2004 dan memakai judul The Chorus untuk peredaran internasional. Nyatanya, Simfoni Luar Biasa memiliki jalan cerita yang berbeda. Kalaupun nantinya ada kesamaan sedikit, wajar deh ya.

Jayden (Christian Bautista) adalah seorang musisi berbakat yang karirnya stuck di tempat. Masalahpun datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dimulai dari penjualan album yang mengenaskan, perform panggung yang dilabeli dengan kata “garing”, hingga diusir paksa dari apartemen lantaran nggak mampu bayar uang sewa. Mengikuti saran dari sang tante yang bernama Helena (Maribeth), Jayden pun meninggalkan Manila, tempat dimana dia tumbuh besar. Jayden memilih untuk tinggal di Jakarta bersama Marlina (Ira Wibowo), sosok ibu yang selama bertahun-tahun meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas.

Di Jakarta, Jayden memulai hidup dari nol. Awalnya memang tidak mudah. Namun sifat welcome dari keluarga baru rupanya mampu mempermudah proses adaptasi tersebut. Termasuk dalam mengambil keputusan menjadi guru musik di sekolah luar biasa yang dibina oleh yayasan Ibunya. Mampukah Jayden membawa perubahan dalam hidupnya? Dan tentu saja perubahan bagi anak-anak cacat yang diasuhnya?

Actually, film ini menawarkan premis yang cukup menarik. Apalagi ada nama Christian Bautista yang jelas jadi selling point utama. Tapi rupaya Awi Suryadi, tidak mampu mengkoordinir apa yang ada dengan baik. Sehingga film yang diharapkan bisa menginspirasi banyak orang, malah cenderung datar dan mudah dilupakan.

Pelantun tembang The Way You Look At Me ini sebenarnya mampu berakting dengan baik. Tapi nyatanya, dari awal film dimulai hingga kredit akhir, gue sama sekali nggak tau apa yang dilakuin sama Christian Bautista selain plonga-plongo tanpa ekspresi dan emosi. Padahal jajaran pendukung sudah bersusah payah membangun karakter dengan sedemikian kuat. Sebut saja Ira Maya Sopha, Sophie Navita, Gista Putri sampai Verdi Solaiman. Tapi apa daya, nggak ada jalinan chemistry yang terbangun dengan baik gegara pemenang Philippine Idol tersebut. Membuat pemain lain sepertinya sudah membuang-buang bakat mereka. Sori bagi yang ngefans sama Christian Bautista. Gue nggak sentimen kok sama dia. Tapi aktingnya emang biasaaaa banget!

Hal ini diperparah dengan naskah olahan Awi Suryadi dan Maggie Tiojakin yang penuh lubang disana-sini. Dan mereka tampak tidak terlalu capek-capek untuk menambal bagian yang bolong itu. Hal ini yang akhirnya membuat Simfoni Luar Biasa nggak bisa tampil dengan sempurna. Banyak hal yang begitu mengganggu jika kalian mau mencermati. Seperti bagaimana proses anak-anak cacat ini bisa seajaib itu menghafalkan lagu berbahasa inggris. Lalu bagaimana pula seorang labil seperti Jayden bisa membuat harmonisasi nada dengan begitu cepat padahal scene sebelumnya membuat bocah-bocah penderita disabilitas ini menurut saja, Jayden nampak kesusahan. Belum lagi penyelesaian banyak konflik yang (lagi-lagi) semudah membalikan telapak tangan. Sebut saja konflik antara Jayden dengan Dimas yang diperankan dengan baik oleh Verdi Solaiman. Tapi nggak usah heran deh. Ini kan kebiasaan perfilman kita? Bener kan? Makanya nggak salah jika kesan akhir dari produksi terbaru Delon Tio ini terlihat sangat terburu-buru.

Beruntungnya eksekusi seada-adanya saja a la Awi Suryadi setelah menyampah dengan Pengantin Topeng tahun lalu, tertutupi oleh muskalitas dari anak-anak kecil yang sumpah, bikin gue merinding disko. Ya, merinding, karena vokal mereka bener-bener gokil!

Meski jauh dari kata memuaskan, apalagi dengan poster resmi yang sangat tidak menjual, Simfoni Luar Biasa tetaplah bisa menjadi alternatif tontonan Indonesia yang berbeda. Cukup mampu memberi warna ditengah serbuan film dengan tema yang nggak bisa jauh dari kata kunti dan pocong. Dan sensualitas bodi cewek.

Karnaval Poster Film Jiplakan



kayaknya bukan negara Indonesia kalo nggak ngejiplak. mulai dari lagu di album pertama D'Masiv, sinetron  Buku Harian Nayla, girlband-boyband abal-abal itu, eh, sekarang poster film. astagfirullah, gak kreatif banget sih kalian?!?! *ngemut kursi*

so, dengan niat mulia gue kasih daftar POSTER JIPLAKAN film Indonesia yang gue rangkum dari beberapa sumber plus ada beberapa temuan jiplakan baru yang nggak ada di site blog lain. Dan... tertawalah sampe mati!


1. BELUM CUKUP UMUR vs THE TIME TRAVELER'S WIFE


2. PRIDE & PREJUDICE vs SELAMANYA


3.THE PRESTIGE vs ROH



4. DITTO vs HANYA UNTUKMU



5. THE HEIRLOOM vs TALI POCONG PERAWAN


6. THE WIG vs SETAN BUDEG



7. FREEDY VS JASON vs POCONG VS KUNTILANAK


8. CLOSER vs RASA


9. LOST SEASON 2 vs PULAU HANTU 2


10. LOVE ACTUALLY vs LOVE


11. THE SKELETON KEY vs KALA



12. HOT CHICK vs NAMAKU DICK


13. CITY OF ANGELS vs CINTA TIA MARIA



14. EMPLOYEE OF THE MONTH vs BESTFRIEND?


15. SWADES vs BANYU BIRU


16. FANAA vs AYAT-AYAT CINTA



17. TRUE BLOOD vs PAKU KUNTILANAK


18. KILLING ME SOFTLY vs PINTU TERLARANG



19. SCREAM vs TAKUT


20. SHROOMS vs MATI SURI


21. COUPLES RETREAT vs AIR TERJUN PENGANTIN


22. MARRYING THE MAFIA vs GET MARRIED 2



23. THE SLEEPING DICTIONARY vs LOVE IS CINTA


24. HORORFEST 2007 vs HANTU PUNCAK DATANG BULAN



25. [REC] vs TE[REKAM]



26. WHERE THE TRUTH LIES vs RAYUAN ARWAH PENASARAN



27. DRIVE ANGRY vs DEDEMIT GUNUNG KIDUL


28. LOVE & OTHER DRUGS vs PELUKAN HANTU JANDA GERONDONG


29. AZUL OSCURO CASI NEGRO vs PUTIH ABU-ABU DAN SEPATU KETS


30. JOHN TUCKER MUST DIE vs ARISAN BRONDONG


31. A WALK TO REMEMBER vs LOVE STORY


32. KITES vs HEART 2 HEART


33. SKANDAL vs ZEBRA LOUNGE


34. SUSTER KERAMAS 2 vs BLOODY REUNION


35. PUPUS vs SAD MOVIE


36.POCONG MANDI GOYANG PINGGUL vs MUOI

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...