Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Malaikat Tanpa Sayap [2012]


"Namun tak kau lihat lihat terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..."

Ada sesuatu tentang permainan takdir . Semenjak bisnis sang Ayah (Surya Saputra) bangkrut, Vino (Adipati Dolken) diharuskan keluar dari kotak rasa nyaman. Hidup pun serba tak mudah sejak saat itu. Mulai ancaman dikeluarkan dari sekolah, keegoisan sang Ibu (Kinaryosih) yang tak mau terus-terusan hidup miskin sampai masa depan Wina (Geccha Qheagaveta), adiknya, yang jika tak segera ditolong, akan memiliki satu kaki seumur hidup.

Ditengah kegalauan itu dan sosok Ayah yang tak bisa diandalkan, seorang Calo organ tubuh (Agus Kuncoro) menawarkan pilihan pada Vino. Pilihan yang dianggapnya mudah jika saja kemudian dia tak bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda). Pertemuan yang membuat Vino gamang pada tekad awal. Sayangnya, kemudian Vino sadar tak ada pilihan untuk lari. Atau untuk sekadar bernapas sejenak.

Firstly, gue sempat antipati sama karya terbaru Rako Prijanto kali ini. Setelah menghadirkan komedi-komedi sampah yang plotnya hasil mix and match film asing. Hampir tak ada harapan bagi gue untuk percaya atau memilih menghamburkan uang demi tontonan tidak bermutu. Sayangnya kali ini gue salah. Karena Malaikat Tanpa Sayap hadir dengan begitu elegan ditengah ritme seragam yang terus menerus meneror bioskop tanpa pencapaian berarti.

Dibalik ranah klise tentang drama kematian, Malaikat Tanpa Sayap mencuat sebagai film yang terbilang memenuhi elemen-elemen drama secara utuh; kedalaman cerita, karakterisasi yang jelas, akting rupawan dari ensemble cast-nya, sajian gambar menarik dan tentu saja unsur mellow yang disajikan apa adanya. Jauh dari kesan lebay, tangisan tidak pada tempatnya dan segala sesuatu yang memaksa kita untuk terenyuh. Karena unsur tersebut disajikan secara natural, tidak mendayu-dayu dan memaksa penonton.

Well, inilah Rako Prijanto yang dulu gue kenal lewat Ada Apa Dengan Cinta? sebagai penata skrip. Yang kemudian berani debut sutradara lewat Ungu Violet dengan hasil lumayan meski plotnya menyedihkan. Dan berani menyajikan kisah cinta unik lewat Merah Itu Cinta. Nggak salah kalo dia bilang “Malaikat Tanpa Sayap film yang gue banget” karena film ini memang sangat Rako. Rako yang dulu. Rako yang selalu menyelipkan quote di film-filmnya. Ditangan Rako film ini memiliki nyawa dan berbeda. Terutama dengan pemilihan pemain yang benar-benar tepat.

Unfortunately, masih ada beberapa hal yang cukup mengganggu. Seperti sempalan twist yang terlihat tak alami dan maksa. Juga kesalahan fatal yang membuat elemen surprise hilang bahkan sejak pertama kali durasi di buka. Oh please…

Sayangnya gue harus maklum. Rako berusaha serius saja sudah lebih dari cukup. Soundtrack ciptaan Dewi Lestari pas banget sama film ini. Dan Maudy Ayunda juga cantik. “Embun gak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta. Sama kayak aku, aku nggak punya alasan buat nggak jatuh cinta sama kamu, Maudy. Dan kalo ngomongin masa depan, kamu harus janji dulu sama aku kalo kamu bakal ngejalaninya sama aku... ”

My Last Love [2012]


Menurut penelitian gue selama dua hari empat malam, produk terbaru MD Pictures ini adalah proyek cari untung semata dari Punjabi Bersaudara. Iya, setelah mengalami stres dini tingkat Afganistan akibat mega proyek mereka bertajuk Di Bawah Lindungan Ka’bah gagal total di pasaran, maka dibuatlah film dengan budget pas-pasan yang kemungkinan bisa mendatangkan banyak penonton. Maka dipilihlah sutradara paling produktif se-Indonesia (MURI mana MURI?!?) untuk mempermudah proses agar rumah produksi tersebut tidak perlu gulung tikar.

Nggak susah memang untuk berspekulasi seperti ini. Karena gue yakin banget Punjabi Bersaudara tau bagaimana reputasi Om Naya selama ini. Bagaimana sepak terjang sutradara yang sering diperbincangkan (keburukannya) oleh banyak orang tersebut. So nggak usah heran jika hasil akhir film inipun layak sekali masuk tong sampah seperti biasa. Yang perlu diherankan adalah: kenapa Punjabi Bersaudara nekat memilih Nayato? Oke, gue ulang lagi biar kesan dramatisnya lebih terasa: KENAPA PUNJABI BERSAUDARA NEKAT MEMILIH NAYATO? Apa karena saking hopeless nya? Oh, co cuit #abaikan

My Last Love diadaptasi dari novel (yang kata posternya) best seller buah karya Agnes Davonar. Tapi menurut gue nggak perlu juga memberi embel-embel adaptasi kalo hasil akhirnya malah lebih mirip film non adaptasi hasil mix and match dedramaan galau macam Pupus, Kangen, Cinta Pertama dan 18+. Gimana nggak aneh kalau selain nama karakter dan benang merah yang bias, My Last Love sukses dirombak sana-sini dengan seenaknya. Ckck..

Seperti kebiasaan Nayato yang nggak perlu memakai naskah, My Last Love juga bernasib serupa. Nggak aneh kalo dialognya sangat annoying biadab. Kayak gini contoh yang gue visualisasiin pake gaya skrip film:

INT. LORONG RUMAH SAKIT – MALAM

IBU ANGEL
Bagaimana keadaan Angel?

NADYA
Angel kecelakaan Bu...

Nah, lho. Si Ibu nanya apa, jawabnya apa?

Yang jadi pertanyaan gue: Ery Sofid yang sering banget jadi penulis naskah di film Nayato beneran kerja atau cuma dicomot nama doang sih kayak kasus Chiska Doppert di film Missing? Feeling gue, kalopun ada gosip naskah ditulis on the spot, masa iya sebegini dangkal dan tidak bermutunya dialog yang ada. Atau jangan-jangan, Nayato sebenarnya udah menggunakan sistim yang dipopulerkan oleh Damien Dematra dengan memegang berbagai posisi di film mereka? Iya, jadi sebenernya Nayato jugalah yang menulis naskah di setiap filmnya. Tapi karena nggak bakat dan hasilnya jelek, maka dipakai nama orang lain agar pencitraan dirinya tak semakin buruk.

Eh, ini kok gue jadi gosipin orang sih? Huehuehue.... habis filmnya nggak bermutu sih. Jadi bingung mau komen apaan. Mau komen wajah Donita yang cantik gue udah males. Setelah putus dengan Donita dan sadar bahwa aktingnya jelek di film Kehormatan Di Balik Kerudung, gue udah nggak mau bahas Donita lagi. Meski sebenarnya kecantikan Donita terpancar banget di film ini berkat cara-cara ajaib Nayato meng-capture muka eksotis dara pemilik nama asli Noni Anisah tersebut.

Selain Donita, ensemble cast lain juga nggak ada beda. Mereka semua pada berlomba menampilkan akting terburuk. Dari Evan Sanders yang sibuk ajeb-ajeb sampe Jordi Onsu yang gagal menjadi highlite komedi sebagai hiburan. And then, nggak ada cerita film ini bikin gue nangis darah. Yang ada malah bikin gue sibuk ketawa sendiri dari awal film di mulai hingga kredit film muncul saking gak tahan melihat ulah busuk Nayato yang sudah terbaca.

Adegan paling lucu terjadi di ending film. Gimana bisa gitu Angel yang tau Martin, orang yang dia cintai di  meninggal pangkuannya, malah sibuk baca puisi? Bukan inalilahi atau sekalian nyanyi "apalah artinya kata cinta? yang kau ucap semua hanya mimpi. apalah artinya cincin ini? yang kau bilang pengikat janji suciku...."*

Please kalo kayak gini prosesnya jangan cegah gue untuk gantung diri. Faham ya? (smile)


* lirik lagu "Apalah Artinya" oleh Donita

Mother Keder [2012]


Belakangan sulit menemukan sajian komedi buatan sineas lokal yang beneran nendang sampe bikin ketawa ngakak dua hari dua malam. Kalopun ada dengan berbagai tambahan varian seperti satir, romantis atau horor, nggak pernah sukses memancing tawa penonton. Dikarenakan rata-rata dari film tersebut hanya mengandalkan adegan slapstik atau ketololan nggak bermutu yang terkadang menghina intelijensia penonton.

Mother Keder: Emakku Ajaib Bener adalah sebuah film yang diadaptasi dari buku bergenre personal literature karangan Viyanthi Silvana, mantan Putri Indonesia Fotogenik tahun 2001. Gue udah baca buku tersebut. Lumayan lucu deh untuk ukuran buku berisi curhat random. Gaya tulisan Vivi yang ngepop mampu menerjemahkan segala tingkah polah keajaiban sang ibu dengan baik. Nggak heran jika kemudian ada seorang yang tertarik untuk mengangkatnya dalam format film.

Masalahnya disini, bahasa visual berbeda dengan bahasa buku. Kalo bukunya lucu, belum tentu filmnya bernasib serupa. Coba ingat kembali Kambing Jantan. Buku curhat Raditya Dika tersebut lucu ketika dibaca. Tapi begitu diadaptasi jadi film malah berakhir garing dan flat banget. Makanya gue sedikit pesimis kalo apa yang ditulis oleh Vivi dalam bukunya ini tak mampu diterjemahkan dengan baik. Dan sayangnya, kenyataan itu benar-benar terjadi.

Kisah Ibu Kosasih sebagai emak ajaib yang diperankan dengan sangat total oleh Ira Maya Sopha telah gagal menjadi sajian komedi yang ‘komedi’ sejak awal dimulai. Terlihat sangat tidak konsisten jika lima menit awal ada scene monolog Vivi (Qory Sandioriva) namun tidak digunakan lagi sampai film berakhir. Sehingga fokus pengaturan porsi siapa yang harus jadi main character setelah durasi berjalan 15 menit terlihat nggak jelas. Entah itu kisah Vivi, Dinda (Jill Gladys) atau Ibu Kosasih. Karena saking tumplek-blek, gue bingung mencerna dan harus bersimpati pada siapa.

Gue akui, masih ada usaha dari Reka Wijaya selaku penulis skenario, untuk mengatur kerandoman dalam buku menjadi satu paduan yang utuh. Mother Keder masih mempunyai satu benang lurus sampai film berakhir. Tapi proses penyajian Eko Nobel untuk debutnya kali ini membuat Mother Keder terlihat seperti potongan-potongan sketsa yang disatukan secara paksa. Sehingga penonton akan sulit untuk ikut larut dalam kisah yang sebenarnya mempunyai niat mulia untuk menginspirasi banyak orang.

Tanggung, ya Mother Keder adalah film yang serba tanggung. Dari awal film ini seperti kebingungan untuk diarahkan jadi drama komedi, pure komedi atau pure drama. Kalo komedi kok kurang lucu. Kalo drama kok nggak niat. Padahal tujuan nonton karena pengen hepi-hepi di dalam bioskop, tapi kok nggak hepi sama sekali. Nah....!

Selain Ira Maya Sopha, deretan cast juga bermain serba tanggung. Paling parah adalah penampilan Qory Sandioriva. Dia sama sekali gak mempunyai bakat akting. Gue nggak tahu sepanjang durasi dia akting atau lagi ngapain. Yang jelas gue nggak dapet feel seorang Vivi dalam dirinya.

And then, dengan sangat berat hati gue memasukan Mother Keder dalam list film adaptasi dari buku yang gagal. Hematnya sih dikembalikan ke tujuan awal saja; menjadikan film ini sebagai sitcom berdurasi 30 menit yang tayang tiap hari pas jam-jam prime time di televisi. Toh untuk disebut sebagai film, tampilan Mother Keder nggak jauh beda dengan FTV tanpa commercial break.

Xià Àimĕi [2012]


"Udah, sogok aja kayak film-film indonesia!" - AJ Park

Coba tebak, poster apakah yang gue pasang di atas? Bukan, itu bukan versi live action dari anime Jepang terpopuler: Sailor Moon. Bukan pula drama mandarin yang hanya tayang di Blitz Megaplex. Apalagi iklan aplikasi terbaru dari Yahoo! Indonesia untuk pangsa pasar pria dewasa. Salah semua guys! Gambar tersebut adalah poster film Xià Àimĕi. Drama lokal yang mencoba untuk berbeda. Eh, berbeda? Yakin beda?

Bercerita tentang Xià Àimĕi (Franda), gadis lugu asal Yangshuo Guangxi, sebuah desa kecil di daratan China. Àimèi bersama gadis lain diboyong ke Indonesia oleh Jack (Ferry Salim), pria necis pemilik Lé Mansion, sebuah club mewah di Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Àimĕi yang diubah nama menjadi Xi Xi baru sadar kalau dia adalah korban human trafficking. Terlebih ketika Jack menjadikannya komoditi pemuas nafsu pria kaya, kabur pun menjadi jalan satu-satunya agar merdeka. Untuk kabur, Xi Xi meminta bantuan Lielie (Shareefa Danish) dan Pauline (Jasmine Julia Machate) teman satu kamar di Lé Mansion serta AJ Park (Samuel Rizal) pegawai Discovery Underworld International berdarah Korea. Sanggupkah Xi Xi kembali ke Negara asalnya dengan bantuan mereka?

Well, apa yang di tawarkan oleh produksi terbaru Falcon Pictures ini sebenarnya lumayan menjanjikan. Sayangnya ide besar tersebut gagal disampaikan dengan baik. Skenario hasil rembukan Alyandra, Tohaesa dan Sally Anom terlalu payah untuk kemudian di ekskusi oleh Alyandra yang selain bertindak sebagai penulis naskah juga memegang bagian penyutradaraan, DOP dan tata musik.

Lihat saja, sepanjang 72 menit kita akan melihat betapa pincangnya film ini. Naskah yang buruk semakin hancur lebur dengan gaya penyutradaraan Alyandra yang terkesan dikejar sesuatu. Sehingga ditinjau dari berbagai sisi film ini mempunyai banyak nilai minus. Seperti akting para aktor dan aktris yang so pathetic serta editing yang kasar.

Ngomongin akting, rasanya hanya Shareefa Danish yang sanggup membawakan karatkter dangkal yang diembankan padanya dengan baik. Franda yang baru saja memulai debut layar lebar memang tidak buruk, tapi peforma aktingnya belum mampu meyakinkan banyak orang kalau dia beneran sedang tertindas selain sepanjang film hanya sibuk menundukan kepala. Bagian paling ganggu adalah penampilan Ferry Salim dengan jambul khatulistiwa wannabe dan gaya necisnya yang terlalu berlebihan (bahkan di keseharian pun!). Belum lagi tambahan highlite komedi gagal dan teramat sangat maksa dari Gilang Dirgahari. Membuat gue nggak berhenti mikir untuk segera keluar dari studio saking muaknya.

Berterima kasihlah pada Franda. Karena dia adalah satu-satunya alasan gue (dan cowok-cowok lain) untuk bertahan menyaksikan film ini sampai credit title muncul. Andai saja produksinya tak terlalu buru-buru serta mau meluangkan waktu dalam proses penggodokan naskah, mungkin Xià Àimĕi mampu tampil lebih berisi dan memikat. Tidak seperti sekarang yang rasanya sia-sia saja memasukan berbagai unsur menarik jika digarap hanya setengah-setengah. Pada akhirnya Xià Àimĕi pun telah gagal untuk tampil berbeda. Sebuah debut film yang mengecewakan bagi Alyandra dan Franda.

Ummi Aminah [2012]


“Mulutnyah!” ~ Zubaidah

Aditya Gumay adalah satu dari sekian sutradara kita yang nggak pernah muluk-muluk dalam proses membuat film. Minimal sekali dalam satu tahun dia merilis sebuah karya. Ya, memang hanya satu saja. Tapi efeknya bisa membekas sampai film berikutnya muncul. Lihat, belum habis hype Emak Ingin Naik Haji (2009) dan Rumah Tanpa Jendela (2011) yang muncul dengan begitu sederhana namun mampu membuat hati menangis, di awal tahun 2012 ini hadir kembali satu karya terbarunya bertajuk Ummi Aminah.

Ummi Aminah bercerita tentang seorang ustadzah terkenal bernama Aminah (Nani Wijaya) yang memiliki ribuan jemaah setia. Meski dijadikan sosok panutan karena syiar agamanya mampu menggugah siapapun, tak lantas membuat hidup Aminah dan keluarga besarnya jauh dari cobaan. Tema 'ustadzah juga manusia' inilah yang kemudian dijadikan duet Adenin Adlan dan Aditya Gumay sebagai menu utama.

Meski suguhan konflik terlihat klise a la sinetron di televisi yang makin hari makin nggak berguna (tapi mendatangkan banyak rejeki bagi orang-orang yang bekerja di belakangnya), Ummi Aminah mampu tampil dengan tidak berlebihan apalagi menggurui. Satu kata: sederhana. Apa yang dituturkan Aditya Gumay dalam filmnya kali ini nggak terlalu dibuat lebay jaya. Karena bisa aja hal kayak gini terjadi di sekitar kita. Atau mostly udah sering kita alami. Fakta inilah yang kemudian mampu secara reflek membuat penonton untuk tidak hanya sekedar terlibat secara mata, tapi juga batin.

Satu kelebihan lain adalah keputusan tepat yang diambil penulis skenario untuk tidak terlalu menghakimi kaum LGBT seperti yang terjadi dalam segmen cerita anak Aminah bernama Zidan (Ruben Onsu). Disini sosok Zidan sengaja di abu-abukan untuk kemudian jadi bahan kontemplasi orang-orang yang sering memandang mereka sebelah mata. Bahwa sosok seperti Zidan ada disekitar kita. Dan mereka juga manusia. Nggak perlulah sok-sok ngejudge seolah kita ini Tuhan seperti beberapa film yang kadang membuat posisi mereka terlihat tak pada tempatnya.

Sebagai sebuah film, Ummi Aminah memang jauh dari kata sempurna seperti hakikat manusia itu sendiri. Tapi untungnya hal tersebut tidak terlalu mengganggu sehingga merusak isi film karena dengan sukses tertutupi oleh akting para ensemble cast yang begitu mumpuni. Lihat saja duet Ummi dan Abah yang diperankan secara alami oleh Nani Wijaya dan Rasyid Karim. Juga kelebayan Zubaidah (Genta Windi) yang mampu mengocok perut di saat yang seringnya tidak tepat. Iya, karena kadang pas kita kita udah larut dalam suasana sentimentil mendadak dibuat tertawa akibat celetukan komedinya. Highlite yang terbilang berhasil.

Anyway, salut untuk pemilihan ending yang terbilang berani hingga tak terkesan stereotip seperti film bergenre drama sejenis. Ya, setidaknya bisa memperingatkan kita bahwa hidup nggak semudah Mario Teguh dalam menulis quote-quote yang terkadang berkesan bullshit (ups...).

Ummi Aminah adalah film pembuka tahun yang memuaskan. Unfortunately melihat fakta di lapangan bahwa penonton kita lebih senang nonton film berbau paha dan belahan dada ketimbang film bermutu seperti ini membuat hati ini sakit. Benar-benar nggak habis pikir deh. Sulit memang menerka pasar. Semoga Aditya Gumay nggak kapok membuat film-film setema sebangun seperti Ummi Aminah. Film yang sederhana dan dekat dengan keseharian. Film yang mampu menyentuh dan membuat kita keluar dari bioskop dengan membawa ‘sesuatu’...

Garuda Di Dadaku 2 [2011]


“Garuda di dadaku, garuda kebangganku. Ku yakin hari ini pasti menang!”

Well, siapa sih yang nggak kenal lirik lagu di atas? Yakin deh, dari yang tua sampe anak kecil pun pasti hapal di luar kepala sama lagu yang resmi jadi mars suporter bola di Indonesia ketika menonton pertandingan ini. Adalah sebuah lagu ciptaan mantan ketua Jakmania, Feri Indra Rasyif, yang kemudian dipopulerkan oleh Netral sebagai pengisi soundtrack film terlaris ke empat di tahun 2009 silam dengan jumlah pendapatan 1.371.131 penonton berjudul Garuda Di Dadaku.

Dalam predesornya yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, kita diperkenalkan pada bocah 12 tahun bernama Bayu (Emir Mahira) yang begitu mencintai bola. Bahkan Bayu punya impian menjadi pemain bola profesional. Unfortunately, niat itu ditentang oleh sang kakek (Ikranagara) yang dengan segala cara, berusaha memusnakan mimpi cucunya tersebut.

Lewat sekuel bertajuk Garuda Di Dadaku 2, Emir Mahira yang baru saja mendapat penghargaan sebagai Aktor Terbaik dalam ajang FFI 2011 lewat film Rumah Tanpa Jendela kembali melanjutkan kiprahnya. Tetap berperan sebagai Bayu yang sekarang sudah menjadi kapten sepak bola timnas U-15. Bersama anggota timnya, dia berusaha agar dapat menjuarai kompetisi junior tingkat Asean di bawah pelatihan Wisnu (Rio Dewanto). Sebagai seorang coach, sikap Wisnu yang terlampau keras terkadang membuat masalah antar anggota tim. Termasuk semakin memperpanas konflik internal dalam diri Bayu yang tengah menginjak remaja.

Dalam sekuelnya kali ini, urusan naskah tetap diserahkan pada Salman Aristo. Namun posisi sutradara tak lagi dijabat Ifa. Karena kini ada nama Rudi Soedjarwo yang diberi titah untuk melanjutkan apa yang sudah dihasilkan sutradara Sang Penari dua tahun lalu. Sudah bukan rahasia kalo terkadang sebuah sekuel hasinya nggak akan bisa menyamai predesornya. Nggak cuma di Indonesia aja kok. Karena di industri perfilman negara manapun hal tersebut sudah lumrah terjadi. Lalu bagaimana dengan film ini?

Gue lumayan ngikuti film-film Rudi Soedjarwo sejak Bintang Jatuh. Jadi gue bisa sedikit tahu kalo Rudi adalah seorang yang labil cara ngedirectnya. Dia pernah bikin film bagus. Ada Apa Dengan Cinta? keren tuh. Sayangnya beberapa tahun kebelakang dia terjebak dengan pola yang dibuatnya sendiri. Hasilnya nggak buruk sih. Nggak nyampah juga. Tapi sedikit di luar ekspetasi hingga muncul komentar “ohh gini doang filmnya Rudi setelah sukses AADC?”. Di awal tahun, gue terkesima dengan Batas. Lalu dilanjutkan dengan Lima Elang yang tak bisa tampil memuaskan dari segi cerita dan turnover karakter. Kini, dengan sasaran penonton anak-anak seperti film sebelumnya, gue sedikt was-was kalo apa yang ada di Lima Elang bakal nongol lagi. Dan ternyata, iya aja.

Garuda Di Dadaku 2 terlalu serius dan berat untuk ukuran film anak-anak. Gue suka cara Rudi ngedirect yang begitu enerjik dan dinamis, tapi sekali lagi, gue nggak suka sama ceritanya. Selain Salman Aristo yang enggan kembali mendekatkan penonton dengan karakter yang ada karena begitu film dimulai, tanpa basa-basi langsung dikasih makan gelaran konflik aja, pengambaran Rudi dalam mengembangkan karakter tokohnya terlampau berlebihan. Membuat gue sedikit mengernyitkan dahi. Kok jadi gini?

Garuda Di Dadaku 2 tak mampu tampil semenyenangkan film pertamanya. Tak mampu juga menyentuh emosi lantaran terlalu banyak konflik yang kadang tersaji dengan tidak alami hingga bisa dibilang akan gampang terlupakan begitu saja.

Jika dibandingin dengan Tendangan Dari Langit yang rilis menjelang lebaran lalu, gatau kenapa gue lebih notice ke film Hanung tersebut. Konfliknya alami, mampu menguras emosi dan down to earth. Di film ini kita gak bakal nemuin hal-hal kayak gitu. Bahkan adegan pertandingan bola yang hampir mengisi 60% durasi terlihat biasa saja. Ditambah highlight komedi yang dibawakan Ramzi ternyata tak mampu bekerja seefektif terdahulu. Garing abis. Nggak heran kalau gue menguap beberapa kali saking capeknya menikmati gelaran cerita yang tidak begitu memikat.

Untungnya ensemble cast bermain tak begitu mengecewakan. Akting Emir Mahira terlihat semakin terasah. Rio Dewanto juga tampil tak mengecewakan meski nggak ada bedanya dengan aktingnya dalam FTV sih. Monica Sayangbati, wow, gue makin speechless. Gue suka akting dia dalam Lima Elang. Gatau kenapa Monica tampak semakin menarik meski agak ilfil melihat kebiasaanya memainkan bibir sehingga terkesan jutek. Atau memang bawaan ya?

At least, bukan film yang buruk. Rudi sudah berusaha sebaik mungkin menampilkan sajian yang menghibur. Sayangnya, Garuda Di Dadaku sudah terlalu membekas. Hemat gue sih kalo sekuelnya ini nggak dilanjutkan lagi, sepertinnya nggak masalah.

Arisan! 2 [2011]


“Socialite tuh kan harus social, nggak cuma dateng ke party foto cekrak cekrek masuk majalah dong!” ~ Andien

Delapan tahun adalah jarak yang lumayan panjang untuk sebuah sekuel. Meski sempat diragukan, toh pada kenyataanya Arisan! 2 tetap hadir kembali menyapa para pecinta film pertama yang lumayan hitz di tahun 2003. Tidak ada lagi campur tangan Joko Anwar sebagai penulis skenario. Karena dengan gagah, Nia Dinata yang juga bertindak sebagai sutradara sekaligus produser, melanjutkan apa yang sudah Joko hantarkan dalam prekuelnya.

Diumur yang sudah mendekati kepala empat, banyak hal telah berubah dalam geng arisan. Sakti (Tora Sudiro) dan Nino (Surya Saputra) tak lagi menjalin hubungan. Sebagai seorang sutradara film bertema LGBT, Nino memilih berpacaran dengan brondong kemayu berumur 21 tahun bernama Octa (Rio Dewanto). Sedang Sakti  memilih jadi pria simpanan seorang sugar daddy bernama Gerry (Pong Harjatmo).

Berbeda dengan Meimei (Cut Mini) yang memilih untuk menikmati hidup sendiri pasca perceraian, Andien (Aida Nurmala), janda beranak dua ini, malah menyibukan diri dengan ‘pria-pria’ santapan setelah ditinggal sang suami untuk selamanya. Lalu Lita (Rachel Maryam) yang berprofesi sebagai pengacara dan tengah disibukan dengan pencalonan diri dalam suatu partai, tengah berusaha menjadi single mother yang baik bagi bocah tampan dengan identitas suami yang dirahasiakan.

Seperti dikatakan Rachel Maryam dalam behind the scene Arisan! 2: “sayang banget nonton yang pertama kalo nggak nonton yang kedua” memang benar adanya. Meski dari segi penceritaan terlihat kedodoran akibat terlalu banyak plot saling tumpang tindih dan alternatif penyelesaian yang mau nggak mau terkesan cheesy, ditangan seorang Nia, film ini tetap fun to watch bahkan it's a must! Karena dari sini, kita sebagai orang awam, akan dibuat 'melek sedikit' melihat pergumulan kaum jetset dan topeng-topeng dalam kehidupan mereka. Hell yeah, meski terkadang rada lebay juga sih dibeberapa part. But I don't know why masih terlihat natural.

Berterima kasihlah Nia karena Arisan! 2 didukung oleh ensemble cast yang benar-benar luar biasa. Para pemain lawas nggak usah diragukan lagi gimana aktingnya. Cut Mini, Rachel, Tora, Surya dan Aida terlihat sangat hitz banget membawakan peran masing-masing. Sedang untuk pemain ‘sempalan’ ternyata mampu tampil lebih daripada lima pemain utama tadi. Coba tengok Rio Dewanto yang nggondek, Sarah Sechan dengan tingkah snob-nya, Atiqah Hasiholan yang terlihat so so gorgeous, Edward Gunawan yang calm banget and of course Adinia Wirasti yang tampil begitu berkilau dalam artian sebenarnya!

At least, kalo lo butuh tontonan Indonesia yang ringan, kocak karena sentilan isu dalam balutan satir yang menghibur dengan gaya elegan, bukan corny atau malah menyampah, rasanya sayang banget melewatkan film ini. Simpelnya sih karena Nia Dinata sukses mengajak penonton untuk menikmati sedikit guilty pleasure setelah terjebak stagnansi dalam rutinitas sehari-hari. Lihat saja, selain dibintangi aktor aktris papan atas dan sinematografi yang indah, kita juga diajarkan sesuatu tentang arti sebuah persahabatan: teman datang dan pergi, tapi teman-teman sejati akan selalu di hati.

By the way, jarang-jarang banget kan gue muji-muji kayak gini?

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? [2011]


“Mereka bilang aku berbeda. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal, aku dilahirkan dengan cara yang sama...” ~ Angel

Memanfaatkan sebuah euphoria sebenarnya sah-sah saja. Itu Indonesia banget. Nggak usah heran kalo perfilman kita selalu saja latah mengeksploitasi hal itu. Dan nggak usah heran pula kalo hasilnya kebanyakan hancur total alias menyampah sembarangan!

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? adalah sebuah trend lanjutan dari suksesnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Dimana dengan jeli sang produser membaca market: bagaimana cara mengeruk keuntungan dari labilers se-Indonesia raya. Maka diadaptasilah sebuah novel yang diklaim sudah dibaca 2 juta readers secara online. Dan langsung memilih Dinda Hauw yang mendadak jadi ‘sesuatu’ setelah debutnya sukses menarik 748.842 penonton sebagai pemeran utama. Sampai disini nggak ada masalah memang. Tapi semua berubah tidak menyenangkan ketika menikmati jalinan visualisasi dari novel besutan Agnes dan Teddy, atau yang lebih kita kenal dengan Agnes Davonar.

Film ini sudah menjengkelkan sejak awal. Dan semakin menjadi-jadi hingga credit akhir muncul. Gimana enggak, dari awal kita sudah disodori dengan tangisan-tangisan lebay tidak pada tempatnya. Hell, bikin film tearjerker sih tearjerker aja. Tapi nggak mesti gini-gini juga kali. Masa iya tiap ngapa-ngapain keluar air mata, dikit-dikit keluar air mata. Kenapa nggak nikahin gue aja sekalian? Fuck off banget lah! Bahkan gue udah nggak peduli gimana nasib akhir Angel; cewek tersial di dunia yang diperankan dengan sangat biasa oleh Dinda Hauw. Karena gue udah capek diajak untuk terus bersimpati pada karakter stupid bin corny di layar bioskop. Thanks untuk kerja tim penulis skenarionya: Titien Wattimena, Djamil Aurora dan Agnes Davonar, karena telah membuat film berdurasi 99 menit ini tidak penting untuk disimak.

Hal diatas makin diperburuk oleh jajaran pemeran pembantu di film ini. Selain Fendy Chow dan Kiki Azhari dengan akting nggak banget a la sinetron di RCTI, swear KK Dheeraj gue timpuk sama pispot, Rafi Cinoun adalah kesalahan terbesar Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Hell, bagian casting tolong bersihin mata pake insto dong. Masa iya lo milih artis kek gini. Minimal yang rada beneran dikit deh. Ditinjau dari segi mana sih coba kalo muka Rafi tuh enak dipandang? *pengen muntah sambil kayang*

Selain cerita dan akting yang failed, kegagalan demi kegagalan terus berlanjut hingga membuat film arahan Findo Purwono ini makin tidak jelas. Seperti gambaran kedokteran yang ngasal, bloopers dimana-mana dan subtitle adegan gagu yang muncul disaat-saat nggak worth it. Bikin gue berkali-kali mengerutkan jidat saking gagal pahamnya.

And yes, cukup seperti itulah siksaan yang disodorkan oleh produksi terbaru Rapi Film di tahun 2011 ini. Nggak horror, nggak drama, film-film produksinya emang bikin gue ngoceh ngalor ngidul sambil ngupil. Percayalah, bagian terbaik film ini terletak ketika secara tiba-tiba terdengar suara Agnes Monica dengan hitz-nya berjudul Rapuh. At least, bukan film yang buruk. Tapi terkadang kita harus tahu dimana batas antara cerita dalam novel yang perlu divisualisasikan agar tidak tampak berlebihan dan menyedihkan. Lalu apakah jawaban dari pertanyaan “Ayah, mengapa aku berbeda?”, tanyain aja sama rumput yang bergoyang.

By the way sebelum gue tutup reviewnya, masih perlu nggak gue kasih detail sinopsis ceritanya?

Sang Penari [2011]


"Sus, ronggeng iki duniaku, wujud dharma baktiku untuk Dukuh Paruk!" ~ Srintil

Ini kisah Srintil (Prisia Nasution) yang merasa memiliki keterikatan magis sebagai penari ronggeng sejak kecil. Ini kisah Rasus (Oka Antara) , pria lugu yang tumbuh besar dengan satu cinta, satu nama wanita di hatinya; Srintil. Ini kisah dua manusia yang harus memilih untuk hidup. Dimana pilihan itu nanti akan membuat keadaan disekitar mereka mau tak mau akan berubah.

Seperti itulah sedikit gambaran yang bisa gue tuliskan tentang Sang Penari. Sebuah film yang dibuat dari hati. Sebuah film produksi anak bangsa yang patut diapresiasi lebih. Diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk buah karya Ahmad Tohari, penulis asal Banyumas. Disutradarai oleh Ifa Isfansyah berdasar naskah yang dia tulis bersama Salman Aristo dan salah satu produser, Shanty Harmayn.

Rasanya nggak salah menyerahkan proyek adapatasi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala ini kedalam bentuk visual di pundak seorang Ifa yang angkat nama lewat Garuda Di Dadaku. Ditangan Ifa, Sang Penari terlihat lebih hidup berkat kejeliannya menangkap berbagai aspek menarik yang tersaji selama 109 menit. Didukung oleh sinematografi dari Yadi Sugandi dengan tatanan tone gloomy tahun 1950-1960 nya, tata busana dari Chitra Subiyakto, tim artistik yang begitu detail menuangkan hiruk pikuk jaman dulu, serta scoring olahan Aksan dan Titi Sjuman, semakin membuat mata ini tak mau berpaling dari layar. Semua melebur jadi satu dengan sempurna. Saling mendukung satu sama lain.

Nggak cuma itu aja, Sang Penari terlihat semakin berkilau dengan ensemble cast yang begitu kompeten dibidangnya. Sebut saja Pia (sapaan akrab Prisia Nasution) yang berakting begitu total setelah tampil nggak worthy dalam debutnya sebagai pacar Fauzi Baadilah di omnibus horor berjudul Takut: Faces of Fear. Lalu jangan lupakan chemistry antara Pia dengan lawan mainnya, Oka Antara yang dapet banget. Selain dua nama tadi, juga bisa disaksikan kehadiran bintang sekelas Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Lukman Sardi dan Tio Pakusodewo yang bermain pas dengan karakter yang diemban masing-masing.

Sayangnya Sang Penari juga tidak sesempurna itu. Dia juga memiliki kekurangan yang sedikit membuat kening berkerut karena munculnya scene-scene nggak penting dibeberapa part sehingga meninggalkan lubang kecil yang tak mampu tertambal dengan baik. Bukan itu saja, kurangnya penjelasan bagi penonton awam seperti gue yang nggak pernah tahu ada novel Ronggeng Dukuh Paruk, terlihat akan menjadi kendala besar bagi sebagian penonton. Terutama bagi generasi yang tumbuh ketika invasi produk dan tingkah laku a la luar negeri sudah menjadi gaya hidup. Belum lagi kebijakan lembaga sensor film yang cukup mengganggu disalah satu adegan karena kasar banget motongnya, bikin gue makin kecewa.

Terlepas dari itu, Sang Penari tetaplah film bermutu. Apalagi production value-nya pantas diberi kredit. Kalau saja film ini rilis lebih dulu daripada Di Bawah Lindungan Ka’bah, semua pasti akan menjagokan Sang Penari dalam ajang Oscar 2012 untuk mewakili Indonesia dibanding film berbujet besar tapi kosong dan nggak ada apa-apanya itu.

At least, inilah contoh film yang bikin kita bangga jadi penduduk Indonesia. Ayo, dukung film Indonesia bermutu!

Kehormatan Di Balik Kerudung [2011]


"Aku seperti daun kering yang menunggumu.." - Syahdu

Syahdu (Donita) memutuskan untuk mencari ketenangan batin setelah tersakiti oleh cinta di rumah sang kakek di Pekalongan. Dalam perjalanan kesana, tepatnya ketika menunggu kereta datang, dia bertemu dengan seorang wartawan bernama Ifand (Andhika Pratama) dan kemudian merasakan desir-desir aneh bernama cinta. Sayang pertemuan itu hanya sebentar dan tak ada alasan untuk berharap lebih jauh. Namun siapa yang sangka begitu sampai di tempat sang kakek, takdir malah mempertemukan mereka kembali. Dan cinta itupun berjalan mengikuti alurnya.

Awalnya memang indah, namun kedekatan Ifand dan Syahdu tak disukai warga setempat. Hingga sang kakek meminta Syahdu untuk menjauhi Ifand demi nama baiknya dan nama Syahdu sendiri. Terlebih ketika gadis-gadis kampung meminta Syahdu dengan halus untuk menjauhi Ifand demi Sofiya (Ussy Sulistiawaty), gadis setempat yang sudah lama mendambakan cinta Ifand. Tak tahan, Syahdu memilih kembali ke rumahnya. Apakah keputusan Syahdu tepat? Dan bagaimana kisah cinta antara dia dan Ifand yang sudah terjalin erat?

Kehormatan Di Balik Kerudung merupakan debut komposer kenamaan Indonesia bernama Tya Subiakto Satrio. Diadaptasi dari novel berjudul sama buah karya Ma’mun Affany yang sepertinya nggak begitu eksis. Bahkan nggak ada embel-embel ‘based on best seller book’ di poster seperti kebiasaan film Indonesia kekinian yang diangkat dari sebuah novel. Terlepas dari best seller atau nggak, apakah film produksi kesekian Starvision ini worthy untuk ditonton?

Dari segi cerita dan tema sepertinya udah basi ya. Hanya modifikasi dari novel cinta berbalut nuansa islami yang sudah diadaptasi lebih dulu. Cuma tinggal utak atik template, karakter dan setting cerita, jadi deh film baru. Sayangnya film ini nggak seniat film sejenis yang lebih dulu beredar tadi seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban atau Dalam Mihrab Cinta. Atau lebih baik nggak usah dibandingkan. Karena setelah diadaptasi, film ini telah kehilangan banyak hal. Bahkan unsur religi yang tertanam kuat dalam novelnya pun hilang nggak berbekas. Jadi jangan sebut Kehormatan Di Balik Kerudung sebagai drama reliji. Cukup drama cinta picisan yang dibuat bak sinetron. Atau lebih tepat drama komedi dengan dialog yang super-duper berlebihan. Serius? Komedi?

Amalia Putri sebagai penulis skenario kelihatan kurang begitu jeli menangkap inti cerita yang ada dalam novel. Atau asumsi gue dia menulis skenario secara on the spot alias jalan begitu ada dilokasi syuting. Kenapa gue bisa berasumsi kayak gini? Coba deh perhatiin betapa nggak singkronnya dialog-dialog dari scene ke scene yang dibuat sedikit sok nyastra itu. Kalo dialog sastranya dibuat dalam batas wajar sih nggak papa. Tapi karena terlalu sering bahkan hampir mendominasi, dialog tersebut membuat gue ketawa ngakak di atas ka’bah. Serius, dialognya tuh quotable yang lebay biadab dan absurd. Contohnya kayak gini:

Ifand: “Assalamuallaikum, Syahdu, ada apa?”
Syahdu: “Aku takut Ifand. Takut seperti embun yang hilang sebelum pagi datang.”

Gue langsung pasang ekspresi bingung tertampan ngedengernya (nggak usah dibayangin, please!). Bingung antara ingin tertawa atau gigit kursi bioskop. Parahnya dalam dialog selanjutnya nggak ada kalimat tanya dari Ifand seperti: “Apa maksud kamu Syahdu?”, sehingga Syahdu nggak perlu susah-susah pula menjelaskan kepada kita yang nggak henti dibuat mengernyitkan kening berkali-kali karena dialog semacam itu tetap ada hingga film selesai. Hell!

Dari segi akting, serius, bahkan saking ngefansnya sama Donita, nggak membuat gue untuk nggak ngelempar sandal liat aktingnya di film ini yang lebay jaya. Ekspresinya itu loh berlebihan. Coba apa deh maksud dia pasang ekspresi ketakutan begitu sampai pertama kali di rumah sang kakek dan ekspresi lebay lainnya yang nggak menjelaskan apapun. Setali tiga uang, Andhika Pratama juga melakukan hal serupa. Kalo nggak salah lihat, hampir tiap dia berbicara, kepalanya selalu dibuat miring-miring nggak jelas. Penghayatan atau emang ada masalah sama kepala lo Dik? Rasanya hanya Ussy yang berakting cukup normal meski karakter dia terlihat dangkal dan bodoh disini.

Lalu bagaimana dengan usaha Tya Subiakto dalam mengarahkan film pertamanya ini? Gue akui sinematografinya keren. Lanskap Bromo dapat tersaji sedemikian indah. Mungkin terlihat agak ke Nayato-Nayatoan mengingat lelembut satu ini bertindak sebagai DOP. Tapi ada beberapa part yang membuat filmnya berbeda meski pada akhirnya terpaksa memperlihatkan kedok yang Nayato banget. Nggak heran juga sih kalo banyak yang menyamakan. Dan nggak heran juga banyak yang berasumsi kalau film ini sebenarnya bikinan om Naya yang malu mengakui lalu memakai nama Tya Subiakto. Entahlah... biar Tuhan, Nayato, Tya, Chand Parwes dan Doraemon yang tahu (?)

Aduh, kayaknya gue terlalu kepanjangan deh reviewnya. At least, meski terlihat benar, nggak bisa dipungkiri kalau Kehormatan Di Balik Kerudung memiliki borok. Alur lompat-lompat. Plot hole bertebaran. Dialog najis tralala. Akting lebay. Tata musik annoying. Dan semua hal yang membuat judul film ini akan menjadi sebuah judul tanpa arti dan terlalu berat. Kehormatan? Kehormatan apa jeng?

NB: Kasian Ma’mun Affany adaptasi novelnya dibikin ancur kayak gini.

Perempuan² Liar [2011]


Tampaknya 2011 menjadi tahun sial bagi rumah produksi MVP Pictures. Gimana nggak sial kalo film-film yang mereka edarkan tahun ini hampir semuanya flop dipasaran. Lalu ada Perempuan² Liar yang sepertinya akan bernasib sama seperti Cewek Gokil, Cowok Bikin Pusing dan Mudik yang rilis terlebih dahulu.

Dom (Tora Sudiro) dan Mino (Dallas Pratama) adalah kakak beradik yang bekerja sebagai debt collector di Jakarta. Saat asyik melakukan ‘pesta perempuan’ di sebuah hotel, mereka berdua dipertemukan dengan Mey (Maeeva Amin), cewek yang sedang galau ditengah prosesi pernikahannya dengan Rocky (Gary Iskak), pria pilihan sang ayah yang tak dia cintai. Seolah mendapat kesempatan, bersama Cindy (Rina Diana), sang adik, Mey pun memaksa Dom dan Mino untuk membawa mereka kabur. Petualangan gila dan liar pun dimulai setelahnya.

Premis yang terlihat menarik? Jawabannya adalah tidak setelah melihat hasil keseluruhan film yang dibidani oleh Rako Prijanto ini. Lagi dan lagi. Sebuah proyek kekeringan ide. Proyek tambal sulam yang entah dengan tujuan apa dibuat kalo hasilnya nggak begitu menarik—parahnya lagi, almost nyampah. Lebih parah lagi, merupakan hasil mix and match dari beberapa film luar seperti The Hangover, American Pie 2, The Sweetest Thing, A Life Less Ordinary dan salah satu film korea yang judulnya nggak sempet gue inget.

Naskahnya ditulis oleh Raditya Mangunsong dan merupakan duet ketiganya dengan Rako Prijanto setelah menjiplak mentah-mentah komedi korea berjudul A Tale of Legendary Libido yang kemudian bertransformasi menjadi Penganten Sunat. Sedang Perempuan² Liar menjadi film ke 13 sang sutradara. Setelah debut lewat Ungu Violet yang ceritanya juga hasil jiplak dari music video solois wanita asal negeri ginseng bernama Kiss. Oh my evil, parah sekali fakta di balik filmografi orang-orang ini!

Oke, kalo dari sisi cerita udah super duper nggak beres, hal apalagi yang setidaknya bisa menarik penonton untuk berbondong menyaksikan film ini? Sebenernya gue ragu sih bilang, tapi mungkin hanya adegan buka-bukaan ga niat antara Maeeva Amin dan Rina Diana dengan muka standard itu saja yang bisa menarik penonton terutama laki-laki. Bahkan kehadiran Tora dan Dallas sangat tidak menarik minat wanita. Satu karena akting mereka kancrut. Dua, karena mereka sudah bosan dengan muka yang itu-itu aja. Selebihnya, mending uangnya ditabung untuk keperluan yang lebih worth it. Semisal, beliin gue pulsa gitu. Pasti pahala kalian nambah deh hehehe…

Terakhir, coba bandingkan poster film ini dengan poster film komedi romantis fenomenal asal Thailand: Hello Stranger!




Badai Di Ujung Negeri [2011]


Badai (Arifin Putra) adalah seorang marinir yang ditugaskan menjaga pos perbatasan Indonesia di sebuah pulau di Laut Cina Selatan. Pada suatu hari ditemukan mayat perempuan yang membuat geger warga setempat. Hingga pandangan skeptis mereka terhadap tentara yang seringkali dianggap nggak penting, semakin menjadi. Peristiwa tersebut mempertemukan Badai dengan Joko (Yama Carlos), sahabat lama yang bertugas di kapal KRI. Sebagai sahabat, hubungan mereka tidaklah seakrab dulu karena suatu peristiwa di masa lalu.

Kehebohan kembali terjadi setelah ditemukan satu mayat anak kecil yang akhirnya membuat Badai merasa harus secepatnya bertindak sebelum ada korban selanjutnya, meski masalah cintanya dengan Anissa (Astrid Tiar) juga tengah mengalami cobaan. Berdasar petunjuk yang ditemukan pada tubuh mayat terakhir, Badai melakukan penyelidikan di pulau Bawah tanpa melapor pada atasannya, Lektkol Zein (Adrian Alim). Dari situlah terkuak bahwa sedang terjadi konspirasi yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Badai Di Ujung Negeri merupakan film terbaru arahan Agung Sentausa setelah cukup lama absen pasca membidani Garasi pada tahun 2006 silam. Lalu bagaimanakah konklusi akhir debut produksi Quanta Pictures yang bujetnya lumayan wow ini?

Dari segi akting nggak ada yang terlalu gimana. Yang jelas jauh dari kata mengecewakan. Arifin Putra tetap berakting sebagai pria dewasa sekaku dalam filmnya yang rilis pada bulan Mei berjudul Batas. Astrid Tiar yang memulai debut layar lebar dan Yama Carlos yang sudah banyak wara-wiri di berbagai judul film, tampil terlampau biasa. Namun akting Jojon rupanya mampu menjadi highlite tersendiri. Dimana dia begitu mumpuni melepas bayang-bayang sebagai komedian dan berakting serius sebagai sosok villain bernama Piter. Meski sebenarnya agak susah juga bagi kita untuk melupakan gimik yang sudah melekat erat pada pelawak bernama asli Djuri Masdjan itu.

Dari segi cerita, nasib film ini sejalan dengan Simfoni Luar Biasa. Terlalu banyak plot hole. Dan lagi-lagi, penulis naskahnya, Ari M. Syarief, tidak mau susah-susah untuk menjelaskan. Di dukung oleh penyutradaraan Agung Sentausa yang terbilang matang namun malah keasyikan menyajikan gambar-gambar cantik dengan bantuan sinematografer sekelas Padri Nadeak. Emang sih kerja mereka menampilkan sisi ekostik pulau Tanjung Pinang, dibalut dengan tone yang lembut dan tenang, membuat mata gue begitu terpesona. Apalagi pas adegan yang mengharuskan syuting di bawah air. Dua kata: speechless dan keren. Tapi tetep aja dibikin galau kalau kecantikan yang mereka sajikan tanpa dibarengi tendensi yang jelas.

Contoh kecil yang paling ganggu nih: apa alasan Anissa di culik oleh komplotan pembajak kapal tanker? Kalau jawaban untuk diselamatkan oleh Badai, salah besar! Karena Badai sendiri sedang sibuk dengan penyelidikannya di pulau Bawah. Disini terlihat ada penekanan seolah-olah Anissa penting banget harus di culik. Badai Di Ujung Negeri bukan film yang diangkat dari komik Marvel kan? Yang mana tokoh utama harus bertindak bak superhero kesiangan dan harus menyelamatkan sang kekasih? Seenggaknya kalo memang mau dibuat seperti itu, harus ada penjelasan yang lebih masuk akal dong.

Belum lagi eksekusi action dan adegan akhir terlihat kurang matang aja. Entah kenapa pada bagian ini gue merasa anti klimaks. Mungkin karena nurut sama kode etik bla-bla-bla, adegan di tengah laut itu terlihat kering kerontang dan nggak bernyawa. Ibarat lagi mau nyalain petasan, eh tiba-tiba apinya mati. Kecewa banget kan? Beruntung masih ada Thoersi Argeswara yang sekali lagi bikin gue merinding dengan tata musiknya setelah trilogi Merah Putih.

At least, meski hasilnya masih jauh dari kata sempurna, gue nggak sungkan untuk ngacungin empat jempol buat debut produksi Quanta Pictures yang sudah berani mengambil konsekuensi ditengah percaturan film nasional dengan ide yang nggak pernah berkembang dari tema yang ini lagi-ini lagi tanpa perubahan berarti. Jelas, butuh keberanian besar membuat film dengan tujuan menentang tren. Dan nggak salah jika apresiasi lebih patut kita berikan.

Simfoni Luar Biasa [2011]


"And I'm flying into the night. Flying into the sky. And go higher and higher again...." - Jayden

Sebagian orang mungkin akan mengira jika karya terbaru dari Awi Suryadi ini merupakan kloningan film Perancis berjudul Les Choristes yang rilis pada tahun 2004 dan memakai judul The Chorus untuk peredaran internasional. Nyatanya, Simfoni Luar Biasa memiliki jalan cerita yang berbeda. Kalaupun nantinya ada kesamaan sedikit, wajar deh ya.

Jayden (Christian Bautista) adalah seorang musisi berbakat yang karirnya stuck di tempat. Masalahpun datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dimulai dari penjualan album yang mengenaskan, perform panggung yang dilabeli dengan kata “garing”, hingga diusir paksa dari apartemen lantaran nggak mampu bayar uang sewa. Mengikuti saran dari sang tante yang bernama Helena (Maribeth), Jayden pun meninggalkan Manila, tempat dimana dia tumbuh besar. Jayden memilih untuk tinggal di Jakarta bersama Marlina (Ira Wibowo), sosok ibu yang selama bertahun-tahun meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas.

Di Jakarta, Jayden memulai hidup dari nol. Awalnya memang tidak mudah. Namun sifat welcome dari keluarga baru rupanya mampu mempermudah proses adaptasi tersebut. Termasuk dalam mengambil keputusan menjadi guru musik di sekolah luar biasa yang dibina oleh yayasan Ibunya. Mampukah Jayden membawa perubahan dalam hidupnya? Dan tentu saja perubahan bagi anak-anak cacat yang diasuhnya?

Actually, film ini menawarkan premis yang cukup menarik. Apalagi ada nama Christian Bautista yang jelas jadi selling point utama. Tapi rupaya Awi Suryadi, tidak mampu mengkoordinir apa yang ada dengan baik. Sehingga film yang diharapkan bisa menginspirasi banyak orang, malah cenderung datar dan mudah dilupakan.

Pelantun tembang The Way You Look At Me ini sebenarnya mampu berakting dengan baik. Tapi nyatanya, dari awal film dimulai hingga kredit akhir, gue sama sekali nggak tau apa yang dilakuin sama Christian Bautista selain plonga-plongo tanpa ekspresi dan emosi. Padahal jajaran pendukung sudah bersusah payah membangun karakter dengan sedemikian kuat. Sebut saja Ira Maya Sopha, Sophie Navita, Gista Putri sampai Verdi Solaiman. Tapi apa daya, nggak ada jalinan chemistry yang terbangun dengan baik gegara pemenang Philippine Idol tersebut. Membuat pemain lain sepertinya sudah membuang-buang bakat mereka. Sori bagi yang ngefans sama Christian Bautista. Gue nggak sentimen kok sama dia. Tapi aktingnya emang biasaaaa banget!

Hal ini diperparah dengan naskah olahan Awi Suryadi dan Maggie Tiojakin yang penuh lubang disana-sini. Dan mereka tampak tidak terlalu capek-capek untuk menambal bagian yang bolong itu. Hal ini yang akhirnya membuat Simfoni Luar Biasa nggak bisa tampil dengan sempurna. Banyak hal yang begitu mengganggu jika kalian mau mencermati. Seperti bagaimana proses anak-anak cacat ini bisa seajaib itu menghafalkan lagu berbahasa inggris. Lalu bagaimana pula seorang labil seperti Jayden bisa membuat harmonisasi nada dengan begitu cepat padahal scene sebelumnya membuat bocah-bocah penderita disabilitas ini menurut saja, Jayden nampak kesusahan. Belum lagi penyelesaian banyak konflik yang (lagi-lagi) semudah membalikan telapak tangan. Sebut saja konflik antara Jayden dengan Dimas yang diperankan dengan baik oleh Verdi Solaiman. Tapi nggak usah heran deh. Ini kan kebiasaan perfilman kita? Bener kan? Makanya nggak salah jika kesan akhir dari produksi terbaru Delon Tio ini terlihat sangat terburu-buru.

Beruntungnya eksekusi seada-adanya saja a la Awi Suryadi setelah menyampah dengan Pengantin Topeng tahun lalu, tertutupi oleh muskalitas dari anak-anak kecil yang sumpah, bikin gue merinding disko. Ya, merinding, karena vokal mereka bener-bener gokil!

Meski jauh dari kata memuaskan, apalagi dengan poster resmi yang sangat tidak menjual, Simfoni Luar Biasa tetaplah bisa menjadi alternatif tontonan Indonesia yang berbeda. Cukup mampu memberi warna ditengah serbuan film dengan tema yang nggak bisa jauh dari kata kunti dan pocong. Dan sensualitas bodi cewek.

Masih Bukan Cinta Biasa [2011]


“Voni Vino, nggak mau susah banget sih mamamu kasih nama?!” – Tommy

Kisah berlangsung satu tahun pasca kejadian dalam predesornya. Kini Tommy (Ferdy Taher) berubah menjadi rocker insyaf. Dia bukan lagi vokalis The Boxis karena Lintang (Wulan Guritno), sang istri, melarang Tommy nge-band lagi. Alhasil, kerjaan Tommy tiap hari hanya menjadi penjaga rumah selagi istri dan anak gadisnya yang bernama Niki (Olivia Jensen) sibuk dengan urusan masing-masing di kantor dan sekolah.

Pada suatu hari ketenangan dalam rumah tangga Tommy berubah 180 derajat ketika datang sosok pemuda dengan style berandal bernama Vino (Axel Andaviar) yang mengaku sebagai anak dari Tommy. Benarkah dia anak Tommy? Kalau memang benar, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Lintang dan Niki menerima Vino jika memang dia anak kandung dari sosok rocker tobat tersebut?

Masih Bukan Cinta Biasa memang masih menawarkan hal yang tak jauh beda dari prekuelnya. Masih memiliki kisah yang serupa. Serta masih dibintangi oleh pemain yang sama pula. Bahkan, sampai ke jajaran bintang tamunya! Lalu, jika memang seperti ini, apa yang sebenarnya ingin ditawarkan dari film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh sineas bernama Benni Setiawan ini? Lupakan premis yang sebelas-dua belas dengan Bukan Cinta Biasa. Toh, film produksi ketiga Wanna B Pictures ini tetap layak menjadi hiburan.

Meski 60% durasi diisi dengan adegan serupa tapi tak sama, Masih Bukan Cinta Biasa tetap memiliki beberapa poin yang seru untuk dilihat. Pertama poin drama yang lumayan menyentuh. Iya, mata gue berkaca-kaca melihat suasana sentimentil yang berhasil diciptakan oleh Benni Setiawan dengan baik. Apalagi tone film yang dibuat sedemikian soft. Kedua, poin komedinya yang lumayan bikin tertawa meski nggak sampe ngakak kayang ke Afrika.

Malangnya, meski sudah agak gue puji-puji, film ini masih juga memiliki cacat yang lumayan ganggu bagi gue. Pertama soal perkembangan antar karakter yang stuck di jalan. Bahkan demi ambisi membuat kisah semakin menarik dan beda, Benni menenggelamkan karakter sentral Niki yang jadi penguasa pada film pertama. Diganti dengan sosok annoying dari Vino dengan progres karakter flat yang terkadang nggak menarik untuk diikuti. Kedua soal baju seragam Niki. Hell, terserah kalian mau bilang gue kurang kerjaan atau apa. Tapi hal ini sedikit banyak mengganggu mata gue. Bukankah pada Bukan Cinta Biasa seragam sekolahnya berwarna merah marun? Lalu kenapa sekarang jadi putih abu-abu? Pindah sekolah? Kenapa nggak pake kostum lama aja sih demi menyempurnakan kontinuitas? Dan kenapa nggak dijelaskan kalo memang pindah? Ketiga, unsur tearjerker yang ditawarkan terbilang over the top. Nggak perlu kaleee dilama-lamain. yang ada jadi aneh juga bawaannya! Keempat, posternya yang SHIIIT, itu siapa yang bikin? Ngeditnya ngasal banget. Gue yakin banget itu bukan kesengajaan! Coba perhatikan lengan Ferdy Taher yang terjepit sosok Olivia dan Axel. Dan silahkan benturkan kepala anda ke tembok!

Anyway, dibalik kekurangan tersebut, gue masih menikmati film ini kok ketimbang predesornya. Gue enjoy lihatnya, duduk santai dikursi sambil beberapa kali mengernyitkan dahi sedikit dan sesekali menahan tangis. Lebih untung lagi gue nggak mengeluarkan handphone dari tas untuk live tweet di twitter seperti biasa. Bukan, bukan karena gue begitu terbius akan kisahnya. Tapi sinyal SOS di dalam studio 4 membuat hidup kedua gue itu nggak berguna sesaat -___-

Rating 5.9/10

Bukan Cinta Biasa [2009]


"Ini lagi om-om, udah tua, malah ngajakin yang nggak bener!" - Niki

Berseting di kota kembang Bandung, dimana kehidupan Tommy (Ferdy Taher), seorang vokalis band rock The Bokis, berbalik 180 derajat sejak kedatangan seorang gadis bernama Nikita (Olivia Jensen) yang mengaku sebagai anaknya. Awalnya memang tidak bisa dipercaya begitu saja. Bagaimana Tommy, yang menikah saja belum, sudah mempunyai anak berumur 16 tahun? Tapi semua terjawab setelah Niki mempertemukannya dengan Lintang (Wulan Guritno), ibunya, sekaligus mantan kekasih Tommy yang dulu dihamili.

Masalah merumit ketika Niki malah memilih tinggal bersama Tommy untuk melanjutkan sisa satu semester sekolahnya sebelum ikut pindah bersama Ayah baru dan Ibunya ke Amerika. Itupun melalui berbagai aturan dari Lintang guna menjamin kehidupan Niki selama jauh darinya. Dengan kata lain, merampas kebiasaan buruk Tommy seperti mabuk-mabukan bersama personil The Bokis, bercinta dengan pacar binalnya yang bernama Angel (Julia Perez) serta segudang kebiasaan buruk lainnya. Lalu, bagaimanakah kelanjutan kisah Ayah dan anak ini?

Bukan Cinta Biasa, merupakan debut dari sutradara muda berbakat, Benni Setiawan. Bercerita tentang kisah cinta yang sangat jarang sekali disentuh oleh sineas kita. Yup, kisah cinta antara ayah dan Anak. Bukan kisah cinta menye-menye dua sejoli yang konfliknya itu melulu. Well, dari segi ide bisa gue bilang film ini menawarkan sesuatu yang fresh. Pun begitu dengan pemilihan ensemble cast utama yang menggunakan wajah baru. Meski nama Ferdi Taher sendiri sudah dikenal lebih dulu sebagai vokalis Element. Nah, sekarang tinggal pertanyaan terakhir aja, apakah film ini layak tonton?

Dibilang fresh bukan berarti jauh dari keklisean identik. Nyatanya, naskah olahan Benni Setiawan tetap memamparkan jalinan kisah menye yang itu-itu saja meski tidak begitu dominan. Karena jelas film ini lebih berkonsentrasi pada kisah Tommy-Niki. Sehingga bagian lain hanya sekedar tempelan belaka. Namun masih bisa dituangkan dengan lebih wajar. Salut untuk hal itu.

Unfortunately, Bukan Cinta Biasa masih memiliki kekurangan disana sini yang lumayan mengganggu.

Pertama, soal konflik yang ternyata tidak senatural itu. Seperti apa urusan yang membuat karakter Lintang penting banget mesti ke Amerika bersama suaminya?

Kedua, soal ketidak singkronan dialog. Yang paling kentara banget adalah scene di parkiran ketika Nikita menunggui Tommy yang mabuk. Kenapa tiba-tiba bahasanya kaku dan nyastra sekaleee?

Ketiga, soal komedi yang kurang segar. Bukannya ketawa, gue malah ngernyitin jidat dan ngebatin “apaan seeeh?”

Keempat, hilangnya karater yang dimainkan Joe P-Project 30 menit menjelang film berakhir. Kemanakah dia? Apakah di culik Nayato?

Kelima, eksekusi akhir yang lumayan chessy serta terlihat menggampangkan dan tidak diceritakan kenapa-kenapanya? Seperti kenapa Lintang dan suami barunya mendadak cerai?

Terakhir gejala-gejala preachy yang makin menjadi-jadi dan lebay menjelang ending.

Intinya, Benini Setiawan terlihat agak kesusahan mengakhiri rangkaian kisah yang dia buat. Sehingga kestabilan cerita diawal mendadak rusak dan berantakan di akhir. Untungnya para pemain mampu menutupi semua dengan sangat enjoyable. Terutama akting Olivia Jensen yang waktu itu masih nobody. Sehingga Bukan Cinta Biasa terlihat tetap worth it untuk disaksikan.

Rating 5.5/10

Tak Ingin Sendiri [1985]


“Tapi saya yakin, Mbak Tika tidak mampu melihat kekurangannya sebab Mbak Tika mencintainya. Tahu nggak, Shakespeare pernah bilang begini: ‘cinta itu buta’. Ya kan Pa?”  - Mandy

“Rasanya masih banyak kata-kata Shakespeare yang lebih berarti yang seharusnya kau ingat,” - Papa

Beberapa minggu lalu nggak sengaja gue ngedenger sebuah tembang lawas di dalam bis kota yang gue tumpangi. Gatau kenapa lagu itu kena banget ke guenya. Iseng, gue langsung search di mbah google dengan memasukan sedikit lirik yang terus terngiang di kepala. And voila... gue malah menemukan film berjudul Tak Ingin Sendiri. Dimana lagu yang gue dengerin dalam bis waktu itu nggak lain dan nggak bukan merupakan original soundtracknya. Yup, lagu berjudul Tak Ingin Sendiri ciptaan Pance Pondakh yang begitu populer di era 80’an. Era ketika mama-papa kita masih kinclong.

Film yang ditukangi oleh Ida Farida ini bercerita tentang kisah cinta dua insan bernama Pras (Rano Karno) dan Tika (Meriam Belina) yang sudah lama berpacaran. Pras dan Tika memiliki perbedaan karakter yang begitu mencolok. Namun rupanya mereka bisa bertahan dengan kekurang-lebihan masing-masing. Hubungan keduanya pun telah mendapat persetujuan dari orang tua kedua belah pihak. Rencananya, nanti setelah lulus dengan gelar dokter, Pras akan melamar Tika yang sudah bertahun-tahun menunggu. Namun sayang, sebuah penyakit ganas malah meluluh lantakkan harapan mereka berdua. Sanggupkah sesuatu bernama penyakit kanker itu mempertahankan kesucian cinta mereka, atau malah sebaliknya?

Dari segi cerita kalau dilihat dari kacamata anak muda jaman sekarang tentu aja sudah sangat basi. Yah, khas-khas drama indonesia kekinian lah. Yang selalu berakhir klise dengan eksekusi seadanya. Namun rupanya, kalau dilihat dari kacamata penonton waktu itu, tentunya ada sesuatu yang lebih. Dan gue menikmati kelebihan itu.

Tak Ingin Sendiri dibangun dengan pondasi cerita yang kuat. Jika nantinya akan berakhir dengan sangat corny layaknya film drama modern, itu sah-sah saja. Karena memang sejak awal sudah di set sedemikian rupa untuk menjadi melodrama yang mengharu-biru. Bukan mendadak sakit untuk kemudian digantikan dengan muculnya sosok cinta baru. Amen for that. Karena dalam film yang naskahnya ditulis oleh sutradaranya sendiri ini, tidak ikutan mengambil pakem seperti itu.

Salut untuk akting Rano karno dan Meriam Belina yang begitu awesome. Begitu ngeblend dengan karakter yang diemban. Hingga guepun jadi ikutaan bergalau ria saking suksesnya mereka membawakan peran masing-masing. Nggak lupa dukungan dari aktor-aktris senior seperti Nanny Wijaya dan Dicky Zulkarnaen yang berperan sebagai orang tua Tika serta Ade Irawan dan H.Darus Salam yang berperan sebagai orang tua Pras dengan akting yang begitu lepas.

Nggak ketinggalan gesekan biola dari Idris Sardi (Ayah Lukman Sardi) disepanjang film yang membuat suasana semakin menyayat hati. Alah… lebay banget gue. Hehehe…

Sayangnya hal diatas masih terganggu oleh empat hal. Pertama soal pemotongan adegan yang kayaknya masih kurang rapi. Jadi terkesan loncat-loncat gitu. Kedua cerita yang melemah dipertengahan. Ketiga dialog bernas diawal yang menjadi picisan ditengah hingga akhir film. Keempat eksekusi akhir yang agak kurang ngena, membuat gue langsung drop, nggak jadi nangis pilu sambil bawa satu gulung tisu. Anyway, bukan masalah besar sih sebenernya. Karena film ini masih enak untuk diikuti kok. Apalagi soundtracknya itu… Ah, memorable sekali.

To be honest, ini pengalaman sinematik pertama menikmati film Indonesia jadul sebelum mati suri selain film-film warkop. Dan wow, gue makin nagih untuk mencari film-film Indonesia jaman dulu dengan kualitas seperti ini. Atau malah melebihi ini.

Rating 6.5/10

Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap [2011]


"Udah deh kamu gak perlu khotbah, aku uda sering denger di tivi!" - Farah

Bukan. Ini bukan sekuel dari komedi romantis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia itu. Bukan pula remake dengan perubahan judul lebih kekinian. Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap merupakan alternatif titel plesetan dari film arahan Indrayanto Kurniawan. Which is diharapkan mampu mengekor kesuksesan film asli yang rilis tahun 1986 dan dibintangi oleh Lydia Kandou bersama Deddy Mizwar tersebut. Ceritanya sendiri ditulis oleh Benni Setiawan, pemenang naskah adaptasi dan sutradara terbaik lewat film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta dalam ajang Festival Film Indonesia 2010 lalu.

Kisah dibuka oleh kegalauan Asep (Andhika Pratama) ditengah arak-arak menuju rumah Enok (Pretty Asmara), gadis desa pilihan sang ibu (Lydia Kandou) yang dijodohkan dengannya. Beruntung sebuah peristiwa membuat acara lamaran itu batal. Ya, peristiwa yang akhirnya membuat Asep mengalami sindromlove at the first sight pada cewek kota sekaligus artis bernama Farah Dillon (Donita) yang sedang melakukan pemotretan di desa tempat Asep tumbuh besar.

Saking jatuhnya cintanya, Asep sampai menyusul Farah ke Jakarta dengan membawa sebuah misi yang tak mungkin. Misi apalagi kalau bukan menyatakan suka pada sang pujaan hati dan berharap cintanya berbalas. Namun Asep tak tahu, dibalik sikap baik atas nama balas budi yang ditunjukkan Farah padanya, cewek itu menyimpan berbagai masalah produk kota besar. Terutama jalinan cinta dengan sang mantan, Brandon (Betrand Antolin) yang begitu rumit. Menyerah begitu sajakah Asep setelah mengetahui semua? Mampukah Farah bertekuk lutut pada cowok kampung yang noraknya unlimited?

Itulah kisah almost basi yang ditawarkan film terbaru garapan BIC Prodution dan Mitra Pictures ini setelah sekian kali merilis horor-komedi sampah nggak bertanggung jawab yang mirisnya mampu meraih tiga ratus ribu penonton lebih. Hasil yang cukup bisa dibanggakan karena telah membalikan modal produksi.

Film ini gue tonton tanpa ekspetasi. Benar-benar menurunkan derajat serendahnya setelah membaca komentar teman-teman sesama reviewer yang kebanyakan mencela, menghujat dan kawan-kawan dalam berbagai variasi. Berangkat dari minat membantai habis seperti biasanya, guepun turut berpartisipasi. Untuk membuktikan seberapa nyampahnya film kedua sang sutradara selepas menukangi Saus Kacang beberapa tahun lalu.

Dan gue cukup kecewa. Iya, kecewa karena filmnya tak seburuk itu. Tak sejelek yang dibicarakan teman gue. Please, jangan salahkan gue yang ngefans sama Donita. Meskipun paha mulus Donita cukup menambah nilai lebih, nyatanya bukan karena itu gue menikmati film ini. Ya, film ini menghibur kok. Seenggaknya bagi gue. Alurnya jelas dan runut. Dialog sundanya cukup bisa dipake untuk belajar kilat. Dan yang pasti banyak sesuatu yang bisa kita petik. Terlepas dari penyajiannya yang bisa dikatakan kelewat ‘ceramah’.

Meski begitu Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap masih nggak bisa lepas dari beberapa faktor minus yang mungkin merusak filmnya sendiri. Look, gue rasa porsi komedi yang maksa itu nggak perlu terlalu lebay ditampilin. Karena selain nggak bisa bikin gue (dan seisi bioskop) tertawa ngakak sampe kayang diatas monas, nggak perlulah dimasukan unsur yang diharapkan mampu membuat tertawa tapi juntrungannya malah sebaliknya. Kalo aja lebih konsen ke drama (dimana gue menikmati sisi ini), gue yakin filmnya bisa lebih sedikit enak dinikmati. Dalam hal ini, mungkin penulis skenario dan sutradaranya harus banyak tahu bagaimana cara menampilkan komedi yang baik dan benar.

Lalu soal logika-logika yang nggak mau gue jelasin (saking anehnya) serta beberapa plot yang nggak tereksekusi dengan baik. Seperti latar belakang Farah dan kesalahan apa yang membuat hubungan Brandon-Farah bisa serumit itu. Karena percayalah, nggak akan dijelaskan atau diberi sedikit klu sampai film berakhir.

Di nilai dari segi akting nggak ada masalah. Andhika terlihat begitu menjiwai sampe urat mukanya muncul kayak gitu. Lalu Donita, yang bagaimanapun kekurangan dia, gue nggak bakal pernah bisa menyalahkannya. Maklum mantan gue *tolong tampar sebelum gue membahas soal Donita semakin alay jaya*

At least, Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap bisa dijadikan alternatif tontonan. Meski masih jauh dari kata sempurna namun kehadirannya layak kita apresiasi. Lupakan soal komedi yang menentang logika, nikmati saja sisi dramanya yang begitu ringan dan menghibur.

Rating 5/10

Get Married 3 [2011]


"Edward... Jacob... Bella.." - Mama Rendy

Kisah berpusat setelah kelahiran 3 bayi kembar tidak identik dari pasangan Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Fedi Nuril). Dimana mereka memutuskan untuk mengurus bayi-bayi itu sendiri tanpa campur tangan siapapun, termasuk orang tua masing-masing dan tentunya tiga sahabat karib Mae: Guntoro (Desta), Eman (Amink) dan Beni (Ringgo). Tapi baru saja beberapa bulan berlangsung, Mae mendadak terserang sindrom baby blues atau penyakit stres bawaan ibu setelah melahirkan.

Spontan, keadaan rumah jadi kacau. Hingga pertengkaran antara Mae dan Rendy pun tak bisa dihindari. Merasa gengsi untuk meminta kembali kehadiran mertua dan ibunya, Rendy malah meminta bantuan pada ketiga sahabat karib Mae. Yang akhirnya malah membuat Babe dan Emak Mae (Jaja Mihardja – Meriam Bellina) serta Ibu dan Sophie, Adik Rendy (Ira Wibowo – Kimberly Ryder), hadir di rumahnya.

Merasa makin lama makin dijajah oleh kehadiran orang-orang itu yang tak memperbolehkan Rendy mengurus anak-anaknya sendiri , dia menyuruh Bobby (Billy W. Polli) untuk mendatangkan Nyai (Rata Riantiarno), mertua dari Babe alias nenek si Mae, dengan harapan bisa mengusir kehadiran pasukan ‘baby sitter dadakan'  itu dari rumahnya. Namun bukannya membaik, keadaan malah menjadi kacau balau. Dan kini, sekali lagi hubungan Rendy dengan Mae terpaksa tidak baik-baik saja. Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka?

Seri Get Married pernah dibuka dengan begitu menyenangkan oleh Hanung Bramantyo empat tahun silam. Dan menurun pada sekuel pertama walau raihan penonton tetap memuaskan meski tidak sebanyak predesornya. Lalu bagaimana dengan nasib sekuel kedua ini?

Tak perlu berpanjang-panjang, jika pada Get Married 2 gue menyebutkan film produksi Starvision tersebut telah kehilangan beberapa esensi yang terdapat dalam prekuelnya. Di seri ketiga, dengan sangat kecewa gue mesti bilang bahwa film yang naskahnya di tulis oleh Cassadra Massardi ini telah kehilangan segalanya. Entah itu pondasi cerita, komedi, selipan satir, chemistry antar pemain maupun soundtrack. Nggak ada yang bisa dibanggakan dari kisah Mae-Rendy selain keterpaksaan dari berbagai segi. Okelah, 20 menit awal gue masih bisa nyaman duduk di kursi, tapi semakin lama, film jadi semakin membosankan dengan banyolan yang sama sekali tidak lucu dan keklisean standar film indonesia dalam menggampangkan penyelesaian konflik. Nggak salah kan, kalo kursi bioskop sampe habis gue makan. Bahkan, sebelum film diakhiri.

Salah, langkah Chand Parwes Servia untuk memperpanjang kisah Get Married sampai titik ini jelas sebuah kesalahan. Dan gue harap cukup sampai disini saja. Jangan sampai ada Get Married 4 dua tahun lagi. Karena dalam seri ketiga yang dibidani oleh Monty Tiwa sudah sangat jauh dari kesan menghibur selain potongan kegaringan plus kejayusan yang melanda dan tak pernah berhenti ditampilkan untuk menjadi sajian komedi yang diharapkan mampu menghibur namun juntrungannya malah berakhir gagal. Cukup disayangkan. Entah salah siapa, penulisnya yang gak kreatif atau sutrdaranya yang gagal mengeksekusi. Tanyakan pada rumput yang bergoyang. Sekian

Rating 2.9/10

Tendangan Dari Langit [2011]


“Menengo kon, rame ae!” - Wahyu

Gue melihat karya terbaru dari sutradara kenamaan Indonesia ini tanpa ekspetasi apapun. Bahkan cenderung antipati. Entahlah, mungkin efek dari film Ayat-Ayat Cinta yang membuat gue sedikit muak dan nggak respek. Tapi setelah melihat karya Hanung Bramantyo sesudah film dengan jumlah penonton 3.581.947 tersebut seperti “?” yang masih menyisakan kontroversinya hingga tulisan ini gue publish, serta Lentera Merah (2006) dan Get Married (2007), gue yakin dan memaklumi, harusnya dulu nggak perlu membenci sosok Hanung sebegitunya. Mungkin dalam Ayat-Ayat Cinta dia hanya terpeleset, untuk kemudian bangun kembali. Dan itu terbukti. Meski sempat terseok dengan film yang mudah terlupakan. Hanung bisa membuktikan bahwa dia memang layak menjadi sutradara yang karya-karyanya patut kita tunggu dan apresiasi.

Tendangan Dari Langit, adalah film terbaru sekaligus garapan kedua Hanung di tahun ini. Bercerita tentang perjuangan from zero to hero seorang remaja kampung bernama Wahyu (Yosie Kristanto) yang mencintai bola melebihi apapun. Sayang, bakat itu tak pernah diakui oleh sang Ayah (Sujiwo Tedjo). Bahkan dengan tegas beliau melarang anaknya bermain bola. Namun dengan dorongan sang paman, Hasan (Agus Kuncoro), yang melihat ada bakat besar dalam diri keponakannya itu, Wahyu akhirnya tertarik untuk melanjutkan mimpinya menjadi pemain bola profesional.

Plot yang basi. Jelas. Rentetan kisah from nothing to something memang nggak bisa lepas dari film bertema seperti ini. Tapi dengan lihai, Fajar Nugros selaku penulis skenario mampu meracik keklisean yang ada menjadi menarik untuk diikuti. Lihat saja, Tendangan Dari Langit tampak begitu fresh dengan segala bumbu yang menghiasi seperti dimasukannya unsur cinta monyet, persahabatan dan hubungan keluarga. Karena Fajar mampu menampilkannya dengan porsi yang pas dan tidak berlebihan. Meski dibeberapa bagian terlihat kurang matang. Seperti kisah cinta segitiga antara Wahyu, Indah (Maudy Ayunda) dan Hendra (Giorgino Abraham) yang terasa hanya untuk mengulur durasi.

Didukung jajaran ensemble cast yang mumpuni, membuat film ini makin berkilau. Sebut saja Yosie Kristanto yang begitu meyakinkan lewat debutnya. Serta beberapa karakter pendukung yang diperankan oleh para pendatang baru maupun aktor aktris lawas yang rupanya mampu memberi highlight tersendiri. Nggak boleh ketinggalan penampilan spesial dari Irfan Bachdim dan saudara iparnya, Kim Kurniawan, dimana selain mampu menjadi taktik dan strategi penjualan filmnya, rupanya mereka bisa berakting tidak mengecewakan sebagai dirinya sendiri

Jadi nggak heran, kalau siapapun bakal mengalami gejala jatuh cinta pada pandangan pertama sama film yang soundtracknya di nyanyikan oleh band Kotak ini. Atau guenya aja yang lebay? Entahlah, ada euphoria tersendiri yang terjadi ketika gue nonton film ini. Dimana satu studio sumpek dipenuhi penonton di hari pertama pemutaran reguler. Karena berasa lagi nggak kayak nonton film, tapi nonton pertandingan bola. Haha.. gimana nggak rusuh tuh, habis seisi studio pada heboh teriak “GOOL!!” bahkan ada yang tepuk tangan saat ada adegan bola masuk ke gawang.

Oke, dari segi cerita, lumayan. Ekskusi sang sutradara, keren. Pemilihan soundtrack, dahsyat. Sinematografi dari Faozan Rizal, ciamik! Akting, cadas! Terus apalagi ya? Jadi bingung gue saking speechlessnya pas nonton film ini. At least, sebagai tontonan keluarga, Tendangan Dari Langit adalah sebuah film dengan paket komplit. Ada drama yang mengharu biru, komedi, tegang, semua campur jadi satu. Atau malah gue prediksi bisa jadi film terbaik tahun ini. Salut aja deh untuk orang-orang dibelakang layar Tendangan Dari Langit. Bikin gue bisa sedikit bangga jadi orang Indonesia kalau film yang di produksi modelnya kayak gini. Bukan kayak... ah, males bahas deh. Ayo, segera datang ke bioskop!


Rating 8.9/10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...