Showing posts with label Ajib. Show all posts
Showing posts with label Ajib. Show all posts

Malaikat Tanpa Sayap [2012]


"Namun tak kau lihat lihat terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..."

Ada sesuatu tentang permainan takdir . Semenjak bisnis sang Ayah (Surya Saputra) bangkrut, Vino (Adipati Dolken) diharuskan keluar dari kotak rasa nyaman. Hidup pun serba tak mudah sejak saat itu. Mulai ancaman dikeluarkan dari sekolah, keegoisan sang Ibu (Kinaryosih) yang tak mau terus-terusan hidup miskin sampai masa depan Wina (Geccha Qheagaveta), adiknya, yang jika tak segera ditolong, akan memiliki satu kaki seumur hidup.

Ditengah kegalauan itu dan sosok Ayah yang tak bisa diandalkan, seorang Calo organ tubuh (Agus Kuncoro) menawarkan pilihan pada Vino. Pilihan yang dianggapnya mudah jika saja kemudian dia tak bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda). Pertemuan yang membuat Vino gamang pada tekad awal. Sayangnya, kemudian Vino sadar tak ada pilihan untuk lari. Atau untuk sekadar bernapas sejenak.

Firstly, gue sempat antipati sama karya terbaru Rako Prijanto kali ini. Setelah menghadirkan komedi-komedi sampah yang plotnya hasil mix and match film asing. Hampir tak ada harapan bagi gue untuk percaya atau memilih menghamburkan uang demi tontonan tidak bermutu. Sayangnya kali ini gue salah. Karena Malaikat Tanpa Sayap hadir dengan begitu elegan ditengah ritme seragam yang terus menerus meneror bioskop tanpa pencapaian berarti.

Dibalik ranah klise tentang drama kematian, Malaikat Tanpa Sayap mencuat sebagai film yang terbilang memenuhi elemen-elemen drama secara utuh; kedalaman cerita, karakterisasi yang jelas, akting rupawan dari ensemble cast-nya, sajian gambar menarik dan tentu saja unsur mellow yang disajikan apa adanya. Jauh dari kesan lebay, tangisan tidak pada tempatnya dan segala sesuatu yang memaksa kita untuk terenyuh. Karena unsur tersebut disajikan secara natural, tidak mendayu-dayu dan memaksa penonton.

Well, inilah Rako Prijanto yang dulu gue kenal lewat Ada Apa Dengan Cinta? sebagai penata skrip. Yang kemudian berani debut sutradara lewat Ungu Violet dengan hasil lumayan meski plotnya menyedihkan. Dan berani menyajikan kisah cinta unik lewat Merah Itu Cinta. Nggak salah kalo dia bilang “Malaikat Tanpa Sayap film yang gue banget” karena film ini memang sangat Rako. Rako yang dulu. Rako yang selalu menyelipkan quote di film-filmnya. Ditangan Rako film ini memiliki nyawa dan berbeda. Terutama dengan pemilihan pemain yang benar-benar tepat.

Unfortunately, masih ada beberapa hal yang cukup mengganggu. Seperti sempalan twist yang terlihat tak alami dan maksa. Juga kesalahan fatal yang membuat elemen surprise hilang bahkan sejak pertama kali durasi di buka. Oh please…

Sayangnya gue harus maklum. Rako berusaha serius saja sudah lebih dari cukup. Soundtrack ciptaan Dewi Lestari pas banget sama film ini. Dan Maudy Ayunda juga cantik. “Embun gak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta. Sama kayak aku, aku nggak punya alasan buat nggak jatuh cinta sama kamu, Maudy. Dan kalo ngomongin masa depan, kamu harus janji dulu sama aku kalo kamu bakal ngejalaninya sama aku... ”

Ummi Aminah [2012]


“Mulutnyah!” ~ Zubaidah

Aditya Gumay adalah satu dari sekian sutradara kita yang nggak pernah muluk-muluk dalam proses membuat film. Minimal sekali dalam satu tahun dia merilis sebuah karya. Ya, memang hanya satu saja. Tapi efeknya bisa membekas sampai film berikutnya muncul. Lihat, belum habis hype Emak Ingin Naik Haji (2009) dan Rumah Tanpa Jendela (2011) yang muncul dengan begitu sederhana namun mampu membuat hati menangis, di awal tahun 2012 ini hadir kembali satu karya terbarunya bertajuk Ummi Aminah.

Ummi Aminah bercerita tentang seorang ustadzah terkenal bernama Aminah (Nani Wijaya) yang memiliki ribuan jemaah setia. Meski dijadikan sosok panutan karena syiar agamanya mampu menggugah siapapun, tak lantas membuat hidup Aminah dan keluarga besarnya jauh dari cobaan. Tema 'ustadzah juga manusia' inilah yang kemudian dijadikan duet Adenin Adlan dan Aditya Gumay sebagai menu utama.

Meski suguhan konflik terlihat klise a la sinetron di televisi yang makin hari makin nggak berguna (tapi mendatangkan banyak rejeki bagi orang-orang yang bekerja di belakangnya), Ummi Aminah mampu tampil dengan tidak berlebihan apalagi menggurui. Satu kata: sederhana. Apa yang dituturkan Aditya Gumay dalam filmnya kali ini nggak terlalu dibuat lebay jaya. Karena bisa aja hal kayak gini terjadi di sekitar kita. Atau mostly udah sering kita alami. Fakta inilah yang kemudian mampu secara reflek membuat penonton untuk tidak hanya sekedar terlibat secara mata, tapi juga batin.

Satu kelebihan lain adalah keputusan tepat yang diambil penulis skenario untuk tidak terlalu menghakimi kaum LGBT seperti yang terjadi dalam segmen cerita anak Aminah bernama Zidan (Ruben Onsu). Disini sosok Zidan sengaja di abu-abukan untuk kemudian jadi bahan kontemplasi orang-orang yang sering memandang mereka sebelah mata. Bahwa sosok seperti Zidan ada disekitar kita. Dan mereka juga manusia. Nggak perlulah sok-sok ngejudge seolah kita ini Tuhan seperti beberapa film yang kadang membuat posisi mereka terlihat tak pada tempatnya.

Sebagai sebuah film, Ummi Aminah memang jauh dari kata sempurna seperti hakikat manusia itu sendiri. Tapi untungnya hal tersebut tidak terlalu mengganggu sehingga merusak isi film karena dengan sukses tertutupi oleh akting para ensemble cast yang begitu mumpuni. Lihat saja duet Ummi dan Abah yang diperankan secara alami oleh Nani Wijaya dan Rasyid Karim. Juga kelebayan Zubaidah (Genta Windi) yang mampu mengocok perut di saat yang seringnya tidak tepat. Iya, karena kadang pas kita kita udah larut dalam suasana sentimentil mendadak dibuat tertawa akibat celetukan komedinya. Highlite yang terbilang berhasil.

Anyway, salut untuk pemilihan ending yang terbilang berani hingga tak terkesan stereotip seperti film bergenre drama sejenis. Ya, setidaknya bisa memperingatkan kita bahwa hidup nggak semudah Mario Teguh dalam menulis quote-quote yang terkadang berkesan bullshit (ups...).

Ummi Aminah adalah film pembuka tahun yang memuaskan. Unfortunately melihat fakta di lapangan bahwa penonton kita lebih senang nonton film berbau paha dan belahan dada ketimbang film bermutu seperti ini membuat hati ini sakit. Benar-benar nggak habis pikir deh. Sulit memang menerka pasar. Semoga Aditya Gumay nggak kapok membuat film-film setema sebangun seperti Ummi Aminah. Film yang sederhana dan dekat dengan keseharian. Film yang mampu menyentuh dan membuat kita keluar dari bioskop dengan membawa ‘sesuatu’...

Arisan! 2 [2011]


“Socialite tuh kan harus social, nggak cuma dateng ke party foto cekrak cekrek masuk majalah dong!” ~ Andien

Delapan tahun adalah jarak yang lumayan panjang untuk sebuah sekuel. Meski sempat diragukan, toh pada kenyataanya Arisan! 2 tetap hadir kembali menyapa para pecinta film pertama yang lumayan hitz di tahun 2003. Tidak ada lagi campur tangan Joko Anwar sebagai penulis skenario. Karena dengan gagah, Nia Dinata yang juga bertindak sebagai sutradara sekaligus produser, melanjutkan apa yang sudah Joko hantarkan dalam prekuelnya.

Diumur yang sudah mendekati kepala empat, banyak hal telah berubah dalam geng arisan. Sakti (Tora Sudiro) dan Nino (Surya Saputra) tak lagi menjalin hubungan. Sebagai seorang sutradara film bertema LGBT, Nino memilih berpacaran dengan brondong kemayu berumur 21 tahun bernama Octa (Rio Dewanto). Sedang Sakti  memilih jadi pria simpanan seorang sugar daddy bernama Gerry (Pong Harjatmo).

Berbeda dengan Meimei (Cut Mini) yang memilih untuk menikmati hidup sendiri pasca perceraian, Andien (Aida Nurmala), janda beranak dua ini, malah menyibukan diri dengan ‘pria-pria’ santapan setelah ditinggal sang suami untuk selamanya. Lalu Lita (Rachel Maryam) yang berprofesi sebagai pengacara dan tengah disibukan dengan pencalonan diri dalam suatu partai, tengah berusaha menjadi single mother yang baik bagi bocah tampan dengan identitas suami yang dirahasiakan.

Seperti dikatakan Rachel Maryam dalam behind the scene Arisan! 2: “sayang banget nonton yang pertama kalo nggak nonton yang kedua” memang benar adanya. Meski dari segi penceritaan terlihat kedodoran akibat terlalu banyak plot saling tumpang tindih dan alternatif penyelesaian yang mau nggak mau terkesan cheesy, ditangan seorang Nia, film ini tetap fun to watch bahkan it's a must! Karena dari sini, kita sebagai orang awam, akan dibuat 'melek sedikit' melihat pergumulan kaum jetset dan topeng-topeng dalam kehidupan mereka. Hell yeah, meski terkadang rada lebay juga sih dibeberapa part. But I don't know why masih terlihat natural.

Berterima kasihlah Nia karena Arisan! 2 didukung oleh ensemble cast yang benar-benar luar biasa. Para pemain lawas nggak usah diragukan lagi gimana aktingnya. Cut Mini, Rachel, Tora, Surya dan Aida terlihat sangat hitz banget membawakan peran masing-masing. Sedang untuk pemain ‘sempalan’ ternyata mampu tampil lebih daripada lima pemain utama tadi. Coba tengok Rio Dewanto yang nggondek, Sarah Sechan dengan tingkah snob-nya, Atiqah Hasiholan yang terlihat so so gorgeous, Edward Gunawan yang calm banget and of course Adinia Wirasti yang tampil begitu berkilau dalam artian sebenarnya!

At least, kalo lo butuh tontonan Indonesia yang ringan, kocak karena sentilan isu dalam balutan satir yang menghibur dengan gaya elegan, bukan corny atau malah menyampah, rasanya sayang banget melewatkan film ini. Simpelnya sih karena Nia Dinata sukses mengajak penonton untuk menikmati sedikit guilty pleasure setelah terjebak stagnansi dalam rutinitas sehari-hari. Lihat saja, selain dibintangi aktor aktris papan atas dan sinematografi yang indah, kita juga diajarkan sesuatu tentang arti sebuah persahabatan: teman datang dan pergi, tapi teman-teman sejati akan selalu di hati.

By the way, jarang-jarang banget kan gue muji-muji kayak gini?

Sang Penari [2011]


"Sus, ronggeng iki duniaku, wujud dharma baktiku untuk Dukuh Paruk!" ~ Srintil

Ini kisah Srintil (Prisia Nasution) yang merasa memiliki keterikatan magis sebagai penari ronggeng sejak kecil. Ini kisah Rasus (Oka Antara) , pria lugu yang tumbuh besar dengan satu cinta, satu nama wanita di hatinya; Srintil. Ini kisah dua manusia yang harus memilih untuk hidup. Dimana pilihan itu nanti akan membuat keadaan disekitar mereka mau tak mau akan berubah.

Seperti itulah sedikit gambaran yang bisa gue tuliskan tentang Sang Penari. Sebuah film yang dibuat dari hati. Sebuah film produksi anak bangsa yang patut diapresiasi lebih. Diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk buah karya Ahmad Tohari, penulis asal Banyumas. Disutradarai oleh Ifa Isfansyah berdasar naskah yang dia tulis bersama Salman Aristo dan salah satu produser, Shanty Harmayn.

Rasanya nggak salah menyerahkan proyek adapatasi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala ini kedalam bentuk visual di pundak seorang Ifa yang angkat nama lewat Garuda Di Dadaku. Ditangan Ifa, Sang Penari terlihat lebih hidup berkat kejeliannya menangkap berbagai aspek menarik yang tersaji selama 109 menit. Didukung oleh sinematografi dari Yadi Sugandi dengan tatanan tone gloomy tahun 1950-1960 nya, tata busana dari Chitra Subiyakto, tim artistik yang begitu detail menuangkan hiruk pikuk jaman dulu, serta scoring olahan Aksan dan Titi Sjuman, semakin membuat mata ini tak mau berpaling dari layar. Semua melebur jadi satu dengan sempurna. Saling mendukung satu sama lain.

Nggak cuma itu aja, Sang Penari terlihat semakin berkilau dengan ensemble cast yang begitu kompeten dibidangnya. Sebut saja Pia (sapaan akrab Prisia Nasution) yang berakting begitu total setelah tampil nggak worthy dalam debutnya sebagai pacar Fauzi Baadilah di omnibus horor berjudul Takut: Faces of Fear. Lalu jangan lupakan chemistry antara Pia dengan lawan mainnya, Oka Antara yang dapet banget. Selain dua nama tadi, juga bisa disaksikan kehadiran bintang sekelas Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Lukman Sardi dan Tio Pakusodewo yang bermain pas dengan karakter yang diemban masing-masing.

Sayangnya Sang Penari juga tidak sesempurna itu. Dia juga memiliki kekurangan yang sedikit membuat kening berkerut karena munculnya scene-scene nggak penting dibeberapa part sehingga meninggalkan lubang kecil yang tak mampu tertambal dengan baik. Bukan itu saja, kurangnya penjelasan bagi penonton awam seperti gue yang nggak pernah tahu ada novel Ronggeng Dukuh Paruk, terlihat akan menjadi kendala besar bagi sebagian penonton. Terutama bagi generasi yang tumbuh ketika invasi produk dan tingkah laku a la luar negeri sudah menjadi gaya hidup. Belum lagi kebijakan lembaga sensor film yang cukup mengganggu disalah satu adegan karena kasar banget motongnya, bikin gue makin kecewa.

Terlepas dari itu, Sang Penari tetaplah film bermutu. Apalagi production value-nya pantas diberi kredit. Kalau saja film ini rilis lebih dulu daripada Di Bawah Lindungan Ka’bah, semua pasti akan menjagokan Sang Penari dalam ajang Oscar 2012 untuk mewakili Indonesia dibanding film berbujet besar tapi kosong dan nggak ada apa-apanya itu.

At least, inilah contoh film yang bikin kita bangga jadi penduduk Indonesia. Ayo, dukung film Indonesia bermutu!

Tendangan Dari Langit [2011]


“Menengo kon, rame ae!” - Wahyu

Gue melihat karya terbaru dari sutradara kenamaan Indonesia ini tanpa ekspetasi apapun. Bahkan cenderung antipati. Entahlah, mungkin efek dari film Ayat-Ayat Cinta yang membuat gue sedikit muak dan nggak respek. Tapi setelah melihat karya Hanung Bramantyo sesudah film dengan jumlah penonton 3.581.947 tersebut seperti “?” yang masih menyisakan kontroversinya hingga tulisan ini gue publish, serta Lentera Merah (2006) dan Get Married (2007), gue yakin dan memaklumi, harusnya dulu nggak perlu membenci sosok Hanung sebegitunya. Mungkin dalam Ayat-Ayat Cinta dia hanya terpeleset, untuk kemudian bangun kembali. Dan itu terbukti. Meski sempat terseok dengan film yang mudah terlupakan. Hanung bisa membuktikan bahwa dia memang layak menjadi sutradara yang karya-karyanya patut kita tunggu dan apresiasi.

Tendangan Dari Langit, adalah film terbaru sekaligus garapan kedua Hanung di tahun ini. Bercerita tentang perjuangan from zero to hero seorang remaja kampung bernama Wahyu (Yosie Kristanto) yang mencintai bola melebihi apapun. Sayang, bakat itu tak pernah diakui oleh sang Ayah (Sujiwo Tedjo). Bahkan dengan tegas beliau melarang anaknya bermain bola. Namun dengan dorongan sang paman, Hasan (Agus Kuncoro), yang melihat ada bakat besar dalam diri keponakannya itu, Wahyu akhirnya tertarik untuk melanjutkan mimpinya menjadi pemain bola profesional.

Plot yang basi. Jelas. Rentetan kisah from nothing to something memang nggak bisa lepas dari film bertema seperti ini. Tapi dengan lihai, Fajar Nugros selaku penulis skenario mampu meracik keklisean yang ada menjadi menarik untuk diikuti. Lihat saja, Tendangan Dari Langit tampak begitu fresh dengan segala bumbu yang menghiasi seperti dimasukannya unsur cinta monyet, persahabatan dan hubungan keluarga. Karena Fajar mampu menampilkannya dengan porsi yang pas dan tidak berlebihan. Meski dibeberapa bagian terlihat kurang matang. Seperti kisah cinta segitiga antara Wahyu, Indah (Maudy Ayunda) dan Hendra (Giorgino Abraham) yang terasa hanya untuk mengulur durasi.

Didukung jajaran ensemble cast yang mumpuni, membuat film ini makin berkilau. Sebut saja Yosie Kristanto yang begitu meyakinkan lewat debutnya. Serta beberapa karakter pendukung yang diperankan oleh para pendatang baru maupun aktor aktris lawas yang rupanya mampu memberi highlight tersendiri. Nggak boleh ketinggalan penampilan spesial dari Irfan Bachdim dan saudara iparnya, Kim Kurniawan, dimana selain mampu menjadi taktik dan strategi penjualan filmnya, rupanya mereka bisa berakting tidak mengecewakan sebagai dirinya sendiri

Jadi nggak heran, kalau siapapun bakal mengalami gejala jatuh cinta pada pandangan pertama sama film yang soundtracknya di nyanyikan oleh band Kotak ini. Atau guenya aja yang lebay? Entahlah, ada euphoria tersendiri yang terjadi ketika gue nonton film ini. Dimana satu studio sumpek dipenuhi penonton di hari pertama pemutaran reguler. Karena berasa lagi nggak kayak nonton film, tapi nonton pertandingan bola. Haha.. gimana nggak rusuh tuh, habis seisi studio pada heboh teriak “GOOL!!” bahkan ada yang tepuk tangan saat ada adegan bola masuk ke gawang.

Oke, dari segi cerita, lumayan. Ekskusi sang sutradara, keren. Pemilihan soundtrack, dahsyat. Sinematografi dari Faozan Rizal, ciamik! Akting, cadas! Terus apalagi ya? Jadi bingung gue saking speechlessnya pas nonton film ini. At least, sebagai tontonan keluarga, Tendangan Dari Langit adalah sebuah film dengan paket komplit. Ada drama yang mengharu biru, komedi, tegang, semua campur jadi satu. Atau malah gue prediksi bisa jadi film terbaik tahun ini. Salut aja deh untuk orang-orang dibelakang layar Tendangan Dari Langit. Bikin gue bisa sedikit bangga jadi orang Indonesia kalau film yang di produksi modelnya kayak gini. Bukan kayak... ah, males bahas deh. Ayo, segera datang ke bioskop!


Rating 8.9/10

Get Married [2007]


"Hidup gue didunia ini nggak ada yang bisa gue banggain. Satu-satunya harapan gue ya akhirat. Siapa tau bisa bahagia.." - Eman

Cuma beda selisih seratus ribu, Get Married arahan sutradara Hanung Bramantyo ini menjadi film paling laris di tahun 2007 dengan perolehan sekitar satu koma empat juta penonton. Mengalahkan sekuel Nagabonar di posisi kedua dan menghempaskan film setan tersetan yang di sepanjang tahun itu terus-terusan meneror perbioskopan Indonesia dengan kualitas yang patut di pertanyakan.

Mae (Nirina Zubir), Eman (Amink), Guntoro (Desta 'ClubEighties') dan Beni (Ringgo Agus Rahman) adalah empat sahabat yang tumbuh dan besar bersama. Herannya nasib mereka pun nggak jauh beda. Dimana empat pemuda yang sewajibnya menjadi harapan bangasa dan negara ini malah terjebak dalam label pengangguran ketika mimpi-mimpi kecil mereka tak pernah terealisasi akibat keadaan.

Bosan dengan perilaku Mae yang luntang-lantung nggak jelas setelah lulus dari sekolah sekertaris, Emak dan Babenya (Jaja Mihardja dan Meriam Bellina) berniat mencarikan jodoh agar lepas dari tanggung jawab menjaga Mae. Sayangnya, jodoh yang mereka dapatkan sama sekali nggak memenuhi standar Mae. Lalu munculah Rendy (Richard Kevin) cowok kaya raya yang tengah mencari cewek dengan tingkah berbeda dari mantan-mantannya selama ini yang kebanyakan satu label meski beda orang. Sayangnya Rendy terpaksa menyerah meski tahu benar Mae juga menyukainya ketika Eman, Beni dan Gun malah memprovokasi agar dia meninggalkan Mae. Lalu bagaimanakah nasib Mae selanjutnya? Dapatkah dia mendapatkan jodoh dan membahagiakan kedua orang tuanya?

Sebenarnya naskah yang ditulis oleh Musfar Yassin ini bukanlah sesuatu yang dahsyat kalo dipikir ulang. Cuma kebetulan ketika penonton Indonesia jenuh dengan sajian horror yang jauh dari kata horror, munculah film ini dengan genre berbeda yang juntrungannya malah terlihat seperti setetes air ditengah tandus dan keringnya gurun pasir. So, nggak salah kalo akhirnya banyak yang mencari alternative pilihan lain dibanding menonton sosok-sosok tak kasat mata dengan tema usang tersebut.

Didukung oleh departemen akting yang begitu mumpuni. Sebut saja kwartet Nirina-Aming-Desta-Ringgo yang mampu berperan dengan sangat luwes serta beberapa pemain pendukung yang menambah ramai suasana. Seolah karakter tersebut memang sudah dibuat untuk mereka.. nggak salah kalo kekonyolan-kekonyolan yang disajikan terbilang cukup mampu mengundang tawa meski sedikit diluar logika dan cenderung slapstik. Tapi tak apalah. Toh, tujuannya hanya untuk menghibur. Rasanya hal yang lumrah selama komedi yang ditujukan nggak lebay.

Film produksi Starvision ini nggak menyajikan sesuatu yang baru diranah hiburan lokal. Namun dia hadir dimomen yang tepat, ketika penonton tengah haus dengan sajian yang monoton. Dan beruntungnya eksekusi dari Hanung cukup bisa membuat semua yang terjadi seolah real. Didukung pula dengan iringan musik dari Slank yang bener-bener megang. Nggak salah kalau siapapun bakalan jatuh cinta. Bahkan juri-juri Festival Film Indonesia.

Get Married nggak ubahnya seperti dongeng usang putri buruk rupa yang akhirnya mendapatkan sang pangeran dengan style kumuhnya ibukota. Disajikan secara apik dan terang-terangan menyindir drama politik yang terjadi kala itu dengan komedi satirnya secara tepat. Great job Hanung!

Rating 7/10

Catatan Harian Si Boy [2011]


“kalau lo kabur sekarang berarti lo simpen tai disini.. nanti lo juga bakalan lempar tai ditempat lain juga.. dan lama-lama dunia ini bakalan penuh sama tai lo!" – Andi

Di tahun ini, menginjak semester kedua, baru 2 film indonesia yang gue kasih skor 7.5/10 alias ajib alias layak banget di tonton. Film itu adalah “Rumah Tanpa Jendela” dan “?” meski masih memiliki kekurangan tapi mampu tertutupi dengan baik. Sedang film yang lainnya masih aja sampah dan lainnya lagi masuk kategori lumayan. Namun kali ini, bahkan belum sempat mereview lebih dalam, gue uda berani teriak: “INI DIA FILM ANAK NEGERI YANG GUE CARI DAN DICARI BANYAK ORANG” dan tentu aja langsung dapet rating 8.5/10 dari gue! Lho kok? Baiklah karena nggak lucu kalo gue review cuma satu paragraf gini doang, mengutip dialog di film ini, "gue mesti selesein apa yang udah gue mulai..", mari baca review selengkapnya.

Hell yeah, Catatan Harian Si Boy. Merupakan debut sutrdara muda bernama Putrama Tuta yang mungkin uda bisa gue sejajarkan dengan sutrdara tenar lainnya. Dan gue yakin, nasibnya bakalan cemerlang kalo aja nggak terjebak sama dinamika sutradara kancut kekinian. Berdasar naskah duet Priesnanda Dwisatria dan Anggy Ilya Sigma yang sukses membuat siapapun nggak mungkin untuk nggak jatuh cinta sama jalinan cerita sejak durasi baru dimulai.

Mungkin kalian pernah ngendeger ato senggaknya baca di majalah film kalo pernah ada sesuatu yang happening ditahun ’80-an. Yaitu era ketika bokap nyokap kita masih eksis. Ada film berjudul Catatan Si Boy yang diangkat dari sandiwara radio dan disutradarai oleh almarhum Nasri Cheepy. Lalu, apakah CHSB ini merupakan sekual ato remake film yang dulu dibintangi oleh Onky Alexander, Dede Yusuf dan Paramitha Rusady itu? Jawabannya sepertinya cukup membingungkan. Disebut bukan sekuel kok nyambung sama film terakhir. Disebut remake kok aneh banget. Jadilah gue dan mereka menyebutnya sebuah regenerasi dari pendahulu dan berharap mampu menyamai track record happening tiga dekade silam, mengikuti kisah boy sampe ke sekuel-sekuelnya.

Menilik dari segi cerita sebenarnya yang ditawarkan oleh duet penulis scenario CHSB tergolong basi to the max ya. Tapi itu nggak membuat siapapun bakalan antipati. Karena kebasian sebuah film bakal berujung manis kalo proses eksekusi dan segala pernak-perniknya dibuat semenarik mungkin. Dan inilah jawabannya!

Sejak awal film berjalan, kita sudah disajikan dengan sebuah tontonan yang berbeda. Benar-benar nggak nyangka kalo ini loh film anak bangsa. Sangat Hollywood sekali. Jadi nggak salah kan kalo mutu Indonesia dengan filmnya sedikit terangkat berkat hadirnya film ini. Pergerakan kamera begitu dinamis, pencahayaan serta sinematografi tergolong diatas rata-rata. Production valuenya cukup bisa diacungi jempol. Amaze deh!

Para departemen aktingnya juga jawara. Dari Ario Bayu, Carissa Puteri, Poppy Sovia (ehem.. mantan gue *abaikan*), Abimana atau yang dulu dikenal dengan nama Robertino, Albert Halim sampe Tara Basro. Yang gue jamin bakalan jadi idola remaja masa kini. Serius! Akting mereka begitu mumpuni meski kadang terlihat kurang lepas di beberapa bagian. Contohnya Albert Halim dan Carrisa Puteri, diawal terlihat kurang konek, tapi lama-lama enjoy juga dilihat.

Nggak cuma bintang-bintang baru, emak babeh yang demen sama seri dahulu juga nggak bakal dibuat manyun karena masih ada benang merah dan tentunya penampilan karakter vital dari film terdahulu seperti Onky Alexander, Btari Karlinda dan Didit Petet. Cuma yang bikin gue kerutin jidat, kemana Ayu Azhari yang berperan jadi Nuke? Karena hampir disepanjang film wajah Nuke sengaja nggak dilihatin. Apakah Ayu nggak mau main film ato gimana? Yasudahlah.. yang pasti salut buat artis yang berperan jadi Nuke. Hehe... Nggak ketinggalan ada cameo dari Joko Anwar, Leroy Osmani, Cut Tari (iyes, yang itu..) dan Richard Kevin (yang sebenarnya nggak penting juga kehadiran mereka, namanya juga cameo).

Dari tadi kayaknya gue ngebacot positif mulu ya. Sebenarnya ada beberapa kekurangan sih. Seperti cerita yang nggak fokus soal kisah cinta bersegi antara Satrio-Nico-Nina-Natasha, pencarian si Boy dan persahabatan para karakter. Yang terlihat akhirnya malah cerita bertumpuk kebanyakan plot, ingin dileburkan jadi satu cuma sayang agak kurang nge blend. Malah menurut gue, dengan nggak ada plot pencarian si Boy, film masih tetap bisa berjalan kok. Meski gue yakin nggak akan se-hype ini dampaknya kalo plot soal Boy dihilangkan. Dan judulnya tentu bukan Catatan Harian Si Boy lagi. Tapi tenang aja, kekurangan yang gue sebutin masih bisa tertutupi dengan segala hal menarik yang tersaji.

In the end, you must see film ini! Karena nggak bakalan seru kalo liat nanti versi home video. Lihat di bioskop happening nya lebih kerasa. Serius cing, sangat menghibur. Dan gue yakin lo nggak bakalan rela ketika film mesti berakhir!

“yang nggak penting buat lo, belum tentu nggak penting buat orang lain..” - Natasha

Rating 8.5/10

Fiksi. [2008]


“Aku cuma bercanda, nggak perlu jadi drama.”

Jangan ngaku lo gaul film indonesia kalo judul dahsyat seperti Fiksi. gatau. Mungkin memang nggak begitu kedengaran namanya karena muncul dibarengi dengan gempuran film satu negeri yang bergenre komedi dan horor cabul wannabe, lalu hilang gitu aja kayak gak pernah terjadi apa-apa. Tapi film arahan Mouly Surya ini seperti setitik air yang ditemukan di padang gersang. Lebay? Nggak kok.

Ceritanya simpel banget. Tentang Alisha (Ladya Cherryl), seorang cewek kaya yang kesepian. Semenjak kematian ibunya, Alisha selalu ditinggal oleh sang Ayah yang entah sibuk dengan pekerjaan atau cewek lain seperti dugaannya. Sehari-hari hanya berempat dengan seorang pengurus rumah, sopir pribadi dan sebuah cello. Namun kehidupan datarnya berubah ketika Alisha bertemu dengan Bari (Donny Alamsyah), pekerja serabutan yang berkerja dirumanya.

Oke, sampai sini sepertinya too cliche to be true. But wait, ini masih permulaan, tunggu sampai sebuah drama datar ini berubah menjadi sajian thriller psikologis. Yang siap menjungkir balikan dunia sadar kita tanpa basa-basi.

Naskah Fiksi. ditulis oleh Joko Anwar. Sepertinya nggak usah bertanya kenapa dia bisa segila ini. Karena itulah Joko. Membuat film yang memang perlu dibuat. Dengan tema yang jarang tersentuh. Tapi seperti biasa pula, dimasukan sub-plot tentang gay. Yah, sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Jadi nggak perlu ditanya kalau dibeberapa film dimana ada nama Joko, pasti ada unsur itu.Sebut saja Arisan!, Kala atau Babi Buta Ingin Terbang, debut film panjang Edwin, dimana Joko Anwar bermain sebagai salah satu tokoh di dalamnya.

Yang lebih gila lagi, seorang Mouly Surya, sukses mengekskusi film pertamanya ini dengan brilian. Sepertinya Mouly mencurahkan seluruh bakat yang dia pendam untuk Fiksi (sotoy deh gue). So, nggak salah kalau balasan setimpal berupa piala dengan embel-embel sutradara terbaik di Jiffest dan Festival Film Indonesia mampir ke tangannya. Film ini minim percakapan, kebanyakan hanya berupa adegan bisu yang mengandalkan imajinasi kita menerka kenapa. Jarang ada film indonesia yang berhasil membuat kekosongan itu terisi,dan Mouly lah orangnya. Dengan sangat menawan, dingin dan mencekam dia sukses menyajikan betapa sakitnya film ini.

Nggak cuma itu, unsur ketegangan juga sukses diciptakan oleh penata musik dan yang nggak boleh ketinggalan, Ladya Cherryl, salah satu artis berbakat (sekaligus ehem.., mantan gue) yang pernah dimiliki indonesia. Jarang muncul tapi sekali muncul langsung gempar.

Sayangnya ada sedikit kekurangan yang sangat mengganggu bagi gue. Yaitu karakter Alisha yang dibuat seperti versi live action dari Shojo manga jepang. Juga akting dari Donny Alamsyah yang nggak enak dilihat. Serta plot hilangnya Alisha yang dibiarin gitu aja dan nggak dibahas atau setidaknya dicari oleh karakter sopir sekaligus intel sampai film berakhir.

At least, Fiksi. tetap nikmat di tonton untuk ukuran film sejenis buatan anak negeri, yang mungkin akan jadi film noir paling dicari suatu hari nanti. Ayo makanya sebelum ketinggalan, segera cari DVD dan VCD originalnya. Eh, kok gue jadi promosi ya. Nggak dibayar lagi. Gapapa deh, bonus karena filmnya emang layak koleksi!

Rating 7/10

Minggu Pagi Di Victoria Park [2010]


Minggu pagi di victoria park bercerita tentang perjuangan seorang mayang (lola amaria) yang berkerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di hongkong demi mencari adiknya, sekar (titi sjuman) atas perintah sang ayah. Dimana sekar yang juga TKW tengah terlibat hutang dengan salah satu bank kredit di hongkong, hingga membuat dia tak bisa pulang ke tanah air karena paspornya ditahan oleh pihak bank. Disalah satu sisi, mayang sebenarnya tak yakin apakah dia benar-benar menginginkan kepulangan adiknya itu atau tidak mengingat hubungan mereka tak begitu akrab sejak kecil karena perbedaan rasa kasih sayang yang diberikan oleh sang ayah.

Kira-kira dari plot utama seperti itulah diramu sebuah skenario drama tentang kehidupan TKW Indonesia yang bekerja di hongkong oleh titien wattimena. Dan menjadi begitu menawan ketika lola amaria yang juga merangkap peran sebagai sutradara dengan dukungan yadi sugandi di bagian sinematografi, berhasil memvisualisasika naskah itu dengan indah. Bagaimana patut diacungi jempol kejelian mereka dalam memanfaatkan sarana yang ada untuk mengambil sudut, detail dan lanskap hongkong secara indah tanpa berlebihan.

Dimana realita keseharian para TKW ini sukses disajikan secara gamblang tanpa tertutupi dari A sampe Z. dari persoalan menye-menye soal cinta yang berlandaskan uang, cinta sesama jenis, persahabatan antar TKW serta apa saja yang dilakukan rata-rata wanita indonesia yang memilih bekerja di luar negeri sebagai pembantu. Seperti yang kita tahu, jarang sekali tema seperti ini diangkat.

Belum lagi didukung dengan departemen akting kompeten dibidangnya. yang sukses bermain secara pas dalam mendalami karakter masing-masing. Kredit tersendiri untuk lola amaria yang bisa segitu santainya bermain sebagai mayang dengan gimik meyakinkan sebagai kakak yang antipati terhadap adiknya, selain harus menanggung beban sebagai sutradara. Terasa sekali kalo ini adalah panggilan jiwa lola. Nggak lupa juga komentar dari segi scoring yang cukup mengambil andil agar mood film ini terjaga dengan baik. meski ada kekurangan sedikit sih dibagian make-up, terutama ketika menyorot wajah karakter sekar. tapi nggak sepenuhnya menganggu kok.

anyway, sayang banget film sebagus ini bahkan cuma mendapat respon dari 10.000 penonton yang ada di Indonesia. Kalah sama film lain yang cuma bermodalkan belahan payudara dan paha mulus para cewek yang berwajah biasa saja sebenarnya, namun berani beradegan murahan. Semoga nantinya, penonton Indonesia bisa lebih jeli lagi untuk memilih tontonan yang berkualitas serta berani menerima genre berbeda untuk kemajuan perfilman bangsa sendiri. Coba deh pikir, memang apa yang bisa dibanggakan dari horror porno?

rating 8/10

http://www.smileycodes.info

? [2011]


Sebelum rilis pun film ini sudah memunculkan suatu formula yang bisa membuat orang berbondong-bondong datang ke bioskop. Contoh kecil dari judulnya yang begitu unik serta plot tentang pluralisme. Belum lagi kuis berhadiah jutaan yang hadir dalam rangka promosi seolah membuktikan bahwa para filmmaker Indonesia masih sangat tidak pede dengan hasil karyanya sendiri karena selalu memasukan unsur lebay dalam promosinya. Coba deh, apa iya ‘perlu’ seperti itu kalau memang filmnya sudah bagus?

Film “?” berbicara tentang beberapa karakter yang tinggal dalam satu kampung dan memiliki masalah dengan kehidupan mereka namun masih memiliki keterikatan dengan karakter lain. Ada keluarga beragama budha yang dikepalai oleh Tan Kat Sun yang sakit-sakitan (hengky solaiman) beserta istrinya Lim Giok Lie (Edmay) yang membuka usaha masakan cina dan memiliki satu-satunya putra bernama Ping Hen atau Hendra (rio dewanto) yang nggak begitu peduli untuk meneruskan usaha sang ayah.

Lalu ada wanita muslim bernama Menuk (revalina s. temat). seorang istri bersuamikan sholeh (reza rahadian) yang penggangguran. Dan untuk menutupi kebutuhan keluarga, Menuk bekerja di restoran Tan Kat Sun. Gara-gara hal itu pulalah sholeh menjadi rendah diri, dia merasa nggak dianggap sebagai seorang kepala keluarga hingga sering kali terjadi cekcok dengan istrinya.

Terakhir bercerita tentang sosok Rika (endhita) yang berpindah agama dari islam ke katholik sejak memilih diceraikan oleh suaminya daripada hidup berpoligami dan mengurus anaknya yang bernama Abi sendirian. Lalu membiarkan abi memilih agama islam sebagai agama yang tuhannya patut dia sembah meski Rika sudah tak beragama islam lagi. Disisi lain ada sosok Surya (agus kuncoro), seorang aktor yang nggak pernah beranjak dari peran figuran dan bermimpi suatu hari nanti mendapatkan peran besar, yang selalu menemani hari-hari Rika.

Dari ketiga plot itu lalu dirangkailah sebuah skenario yang manis oleh titien watimena. Dan berhasil divisualisasikan dengan indah oleh hanung bramantyo berkerja sama dengan yadi sugandi di bagian sinematografi secara pas dalam durasi yang serba terbatas. Serta iringan tata musik yang keren dari tya subiakto. Yang berhasil mengkolaborasikan musik berunsur agama dengan lagu pop love secara tepat dan mengena.

Tapi, ada tapinya nih, film ini memiliki beberapa part yang cukup mengganggu bagi gue atau mungkin beberapa orang.

Pertama soal kedetailan cerita dan motivasi karakternya melakukan sesuatu sangat nggak berdasar. Contoh pertama gue masih abu-abu soal motivasi rika berpindah agama. Apa iya, gara-gara nggak mau dipoligami langsung pindah agama? Kok mikirnya kejauhan banget ya?

Kedua soal scene ketika ibu-ibu bawel menagih uang kos ke surya. Kenapa setelah surya kabur, uangnya nggak ditagih. Padahal belum dibayar. Dan ketika bertemu lagi diperpustakaan pun kok kayak nggak terjadi apa-apa.

Ketiga soal seringnya penampilan seorang ustadz yang diperankan oleh david chalik. Entah kenapa saking banyaknya nyempil di tiap scene, gue merasakan hawa-hawa preacy kental disini. Terkesan aja terlalu mengurui, menyuapi kita secara mentah tentang bla-bla-bla.

Keempat scene ketika sholeh memimpin penyerbuan ke restoran Tat Kat Sun. kenapa yak kok tiba-tiba lalu gak ada yang menindak lanjuti. Minimal ada adegan lapor dulu kek. Nggak harus main hakim lalu selesai gitu aja tanpa ada dampak dibelakang.

Kelima soal ending yang begitu terburu-buru serta dipaksakan. Mungkin niatnya ingin bermelo-dramatik dengan ending yang yah gitu deh *nggak mau spoiler*. Mungkin kudu ditonton sendiri biar tau apa yang gue maksud.

Beruntunglah semua masih tertutupi dengan acting para bintang-bintang yang sudah teruji kualitasnya. Meski gue rada risi sama akting reza yang sama aja kayak peran-peran sebelumnya. Tipikal lah meski dibedain dikit. Dan kredit tersendiri buat agus kuncoro. Gue suka akting dia yang begitu total dan menghayati. Membuat nya tampak dominan dari seluruh jajaran cast.

Ditengah kontroversi NGGAK PERLU BINTI LEBAY dari banser NU dan isu sesat yang digemborkan MUI, kayaknya nggak perlu deh. This just a movie, guys. Iya gue ngaku disini cara penyampaian cerita terlihat terlalu menye dan mengampangkan dalam mempluralkan hubungan toleransi antar umat beragama. Toh kolerasi kekinian masih patut dipertanyakan. Tapi seenggaknya pesan yang disampaikan nggak melulu soal itu, tapi juga tentang kehidupan. Bahwa kita ini meski berbeda tapi tetaplah satu jua (kok jadi kayak pelajaran SD?). intinya nggak haruslah kayak gitu. Toh filmnya biasa aja. Gatau lagi deh kalo bagian dari trik promosi. Hehe…

At least, dari segala kekurangan yang sudah gue sebutin, film "?" tetaplah film yang memukau dan sangat menyentuh. Dan layak tonton dibandingin lihat film sampah yang muncul meneror 21. Ngaku nih, sumpah, mata gue berkaca-kaca lihat beberapa scene dramatic yang mampu menusuk jiwa labil gue yang melankolis (apaan sih?). "?", masih lebih baik dari film ayat-ayat cinta yang nggak banget menurut gue.

rating 7.5/10

http://www.smileycodes.info

Rumah Tanpa Jendela [2011]


Rumah tanpa jendela adalah film arahan aditya gumay yang diangkat dari cerita pendek berjudul “jendela rara” karangan asma nadia. Bercerita tentang rara (dwi tasya) seorang anak penjual ikan hias bernama raga (raffi ahmad) yang tinggal disebuah perkampungan kumuh bersama si mbok (inggrid widjanarko). Rara mempunyai mimpi yang sangat sederhana dan bahkan nggak bakalan pernah terlintas dipikiran kita kalau dia ingin memiliki sebuah jendela untuk rumahnya. Namun setelah melihat keadaan rumahnya yang cukup memprihatinkan, rasanya nggak salah kalau mimpi kecil itu terasa begitu indah dan mulia.

Disisi lain, yang saling bertolak belakang, diceritakan sosok aldo (emir mahira) yang memiliki keterbelakangan mental namun hidup lebih dari berkecukupan bersama keluarga yang bahagia. Oh, tidak semuanya bahagia rupanya. karena ada andini (maudy ayunda) yang sepertinya malu memiliki adik ‘nggak beres’ seperti aldo.

Dan ketika dua karakter ini dipertemukan dalam sebuah peristiwa yang bersifat kebetulan, mengalirlah sebuah cerita yang sangat menarik untuk diikuti.

Honestly, dari awal gue udah berekspetasi lebih bahwa film ini sangat menjanjikan. Dan benar saja, rumah tanpa jendela ternyata lebih dari itu. Inilah film yang gue tunggu-tunggu nongol dilayar bioskop Indonesia. seakan menjawab dahaga gue akan sejuknya melihat film yang begitu menghibur dan penuh makna tanpa harus terkesan menggurui.

Film dibuka dengan prolog tentang impian rara lalu scene musical anak-anak yang menghibur dan beruntungnya ternyata itu hanya halusinasi rara. Karena kadang gue suka enek lihat film musikal yang tiba-tiba nyanyi kek film India. Terkesan lebay aja gitu.

Dan semakin cerita berjalan, film semakin menarik untuk diikuti, cuman sayang aja ditengah-tengah kok terkesan bertele ya. Banyak sub plot yang membuat film ini kayak sinetron meski nggak sepenuhnya mengganggu sih.

Salut sama om aditya gumay yang piawai banget mengarahkan dua bintang cilik di film ini meski cara ngeshoot dia agak-agak gimana gitu. Gue suka sama dwi tasya. Mukanya tuh nggak cantik tapi lucu dan enak aja dilihat. Aktingnya juga sederhana dan nggak dibuat-buat seperti salma paramitha di film rindu purnama yang sok tua, pantes aja deh, bekas pemain sinetron. Kredit special buat emir mahira yang great, jago banget aktingnya jadi anak cacat. Ntar deh gue lihat acting dia di film sebelumnya.

Pemain pendukung lain juga nggak kalah keren seperti maudy ayunda yang makin gede makin cantik, inggrid widjanarko, aty cancer (nenek aldo), alicia johar (ibu ratna, ibu aldo), quzan ruz (adam, kakak aldo), aswin fabanyo (pak syahri, ayah aldo), billy davidson (rio, gebetan andini), varissa camellia (bu alya) serta ada yuni shara yang wow, meski hanya tampil di dua scene tapi cukup oke loh aktingnya. dan gue agak sentimen sedikit sama raffi ahmad. Kenapa harus dia sih? Bosen tauk liat mukanya. Kayak nggak ada orang lain aja. Tapi gapapa deh toh penilaian gue yang ini secara individu. Jadi nggak connect juga sama filmnya hehe…

And you know what, gue ngaku kalo air mata gue keluar disalah satu adegan ketika ada cerita flashback masa lalu rio dengan kembarannya. Emosinya ngena banget dihati gue. Sampe nggak kerasa air mata gue turun. Oh my… kenapa gue jadi mendadak lebay dan melankolis gini? #abaikan

So, dari segala penilaian diatas, rasanya nggak salah kalau gue bilang rumah tanpa jendela adalah film keluarga paling komplit tahun ini. Dari musiknya, dramanya, cinta-cintaan, komedi, terus pesan yang disampaikan dan dialog yang sedikit menyentil seperti bacotan yang diucapin temen andini: “what’s wrong with my congor?” buset, di daerah gue kata ‘congor’ itu jarang digunakan karena lumayan kasar meski nggak sekotor kata ‘jancok’. Haha… kecuali kalo lagi ejek-ejekan sama temen sih bolehlah.

Meski satu pondasi dengan rindu purnama dalam segi genre dan tema, tapi film ini lebih mature dalam memvisualisasikan bagaimana dunia anak-anak yang sebenarnya. Mungkin nantinya mathias muchus dan aditya gumay bisa bekerja sama untuk membuat film anak-anak yang lebih baik lagi daripada sebelumnya. Karena jujur aja, rindu purnama masih terasa seperti film yang bukan ditujukan untuk anak-anak.

mugkin agak terlambat bagi gue untuk mereview rumah tanpa jendela karena filmnya sendiri baru muncul dikota gue pada minggu ketiga. tapi serius deh, sangat sayang jika kalian melewatkan film satu ini!

at least, kok poster yang dipajang dibioskop kecil gitu ya? nggak kayak ukuran poster normal deh. tanya kenapa?

rating 7.5/10

http://www.smileycodes.info

Arisan! [2003]


rasanya seperti sangat ketinggalan jaman saat sedang booming-booming nya arisan! di bioskop, gue masih belum ngeh bahkan malas untuk menonton film ini. lihat saja dari judulnya yang terkesan emak-emak banget. tapi siapa yang sangka film ini mendapat banyak penghargaan dan pujian. 

mungkin bisa gue bilang dari sinilah lahir nama-nama filmaker yang nggak sekedar bisa bikin film, mereka bikin film karena harus. tentunya dengan menyeimbangkan antara kualitas dan kuantitas. sebut saja nia dinata dan joko anwar. siapa yang tak kenal dengan mereka, dengan karya-karya mereka? meski tak selalu harus menjadi sutradara. tapi mereka tetap memproduseri dan menulis skenario film layar lebar indonesia berkualitas seperti madame x, quickie express, janji joni dan sederet judul lainnya.

arisan! menampilkan tiga tokoh sentral yang nantinya akan mengaduk-aduk emosi penonton. dengan tiga background karakter berbeda tapi disatukan oleh jalinan persahabatan sejak kecil.

sebutlah meimei (cut mini), sosok rapuh yang berusaha tegar demi mempertahankan bahtera rumah tangganya dengan ical (nico siahaan) yang sudah lama tak dikarunia anak.

lalu andien (aida nurmala), kaum socialite yang hidup bergelimang harta sampe akhirnya terjebak pada permainan terlarangnya sendiri gara-gara ingin membalas dendam atas perselingkuhan kecil suaminya (joshua padelacki).

terakhir ada sakti (tora sudiro), sosok pria yang tengah bingung akan jati diri yang menyimpang kodrat. dimana awalnya tak menerima kesalahan alami dalam hidupnya sampai dia bertemu dengan nino (surya saputra) dan mulai belajar menerima diri apa-adanya.

dari tiga karakter itulah film ini berjalan dan dibuat semakin kompleks saat mereka ternyata saling membutuhkan satu sama lain meski harus melewati ragam lika-liku kehidupan khas kaum metropolis.

bisa gue bilang, meski tema yang diambil waktu itu sangatlah berani, tapi film ini berhasil menohok setiap orang yang menonton dengan cara yang menghibur dan bisa diterima dengan baik. dilaog-dialog yang tak sadar ternyata sentilan, isu-isu sosial dan gaya hedon kaum elit ibu kota semua tersaji disini secara gamblang tanpa ada yang ditutup-tutupi.

nggak salah kalo gue patut memuji sutrdara dan penulis skenario film ini. joko anwar mampu merangkai tiga karakter sentral secara pas, make sense, tak berlebihan serta dengan pintar mengatur agar tak ada diantara 3 karakter utama ini yang paling dominan. semua berjalan dengan cerita sendiri namun tetap jadi satu kesatuan yang utuh. tak lupa nia dinata yang mampu memvisualisasikan naskah joko dengan sangat perfect. terlebih detail-detail kecil dari wardrobe, setting dan pengambilan gambar yang menarik. two thumps up deh!

departemen akting pun juga rasanya patut gue acungi jempol. mereka bermain sesuai porsi dan begitu menyatu dengan karakter. cut mini yang rapuh tapi sok tough, tora yang lagi dilema sama jati diri dan aida nurmala yang centil sebagai tante-tante high class.

nggak ketinggalan scoring dari andi rianto serta soundtrack-soundtrack sepanjang film yang ear catching yang semakin menambah hidup film ini.

aha, rasanya gue terlalu berlebihan memuji film ini sampe melupakan beberapa kekurangan yang cukup menganggu. fakta pertama nih, kenapa ya sosok ical nggak terlalu diceritakan kelanjutannya setelah memilih meninggalkan meimei? padahal diawal film berjalan sempat diperlihatkan sekilas bahwa dia sedang menjalin hubungan lain dengan wanita yang entah istri atau cewek simpanan. padahal gue kira nantinya bakalan ada adegan klise seperti meimei mengetahui perselingkuhan itu atau bagaimana. atau memang karena klise itulah nia dan joko membuat filmnya seperti ini? agar lebih berbeda begitu?

fakta kedua, terlalu banyak dialog deh. meski nggak menganggu sih tapi kadang ada dialog yang nggak kedengeran akibat berbenturan omongan sama karakter lain. spesial pas adegan arisan. dimana emak-emak kurang kerjaan itu saling pamer kehedonannya dengan sangat tidak penting. selebihnya, very entertaining.

mungkin karena waktu itu gue masih SMP, jadi nggak ngeh juga dengan tema yang diambil sama film ini. terutama konflik yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. tapi setelah melihat sekarang. rasanya film ini cukup gampang dimengerti oleh semua orang. sayang, cuman lihat lewat DVD. coba kalo di bioskop. pasti seru.

denger-denger bakalan ada sekuelnya ya? wah, appreciate banget nih. kayaknya film yang patut ditunggu juga.

at least, film ini pernah dibikin tv serinya dan ditayangkan oleh stasiun antv. cuman sayang nggak pernah lihat. dan nggak tahu gimana nasib jalan sekuelnya. gue harap bisa lebih outstanding daripada seri pertama. mengingat kehidupan pasca seri pertama udah hadir dalam versi tv.

rating: 8/10

http://www.smileycodes.info

Mereka Bilang, Saya Monyet! [2007]


rasanya sangat menyesal gue baru nonton film ini 3 tahun kemudian *sambil nangis dan bentur-benturin jidat ke tembok*. debutan djenar maesa ayu dalam mendirect sebuah film ini pantas diacungi jempol. diangkat dari kumpulan cerpennya berjudul sama namun hanya mengambil 2 dari 11 cerpen yang ada dengan judul "lintah" dan "melukis jendela".

tentang seorang adjeng, penulis cerita anak berusia thirty someting, yang hidup dalam bayang-bayang kelam masa lalunya. dimana ibu yang terlalu over protektif stadium 5, sosok ayah yang suka main perempuan sehingga meninggalkan dia dan ibunya, serta pelecehan seksual yang dilakukan calon ayah barunya. hingga membentuk adjeng menjadi seorang wanita yang bingung dengan kehidupannya. tak bisa membedakan mana yang nyata atau sekedar imajinasi.

cerita yang cukup berat sebenarnya. tapi djenar dengan bahasa lugas dapat membuat kita dengan mudah mencerna serta mendapatkan esensi dari apa yang ingin dia sampaikan. sampai gue nagih dan penasaran gimana endingnya yang cuman "oh gitu doang". padahal gue pengennya lebih atau gimana gitu. hahaha...

seperti yang udah gue bilang diatas, debut djenar sebagai sutradara sangat patut diacungi jempol. meski sederhana dan terlihat hati-hati, gue suka aja cara dia ngambil angle-angle yang terasa pas dengan momen cerita. belum lagi debut titi sjuman yang juga bertindak sebagai penata musik bersama suaminya, sangat outstanding. ditambah totalitas henidar amroe. plus adegan-adegan yang nyerempet dan bikin gue eneg. misal tokoh adjeng kecil yang di suruh memakan kembali apa yang dia muntahkan di kloset. yuck... dibayar berapapun gue gak mau akting kayak gitu *pertanyaannya, heii, emang ada yang nawarin?*. salut buat nadya rompies yang mau-maunya disuruh akting kek gitu sama djenar.

hmm, apalagi ya, gue jadi bingung sendiri saking nggak percaya ada juga film kek gini di indonesia. sayang aja film ini cuman tayang di blitzmegaplex yang mendukung format digital dan kemudian muncul versi kepingan disc dengan logo jive! collection yang benar-benar jaminan mutu untuk film-film berkualitasnya. tapi ada benernya juga kenapa film ini dibuat dengan format digital, mungkin dengan tema kek gini bakalan banyak orang memandang sebelah mata. padahal belum tentu juga isinya membosankan. yah, kebiasaan masyarakat indonesia lah. yang maunya cuman nonton tontonan berbau seksi seksi. *eh, kenapa jadi curhat?*

overall, nggak berlebihan kalo gue kasih nilai 9. film yang bikin gue terjaga dan sangat menikmati tiap adegan demi adegan dengan dialog cerdas dan hampir tanpa scene yang terbuang percuma alias mubazir. film ini begitu padat dan kaya akan gizi *sok, tua deh gue*. at least, wajib tonton daripada nyesel. gue yakin film ini bakalan jadi film cult beberapa tahun nanti.

rating 9/10

http://www.smileycodes.info

Ngomongin Film Indonesia Awards 2010


For The First

mendekati akhir tahun gini, biasanya banyak acara penghargaan film di gelar. nggak diluar atau dalam negeri, semua pasti heboh ngomongin siapa yang masuk nominasinya. sometimes, ada yang kecewa begitu mengetahui kalo film yang mereka jagoin gak masuk nominasi. atau ada juga yang lebay karena tahu film favoritnya masuk sampe bikin acara nangis darah berjamaah segala.

therefore, gue ikutan copy paste sebuah penghargaan via blog 'ecek-ecek' kek gini. dan dengan sedikit bangga, gue beri tajuk NGOMONGIN FILM INDONESIA AWARDS. ayo mana tepuk tangannya. ya, ya, cukup gak usah banyak-banyak dan kelewat alay sampai tepuk tangan sambil guling-guling dilantai gitu. hahaha... *padahal nggak ada*

anyway, kebanyakan bacot deh gue. oke, langsung aja sebelum masuk ke siapa-siapa yang dapet award bohongan, gue mau ngasi tau kalo award ini gue nilai berdasarkan apa yang gue lihat dari hasil filmnya sendiri setelah beredar resmi di jaringan 21 indonesia. karena nggak semua film tahun ini gue tonton, gue bakalan ngasi awards sama film yang udah gue liat dan review di blog ini. secara cuman acara award-awardan doang, jadi tiap kategori gue masukin 4 pemenang dan yang paling memenuhi kriteria gue beri font italic. khusus poster gue kasih 5 pemenang.

so, inilah pemenang NGOMONGIN FILM INDONESIA AWARDS 2010 bagian pertama. let's check this one out!

Poster Terkancut

award ini jatuh pada film-film yang posternya ngejablay alias gak niat. entah tu produsernya yang sok yakin kalo filmnya bakalan laku dengan poster kek gini ato yang buat poster sungguh brilian hingga gak bisa nge desain gambar yang lebih baik lagi daripada ini.







Poster Terlebay

disini pemenang buat poster yang kelewat batas. gue pikir sih yang bikin poster teramat kreatif hingga posternya jadi lebay kayak ini. alay deh pokoknya!







Poster Terbaik

award ini buat poster film yang bener-bener nyeni dan eye catching. meski kadang isinya menipu juga sih. hehehe...






Pemeran Pria Terbaik

Reza Rahadian - Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Edo Borne - I Know What You Did On Facebook
Aming - Madame X
Oka Antara - Hari Untuk Amanda

Pemeran Wanita Terbaik

Fanny Fabriana - I Know What You Did Last Summer
Tika Panggabean - Red Cobex
Tika Bravani - Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Acha Septriasa - Menebus Impian

Pemeran Pendukung Pria Terbaik

Vicent Rompies - Madame X
Asrul Dahlan - Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Deddy Mizwar - Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Agastya Kandau - I Know What You Did On Facebook

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik

Shanty - Red Cobex
Ayu Diah Pasha - Menebus Impian
Kimmy Jayanti - I Know What You Did On Facebook
Leylarey Lesesne - Not For Sale


Sutradara Terbaik

Awi Suryadi - I Know What You Did On Facebook
Mo Brother - Rumah Dara
Deddy Mizwar - Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Lucky Kuswandi - Madame X

Scriptwriter Terbaik

Awi Suryadi, Alberthiene Endah - I Know What You Did on Facebook
Agasyah Karim, Khalid Kashoogi, Lucky Kuswandi - Madame X
Musfar Yasin - Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Mo Brother - Rumah Dara

Sinematografi Terbaik

Darah Garuda
Rumah Dara
I Know What You Did on Facebook
Hari Untuk Amanda

Soundtrack Terbaik

Lala Karmela - Satu Jam Saja (OST. Satu Jam Saja)
Alexa - Jangan Kau Lepas (OST. Hari Untuk Amanda)
Shanty - Tinju (OST. Madame X)
Afgan - Dalam Mihrab Cinta (OST. Dalam Mihrab Cinta)

Film Terbaik

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
Rumah Dara
Hari Untuk Amanda
Darah Garuda

------------------------------------------------------------------------------------------------------------


setelah mengetahui pemenang-pemenang Ngomongin Film Indonesia Awards 2010, gue mau bikin spesial edition tentang siapa-siapa pemenang spesial kategori terburuk. nggak berniat menghakimi sendiri, tapi setelah melihat hasil filmnya yang emang super duper nyampah, kenapa nggak kan gue bikin kayak ginian? so, langsung aja pantengin para loser-nya versi gue!

Aktor Terburuk

Ricky Harun - Toliet 105
Hardy Hartono - Pengantin Topeng
Andreano Phillip - Rayuan Arwah Penasaran
Dimas Aditya - Jejak Darah
Dimas Andrean - Selimut Berdarah

Aktris Terburuk

Fahrani - Taring
Massayu Anastasia - Pengantin Topeng
Acha Septriasa - Sst.. Jadikan Aku Simpanan
Thalita Latief - Jejak Darah
Uli Aulini - Nakalnya Anak Muda

Aktor Pendukung Terburuk

Joe Richard -Istri Bo'ongan
Indra Birowo - Toilet 105
Tities Saputra - Tiran
Zidni Adam Jawaz - Sst.. Jadikan Aku Simpanan
Fero Walandow - Nakalnya Anak muda

Aktris Pendukung Terburuk

Rahma Azhari - Rayuan Arwah Penasaran
Mentari - Jejak Darah
Garneta - Affair
Suti Karno - Toilet 105
Ratu Felisha - Kain Kafan Perawan

Skenario Film Terburuk

Awi Suryadi - Pengantin Topeng
Melonys - Selimut Berdarah
Riady Adef - Kain Kafan perawan
Maruska Bath - Jejak Darah
Melody Mucharansyah dan Ve Handojo - Toilet 105


Sutradara Terburuk

Awi Suryadi - Pengantin Topeng
Ferry Ipey dan Assad M.A - Selimut Berdarah
Hartawan Triguna - Toilet 105
Nayato Fio Nuala - Affair
Nur Hidayat - Jejak Darah

Film Terburuk

Toilet 105
Pengantin Topeng
Rayuan Arwah Penasaran
Selimut Berdarah
Jejak Darah

harapan gue di tahun depan cukup simple. please di stop film-film nggak bermutu yang makin membuat semangat penonton indonesia kian lama kian turun. jangan sampe tragedi mati suri terulang lagi. amen for that.

sampai jumpa tahun depan. enjoy it!

Takut: Faces of Fear [2008]


rating 7/10

takut, adalah sebuah antologi horor indonesia yang tayang di blitz dan diputar dibeberapa event. makanya gue sempet nggak tau kalo film arahan tujuh sutradara muda berbakat ini pernah ada. beruntung, nggak lama setelah liat trailernya di film indo ecek-ecek yang gue sewa, muncul DVD originalnya dengan lambang jive! collection. hmm, biasanya film-film dengan logo seperti ini layak koleksi dan nggak salah! this is antologi horor buatan anak negeri. please jangan bandingin sama horor luar. meski isu yang beredar sempet mengatakan kalo film ini mengekor kesuksesan antologi horor dari negeri gajah putih berjudul 4bia (baca: phobia). tapi, dengan tegas, gue membantah hal itu. kalo jiplak ya nggak lah. orang dari segi apapun beda selain genre yang sama.

dengan berbagai ekspetasi gue pun menonton film ini. oke, langsung aja gue review satu-satu.


1. SHOW UNIT / RUMAH CONTOH

Bayu (Lukman Sardi) dan Dinna (Marcella Zalianty) adalah pasangan yang bulan depan akan menikah dan saat ini tinggal di sebuah kompleks perumahan mewah. Dinna dahulu bercerai dengan suaminya Andre (Donny Alamsyah) dimana dari pernikahan itu berbuahlah seorang putri bernama Shira. Dalam pesta di rumah tetangganya, Bayu melihat lampu rumahnya menyala dan menyangka rumahnya dimasuki oleh perampok. Bayu pun masuk dengan menggenggam pisau dan berusaha mencari perampok, namun malah menusuk Shira yang ternyata hanya ingin mengagetkan Bayu saja. Berkeringat dingin karena membunuh Shira yang tidak bersalah, dalam ketakutannya Bayu memasukkan mayat Shira ke dalam bagasi mobilnya. Saat itu, Andre yang ingin menjemput Shira, berusaha masuk ke dalam rumah tapi terus dihalangi Bayu. Bayupun terpaksa membunuh Andre yang kebetulan melihat isi bagasi mobilnya. Bayu berniat memasukkan mayat Andre ke dalam bagasi mobilnya, namun saat membuka bagasi, ia kaget melihat mayat Shira sudah tidak ada. Karena bingung, Bayu cemas dan hanya bisa membuang mayat Andre saja.

Keesokan paginya, seorang penelpon misterius menghubungi Bayu dan berkata kepada Bayu apabila ingin tahu dimana mayat Shira, Bayu harus mengikuti instruksinya. Kehilangan Shira ditutupi oleh Bayu sebagai sebuah penculikan. Bayu pun memasukkan uang tebusan ke dalam tempat sampah di taman kompleks perumahan, namun segera kembali ke rumah, mengetahui lokasi mayat Shira berada di rumahnya sendiri

film ini cenderung mengarah ke thriller psikologis yang dialami pemainnya. multi plotnya simpel tapi pembangunan karakternya keren banget. cuman yang rada aneh tuh endingnya. gak mau berspoiler ria deh. yang jelas spoiler ini berhubungan dengan darah! rating: 3/5


2. TITISAN NAYA

Naya (Dinna Olivia) adalah seorang gadis berpola pikir metropolitan dan modern. Namun ia dilahirkan di keluarga Jawa yang adat-adatnya masih dipertahankan. Malam itu Naya harus menginap di tempat keluarga jauhnya yang sedang mengadakan sebuah upacara cuci keris keramat adat kejawen bersama seluruh anggota keluarga besar. Bukannya mengikuti, ia malah merayu sepupunya Leo (Junior Liem) di kamar atas. Diatas, Leo memperingatkan Naya atas sikap Naya yang acuh dan kurang ajar terhadap upacara tersebut. Saat Naya dan Leo hampir berciuman, lampu mati tepat saat ayam yang digunakan sebagai prosesi ritual meninggal. Dalam kegelapan, Naya kehilangan Leo yang mencari Ibunya, dan Naya yang mencari di bawah, melihat seorang wanita penari Jawa berada di tengah aula yang seharusnya dipenuhi sesajen dan keluarga Naya yang menyaksikan pencucian keris. Naya sendiri yang dengan bantuan cahaya ponselnya, terus menerus melihat penampakan arwah leluhurnya yang tidak terima dihina keturunannya sendiri. Naya yang ketakutan, ternyata terperangkap dalam ilusi yang dibuat oleh para leluhurnya. Sementara tubuh Naya, kerasukan dan menari ditengah aula seperti yang Naya lihat didalam ilusinya.

sutradaranya riri riza. dan produsernya jelas mira lesmana. dua sosok yang saling ketergantungan kayak tai sama kloset. ups, bukan nyidir nih. haha... tapi emang bener, bahkan di film pendek pun mereka nggak suka membaur. lho, kenapa jadi ngomongin riri-mira? back to the topic! overall meski mengangkat hal-hal yang indonesia banget, tapi gue ngerasa bosen lihatnya. yang gue salut adalah akting dinna olivia. begitu all out. sayang, sekarang udah jarang ngeksis nih cewek. pilih-pilih peran yang bermutu ya? gak papa deh. jangan kayak dewi perssik, atiqoh hasiholan, julia perez atau fahrani yang pengen nampang doang dengan akting di film nyampah! rating: 2.5/5


3. PEPPER / PENGINTIP

Bambang (Epy Kusnandar) adalah seorang pria yang bertugas sebagai petugas kebersihan / cleaning service yang sangat gemar dengan hobi (voyeur), dimana ia sangat mencintai dan menikmati keindahan tubuh wanita melalui lubang intip. Suatu hari ia mengunjungi sebuah teater yang menyuguhkan pertunjukan wayang orang. Bambang diberikan tiket gratis oleh seorang pengelola teater itu, dan menonton pertunjukan tentang Sarpanaka (Wiwid Gunawan). Bambang terpikat dengan gemulai dan misteriusnya penari Sarpanaka dan ingin sekali menikmati keindahan tubuh sang penari wanita tersebut. Setelah pertunjukan selesai, Bambang menyelinap ke belakang panggung dan mengintip kamar ganti wanita itu. Bambang yang lengah sejenak, kaget melihat wanita itu menghilang. Pintu tidak dikunci dan Bambang masuk ke kamar itu, dan menemukan bahwa kamar yang dikiranya kosong itu menyimpan bola-bola mata yang diawetkan. Sebelum ia sempat kabur, penari wanita misterius itu ternyata bersembunyi di balik pintu dan mengunci pintu. Bambang terhipnotis oleh gerakan sensual wanita misterius dan jadi terduduk setengah sadar. Lalu wanita itu mengenakan topeng Jawa dan kuku palsu panjang yang digunakan sebagai ornamen pertunjukan wayang, dan mencungkil mata Bambang. Hal itu disaksikan oleh pengelola teater yang memberikan tiket kepada Bambang, karena ialah yang menjadi dalang pencari korban sang wanita misterius. Wanita misterius itu ternyata mendapatkan kecantikan dan kemolekan tubuh dengan mengambil mata milik pria-pria yang menyukai kemolekannya.

film yang durasinya paling pendek ini disutradari oleh ray nayoan. rada nggak ngeh juga sama pengeksekusiannya. dan efeknya terlalu lebeh bagi gue. tapi tok*t si wiwied oke juga. menggoda iman. *PLAKK, jaga mata!*. rating: 2/5


4. THE LIST / DAFTAR

Andre (Fauzi Baadila) menemukan dirinya mulai terganggu oleh ilmu santet aneh yang dikirim oleh mantan pacarnya yang pencemburu, Sarah (Shanty). Sarah yang dendam kepada Andre membayar seorang Dukun (Ahmad Syaeful Anwar) yang disewa Sarah untuk menghukum Andre dalam serentetan adegan serangan ilmu hitam yang lucu namun menyeramkan. Sarah meminta dukun tersebut agar ia bisa melihat Andre dan supaya Andre bisa melihat Sarah juga. Dan demikianlah yang terjadi, Sarah melihat Andre dalam pantulan air sang Dukun dan Andre melihat Sarah dengan TV-nya. Saat Andre akhirnya sekarat oleh seekor kalajengking yang memasuki kepalanya, Andre berkata bahwa ia juga menyewa dukun juga. Sebelum Sarah mengerti maksudnya, Andre meninggal secara mengerikan. Sarah tiba-tiba mendapati perutnya diisi kelabang dan juga mati secara kesakitan dan tidak kalah mengerikan. Dalam catatan sang Dukun, tertulis di akhir catatan santet yang bertuliskan "serangan kelabang". Ternyata Andre telah membayar dukun yang sama untuk mencelakai Sarah.

huahuahua, gokil nih film arahan Robby Ertanto. plot yang sangat unik. meski bagian ngomong via tivi tuh sangat sinetron. standing applause buat make up efeknya. keren banget. rating: 3/5


5. THE RESCUE / PENYELAMATAN

Ledakan "Laboratorium Namro-4" di Jakarta membuat sebuah virus aneh menyebar dengan ganas, membuat Jakarta diambang kehancuran dan menjadikannya kota mati yang secara resmi dikarantina. Jakarta kini dipenuhi sekelompok 'manusia' haus darah yang memburu semua makhluk yang bergerak untuk dimangsa. Tim Gegana dikirim ke kota Jakarta dalam sebuah Operasi Penyelamatan untuk mencari sisa-sisa manusia yang belum terjangkit. Gadis (Eva Celia) dan Anton (Sogi Indra Dhuaja)adalah warga sipil yang berhasil ditemukan oleh tim Gegana yang turun dalam operasi tersebut, yaitu Antariksa (Reuben Elishama), Ngurah Rai (Ananda George), dan Hatta (Tegar Satrya). Cerita ini menceritakan usaha tim tersebut untuk keluar dari sebuah gedung yang menjadi sarang ribuan "manusia ganas" ke gedung lain yang menjadi titik penjemputan helikopter penyelamat. Hatta meninggal dalam perjalanan tersebut, sementara Anton dan Antariksa yang berpencar dari lainnya, berhasil sampai duluan ke tempat tersebut. Gadis dan Ngurah Rai hampir sampai ke tempat itu, tetapi seorang manusia terinfeksi menyerang dan menggigit Ngurah Rai secara tiba-tiba. Antariksa berhasil menghalau manusia ganas itu dan dalam kesedihannya terpaksa membunuh Ngurah Rai yang telah terinfeksi virus. Antariksa, Anton, dan Gadis mendengar suara helikopter datang, dan naik ke helikopter tersebut, tanpa menyadari bahwa mata Gadis memancarkan warna aneh yang mengindikasikan bahwa dia juga telah terjangkit virus ganas tersebut.

salut sama usahanya raditya sidharta mengambil tema zombi-zombian. tapi entah kenapa film ini sangat lebay.com *ketawa ngakak tapi nggak guling-guling*. film paling nggak banget yang ada disini. rating: 2/5


6. DARA

Dara (Shareefa Daanish) adalah seorang juru masak sekaligus pemilik sebuah restoran mahal. Perawakan Dara yang anggun dan cantik membuat banyak pria tertarik dan datang ke rumahnya. Adjie (Mike Muliadro), Eko (Dendy Subangil), dan Rama (Ruli Lubis) datang di waktu yang hampir bersamaan, padahal Dara sudah mengatur mereka untuk datang di malam berbeda. Adjie yang memang direncanakan datang malam itu oleh Dara, diberi obat tidur dan dikurung di kamar jagal yang berisi potongan-potongan tubuh manusia. Sebelum Dara sempat menghabisinya, Eko datang dan membuat Dara terpaksa meniggalkan Adjie dalam keadaan terikat tak berdaya. Eko pun disediakan makan malam oleh Dara. Dalam suasana tak terduga, Rama pun juga datang dan juga dihidangkan makan malam oleh Dara. Musik klasik mengiringi pembicaraan mereka berdua, tapi, Adjie berhasil melepas penutup mulutnya dan tentunya berteriak minta tolong di tengah proses melepaskan diri itu. Hal itu membuat Eko curiga, saat ia berdiri, Dara yang sudah menyiapkan banyak senjata dibawah meja makan, mengambil golok dan menggorok leher Eko hingga Eko menggelepar di lantai, sementara Rama hanya terduduk mati kutu karena ketakutan.

Adjie berhasil keluar dari kamar dan menyaksikan bagaimana Rama dipenggal oleh Dara secara mengerikan. Adjie tak dapat lari meninggalkan rumah tersebut karena Dara sedang mengeksekusi Rama di satu-satunya pintu keluar. Adjie terpaksa bersembunyi di kamar jagal yang menjadi tempat pertama ia disekap. Dara pun kembali ke kamar jagalnya dan disana terjadi serang-serangan menakutkan oleh Dara, namun Adjie berhasil kabur meninggalkan sebilah pisau tertancap di tangan Dara yang berteriak kesakitan dengan mengerikan. Adjie pun berhasil keluar dari rumah Dara dan bersiap menyalakan mobil, namun kuncinya terjatuh ke bawah. Saat itu Dara tiba-tiba muncul dan mengayunkan gergaji mesin ke tubuh Adjie dengan sadis dan membunuhnya. Film diakhiri dengan Dara kembali di restoran larisnya. Dara berjalan ke belakang restorannya untuk mengambil stok daging yang ternyata adalah daging manusia. Dara pun tersenyum menakutkan saat melihat semua pelanggan restorannya tampak menikmati hidangan dagingnya, dan berjalan seiring latar film menjadi hitam, dan Dara tersenyum tersungging menghadap penonton.

ini, versi awal dari film rumah dara. sumpah mampus gue berkali-kali nutup mata saat nonton film ini. dan nekat heboh memenuhi 21 bareng komplotan gue saat versi panjangnya rilis dibioskop. gokil! rating: 4.5/5

dilihat secara keseluruhan film ini very entertaining. gua nggak bisa ngebayangin kalo suatu hari nanti ada antologi film horror lagi dengan sutradara macam nayato fio nuala, kk dheraaj, helfi kardit, arie aziz, koya pagayo (lho?) dan ian jacobs (eh, sudah disebutin tadi). pasti filmnya bakalan kancut!

http://www.smileycodes.info

plot credit to wikipedia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...