Showing posts with label 2000-an. Show all posts
Showing posts with label 2000-an. Show all posts

Bukan Cinta Biasa [2009]


"Ini lagi om-om, udah tua, malah ngajakin yang nggak bener!" - Niki

Berseting di kota kembang Bandung, dimana kehidupan Tommy (Ferdy Taher), seorang vokalis band rock The Bokis, berbalik 180 derajat sejak kedatangan seorang gadis bernama Nikita (Olivia Jensen) yang mengaku sebagai anaknya. Awalnya memang tidak bisa dipercaya begitu saja. Bagaimana Tommy, yang menikah saja belum, sudah mempunyai anak berumur 16 tahun? Tapi semua terjawab setelah Niki mempertemukannya dengan Lintang (Wulan Guritno), ibunya, sekaligus mantan kekasih Tommy yang dulu dihamili.

Masalah merumit ketika Niki malah memilih tinggal bersama Tommy untuk melanjutkan sisa satu semester sekolahnya sebelum ikut pindah bersama Ayah baru dan Ibunya ke Amerika. Itupun melalui berbagai aturan dari Lintang guna menjamin kehidupan Niki selama jauh darinya. Dengan kata lain, merampas kebiasaan buruk Tommy seperti mabuk-mabukan bersama personil The Bokis, bercinta dengan pacar binalnya yang bernama Angel (Julia Perez) serta segudang kebiasaan buruk lainnya. Lalu, bagaimanakah kelanjutan kisah Ayah dan anak ini?

Bukan Cinta Biasa, merupakan debut dari sutradara muda berbakat, Benni Setiawan. Bercerita tentang kisah cinta yang sangat jarang sekali disentuh oleh sineas kita. Yup, kisah cinta antara ayah dan Anak. Bukan kisah cinta menye-menye dua sejoli yang konfliknya itu melulu. Well, dari segi ide bisa gue bilang film ini menawarkan sesuatu yang fresh. Pun begitu dengan pemilihan ensemble cast utama yang menggunakan wajah baru. Meski nama Ferdi Taher sendiri sudah dikenal lebih dulu sebagai vokalis Element. Nah, sekarang tinggal pertanyaan terakhir aja, apakah film ini layak tonton?

Dibilang fresh bukan berarti jauh dari keklisean identik. Nyatanya, naskah olahan Benni Setiawan tetap memamparkan jalinan kisah menye yang itu-itu saja meski tidak begitu dominan. Karena jelas film ini lebih berkonsentrasi pada kisah Tommy-Niki. Sehingga bagian lain hanya sekedar tempelan belaka. Namun masih bisa dituangkan dengan lebih wajar. Salut untuk hal itu.

Unfortunately, Bukan Cinta Biasa masih memiliki kekurangan disana sini yang lumayan mengganggu.

Pertama, soal konflik yang ternyata tidak senatural itu. Seperti apa urusan yang membuat karakter Lintang penting banget mesti ke Amerika bersama suaminya?

Kedua, soal ketidak singkronan dialog. Yang paling kentara banget adalah scene di parkiran ketika Nikita menunggui Tommy yang mabuk. Kenapa tiba-tiba bahasanya kaku dan nyastra sekaleee?

Ketiga, soal komedi yang kurang segar. Bukannya ketawa, gue malah ngernyitin jidat dan ngebatin “apaan seeeh?”

Keempat, hilangnya karater yang dimainkan Joe P-Project 30 menit menjelang film berakhir. Kemanakah dia? Apakah di culik Nayato?

Kelima, eksekusi akhir yang lumayan chessy serta terlihat menggampangkan dan tidak diceritakan kenapa-kenapanya? Seperti kenapa Lintang dan suami barunya mendadak cerai?

Terakhir gejala-gejala preachy yang makin menjadi-jadi dan lebay menjelang ending.

Intinya, Benini Setiawan terlihat agak kesusahan mengakhiri rangkaian kisah yang dia buat. Sehingga kestabilan cerita diawal mendadak rusak dan berantakan di akhir. Untungnya para pemain mampu menutupi semua dengan sangat enjoyable. Terutama akting Olivia Jensen yang waktu itu masih nobody. Sehingga Bukan Cinta Biasa terlihat tetap worth it untuk disaksikan.

Rating 5.5/10

Get Married 2 [2009]


Melihat pencapaian prekuelnya yang terbilang sukses di tahun 2007, dua tahun kemudian Starvision kembali memboyong kisah Mae bersama tiga sahabatnya yang rada nggak beres dalam Get married 2. Tetap dibintangi oleh kwartet Nirina-Aming-Ringgo-Desta serta pemain pendukung lain seperti Jaja Mihardja, Meriam Bellina dan Ira Wibowo. Sayangnya karakter Rendy yang dulu dibawakan oleh Richard Kevin, kini digantikan oleh Nino Fernandez.

Cerita terjadi empat tahun setelah film pertama. Dimana Mae dan Rendy yang sudah lumayan lama membina bahtera rumah tangga belum juga dikaruniai seorang anak. Hal itu sedikit banyak membuat Mae gelisah. Mengingat ketiga temannya: Eman, Beni dan Guntoro sudah dikaruniai bayi mungil, sedang dia tidak. Terlebih dengan sikap Rendy yang makin lama makin nggak peduli dan sering meninggalkan Mae sendiri di rumah dengan alasan sibuk bekerja.

Puncak kekesalan Mae terjadi ketika Rendy nggak datang ke pesta perkawinan mereka. Dengan emosi Mae meninggalkan rumah dan memilih tinggal bersama Emak Babenya di kampung. Bukannya selesai, masalah malah semakin runyam saat Rendy ikut tinggal bersama orang tua Mae yang mengultimatum agar putrinya bisa segera hamil atau mereka terpaksa harus bercerai. Sanggupkah Mae hamil dan Rendy mempertahankan keharmonisan keluarganya?

Sebagai sebuah sekuel, Get Married 2 memang telah menawarkan tontonan yang berbeda dari seri pertama. Dari segi cerita yang berdiri sendiri, bahkan nggak perlu ribet kalau belum nonton predesornya, juga penambahan karakter baru untuk menyegarkan suasana dan penambah konflik. Tapi sayang, film yang naskahnya ditulis oleh Cassandra Masardi ini telah kehilangan beberapa poin-poin penting yang terdapat dalam seri awal. Dari unsur komedi yang lebay to the max, bahkan kadang terkesan dibuat-buat, sampai dialog yang nggak bernas. Makanya nggak salah kalau agak membosankan dipertengahan.

Beruntungnya Hanung Bramantyo masih mampu mengeksekusi film ini dengan baik meski ngakunya dia anti kalau menggarap film sekuel. Kerja keras Hanung didukung oleh departemen akting yang semakin solid, membuat Get Married 2 masih tetap dapat dinikmati meski telah kehilangan geregetnya. Entahlah, memang masih ada beberapa joke yang mampu mengelitik urat syaraf. Tapi semakin lama komedi yang ditawarkan terlalu memaksakan sehingga filmnya nggak bisa enjoy dinikmati.

Rating 5/10

Get Married [2007]


"Hidup gue didunia ini nggak ada yang bisa gue banggain. Satu-satunya harapan gue ya akhirat. Siapa tau bisa bahagia.." - Eman

Cuma beda selisih seratus ribu, Get Married arahan sutradara Hanung Bramantyo ini menjadi film paling laris di tahun 2007 dengan perolehan sekitar satu koma empat juta penonton. Mengalahkan sekuel Nagabonar di posisi kedua dan menghempaskan film setan tersetan yang di sepanjang tahun itu terus-terusan meneror perbioskopan Indonesia dengan kualitas yang patut di pertanyakan.

Mae (Nirina Zubir), Eman (Amink), Guntoro (Desta 'ClubEighties') dan Beni (Ringgo Agus Rahman) adalah empat sahabat yang tumbuh dan besar bersama. Herannya nasib mereka pun nggak jauh beda. Dimana empat pemuda yang sewajibnya menjadi harapan bangasa dan negara ini malah terjebak dalam label pengangguran ketika mimpi-mimpi kecil mereka tak pernah terealisasi akibat keadaan.

Bosan dengan perilaku Mae yang luntang-lantung nggak jelas setelah lulus dari sekolah sekertaris, Emak dan Babenya (Jaja Mihardja dan Meriam Bellina) berniat mencarikan jodoh agar lepas dari tanggung jawab menjaga Mae. Sayangnya, jodoh yang mereka dapatkan sama sekali nggak memenuhi standar Mae. Lalu munculah Rendy (Richard Kevin) cowok kaya raya yang tengah mencari cewek dengan tingkah berbeda dari mantan-mantannya selama ini yang kebanyakan satu label meski beda orang. Sayangnya Rendy terpaksa menyerah meski tahu benar Mae juga menyukainya ketika Eman, Beni dan Gun malah memprovokasi agar dia meninggalkan Mae. Lalu bagaimanakah nasib Mae selanjutnya? Dapatkah dia mendapatkan jodoh dan membahagiakan kedua orang tuanya?

Sebenarnya naskah yang ditulis oleh Musfar Yassin ini bukanlah sesuatu yang dahsyat kalo dipikir ulang. Cuma kebetulan ketika penonton Indonesia jenuh dengan sajian horror yang jauh dari kata horror, munculah film ini dengan genre berbeda yang juntrungannya malah terlihat seperti setetes air ditengah tandus dan keringnya gurun pasir. So, nggak salah kalo akhirnya banyak yang mencari alternative pilihan lain dibanding menonton sosok-sosok tak kasat mata dengan tema usang tersebut.

Didukung oleh departemen akting yang begitu mumpuni. Sebut saja kwartet Nirina-Aming-Desta-Ringgo yang mampu berperan dengan sangat luwes serta beberapa pemain pendukung yang menambah ramai suasana. Seolah karakter tersebut memang sudah dibuat untuk mereka.. nggak salah kalo kekonyolan-kekonyolan yang disajikan terbilang cukup mampu mengundang tawa meski sedikit diluar logika dan cenderung slapstik. Tapi tak apalah. Toh, tujuannya hanya untuk menghibur. Rasanya hal yang lumrah selama komedi yang ditujukan nggak lebay.

Film produksi Starvision ini nggak menyajikan sesuatu yang baru diranah hiburan lokal. Namun dia hadir dimomen yang tepat, ketika penonton tengah haus dengan sajian yang monoton. Dan beruntungnya eksekusi dari Hanung cukup bisa membuat semua yang terjadi seolah real. Didukung pula dengan iringan musik dari Slank yang bener-bener megang. Nggak salah kalau siapapun bakalan jatuh cinta. Bahkan juri-juri Festival Film Indonesia.

Get Married nggak ubahnya seperti dongeng usang putri buruk rupa yang akhirnya mendapatkan sang pangeran dengan style kumuhnya ibukota. Disajikan secara apik dan terang-terangan menyindir drama politik yang terjadi kala itu dengan komedi satirnya secara tepat. Great job Hanung!

Rating 7/10

Kado Hari Jadi [2008]


Awalnya gue nggak menyangka kalau judul film semanis ini ternyata hanya sebuah kedok dari film panjang pertama Paul Agusta yang bergenre thriller. Film dari sutradara yang sudah malang melintang lebih dulu lewat beberapa film pendek ini sama sekali nggak so sweet seperti bayangan awal. Apalagi begitu membaca sinopsis yang langsung menimbulkan rasa penasaran dengan berbagai ekspetasi. Sebrutal apa sih filmnya?

Tertipu dengan judul yang cantik jadi urusan belakang. Toh guepun tetep nekat nonton Kado Hari Jadi yang naskahnya ditulis Dalih Sembiring ini. Cerita dibuka oleh suara dering telepon lalu disusul ketukan di pintu kamar kos Yoga (Rifnu Wikana). Dan setelah pintu dibuka, tau-tau orang di depan pintu itu membiusnya. Begitu bangun dari efek obat bius, Yoga mendapati dirinya tengah berada di sudut ruangan dengan kondisi tangan terikat kebelakang dan duduk disebuah kursi besi. Sementara di depan matanya terdapat sebuah pensil tajam dan silet di atas kepala. What the hell going on? Pertanyaan itulah yang akan terus berkecamuk sampai setidaknya satu jam kedepan. Itupun dengan catatan, kalau kalian tetap bertahan duduk dikursi. Dan dengan setia menyimak kenapa karakter pria diatas bisa tiba-tiba mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti itu.

Jujur aja, gue rada eneg sama film yang berbau penyiksaan. Bukan soal seberapa banyak darah yang sajikan, berliter-liter juga gak masalah bagi gue. Yang bikin eneg adalah ekploitasi kekerasan fisik yang terkadang nampak seperti nyata. yang terkadang di shoot secara membabi buta. Untuk ukuran film senada, Rumah Dara masih satu-satunya yang pernah terjadi di ranah perfilman lokal. Gue jerit-jerit, man, liat kesadisan yang sebenarnya nggak seberapa jika dibandingkan dengan buatan sineas luar. Korea misalnya. Lalu gimana dengan film yang masuk dalam seleksi International Film Festival Rotterdam 2009 ini?

Soal urusan teknis seperti pergerakan kamera yang labil (dan baru gue tau kalo katanya disengaja), sound serta gambar yang buram-buram gak jelas to the max, gue masih bisa maklum. Ini film indepeden dengan bujet minimalis, guys. So, cukup menghargailah kalo in the end terlihat kurang sempurna. Tapi gue udah nggak bisa maklum ketika cerita filmnya semakin diikuti semakin gak jelas bahkan almost maksa.

Nggak tau kenapa gue ngerasa pointless sama cerita yang dihadirkan. Terlalu bertele dan banyak karakter nggak penting yang entah dengan tujuan apa di munculkan. Misalnya seperti cameo Ladya Cherryl yang lagi gosip di depan rumah. Singkron gak sih? Trus adegan di kamar yang memperlihatkan cewek SMA serta bacotan dia yang corny ama pacarnya dengan akting pas-pasan. Coba aja kalo karakter lebih diminimalis dan hanya bertumpu pada sosok Yoga, Tika (Kartika Jahja) si cewek psycho, Adam (Jeffrey Sirrie) calon suami Tika dan Irma (Hukla Turagan) pacar Yoga. Pasti film berdurasi seuprit ini nggak akan segitu membosankan. Tapi balik lagi ke soal bagaimana si penulis naskah juga sih.

Lalu yang nggak bisa gue maklumi selajutnya adalah banyaknya bloppers yang cukup mengganggu. Pertama adalah darah, gue sempet jetlag pas salah satu adegan tembok dibor. Oke, itu darahnya kok gitu doang. Terus soal alur penceritaan non linear. Gak masalah sih sebenarnya, cuman yang bikin eneg adalah penempatan gambar bekas siksaan yang nggak jelas dan berbeda antara satu adegan dengan adegan lain ketika shoot menyorot tubuh korban. Apakah ini kekurang jelian dari editornya Lucky Kuswandi atau memang disengaja? Entahlah... Mungkin bagian ini terasa personal karena kekurang kerjaan gue terlalu detail dalam memperhatikan film.

At least, bagi gue yang menarik dari film ini cuma premis dan cerita di 20 menit awal. Selepas itu, gue udah terlanjur bosan dan sama sekali nggak menikmati. Bahkan gue udah nggak peduli dengan nasib Yoga dan kenapa-kenapanya sampe dia bisa kena siksa. Bahkan gue seharusnya nggak perlu merasa tertipu karena adegan slashernya terkesan biasa saja meski Rifnu Wikana sudah berakting semeyakinkan itu.

Rating 3/10

Fiksi. [2008]


“Aku cuma bercanda, nggak perlu jadi drama.”

Jangan ngaku lo gaul film indonesia kalo judul dahsyat seperti Fiksi. gatau. Mungkin memang nggak begitu kedengaran namanya karena muncul dibarengi dengan gempuran film satu negeri yang bergenre komedi dan horor cabul wannabe, lalu hilang gitu aja kayak gak pernah terjadi apa-apa. Tapi film arahan Mouly Surya ini seperti setitik air yang ditemukan di padang gersang. Lebay? Nggak kok.

Ceritanya simpel banget. Tentang Alisha (Ladya Cherryl), seorang cewek kaya yang kesepian. Semenjak kematian ibunya, Alisha selalu ditinggal oleh sang Ayah yang entah sibuk dengan pekerjaan atau cewek lain seperti dugaannya. Sehari-hari hanya berempat dengan seorang pengurus rumah, sopir pribadi dan sebuah cello. Namun kehidupan datarnya berubah ketika Alisha bertemu dengan Bari (Donny Alamsyah), pekerja serabutan yang berkerja dirumanya.

Oke, sampai sini sepertinya too cliche to be true. But wait, ini masih permulaan, tunggu sampai sebuah drama datar ini berubah menjadi sajian thriller psikologis. Yang siap menjungkir balikan dunia sadar kita tanpa basa-basi.

Naskah Fiksi. ditulis oleh Joko Anwar. Sepertinya nggak usah bertanya kenapa dia bisa segila ini. Karena itulah Joko. Membuat film yang memang perlu dibuat. Dengan tema yang jarang tersentuh. Tapi seperti biasa pula, dimasukan sub-plot tentang gay. Yah, sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Jadi nggak perlu ditanya kalau dibeberapa film dimana ada nama Joko, pasti ada unsur itu.Sebut saja Arisan!, Kala atau Babi Buta Ingin Terbang, debut film panjang Edwin, dimana Joko Anwar bermain sebagai salah satu tokoh di dalamnya.

Yang lebih gila lagi, seorang Mouly Surya, sukses mengekskusi film pertamanya ini dengan brilian. Sepertinya Mouly mencurahkan seluruh bakat yang dia pendam untuk Fiksi (sotoy deh gue). So, nggak salah kalau balasan setimpal berupa piala dengan embel-embel sutradara terbaik di Jiffest dan Festival Film Indonesia mampir ke tangannya. Film ini minim percakapan, kebanyakan hanya berupa adegan bisu yang mengandalkan imajinasi kita menerka kenapa. Jarang ada film indonesia yang berhasil membuat kekosongan itu terisi,dan Mouly lah orangnya. Dengan sangat menawan, dingin dan mencekam dia sukses menyajikan betapa sakitnya film ini.

Nggak cuma itu, unsur ketegangan juga sukses diciptakan oleh penata musik dan yang nggak boleh ketinggalan, Ladya Cherryl, salah satu artis berbakat (sekaligus ehem.., mantan gue) yang pernah dimiliki indonesia. Jarang muncul tapi sekali muncul langsung gempar.

Sayangnya ada sedikit kekurangan yang sangat mengganggu bagi gue. Yaitu karakter Alisha yang dibuat seperti versi live action dari Shojo manga jepang. Juga akting dari Donny Alamsyah yang nggak enak dilihat. Serta plot hilangnya Alisha yang dibiarin gitu aja dan nggak dibahas atau setidaknya dicari oleh karakter sopir sekaligus intel sampai film berakhir.

At least, Fiksi. tetap nikmat di tonton untuk ukuran film sejenis buatan anak negeri, yang mungkin akan jadi film noir paling dicari suatu hari nanti. Ayo makanya sebelum ketinggalan, segera cari DVD dan VCD originalnya. Eh, kok gue jadi promosi ya. Nggak dibayar lagi. Gapapa deh, bonus karena filmnya emang layak koleksi!

Rating 7/10

Coklat Stroberi [2007]


“Menjadi gay itu nggak mempunyai masa depan...”

Coklat Stroberi adalah film yang membahas tema gay secara eksplisit setelah Arisan! atau mungkin Kala yang dua-duanya terdapat nama Joko Anwar didalamnya. Berdasar naskah olahan Upi Avianto dan merupakan debut bagi sang sutradara, Ardy Octaviand yang sebelumnya cuma menggarap iklan tivi.

Bercerita tentang Key (Nadia Saphira) dan Citra (Marsha Timothy), dua sahabat yang memilih tinggal bersama dalam sebuah kontrakan. Karena belum bisa membayar tunggakan, mereka mesti rela berbagi ruangan dengan dua cowok, Aldi (Mario Meridhitia) dan Nesta (Nino Fernandez). Masalah muncul ketika Nesta dekat dengan Key. Aldi yang sudah dua tahun jadi pacar Nesta jelas nggak bisa terima gitu aja. Hingga dua cowok ini sering bertengkar supaya status ‘ajaib’ mereka jangan sampe ketahuan. Masalahnya, Citra yang diam-diam mendekati Aldi mulai curiga dengan keanehan tingkah lakunya. Lalu, gimana nasib orang-orang ini selanjutnya?

Melalui pendekatan lebih ke kaum labil, dengan memasukan unsur komedi serta cerita yang seringan kapas dan ending win-win solution, Cokelat Stroberi cukup bisa gue nikmati. Terutama penggambaran filosofi coklat yang berarti maskulin dan stroberi yang artinya too girlie untuk ukuran seorang cowok. Okelah, kalo ditilik dari jalan penceritaan yang terlalu menentang intelijensia seorang. Dimana dua cewek disini bisa segitu dungunya, sampe nggak tau kalo dua cowok dirumahnya adalah seorang gay.

Didukung jajaran soundtrack dari Lobow, Ungu, Naff, Letto dan Syahrini yang nggak bisa dilupain gitu aja saking enaknya lagu mereka serta akting dua primadona, Nadia dan Marsha, yang bener-bener menggugah selera, ke corny-an yang sudah tampak dari judul sok-sok lucu itu membuat film ini layak ditonton. Meski dibeberapa bagian terasa too much dan sangat sinetron meski diawal durasi sempat menyindir sinetron tapi malah filmnya sendiri nggak jauh-jauh kayak yang disindir haha.

Sebagai sutradara, Ardy Octaviand terbilang cukup rapi dan asyik membawa penonton untuk mengikuti kisah yang disajikan. Dan Upi, sebagai penulis skenario seharusnya bisa lebih lagi mengeksplor dialog yang juntrungannya malah kayak percakapan anak SMP.

Sesuatu yang aneh malah pengen gue kupas diluar film ini. Ada beberapa mayarakat ‘primitif’ yang tak mau menerima genre seperti ini. Dia bilang kalo nonton film gini bakalan jadi gini. Dan gue cuma bisa ketawa ngakak. Pemikiran dari mana tuh? Pasti lo ngira masih idup dijaman siti nurbaya masih eksis!

Rating 4/10

Queen Bee [2009]


Bercerita tentang Queenita (Tika Putri) cewek SMU berusia 17 tahun yang tak begitu menikmati keberhasilan ayahnya, Rahmat Siregar (Mathias Muchus) saat dinobatkan menjadi salah satu kandidat calon pemimpin Negara. Karena hal itu membuat dia semakin jarang diperhatikan. Kebetean pun bertambah parah ketika muncul kawanan tim pengawal calon presiden yang makin mengekang kebebasan Queen. Terutama dari sikap over protektif salah satu pengawalnya (Oka Antara). Beruntungnya Queen masih memiliki sahabat yang enak diajak have fun serta cowok bernama Braga (Reza Rahadian) yang membuat hari-harinya tetap terasa normal.

Semakin dekat dengan masa pemilihan presiden, bertubi-tubi masalah menyerang Queen. Dari dia yang dituduh koruptor cilik karena menggelapkan uang sampe krisis kepercayaan dari sang ayah. Lalu, sanggupkah Queen melewati semua. Melewati hal-hal aneh yang nggak mungkin dialami remaja cewek kebanyakan?

To be honest, gue udah antipati duluan sama film panjang perdana anak didik Hanung Bramantyo bernama Fajar Nugros ini. Hell, kemasan film built in advertisment yang dilakukan Queen Bee terasa sangat menganggu sejak awal produksi. Dimana salah satu brand shampo ternama turut ambil bagian. Tapi nyatanya gue menyesali diri karena melewatkan film ‘penting’ ini begitu saja. Hingga baru menontonnya dipertengahan tahun 2011 lewat DVD.

Sebagai sebuah debut layar lebar, bisa dimaklumi kalau Queen Bee olahan Fajar sangat jauh dari sempurna. Bloopers, plot hole, cerita berlebihan, iklan, pemotongan adegan serta editan yang berantakan cukup membuat kening berkernyit. Tapi semua tertutupi dengan akting, pengambilan shot yang menarik, wardrobe yang keren untuk ukuran cewek gaul serta tema yang unik meski sepintas lalu mirip dengan film Hollywood yang dibintangi Mandy Moore berjudul Chasing Liberty.

Nggak cuma itu, yang membuat Queen Bee begitu penting adalah nilai-nilai demokarsi yang disampaikan dengan semangat anak muda jaman sekarang. Bahkan sangat pas jika saja diedarkan saat ini. Ketika indonesia tengah dilanda banyak masalah dari berbagai segi. Nggak jauh-jauh deh. Sebut aja krisis film. Sindiran yang dilakukan terbilang frontal dan mengena meski kadang terlalu halus hingga pesan yang ingin disampein menguap gitu aja. Coba cek orasi yang dilakukan Queenita, yang sengaja gue catet biar lo rada paham sama apa yang gue maksud serta mengambil sedikit pesan yang ingin disampein Ginatri S. Noer selaku penulis skenario:

Banyak orang bilang kalau kita anak muda dari generasi yang apatis
Mereka salah, kita dari generasi yang apatis dan manja
Kita cuma bisa ngeluh, diem dan berharap akan datangnya orang untuk ngebantu kita
Tapi pada akhirnya semua anak manja harus menjadi mandiri untuk kepentingan hidupnya
Dan kepentingan pribadi anak manja ini pasti akan berhubungan dengan kepentingan orang banyak
Contoh gampangnya deh, bagi kita penting banget kan untuk gak bau badan?
Dan percuma kalo kita doang yang wangi tapi orang lain nggak
Mending wangi semua kan?
Dan gue yakin masalah kita bukan masalah wangi ato nggak

Jadi mau berapa lama lagi kita kayak gini?
Mau berapa lama lagi kita cuma bisa ngomel di blog karena guru gak becus ngajar?
Mau berapa lama lagi kita cuma bisa marah-marah distatus facebook karena indonesia payah?
Atau maki-maki mau pindah jadi warga negara lain karena indonesia nggak sesuai sama negara idaman lo?

Coba kita bayangin kita hidup ditahun 1945, apa kalian yakin indonesia bisa merdeka
Padahal waktu itu fasilitas mereka sangat minim kalo kita bandingin sama indonesia sekarang
Tapi mereka bisa terhubung jadi satu
Karena kepentingan merdeka tiap-tiap orang menjadi kepentingan bersama
Energi yang sama bisa kita genggam kalo kita peduli dengan kepentingan yang lebih besar
Karena kita sekarang mempunyai fasilitas yang jauh lebih maju
Jadi bagi saya ini saatnya indonesia didukung oleh anak muda terbaik yang mau mementingkan bangsanya!

See, Queen Bee adalah hiburan yang menyegarkan dan benar-benar bisa dinikmati oleh remaja sekaligus orang tua. Lupakan soal kekurangan yang menggerogoti. Karena film masih bisa dan layak untuk diapresiasi. Well, sekali-kali indonesia perlu dihadiahi tontonan bermutu seperti ini. Kita tunggu saja film sejenis yang diharapkan lebih cerdas!

rating 6/10

Nazar [2009]


Didepan kedua temannya, Cindy (Jessica Iskandar) bernazar akan menikah dengan tukang penjual ketoprak bernama Jajat (Ytong Club 80’s) jika dia memenangkan hadiah utama berupa mobil dari undian botol minuman yang ia beli. Siapa yang menyangka keisengan tersebut malah menjadi kenyataan. Cindy bener-benar mendapatkan sebuah mobil. Namun bukannya melaksanakan nazar, Cindy malah melupakan hal itu.

Dan kesialan demi kesialan pun menimpa dirinya. Bukannya kapok, Cindy justru cuek bebek. Hingga batas kesabarannya menghadapi bertubi-tubi kesialan pun habis. Cindy akhirnya menuruti nasihat teman-temannya, Rani (Adelia Rasya) dan Dhea (Renata Kusmanto), untuk mencari Jajat dan meminta supaya segera dinikahi agar kesialan gara-gara nazar mautnya berhenti. Tapi itupun nggak mudah karena Jajat sendiri akan segera menikah dengan gadis pilihannya.

Film berjudul Nazar yang skenarionya ditulis oleh Chairul Rijal ini disutradarai oleh Sofyan D. Surza yang pernah menggarap Suami-Suami Takut Istri satu tahun sebelumnya dibawah bendera production house yang sama; MVP Pictures.

Sebagai film bergenre komedi, apa yang ditawarkan oleh Nazar cukup menarik meski nggak baru-baru banget. Masih teringat premis serupa pada film hollywood yang dibintangi Lindsay Lohan berjudul Just My Luck. Sayangnya, tema semenarik itu dieksekusi dengan nggak niat dan asal-asalan. Seperti jalan cerita yang kadang nggak memakai logika meski sebenarnya cukup dimaklumi mengingat ini komedi. Akting Jessica Iskandar yang lebay sehingga terlihat cukup menjijikan dibeberapa part. Serta teknik penyutradaraan yang masih sangat sinetronis dengan segala pernak-perniknya.

Gue akui, gue cukup terhibur dengan rangkaian komedi yang ditawarkan meski ada bagian yang bikin gue mengernyitkan dahi saking garingnya. Tapi hal itu tetep nggak mampu menutupi betapa buruknya standar tivi yang disajikan film ini. Harusnya Sofyan D. Surza lebih bisa membedakan daripada penontonnya mana film yang dibuat untuk mengisi slot kosong di tivi dan mana film yang dibuat agar bisa menarik penonton untuk berbondong-bondong datang ke bioskop. Rasanya cukup sekali saja melihatnya di tivi dan kemudian lupakan..

rating 3/10

http://www.smileycodes.info

KM 14 [2006]


Film produksi MBS Pictures ini rilis tahun 2006. Ketika sinema indonesia mulai gencar menelurkan film-film meski nggak sebanyak dan senyampah sekarang. Tapi tanda-tanda ancurnya sudah bisa dilihat dari film yang nggak bisa disebut film ini. Lebih tepat dibilang salah satu keping cerita dari acara musyrik “Ooo Seram” yang pernah ditayangin ANTV ditahun 2009 tapi dalam versi parodi. Yes, bukan maksud gue KM 14 memparodikan sekumpulan cerita horor abal-abal yang sempet hapenning di tivi itu. Tapi film ini bisa dibilang lebih parah dari acara yang barusan gue sebutin, meski KM 14 sendiri lebih membawa filmnya kearah drama suspense super nanggung.

Bercerita tentang tujuh sahabat yang menamai diri mereka dengan “Bomb Fire” (sumpah nama geng yang alay jaya. gue yakin penulis ceritanya sangat norak untuk ukuran manusia yang pernah hidup ditahun 2006). Tepat dihari ulang tahun Anna (Jian Batari) terjadi sebuah ledakan yang menewaskan salah satu teman mereka.

Beberapa hari kemudian pasca insiden tersebut, kedua orang tua Anna meninggal. Yang membuat Anna mengiyakan ajakan pamannya, Rusdi (Thomas Joseft) untuk menenangkan diri di villa mereka. Nggak lama setelah itu, Tasya (Ardina Rasti) mendapat telepon dari Anna yang tengah ketakutan dan meminta pertolongan. Spontan, Tasya membawa teman-teman yang lain untuk menyusul dan menolong Anna ke villa. Dimana letak villa itu berada setelah kilometer 14.

Sinopsis diatas murni bikinan gue karena sinopsis resminya sungguh keterlaluan goblok. Timelinenya sangat jauh dengan logika. Ya, harusnya gue maklum karena dari awal film ini sudah mendepak logika dalam bercerita yang baik dan benar. So, harap maklum kalo gue juga rada bingung membuat seperti apa bentuk sinopsis yang runut.

Penulis skenario film ini, Chadijah Mastura, kayaknya cuma lulusan TK karena ngasal banget kalo bikin cerita. Ditambah dengan dialog yang super chessy makin membuat gue bingung antara ingin tertawa atau menangis. Sebenanya nggak ada yang salah kalo mau bikin film bertema suspense yang sangat jarang tersentuh sineas lokal. Tapi pelis dong, kalo nulis pake otak. Dan gini deh jadinya kalo nulis sambil boker. Bahkan hanya dengan durasi 10 menitpun Ben Hernandez selaku sutradara bisa menyelesaikan film ini.

Nggak cuma itu, KM 14 semakin menjijikan dari soal akting, sinematografi, scoring serta pengeditan alur flashback yang kayak editan film adik gue yang masih balita. Sangat jauh jika harus diberi label film bioskop. Dan baru di film inilah ada dua produser yang ikutan narsis. Sayangnya akting mereka nggak jauh beda sama artis yang di cast. Please welcome, Radja Simatumpang dan Thomas Joseft. Eh ralat, please welcome and there goes..

rating 1/10

http://www.smileycodes.info

Untukmu [2003]


Untukmu adalah film indonesia yang beredar di tahun 2003. Dan sepertinya merupakan proyek ambisius seorang lulusan new york film academy bernama Asun Mawardi. Dimana dia memegang tiga jabatan sekaligus. Yaitu sebagai produser, sutradara dan skenario untuk film pertamanya ini.

Ryan—baca Rayen, bukan Riyan, dan pelis, sok bule banget sih—yang diperankan oleh Okan Kornelius, adalah mahasiswa pindahan yang terkenal jago bermain basket. Karena nilainya jeblok, sang dosen memberi referensi buku-buku yang sekiranya bisa dipelajari untuk bisa mengejar ketertinggalan. Saat sedang sibuk mencari buku diperpustakaan, Ryan bertemu dengan Laras (Asty Ananta), sukarelawan perpus dan merupakan mahasiswi terpandai di kampus. Hingga akhirnya dia meminta bantuan pada Laras agar mau mengajarinya materi yang susah. Sekaligus mengajarinya arti sebuah cinta.

Melihat hal itu, Anggie (Yunita David) yang selama ini secara frontal—kalau nggak mau dibilang lebay—mengejar cinta Ryan, jadi gerah dan berusaha menghalalkan segala cara untuk membuat cowok yang ditaksirnya nggak jatuh kepelukan Laras.

Dari segi cerita, untuk ukuran film yang beredar di tahun 2003 pun, Untukmu sudah terbilang basi. Parahnya, dari segi pengeksekusian, nggak ada hal-hal baru yang bisa dibanggakan dari sebuah film yang sukses meneror IQ penonton sampe ke titik terendah ini. Untukmu terbilang film dengan cerita yang flat dan serasa disyut untuk edar ditahun-tahun pertama indonesia bikin film layar lebar.

Nggak ada yang salah sama debut layar lebar sang sutradara. Cara nge-direct dia terbilang aman. Yang parah adalah hasil skenario yang sangat corny dan dipenuhi dialog super bodoh dari seorang seperti Asun Mawardi dan Nana G. Mulyana. Bahkan gue yakin, tahun 2003, tahun perilisan Untukmu, dimana gue juga udah hidup bahkan sudah mengenal mana film yang bagus dan mana film yang buruk, dialog antar karakter disini nggak sepantasnya diucapkan oleh seorang manusia, apalagi dengan ekspresi berlebihan yang jatuhnya nggak nyambung.

Nggak Cuma itu aja, masih ada daftar lain yang makin membuat Untukmu semakin terpuruk.

1. Departemen aktingnya sangat nggak meyakinkan. Faktapun berbicara, pemain yang sekarang masih terdengar namanya cuma Asty Ananta. Karena akting dia yang terbilang lumayan dari sederet bintang-bintang muda disini.

2. Nggak tau kenapa, cara kerja pikiran tokoh-tokohnya setingkat anak SD. Padahal jelas sekali setting disini adalah setting anak kuliahan. Lihat saja betapa absurd percakapan sehari-hari mereka.

3. Dubbing nya nggak meyakinkan. Entah kenapa mesti pake acara dubbing karena selain gak cocok sama muka, kadang suara cewek-ceweknya terdengar lebay.

Gue gak yakin pernah lihat ada film televisi se-nggak meaning film produksi creative motion picture ini ditivi. Serius. Film ini bahkan nggak pantes disebut ftv atau apapun itu. Mungkin lebih tepat dibilang film yang niatnya dibuat cuma buat rame-ramean dan diunggah diyutub, untuk kemudian dikasi dislike sebanyak-banyaknya. Nah, kayaknya baru itu yang masuk akal.

tapi dengan sangat baik, kali ini gue kasih nilai 1 untuk sebuah debut dari sutradara lulusan bla-bla-bla *males nyebut tempatnya lagi*. mungkin saat itu dia lagi kurang pengalaman tapi ngebet bikin film, jadi deh kayak gini hasilnya. beda lagi kalo dia cuma jadi produser aja. mungkin hasilnya akan lebih baik. itupun dengan catatan yang ngedirect bukan kloningan Nayato.

rating 1/10

http://www.smileycodes.info

Di Kejar Setan [2009]


Film besutan sutradara yang biasanya bikin film anak-anak ini, sebenernya uda dari jaman gak enak rilis di jaringan 21. tapi entah kenapa baru muncul versi DVD/VCD nya awal mei lalu. Mungkin karena alasan takut nggak ada yang mengoleksi, makanya butuh pemikiran ekstra pintar gimana cara menjual film sampah ini. Makanya deh, dengan bangga di kejar setan mengandeng distributor film ternama, yang selalu ngerilis home video bermutu yahud, jive collection, untuk setidaknya menjual film ini memakai nama istimewa jive. Haha, ini cuma asumsi gue loh. Pelis dong, kayaknya nggak banget aja, jive sampe mau-maunya ngedarin film kancut kek gini. Dan sekarang,saatnya membantai film ini.

1. cerita film ini sangat C.E.L.A.N.A.D.A.L.A.M! haha, gue gak becanda guys, tapi isinya ternyata sampah juga, sampah juga. Premisnya memakai premis film horror lokal yang udah jutaan kali dipake. Gerombolan remaja – syuting film – ada penampakan – mati! Klise banget kan?

2. poin pertama diperparah dengan skenario bikinan sang sutradara nya yang bertele-tele dan nggak jelas mau dibawa kemana. Awal cerita sih oke, catet, awalnya aja. Iya 5 menit pertama. Tapi setelah itu, wow, gue udah mau pingsan seketika.

3. poin kedua diperparah dengan akting bintang-bintangnya yang naudzubillah, komplit merusak film. Ada yang over lebay, nggak niat, kurang ekspresif. Haduh, apa seeeh? Apalagi cewek yang make wig tuh, sumpah ya muka loe kagak nahan. Pengen gue cedukin ke tembok tau gak. Lebay jaya deh pokoknya. Males gue litatnya, kenapa sih skenarionya nggak bikin dia mati awal-awal, ato kebagian peran jadi hantu yang mati diperkosa itu deh. Belum lagi wignya yang kayak wig ully artha. Bikin gue pengen muntah.

4. poin ketiga diperparah dengan durasi yang lamaaaaaaaaa banget. Gini deh, udah tau bintang-bintang baru ini gak bakat akting, tapi tetep aja dipaksa, yang tampak di layar malah adegan-adegan nggak penting yang makin lama makin nggak meaning karena artis yang mainin kayaknya perlu sekolah akting dulu ke Zimbabwe (itupun kalo disana ada). Bahkan penampilann djenar maesa ayu dan indra bekti kelihatan cuma numpang kentut doang.

5. poin ke empat diperparah dengan cara penyutradaraan harry dagoe suharyadi yang FTV banget. Eh lebih parah malah! Levelnya setara kayak film laga gak jelas di indosiar. cuma levelnya agak gue naikin keatas dikit. ya, paling nggak 5 menit pertama adalah alasan gue menaikan levelnya. meski versi panjang 5 menit itu ternyata... beuh, no komen dah!

6. poin kelima diperparah dengan scoring yang asal masuk, ibaratnya ngedit pake windows movie maker. Nggak tepat timing dan kadang motongnya sembarangan. Padahal jujur aja, soundtrack yang dimasukin lumayan enak. Ear catching didengerin pas lagi mau bobo. Untungnya, gue nggak ketiduran.

7. poin diatas makin diperparah dengan poster yang, o em ji, adik gue yang umurnya 3 tahun bikin gitu doang kayaknya bisa deh.

Intinya, sungguh kesia-siaan gue menonton film ini. Harusnya nggak usah aja kalo tau gini doang alias nyampah. Rasanya nggak masalah kalo film ini ngga rilis bentuk home video mengingat hasil akhirnya satu tingkat diatas KKD. Iya, satu tingkat karena gue yakin harry dagoe bisa bikin film lebih dari ini. Mungkin pas bikin film ini dia lagi mabuk, jadi hasilnya pun pantas dimuntahin.

Rating 1/10

http://www.smileycodes.info

Rahasia Bintang [2008]


Rahasia bintang adalah film arahan sutradara bernama yulianto krisbiantoro yang beredar di awal tahun 2008. first time, gue kira layar lebar produksi pertama frame ritz ini diadaptasi dari novel berjudul sama karangan penulis teenlit fenomenal pada jamannya, dyan nuranindya, yang sukses dengan buku perdana bertajuk dealova—meski ketika diangkat ke layar lebar hasilnya biasa aja. Tapi ternyata gue salah. rahasia bintang adalah film bergenre suspense thriller yang kebetulan saja berjudul sama.

Film dibuka dengan rangakaian aksi pembunuhan yang kemudian menyeret wartawati nyentrik bernama laras (desi florita) dan teman sekantor bernama aria (dimas seto) untuk menyelidiki. Disaat menyelidiki, laras diganggu oleh sosok gadis kecil korban pembunuhan yang terus-terusan datang ke mimpi laras dengan satu tujuan yang ternyata berhubungan dengan masa kecil laras sendiri. Hingga akhirnya ketika satu-persatu kepingan puzzle itu mulai menunjukan jati diri, laras menyadari bahwa dalang dibalik kasus pembunuhan dan trauma masa lalu yang menimpanya adalah salah satu dari orang terdekatnya.

Film yang baik adalah film yang mampu menarik penontonnya untuk terus mengikuti cerita dari awal sampai akhir. Dan gue rasa, rahasia bintang sudah berhasil membangun hal itu. Film ini mampu menggiring gue untuk terjaga dan terlampau curious sama apa yang terjadi. Sampe gue bertanya-tanya kok gini, kok gitu? Terima kasih pada alim sudio selaku penulis skenario untuk tidak terjebak dalam kisah menye yang biasanya bertebaran di perfilman lokal. Apalagi dengan twist ending dan scene yang selalu klimaks. Meski ada juga sih beberapa bagian yang tak terjelaskan untuk apa cerita itu dibuat. Tapi tidak sampai membuat kening berkerut dan mengganggu kenyamanan menonton.

Dan hal diatas didukung dengan akting yang wow dari desi florita. Gue rasa dia begitu menghayati peran ini. Coba deh perhatiin dari mimik dia ngomong dan perilaku yang terekam di kamera. Sampe mengaburkan akting pemain lain, bahkan tio pakusodewo yang kesannya jadi biasa-biasa saja.

Sayang aja sang sutradara terlalu biasa untuk mengeksekusi debut layar lebarnya ini meski nggak bisa dibilang buruk juga. namun terlihat cukup mengganggu dibeberapa bagian. Seperti beberapa visual efek yang tampil apa adanya kalo nggak mau dibilang jelek. ditambah pengadaan musik scoring oleh citra subiakto yang mengganggu dibeberapa part serta peran cesa david lukmansyah yang terlalu kasar dalam mengedit film ini sendiri. Hingga kesan yang gue rasa masih terlalu FTV banget. mengingat rumah produksi ini sering membuat FTV remaja untuk salah satu stasiun tivi swasta.

Melihat nasib film ini setelah beredar, gue jadi mau nggak mau mesti menyamakan dengan film tebus yang beredar akhir maret kemaren. Selain sama-sama berani bermain api dengan mengusung genre thriller dan memakai jasa tio pakusodewo, film ini ternyata juga minim penonton. Padahal dari segi cerita dan akting, rahasia bintang memiliki poin lebih. seperti unsur ketegangan yang benar-benar sukses membuat gue larut untuk berspekulasi sampe tebakan yang meleset, ekskusi akhir yang jauh lebih oke ketimbang tebus serta beberapa twist yang mampu dijaga dengan baik sampai film berakhir.

nggak tau penting atau nggak, ada nama malinda dee di bagian eksekutif produser :)

rating 6.5/10

http://www.smileycodes.info

Arisan! [2003]


rasanya seperti sangat ketinggalan jaman saat sedang booming-booming nya arisan! di bioskop, gue masih belum ngeh bahkan malas untuk menonton film ini. lihat saja dari judulnya yang terkesan emak-emak banget. tapi siapa yang sangka film ini mendapat banyak penghargaan dan pujian. 

mungkin bisa gue bilang dari sinilah lahir nama-nama filmaker yang nggak sekedar bisa bikin film, mereka bikin film karena harus. tentunya dengan menyeimbangkan antara kualitas dan kuantitas. sebut saja nia dinata dan joko anwar. siapa yang tak kenal dengan mereka, dengan karya-karya mereka? meski tak selalu harus menjadi sutradara. tapi mereka tetap memproduseri dan menulis skenario film layar lebar indonesia berkualitas seperti madame x, quickie express, janji joni dan sederet judul lainnya.

arisan! menampilkan tiga tokoh sentral yang nantinya akan mengaduk-aduk emosi penonton. dengan tiga background karakter berbeda tapi disatukan oleh jalinan persahabatan sejak kecil.

sebutlah meimei (cut mini), sosok rapuh yang berusaha tegar demi mempertahankan bahtera rumah tangganya dengan ical (nico siahaan) yang sudah lama tak dikarunia anak.

lalu andien (aida nurmala), kaum socialite yang hidup bergelimang harta sampe akhirnya terjebak pada permainan terlarangnya sendiri gara-gara ingin membalas dendam atas perselingkuhan kecil suaminya (joshua padelacki).

terakhir ada sakti (tora sudiro), sosok pria yang tengah bingung akan jati diri yang menyimpang kodrat. dimana awalnya tak menerima kesalahan alami dalam hidupnya sampai dia bertemu dengan nino (surya saputra) dan mulai belajar menerima diri apa-adanya.

dari tiga karakter itulah film ini berjalan dan dibuat semakin kompleks saat mereka ternyata saling membutuhkan satu sama lain meski harus melewati ragam lika-liku kehidupan khas kaum metropolis.

bisa gue bilang, meski tema yang diambil waktu itu sangatlah berani, tapi film ini berhasil menohok setiap orang yang menonton dengan cara yang menghibur dan bisa diterima dengan baik. dilaog-dialog yang tak sadar ternyata sentilan, isu-isu sosial dan gaya hedon kaum elit ibu kota semua tersaji disini secara gamblang tanpa ada yang ditutup-tutupi.

nggak salah kalo gue patut memuji sutrdara dan penulis skenario film ini. joko anwar mampu merangkai tiga karakter sentral secara pas, make sense, tak berlebihan serta dengan pintar mengatur agar tak ada diantara 3 karakter utama ini yang paling dominan. semua berjalan dengan cerita sendiri namun tetap jadi satu kesatuan yang utuh. tak lupa nia dinata yang mampu memvisualisasikan naskah joko dengan sangat perfect. terlebih detail-detail kecil dari wardrobe, setting dan pengambilan gambar yang menarik. two thumps up deh!

departemen akting pun juga rasanya patut gue acungi jempol. mereka bermain sesuai porsi dan begitu menyatu dengan karakter. cut mini yang rapuh tapi sok tough, tora yang lagi dilema sama jati diri dan aida nurmala yang centil sebagai tante-tante high class.

nggak ketinggalan scoring dari andi rianto serta soundtrack-soundtrack sepanjang film yang ear catching yang semakin menambah hidup film ini.

aha, rasanya gue terlalu berlebihan memuji film ini sampe melupakan beberapa kekurangan yang cukup menganggu. fakta pertama nih, kenapa ya sosok ical nggak terlalu diceritakan kelanjutannya setelah memilih meninggalkan meimei? padahal diawal film berjalan sempat diperlihatkan sekilas bahwa dia sedang menjalin hubungan lain dengan wanita yang entah istri atau cewek simpanan. padahal gue kira nantinya bakalan ada adegan klise seperti meimei mengetahui perselingkuhan itu atau bagaimana. atau memang karena klise itulah nia dan joko membuat filmnya seperti ini? agar lebih berbeda begitu?

fakta kedua, terlalu banyak dialog deh. meski nggak menganggu sih tapi kadang ada dialog yang nggak kedengeran akibat berbenturan omongan sama karakter lain. spesial pas adegan arisan. dimana emak-emak kurang kerjaan itu saling pamer kehedonannya dengan sangat tidak penting. selebihnya, very entertaining.

mungkin karena waktu itu gue masih SMP, jadi nggak ngeh juga dengan tema yang diambil sama film ini. terutama konflik yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. tapi setelah melihat sekarang. rasanya film ini cukup gampang dimengerti oleh semua orang. sayang, cuman lihat lewat DVD. coba kalo di bioskop. pasti seru.

denger-denger bakalan ada sekuelnya ya? wah, appreciate banget nih. kayaknya film yang patut ditunggu juga.

at least, film ini pernah dibikin tv serinya dan ditayangkan oleh stasiun antv. cuman sayang nggak pernah lihat. dan nggak tahu gimana nasib jalan sekuelnya. gue harap bisa lebih outstanding daripada seri pertama. mengingat kehidupan pasca seri pertama udah hadir dalam versi tv.

rating: 8/10

http://www.smileycodes.info

Biarkan Bintang Menari [2003]


Seperti yang udah pernah gue bilang dipostingan-postingan sebelumnya, pasca mati suri, sebelum kayak sekarang, Indonesia pernah disuguhi dengan tontonan bermutu yang tidak asal jadi. Mungkin karena waktu itu persaingan nggak seekstrem sekarang, meski, yah, yang jadi bahan saingan pun cuma tontonan sampah, muncullah film-film yang dibuat dengan jujur.

Contohnya adalah dongeng musikal modern berjudul biarkan bintang menari arahan indra yudhistira. film produksi transinema, sebuah production house anak buah trans tv, yang sekarang udah jarang bikin film layar lebar setelah gagal lewat karya terakhir mereka; dunia lain: the movie.

Bercerita tentang neyna (ladya cherryl) dan grey (ariyo wahab), dua sahabat kecil yang berpisah lalu bertemu kembali setelah dewasa dengan keadaan yang berbeda 180 derajat. Dimana neyna masih sama seperti dulu, seorang gadis lugu periang dengan keingintahuan yang besar dan masih mempunyai cita-cita jadi seorang putri kerajaan. Sedang grey, seperti biasa, jadi cowok penuh masalah produk kota besar, terutama dengan ayahnya (el manik).

Awalnya pertemuan itu tak mudah karena grey bersikap dingin pada neyna. Grey merasa tak bisa lagi menjaga neyna bak seorang pangeran seperti saat mereka kecil dulu. Namun dengan bantuan keyko (stephanie pascalia), neyna berusaha meyakinkan grey kalo dia hanya ingin lebih dekat dengan grey. Toh neyna merasa sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri.

Sampai ketika grey menyadari bahwa sebenarnya dia ingin hubungannya dengan neyna kembali seperti saat mereka kecil dulu, kejadian yang tak disangka tiba-tiba menghancurkan semua. Dan neyna memilih kembali pulang ke kampung halamannya. Merenungi nasib baik yang tak berpihak padanya.

Plot yang menarik bukan. dan di olah dengan baik oleh monty tiwa dibagian script writer. ditambah cara sang sutrdara dalam mengarahkan lakon para pemainnya yang berakting secara pas sesuai karakter dan tak berlebihan membuat film ini sangat menarik tuk diikuti.

tak lupa aksi musikal yang bertebaran disetiap scene dengan lagu-lagu gubahan andi rianto yang catchy ditelinga, menambah nilai plus buat film ini. begitu lovable. Rasanya inilah film musikal setelah petualangan sherina yang bakalan jadi film Indonesia favorit gue. Karena sejauh ini gak ada film musikal Indonesia yang begitu berkesan.

Cuman sayang, ada satu scene yang bagi gue tuh annoying banget. Yaitu scene pas neyna bingung berdandan ketika akan datang ke ulang tahun pasha. Dimana keyko yang bersedia merias neyna tiba-tiba kebingungan dan memanggil peri banci lalu menyulap neyna jadi cantik bak seorang putri. Pertanyaannya, gimana bisa? Padahal ini bukan film fiksi penuh keajaiban. Kalo seandainya cuma halusinasi, kenapa nggak ada adegan  selanjutnya yang menceritakan mengenai hal itu. well, lupakan hal itu karena selebihnya, sangat menghibur.

Dan ya ya ya, gue senyum mulu ngelihat akting dan dandanan keyko yang lebe abis. Awalnya gue kira ini bagian wardrobe ngehe bener bisa ngedandani karakter keyko dengan overatted. Tapi setelah gue perhatiin, ternyata hal itu bagian dari karakternya. gokil!

Dan dengan pertimbangan diatas, rasanya nggak salah kalo gue kasih nilai 7 buat film ini. So far, very entertaining lah. Film yang layak tonton dan di koleksi bagi mereka yang lagi butuh hiburan lain khas buatan anak negeri ditengah maraknya film-film sampah dibioskop. Berharap nanti ada film-film Indonesia sejenis ini yang muncul dilayar lebar. We will see…

rating 7/10

http://www.smileycodes.info

Pencarian Terakhir [2008]


Biasanya, film Indonesia yang bagus dan bermutu—bukan karena box office, selalu rilis dalam versi home video lumayan lama. Gak tau deh alasannya. Entah disengaja atau emang ada something apaan.

Di postingan tahun lalu gue sempet bikin list film yang gak beredar dalam bentuk kepingan disc. Tapi gataunya muncul juga meski memakan waktu lama. Bahkan sempet ditafsir gak bakalan muncul. Beberapa film yang bermutu itu biasanya gak sempet gue tonton dibioskop. Contohnya kek heart-break.com dan ruma maida yang akhirnya bisa juga gue tonton dan review.

Hari kamis kemaren (20/01/2011), setelah dibikin penasaran karena banyak yang bilang bagus, keren, beda dan kawan-kawan, gue seneng banget ketika nemu info kalo film perdana arahan affandi abdul rahman keluaran tahun 2008 berjudul pencarian terakhir ini rilis juga dalam bentuk DVD. Gak pake lama, gue langsung nyewa di rental terdekat. Ekspetasi gue sebelum nonton tuh campur-campur. Apa iya ada film horror seoke komentar orang-orang yang udah lihat itu? Ya, you know lah kualitas film horror keluaran Indonesia dewasa ini. Kalo nggak nyampah ya makin nyampah. Jadi tanpa harapan lebih, gue tontonlah film ini.

Cerita dimulai dengan keberangkatan Gancar (Tesadesrada Ryza), adik Sita (Richa Novisa) ke gunung sarangan bersama teman-temannya. Meski sempet kuatir, Sita pun mengijinkan adiknya berangkat. Dan keputusan itu baru dia sesali setelah 5 hari gak ada kabar dari Gancar. Padahal Gancar sudah berjanji akan pulang di hari ke empat. Berbekal rasa takut kehilangan seorang adik, Sita bersama teman-temannya, Oji (Alex Abbad) dan Bagus (Yama Carlos) yang mengajak serta Tito (Lukman Sardi), mantan pacar Sita yang dulu juga pernah mengalami keganasan gunung sarangan, berangkat melakukan pencarian. Tentunya dengan bantuan tim SAR setempat, mereka berempat berjibaku menantang medan gunung sarangan yang berat dan menyimpan aura mistis. Apakah Sita berhasil menemukan adiknya kembali?

Dari segi plot tampak seperti skrip drama yang biasanya kita temui di film-film Hollywood. Tapi rupanya penulis skenario menambah unsur mistis khas Indonesia. Bukan, bukan hehantuan narsis kek di film-film horror seksi yang menjamur. Jadi jangan harap ada penampakan pocong dan saingan beratnya, kuntilanak. Atau hantu wanita dengan rambut panjang yang jalannya merangkak a la film jepang. Horror disini lebih ke psikologis tokoh-tokohnya. Gue bilang sih lebih ke thriller psikologis yang cenderung memainkan kedetailan emosi.

Sebagai film layar lebar pertama, affandi abdul rahman terlihat meyakinkan bahwa dirinya adalah sutradara berbakat yang nantinya semoga saja tidak terjebak pakem sutradara Indonesia kebanyakan. dimana lebih mentingin uang doang dengan hasil film biasa atau malah gatot alias gagal total. Cara nge-shoot angle-angle terlihat tegas. Dia juga bisa mengarahkan bintang-bintang difilmnya untuk tampil secara baik dan benar meski akting mereka nggak all out.

Banyak yang memuji akting Richa Novisa. Padahal akting dia biasa aja disini. Emosinya tuh nggak dapet. Masih bagusan akting dia di film heart-break.com yang juga didirect oleh affandi. Meski cuman dapet peran pendukung, gue suka sama karakternya yang judes. Di pencarian terakhir, Richa keliahatan kayak bingung mau ngapain—walau di film ceritanya emang lagi bingung. Tapi disini yang terlihat dia bukan bingung karena adik yang ilang. Tapi bingung dalam menjaga aktingnya yang kelewat berhati-hati.

Jajaran pemain lainnya juga gitu. Seperti alex abbad yang berperan super santai padahal masalah lagi genting, Yama Carlos yang nggak tau dia disini lagi akting atau ngapain, Lukman sardi yang, yah, gue akui dia emang pintar berakting. Tapi setelah disuguhi film-film yang pemainnya dia lagi-dia lagi. Gue jadi lumayan eneg. Lukman bermain lebih baik dari semua. Tapi gue bosen lihat mukanya.

Belum lagi terlalu banyak karakter yang ditampilkan, membuat gue jadi ribet sendiri ngelihatnya. Dari figuran yang tampil prima sampai pemeran pendukung yang annoying dan maksa. Seperti akting teman Gancar yang bernama Ranti. Sumpah, nggak banget aktingnya.

Gue suka sama lokasinya yang ijo royo-royo. Tapi gue rada keganggu sama set yang dipake pas adegan jatuh-jatuh di pinggir jurang. Kok kelihatan banget ya kalo syutingnya dibikin tidur dan diambil dari samping? Hahaha…

Gue nggak suka sama pengeksekusian akhir yang nggak jelas. Dimana nggak diceritakan sosok-sosok gaib yang bertebaran itu siapa-siapa. Atau memang sengaja dibikin gitu kali ya? Namanya juga rahasia alam. Gue juga nggak suka sama ending yang terkesan buru-buru. Dimana diawal kayaknya lama banget dan bikin gue nanya kapan mereka ketemu. Bahkan sempet gue berasumsi kalo tokoh-tokoh yang hilang benernya udah mati. Kayak satu segmen cerita di film horror Thailand 4Bia berjudul “In The Middle”.

Overall, pencarian terakhir terlalu biasa untuk ukuran film lama yang versi home videonya baru rilis.

Rating 5.5/10

http://www.smileycodes.info

Ungu Violet [2005]


dari luar, film arahan rako prijanto ini terlihat sangat meyakinkan dengan membawa nama besar dian sastrowardoyo dan judul yang aneh namun terdengar ear catching. tapi kalau diteliti lebih dalam lagi, film ini ternyata mempunyai borok. hingga akhirnya bobrok secara keseluruhan.

1. poin pertama menyorot soal sutradara. nggak ada yang salah sama debut rako di layar lebar setelah sebelumnya bermain di film tragedi, eliana eliana dan arisan! dia udah mendirect dengan cukup maksimal. cara dia nge-shoot angle-angle tuh lumayan nge-art, dinamis dan enak dilihat. kekurangannya cuman satu, gagal membuat pemain-pemain di film ini menyatu sama cerita.

2. dian sastro berperan sebagai kalin, cewek lugu penjaga tiket busway yang akhirnya sukses menjadi model papan atas karena pertemuan tak sengajanya dengan lando yang diperankan oleh rizky hanggono. dian sanggup berperan sebagai kalin cuman dari kulit luarnya doang seperti dalam hal berkostum yang memperlihatkan dia cewek lugu lalu berubah jadi seorang yang mempunyai kehidupan glamor. tapi cara ngomong, ekspresi dan kelakuanya tuh masih terlihat seperti cinta di film ada apa dengan cinta? padahal jelas-jelas kalin dan cinta adalah sosok yang berbeda.

pemain lain pun juga begitu. ada rizky hanggono yang saat itu masih pemain newbie alias debutan. dia nggak jelek kok. tapi kurang ekspresif, bahkan saat harus tertawa pun! akting dia tuh sedatar mukanya (ups, sori, sengaja). trus ada gary iskak yang karaternya hampir ditiap film gitu-gitu mulu cuman ganti nama doang. ada pula rima melati yang sukses ganjen banget jadi nenek-nenek. nggak salah kalo dia menang award sebagai best supporting actress di ajang festival film asia pasifik. sedang dian sastro mendapat award sebagai aktris menjanjikan.

ada satu karakter yang menarik disini. adalah tokoh rara yang diperankan sama katinka. dia emang muncul dalam dua scene buat bikin konflik awal dan cerita berjalan. tapi akting nangisnya oke banget. mencuri perhatian.

3. judul filmnya nggak ada hubungan sama sekali dengan cerita. mungkin awalnya emang nggak mempunyai judul karena plotnya menjiplak mentah-mentah music video (mv) penyanyi korea. ungu violet hanya diartikan dari campuran warna kesukaan kalin dan lando. kalin suka warna merah dan lando suka warna biru. jadi jangan heran kalo disepanjang film soal kostum cuman didominasi oleh dua warna itu. dan voila, jadilah judul ungu violet. kasus judul aneh kayak gini juga terjadi di film arahan hanny r. saputra; love is cinta.

4. menyinggung poin ketiga, gue mau ngasih tau hal terparah kenapa film ini harusnya menjadi film sampah, film terburuk dian sastro atau film yang mestinya nggak perlu ada karena malu-maluin banget. gimana nggak anjing kalo dua jam disini adalah pengembangan sebuah mv dari penyanyi korea bernama kiss berjudul because i'm a girl. coba deh, bagi lo yang udah nonton, perhatiin mv dibawah ini sampai habis. dan berspeechless lah. sumpah, parah banget. versi indonesia hanya dirubah beberapa detail dengan penambahan karakter baru. namanya juga bangke, jadi lama-lama kecium juga. yang bikin film juga goblok, mau nyontek kok dari mv terkenal.


5. hal diatas diperparah dengan skenario bikinan om jujur prananto yang picisan dan dangkal. dimana cerita-cerita kek gini bisa terlihat pasaran dengan dialog gombal tentang cinta yang hampir udah pernah dimunculkan dalam novel teenlit-chicklit-metropop, sinetron, ftv dan film layar lebar lain.

6. selain dangkal, banyak juga adegan yang terpaksa dibuat sama om jujur biar seru. tapi buat gue, hello, maksa banget sih? pertama adegan ketika rumah nenek kalin kebocoran. terlihat nenek kalin bingung nyari alat untuk menadahi tetesan air hujan sampe nekat memindahkan air dalam bak ke tempat lain padahal udah tau kalo berat tapi tetep aja keukeuh hingga akhirnya jatuh dan pingsan. apa gunanya gitu ada kalin. kan bisa aja disuruh bantuin angkat gitu. dan scene setelahnya pun terlihat dimana kalin sudah menemukan ember. bahkan mengepel lantai!

pemaksaan kedua terjadi sebelum kalin tertabrak hingga akhirnya menjadi buta karena matanya terkena pecahan gelas yang dia bawa. nah, gelas ini yang jadi masalah. kenapa juga kalin lari-lari ngejar lando sambil bawa gelas. gue kira sih buat lempar lando. tapi ternyata cuman jadi properti supaya akhirnya kalin jadi buta. dan itu belum ada apa-apanya ketika melihat posisi jatuh kalin setelah tertabrak. hei, gimana cara kalo ada orang tertabrak dari depan lalu jatuhnya disamping persis dalam posisi lurus sejajar dengan mobil? seenggaknya kalo emang mau dibikin supaya rada art, dimana di film terlihat efek slow motion, harusnya dipikirin logika-logika cara jatuh setelah ditabrak yang baik dan benar.

at least, sebagai melodrama, ungu violet bisa jadi film terbaik kalo saja bukan dari hasil ngejiplak karya orang lain. dari mv lagi. minimal kalo emang punya niatan kek gitu, dicantumin credit kalo film ini dikembangkan dari mv nya kiss. tai banget lah!

NB: mv model kek gini ternyata juga dijiplak sama video klip lagunya adi 'naff' berjudul cinta memilihmu dengan perubahan detail tapi tetap menceritakan cewek yang buta karena kecelakaan lalu cowok yang mencintai dia menyumbangkan korena mata biar si cewek bisa melihat. sayang, kisah kek gini, cuman bisa terjadi didunia fiksi.

rating: 0.5/10

http://www.smileycodes.info

Oh Baby [2008]


hatching, sebelum mulai membaca review, ada baiknya kalian dengarkan lagu oh baby dari cinta laura. lalu kita nyanyikan sama-sama dengan ketukan 3/4 sambil memperhatikan liriknya. karena tanpa menonton filmnya pun, kita bisa tau gimana efek samping dari film ini. oke, musik, mulai...

jreeeng...

" kau... bikin pusing tujuh keliling, buat aku mabuk kepayang..."
(ini efek pertama, efek kedua kita lihat selesai bacotan gue dibawah ini!)

1. oke, jarang sekali muncul film bertema dance di scene perfilman lokal. sekalinya muncul, malah film dance nggak jelas yang awalnya berjudul olala baby ini.

2. judul dan poster film se-chessy isinya. dengan plot yang diharapkan twist namun sayang, tertebak diawal. diperburuk dengan skenario yang dangkal, komedi slapstik bikin enek, cinta-cintaan nanggung dan dance yang... eh, si cinta laura tuh nge-dance ato lagi gatel gara-gara digigit semut sih?

3. biasanya cassandra masardi hanya kebagian peran jadi scriptwriter, tapi kali ini dia mencoba memulai debut menjadi sutradara dari skenario olahan h. encep masduki.

4. tukang art and properti-nya norak gila. masa iya semua serba kalerpul.

5. gue yakin koreo dance di film oh baby ini bikinnya ngasal. lihat aja scene dance diawal film pas audisi rame-rame. ketika karakter baby datang mengenakan topeng phantom lalu menari sambil mengetuk-ngetukan sepatu di lantai dengan sangat nggak jelas. dan gue shock, ketika penonton terpukau dengan tarian monyet nemu pisang di ethiopia a la cinta laura. hingga membuat seorang panitia kaya bernama wizard terpesona lalu  berkata kalo baby boleh masuk grand final dengan sebuah syarat. ih, coba ah gue juga ikutan nari kayak gitu di depan pejabat dengan harapan dikasi segepok uang hasil korupsi, pasti deh udah kena tendang. hahaha... dan semua itu belum lengkap tanpa acara gue pingsan ketika melihat scene baby latihan di gudang sekolah and of course, acara final dance. sumpah, nggak awesome sama sekali kek seperti kita nonton trilogi dahsyat step up selain tarian norak baby dan zarro.

6. akting semua pemain pas-pasan. terlebih lagi cinta laura. dia disini cuman jual tampang dan aksen bicaranya yang sok bule. pengyen dyeh sekhali-khali guweh pentyok-pentyokin jidat cintha laurar ke tembok biarr kalo ngomong biasya ajha. guweh yang keturnan bule aja gak gityu-gityu amat. *ngomong a la bule kampung*. hehe, pis, cin...

7. ada karakter ketua geng cewek yang, plis deh, cantik dari mana, muka culun gitu mau saingan sama neng cinta. terjadi misscast nih kayaknya. iuww..

8. selain banyak dihubung-hubungkan dengan step up dan high school musical, film ini kentara banget mewesternisasi budara indonesia. and then, jadi seperti teenfilck hollywood kelas tiarap.

9. musik musik di film ini sangat tidak berstamina dan energik. nggak ada nyawa sama sekali sebagai pengisi adegan dance. cuman lagu oh baby yang jadi single penjual terlihat sedikit berbobot. meski koreo untuk lagu ini sangat over jablay.

10. overall, sebuah film khusus anak SD yang doyan warna-warni, cerita ringan seringan kapas dengan aktor dan aktris berwajah enak dilihat tapi bikin enek aktingnya dan pantas tayang sekali aja ditivi. mudah terlupakan. *kecuali kalo logat ngomong cinta manjur meracuni otak para penonton*

and now, back to musik..

" ai don wana lus yu
yes ai wana hold yu
ai don wana mek yu
mek yu sed en mek yu kraii.."

akhir kata, sebagai efek kedua, gue nangis darah liat film ini

rating 0/10

http://www.smileycodes.info

Titik Hitam [2002]


janji adalah hutang.

mungkin seperti itulah gagasan awal yang terbersit di otak sentot sahid sebagai pemilik ide asli dan kemudian di serahkan pada jujur prananto untuk mentransformasikannya dalam bentuk skenario drama berbumbu suspense. dan penjabarannya pun berubah jadi seperti ini:

heru (winky wiryawan) dan retno (aurora yahya) adalah saudara sepupu yang memiliki keistimewaan. heru bisa melihat sosok mahluk halus, sedang retno cuma bisa merasakan keberadaannya. karena merasa senasib sepenanggungan, mereka akrab sejak jaman masih pake merah putih hingga menginjak bangku perkuliahan. hingga tanpa retno sadari, ternyata dia mencintai heru. meski heru sendiri merasa nggak mungkin balas mencintai karena dia dan retno masih mempunyai hubungan darah.

di bangku kuliah, heru menjalin hubungan asmara dengan rianti (endhita) tanpa sepengatahuan retno. hingga kemudian retno tahu dan tak bisa menerima kenyataan itu sampai-sampai mengalami kecelakaan karena depresi.

semenjak itu, hubungan heru dan rianti menjadi tak tenang karena diam-diam heru pernah membuat perjanjian khusus dengan retno: siapa yang lebih dulu meninggal, akan menemui yang masih hidup dan menceritakan perjalanannya setelah berada di alam kematian.

menarik? 

actually titik hitam bukan film dengan cerita kacangan yang sekarang ini bertebaran dengan efek tambalan dimana-mana. poor them, setelah melihat hasil keseluruhan, selain durasi yang serasa bagai setahun lamanya alias bertele-tele, film ini diakhiri dengan ritme yang begitu terburu. mungkin sang sutradara en produser udah merasa terlalu kepanjangan. jadi buru-buru diselsein. masalahnya, mereka lupa mengefisiensi apa yang bertele-tele diawal seperti sub plot sub plot nggak penting. membuat titik hitam terasa sangat membosankan.

dari segi penyutdaraan, debut sentot sahid cukup pintar memanjakan mata gue. meski terlalu mengeksplor tempat kerjanya--IKJ. secara dia dosen disana.

dari segi akting semua pemain berakting lumayan. tapi kalo ngomongin spesial efek. haha... gue gak tau kenapa penampakan hantu-hantunya memaksa pake efek animasi 3D  karena terlihat annoying. nggak serem, yang ada malah pengen muntah. bukankah lebih baik meniru kebiasaan nayato or kk dheeraj yang memakai setan asli manusia dengan beberapa modifikasi dempulan diwajah. entah pake kapas yang dikasi cat merah atau apalah namanya (sepertinya gue lupa kalo nayato atau kk dheeraj belum seeksis sekarang, bahkan asumsi gue, si biang tai alias KKD masih di negaranya). belum lagi, adegan terbang-terbangnya. oke sih sebenarnya, malah jarang liat film terbang-terbang kek gitu (dengan catatan ketika tahun 2002; red) tapi masih kurang halus efeknya. yah, gue bisa maklumi lah kalo masalah ini. mungkin karena dana juga kali ya.

sebagai film yang rilis ketika perfilman indonesia belum seramai sekarang, titik hitam telah gagal menyihir penonton untuk berduyun-duyun ke bioskop. seingat gue filmnya cuman bertahan seminggu lebih dikota gue. dan di jakarta cuman beredar di beberapa bisokop. mungkin dari segi poster yang nggak banget dan menjual nama winky wiryawan doang yang saat itu tengah bersinar gara-gara film jelangkung.

coba aja kalo skenarionya lebih pas dan nggak ngejablay kemana-mana memperpanjang durasi, mungkin film ini bakalan berbeda. apalagi pesan khusus yang ingin disampein sentot sahid bisa saja lebih mudah di cerna. karena judul titik hitam sebenarnya mempunyai maksud tersendiri.

ah, terlalu banyak yang ingin diceritakan dari arti sebuah titik.

2.5/10
http://www.smileycodes.info

Mereka Bilang, Saya Monyet! [2007]


rasanya sangat menyesal gue baru nonton film ini 3 tahun kemudian *sambil nangis dan bentur-benturin jidat ke tembok*. debutan djenar maesa ayu dalam mendirect sebuah film ini pantas diacungi jempol. diangkat dari kumpulan cerpennya berjudul sama namun hanya mengambil 2 dari 11 cerpen yang ada dengan judul "lintah" dan "melukis jendela".

tentang seorang adjeng, penulis cerita anak berusia thirty someting, yang hidup dalam bayang-bayang kelam masa lalunya. dimana ibu yang terlalu over protektif stadium 5, sosok ayah yang suka main perempuan sehingga meninggalkan dia dan ibunya, serta pelecehan seksual yang dilakukan calon ayah barunya. hingga membentuk adjeng menjadi seorang wanita yang bingung dengan kehidupannya. tak bisa membedakan mana yang nyata atau sekedar imajinasi.

cerita yang cukup berat sebenarnya. tapi djenar dengan bahasa lugas dapat membuat kita dengan mudah mencerna serta mendapatkan esensi dari apa yang ingin dia sampaikan. sampai gue nagih dan penasaran gimana endingnya yang cuman "oh gitu doang". padahal gue pengennya lebih atau gimana gitu. hahaha...

seperti yang udah gue bilang diatas, debut djenar sebagai sutradara sangat patut diacungi jempol. meski sederhana dan terlihat hati-hati, gue suka aja cara dia ngambil angle-angle yang terasa pas dengan momen cerita. belum lagi debut titi sjuman yang juga bertindak sebagai penata musik bersama suaminya, sangat outstanding. ditambah totalitas henidar amroe. plus adegan-adegan yang nyerempet dan bikin gue eneg. misal tokoh adjeng kecil yang di suruh memakan kembali apa yang dia muntahkan di kloset. yuck... dibayar berapapun gue gak mau akting kayak gitu *pertanyaannya, heii, emang ada yang nawarin?*. salut buat nadya rompies yang mau-maunya disuruh akting kek gitu sama djenar.

hmm, apalagi ya, gue jadi bingung sendiri saking nggak percaya ada juga film kek gini di indonesia. sayang aja film ini cuman tayang di blitzmegaplex yang mendukung format digital dan kemudian muncul versi kepingan disc dengan logo jive! collection yang benar-benar jaminan mutu untuk film-film berkualitasnya. tapi ada benernya juga kenapa film ini dibuat dengan format digital, mungkin dengan tema kek gini bakalan banyak orang memandang sebelah mata. padahal belum tentu juga isinya membosankan. yah, kebiasaan masyarakat indonesia lah. yang maunya cuman nonton tontonan berbau seksi seksi. *eh, kenapa jadi curhat?*

overall, nggak berlebihan kalo gue kasih nilai 9. film yang bikin gue terjaga dan sangat menikmati tiap adegan demi adegan dengan dialog cerdas dan hampir tanpa scene yang terbuang percuma alias mubazir. film ini begitu padat dan kaya akan gizi *sok, tua deh gue*. at least, wajib tonton daripada nyesel. gue yakin film ini bakalan jadi film cult beberapa tahun nanti.

rating 9/10

http://www.smileycodes.info

Cin(T)a [2009]


mengapa TUHAN menciptakan kita berbeda jika DIA hanya ingin disembah dengan salah satu cara?

film berjudul cin(T)a arahan sammaria simanjutak ini sangat berani dari segi plot dan tema tentang pluralisme. bahkan sempat menuai kontroversi karena isu rasial serta perbedaan agama yang dibawanya.

bercerita tentang annisa (saira jihan), wanita muslim keturunan jawa yang notabene adalah seorang pemain film dimana dia sedang bingung menyelesaikan tugas akhirnya yang selalu ditolak akibat terlalu berpegang teguh pada idealisme.

lalu ada cina (sunny soon) pria keturunan tionghoa beragama nasrani yang baru lulus SMU dan berkuliah di tempat yang sama dengan annisa.


sebuah awal yang biasa memang. namun ketika cerita mulai bergulir dan kedua tokoh ini saling bersinggungan serta mengalami ketertarikan rasa diantara mereka, semua jadi berbeda. karena rasa itu mesti dipisahkan oleh satu masalah, cara mereka menyebut nama tuhan.

secara frontal, film ini jujur dan tegas dalam bercerita tetang perbedaan agama, isu-isu sosial sampai hal menye-menye tentang cinta. meski di bagian awal sempet nggak ngeh sama jalan ceritanya. dan terpaksa menonton dua kali.

meski cuman delapan puluh menitan, to be honest, film ini terasa seabad karena alur yang sedikit lambat. dialognya memang cerdas, sarat pesan, namun tak menggurui meski terkadang out of the topic. ditambah sound-nya yang berisik lumayan cukup mengganggu.

dari segi akting, dua pemain baru ini berakting sangat biasa dan kaku. coba kalo sedikit lebih natural, pasti chesmistry diantara mereka lebih kerasa.

gue suka simbol-simbol yang tersaji dalam film ini seperti apel dan semut. juga gambar wajah di ujung jari telunjuk. sangat orisinal.

and you know what, judul cinta dengan t dalam kurung dan sengaja di blurkan bukan tanpa maksud. 'cin' adalah singkatan dari nama cina, sedang huruf 't' kapital dalam kurung adalah tuhan dan 'a' adalah annisa. very interesting.

secara keseluruhan, cin(T)a bukan film biasa. meski nggak begitu spesial tapi sangat istimewa.

rating 5.5/10

http://www.smileycodes.info
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...