Showing posts with label Mendekati Sampah/Udah Sampah. Show all posts
Showing posts with label Mendekati Sampah/Udah Sampah. Show all posts

My Last Love [2012]


Menurut penelitian gue selama dua hari empat malam, produk terbaru MD Pictures ini adalah proyek cari untung semata dari Punjabi Bersaudara. Iya, setelah mengalami stres dini tingkat Afganistan akibat mega proyek mereka bertajuk Di Bawah Lindungan Ka’bah gagal total di pasaran, maka dibuatlah film dengan budget pas-pasan yang kemungkinan bisa mendatangkan banyak penonton. Maka dipilihlah sutradara paling produktif se-Indonesia (MURI mana MURI?!?) untuk mempermudah proses agar rumah produksi tersebut tidak perlu gulung tikar.

Nggak susah memang untuk berspekulasi seperti ini. Karena gue yakin banget Punjabi Bersaudara tau bagaimana reputasi Om Naya selama ini. Bagaimana sepak terjang sutradara yang sering diperbincangkan (keburukannya) oleh banyak orang tersebut. So nggak usah heran jika hasil akhir film inipun layak sekali masuk tong sampah seperti biasa. Yang perlu diherankan adalah: kenapa Punjabi Bersaudara nekat memilih Nayato? Oke, gue ulang lagi biar kesan dramatisnya lebih terasa: KENAPA PUNJABI BERSAUDARA NEKAT MEMILIH NAYATO? Apa karena saking hopeless nya? Oh, co cuit #abaikan

My Last Love diadaptasi dari novel (yang kata posternya) best seller buah karya Agnes Davonar. Tapi menurut gue nggak perlu juga memberi embel-embel adaptasi kalo hasil akhirnya malah lebih mirip film non adaptasi hasil mix and match dedramaan galau macam Pupus, Kangen, Cinta Pertama dan 18+. Gimana nggak aneh kalau selain nama karakter dan benang merah yang bias, My Last Love sukses dirombak sana-sini dengan seenaknya. Ckck..

Seperti kebiasaan Nayato yang nggak perlu memakai naskah, My Last Love juga bernasib serupa. Nggak aneh kalo dialognya sangat annoying biadab. Kayak gini contoh yang gue visualisasiin pake gaya skrip film:

INT. LORONG RUMAH SAKIT – MALAM

IBU ANGEL
Bagaimana keadaan Angel?

NADYA
Angel kecelakaan Bu...

Nah, lho. Si Ibu nanya apa, jawabnya apa?

Yang jadi pertanyaan gue: Ery Sofid yang sering banget jadi penulis naskah di film Nayato beneran kerja atau cuma dicomot nama doang sih kayak kasus Chiska Doppert di film Missing? Feeling gue, kalopun ada gosip naskah ditulis on the spot, masa iya sebegini dangkal dan tidak bermutunya dialog yang ada. Atau jangan-jangan, Nayato sebenarnya udah menggunakan sistim yang dipopulerkan oleh Damien Dematra dengan memegang berbagai posisi di film mereka? Iya, jadi sebenernya Nayato jugalah yang menulis naskah di setiap filmnya. Tapi karena nggak bakat dan hasilnya jelek, maka dipakai nama orang lain agar pencitraan dirinya tak semakin buruk.

Eh, ini kok gue jadi gosipin orang sih? Huehuehue.... habis filmnya nggak bermutu sih. Jadi bingung mau komen apaan. Mau komen wajah Donita yang cantik gue udah males. Setelah putus dengan Donita dan sadar bahwa aktingnya jelek di film Kehormatan Di Balik Kerudung, gue udah nggak mau bahas Donita lagi. Meski sebenarnya kecantikan Donita terpancar banget di film ini berkat cara-cara ajaib Nayato meng-capture muka eksotis dara pemilik nama asli Noni Anisah tersebut.

Selain Donita, ensemble cast lain juga nggak ada beda. Mereka semua pada berlomba menampilkan akting terburuk. Dari Evan Sanders yang sibuk ajeb-ajeb sampe Jordi Onsu yang gagal menjadi highlite komedi sebagai hiburan. And then, nggak ada cerita film ini bikin gue nangis darah. Yang ada malah bikin gue sibuk ketawa sendiri dari awal film di mulai hingga kredit film muncul saking gak tahan melihat ulah busuk Nayato yang sudah terbaca.

Adegan paling lucu terjadi di ending film. Gimana bisa gitu Angel yang tau Martin, orang yang dia cintai di  meninggal pangkuannya, malah sibuk baca puisi? Bukan inalilahi atau sekalian nyanyi "apalah artinya kata cinta? yang kau ucap semua hanya mimpi. apalah artinya cincin ini? yang kau bilang pengikat janji suciku...."*

Please kalo kayak gini prosesnya jangan cegah gue untuk gantung diri. Faham ya? (smile)


* lirik lagu "Apalah Artinya" oleh Donita

Xià Àimĕi [2012]


"Udah, sogok aja kayak film-film indonesia!" - AJ Park

Coba tebak, poster apakah yang gue pasang di atas? Bukan, itu bukan versi live action dari anime Jepang terpopuler: Sailor Moon. Bukan pula drama mandarin yang hanya tayang di Blitz Megaplex. Apalagi iklan aplikasi terbaru dari Yahoo! Indonesia untuk pangsa pasar pria dewasa. Salah semua guys! Gambar tersebut adalah poster film Xià Àimĕi. Drama lokal yang mencoba untuk berbeda. Eh, berbeda? Yakin beda?

Bercerita tentang Xià Àimĕi (Franda), gadis lugu asal Yangshuo Guangxi, sebuah desa kecil di daratan China. Àimèi bersama gadis lain diboyong ke Indonesia oleh Jack (Ferry Salim), pria necis pemilik Lé Mansion, sebuah club mewah di Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Àimĕi yang diubah nama menjadi Xi Xi baru sadar kalau dia adalah korban human trafficking. Terlebih ketika Jack menjadikannya komoditi pemuas nafsu pria kaya, kabur pun menjadi jalan satu-satunya agar merdeka. Untuk kabur, Xi Xi meminta bantuan Lielie (Shareefa Danish) dan Pauline (Jasmine Julia Machate) teman satu kamar di Lé Mansion serta AJ Park (Samuel Rizal) pegawai Discovery Underworld International berdarah Korea. Sanggupkah Xi Xi kembali ke Negara asalnya dengan bantuan mereka?

Well, apa yang di tawarkan oleh produksi terbaru Falcon Pictures ini sebenarnya lumayan menjanjikan. Sayangnya ide besar tersebut gagal disampaikan dengan baik. Skenario hasil rembukan Alyandra, Tohaesa dan Sally Anom terlalu payah untuk kemudian di ekskusi oleh Alyandra yang selain bertindak sebagai penulis naskah juga memegang bagian penyutradaraan, DOP dan tata musik.

Lihat saja, sepanjang 72 menit kita akan melihat betapa pincangnya film ini. Naskah yang buruk semakin hancur lebur dengan gaya penyutradaraan Alyandra yang terkesan dikejar sesuatu. Sehingga ditinjau dari berbagai sisi film ini mempunyai banyak nilai minus. Seperti akting para aktor dan aktris yang so pathetic serta editing yang kasar.

Ngomongin akting, rasanya hanya Shareefa Danish yang sanggup membawakan karatkter dangkal yang diembankan padanya dengan baik. Franda yang baru saja memulai debut layar lebar memang tidak buruk, tapi peforma aktingnya belum mampu meyakinkan banyak orang kalau dia beneran sedang tertindas selain sepanjang film hanya sibuk menundukan kepala. Bagian paling ganggu adalah penampilan Ferry Salim dengan jambul khatulistiwa wannabe dan gaya necisnya yang terlalu berlebihan (bahkan di keseharian pun!). Belum lagi tambahan highlite komedi gagal dan teramat sangat maksa dari Gilang Dirgahari. Membuat gue nggak berhenti mikir untuk segera keluar dari studio saking muaknya.

Berterima kasihlah pada Franda. Karena dia adalah satu-satunya alasan gue (dan cowok-cowok lain) untuk bertahan menyaksikan film ini sampai credit title muncul. Andai saja produksinya tak terlalu buru-buru serta mau meluangkan waktu dalam proses penggodokan naskah, mungkin Xià Àimĕi mampu tampil lebih berisi dan memikat. Tidak seperti sekarang yang rasanya sia-sia saja memasukan berbagai unsur menarik jika digarap hanya setengah-setengah. Pada akhirnya Xià Àimĕi pun telah gagal untuk tampil berbeda. Sebuah debut film yang mengecewakan bagi Alyandra dan Franda.

Pulau Hantu 3 [2012]


Ngomongin soal Jose Poernomo nggak bisa lepas dari masterpiece-nya berjudul Jelangkung bareng Rizal Mantovani yang menjadi salah satu tonggak kebangkitan perfilman kita. Tapi setelah ‘horor-bener’ bertajuk Angkerbatu-nya gagal dipasaran, Jose banting setir membuat film horor-seksi beberapa bulan setelah merilis film yang menjadikan setan sebagai zombie tersebut.

Premis yang ditawarkan Pulau Hantu (2007) memang nggak seoriginal itu. Tapi dari sini Jose seolah menemukan nafas baru untuk kemudian dilanjutkan oleh para pengekor dengan kualitas murahan. Terbukti Pulau Hantu emang sukses besar bahkan menjadi salah satu dari 10 film terlaris rilisan 2007 dengan raihan 650.000 penonton. Nggak heran jika kemudian muncul sekuelnya bertajuk Pulau Hantu 2 di tahun 2008.

Kini, setelah tiga tahun berlalu, dan ditunggu-tunggu sebagian penikmat film kategori vividism seperti ini, Jose Poernomo kembali melanjutkan kisah Pulau Madara dengan tambahan angka 3 di belakangnya. Tetap memakai formula yang sama, sajian horor berbumbu tampilan dada dan paha para wanita cantik. Bedanya, jika antara predesor dengan sekuelnya masih memiliki keterkaitan, sekuel kedua ini tampaknya hanya dibuat untuk bersenang-senang. Jalinan plot tak teratur dan scene demi scene yang tak mempunyai kolerasi satu sama lain membuat siapapun bisa dengan mudah menduga kalau usaha Jose dan Punjabi grup hanya untuk mengeruk keuntungan.

Basicly, untuk urusan ‘mempermainkan’ penonton, gue lebih suka cara Jose dalam mendirect Pulau Hantu 3 dibanding seri sebelumnya. Tapi dari segi kedalaman cerita dan pernak-perniknya, gue merasa seri ini adalah seri terburuk atau seharusnya nggak perlu ada.

Emang sih gue menikmati film ini. Di satu sisi gue seneng, mencak-mencak kegirangan. Disisi lain gue merasa kasihan sama filmmaker kayak gini yang baru di awal tahun udah nyampah aja. Selain tampilan bodi-bodi yang dahsyat, kita bakalan disuguhi dengan akting kacrut dari para pemain dan kegaringan skenario yang levelnya udah biadab banget. Unsur komedi yang harusnya menjadi highlight seri ini terlihat kering dan maksa. Lihat saja durasi-durasi awal yang kriuk to the max. Bikin gue pengen banget stand up comedy di depan Jose soal bagaimana menyajikan komedi yang mengakak kayangkan penonton. Itupun dengan catatan gue udah sukses berguru sama Olga Syahputra lhoo. Eh, ini kenapa jadi out of the topic gini sih?

At least, gue menganggap keseruan menonton Pulau Hantu 3 sebagai gulity pleasure meski sedikit terganggu dengan cara pemotongan LSF yang nggak banget. Mungkin gue juga harus masuk LSF agar mereka tau bagaimana cara sensor yang baik dan benar tanpa menghilangkan esensi dan nggak terkesan amatir. Gue nggak ngedukung kekecewaan Jose mengingat filmnya dipotong beberapa menit karena emang nggak worth it. Tapi sebagai penikmat film, yang nonton ke bioskop bayar, gue nggak mau pemotongan adegan terjadi dengan tidak elegan kayak proses sensor di tivi.

By the way, kenapa posternya jadi turun derajat ya? Kayaknya gue juga perlu bikinin poster biarrr—

*Tulisan sengaja terpotong karena review isinya kebanyakan menyombongkan diri. Which is hal itu nggak boleh dilakukan oleh seorang manusia yang unyu seperti gue. Salam Super!

Kafan Sundel Bolong: Aziz Gagap vs Mr. Bean. Jiplak?


Advisory Warning: Sebelum lanjut membaca, jangan lupa sediain baskom untuk wadah muntah.

Di sore yang mendung ceria ini gue langsung heboh kemana-mana pas secara gaib menemukan trailer film tai terbaru KK Dheeraj yang berjudul Kafan Sundel Bolong. Kenapa? Bukankah film E’ek Raj emang selalu stagnansi ke arah jamban melulu? Whatever, peduli setan soal jamban. Gue nggak terima karena untuk filmnya kali ini dia ngejiplak beberapa scene dalam komedi situasi Mr. Bean. Hell, siapa sih yang nggak tau sosok bloon ikonik tersebut? Keterlaluan! Basicly, pikir gue sih mereka gapapa nyampah asal jangan jiplak. Malu-maluin banget lah kalo kayak gini. What the fuck with you om beroo?

Sebenernya gue ga perlu seheboh ini banget karena shit-stuff kayak ini, ini dan ini udah sering dilakuin E'ek Raj. Lupa penjiplakan apa saja yang dia and the gank tebarkan di tiap filmnya? Coba baca-baca lagi skandal apa yang uda gue beberkan beberapa waktu lalu dengan sangat elegan di postingan yang berhubungan sama E'ek Raj. Kalau gak ada waktu, buruan cekidot ke tulisan di bawah.

Pertama-tama gue bakalan kasih lihat trailer Kafan Sundel Bolong which is mahakarya E'ek Raj di awal tahun 2012, yang di klaim khusus untuk menghormati Ratu Horor Suzanna. Wah, gue hakkul yakin banget kalau almarhumah Suzanna bakalan ga ridho dunia akhirat dipersembahin film kayak gini.


Setelah melihat trailer berikut, ngerasa nggak ada sesuatu yang familiar? Coba perhatikan sekali lagi. Kalau udah, sekarang gue bakalan kasi skrinsyut topik terpanas di awal tahun yang bikin gue mencak-mencak di awal.




Skrinsyut 1 sampe 3 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul Reclaims His Trousers. Cek videonya disini --> Mr. Bean


Skrinsyut 4 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul Credit Card Mix Up. cek Videonya disini --> Mr. Bean


Skrinsyut 5 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul In The Toilet. cek Videonya disini --> Mr.Bean


Skrinsyut 6 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul Getting Up Late For The Dentist. cek Videonya disini --> Mr.Bean

Nah, nah, parah banget kan? Ini masih trailer. Gimana coba filmnya nanti? Semoga ini bukan awal mimpi buruk!

Bukan Pocong Biasa [2011]


Menonton film horor Indonesia kini sangatlah menjengkelkan. Tema yang diambil itu-itu mulu. Pocong lagi pocong lagi dengan segala pernak pernik judul corny. Hampir serupa tapi tak sama. Parahnya, terkadang nggak ada yang diutak-atik selain pemain dan sutradara. And then, Bukan Pocong Biasa termasuk salah satunya.

Honestly, entah kenapa gue males banget mereview film ini begitu tahu hasil akhirnya yang sangat mengecewakan. Bahkan saking hopelessnya, gue berniat untuk tidak mereviewnya. Untuk apa? Untuk sekedar menambah jumlah postingan? Sepertinya begitu #eh. Untungnya gue segera sadar diri dan langsung ngebacot apaan deh meski hype filmnya sendiri sudah menghilang lantaran karya ke lima Chiska Doppert di tahun 2011 ini emang, gitu deh...

Tak perlu berpanjang lebar dengan membuat sinopsis, hal repetitif kayak gini sudah sangat menyiksa mental. Okelah, ini film niatnya menghibur. Tapi kalo hasilnya nggak menghibur gimana coba? Siapa yang mesti gue salahin? Emak gue? Tetangga-tetangga gue? Beberapa kali gue mencoba berpikir positif kalo Zaky Zimah itu layaknya Mr.Bean yang hanya dengan melihat muka najisnya saja gue bakal ketawa. Tapi Mr.Bean dan Zaky adalah sosok yang jelas berbeda. Ibarat bumi dan langit, seberusaha keras apapun Zaky melucu, film ini akan tetap garing karena lawakan dia yang repetitif tadi. Lawakan memakai mimik bego apalah itu. Not works, dude! Kalo perlu gue lempar deh sepatu gue yang udah bolong-bolong ini ke layar saking sebelnya. Sebodo dengan hasil akhir gue dilempar keluar petugas dari studio 4 Matos 21.

Terus lagi, tiga pocong dengan pemeran pocong utama yang mukanya sekilas mirip Aming, bahkan lebih menyeramkan dari Aming secara harfiah, sangat tidak membantu membuat film ini mengakak kayangkan penonton unyu seperti gue. Apalagi penonton lain yang sepanjang durasi hampir nggak ada yang ketawa sama sekali. Nggak heran sih, triple kriuk gini... Yang ada malah bikin gue jadi pengen ngelempar tas gue ke layar. Oke, sepatu dan tas gue udah jadi korban lho. Lalu apalagi? Apa perlu hape dan baju juga ikutan gue lempar? Eh, sabar Bee.. Sabar. Inget pencitraan!

Well, yakin deh kalo gini terus, film Indonesia bakalan stuck di tempat. Kenapa sih nggak bikin komedi yang lebih elegan. Yang lebih bermutu gimana gitu daripada film kek gini? Memang sih setingkat lebih baik dari film Nayato atau KKD. Tapi tetep aja hasilnya memuakan!

Semoga tahun depan nggak ada film model ginian lagi. Perlu ditekankan aja, penonton udah jenuh lho dengan hal-hal usang seperti ini. Kenapa nggak kepikiran untuk bikin sesuatu yang fresh from the oven. Bukan mengekor sesuatu yang sebenarnya udah basi level biadab. Kasian juga kalo udah bikinnya susah, keluar duit banyak, tapi nggak begitu laku amat di pasar. Iya kan? And please stop mempelesetkan judul film lagi. Cukup Ada Apa Dengan Cinta?, Kejarlah Daku Kau Kutangkap dan Bukan Cinta Biasa. Jangan sampe tahun depan gue lihat ada film judulnya Poconggg Di Dadaku dengan pemeran Jupe yang boobsnya memang begitulah. Karena gue bakal melempar diri sendiri ke bulan dengan senang hati. Sekian curhat hari ini.

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? [2011]


“Mereka bilang aku berbeda. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal, aku dilahirkan dengan cara yang sama...” ~ Angel

Memanfaatkan sebuah euphoria sebenarnya sah-sah saja. Itu Indonesia banget. Nggak usah heran kalo perfilman kita selalu saja latah mengeksploitasi hal itu. Dan nggak usah heran pula kalo hasilnya kebanyakan hancur total alias menyampah sembarangan!

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? adalah sebuah trend lanjutan dari suksesnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Dimana dengan jeli sang produser membaca market: bagaimana cara mengeruk keuntungan dari labilers se-Indonesia raya. Maka diadaptasilah sebuah novel yang diklaim sudah dibaca 2 juta readers secara online. Dan langsung memilih Dinda Hauw yang mendadak jadi ‘sesuatu’ setelah debutnya sukses menarik 748.842 penonton sebagai pemeran utama. Sampai disini nggak ada masalah memang. Tapi semua berubah tidak menyenangkan ketika menikmati jalinan visualisasi dari novel besutan Agnes dan Teddy, atau yang lebih kita kenal dengan Agnes Davonar.

Film ini sudah menjengkelkan sejak awal. Dan semakin menjadi-jadi hingga credit akhir muncul. Gimana enggak, dari awal kita sudah disodori dengan tangisan-tangisan lebay tidak pada tempatnya. Hell, bikin film tearjerker sih tearjerker aja. Tapi nggak mesti gini-gini juga kali. Masa iya tiap ngapa-ngapain keluar air mata, dikit-dikit keluar air mata. Kenapa nggak nikahin gue aja sekalian? Fuck off banget lah! Bahkan gue udah nggak peduli gimana nasib akhir Angel; cewek tersial di dunia yang diperankan dengan sangat biasa oleh Dinda Hauw. Karena gue udah capek diajak untuk terus bersimpati pada karakter stupid bin corny di layar bioskop. Thanks untuk kerja tim penulis skenarionya: Titien Wattimena, Djamil Aurora dan Agnes Davonar, karena telah membuat film berdurasi 99 menit ini tidak penting untuk disimak.

Hal diatas makin diperburuk oleh jajaran pemeran pembantu di film ini. Selain Fendy Chow dan Kiki Azhari dengan akting nggak banget a la sinetron di RCTI, swear KK Dheeraj gue timpuk sama pispot, Rafi Cinoun adalah kesalahan terbesar Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Hell, bagian casting tolong bersihin mata pake insto dong. Masa iya lo milih artis kek gini. Minimal yang rada beneran dikit deh. Ditinjau dari segi mana sih coba kalo muka Rafi tuh enak dipandang? *pengen muntah sambil kayang*

Selain cerita dan akting yang failed, kegagalan demi kegagalan terus berlanjut hingga membuat film arahan Findo Purwono ini makin tidak jelas. Seperti gambaran kedokteran yang ngasal, bloopers dimana-mana dan subtitle adegan gagu yang muncul disaat-saat nggak worth it. Bikin gue berkali-kali mengerutkan jidat saking gagal pahamnya.

And yes, cukup seperti itulah siksaan yang disodorkan oleh produksi terbaru Rapi Film di tahun 2011 ini. Nggak horror, nggak drama, film-film produksinya emang bikin gue ngoceh ngalor ngidul sambil ngupil. Percayalah, bagian terbaik film ini terletak ketika secara tiba-tiba terdengar suara Agnes Monica dengan hitz-nya berjudul Rapuh. At least, bukan film yang buruk. Tapi terkadang kita harus tahu dimana batas antara cerita dalam novel yang perlu divisualisasikan agar tidak tampak berlebihan dan menyedihkan. Lalu apakah jawaban dari pertanyaan “Ayah, mengapa aku berbeda?”, tanyain aja sama rumput yang bergoyang.

By the way sebelum gue tutup reviewnya, masih perlu nggak gue kasih detail sinopsis ceritanya?

The Mentalist [2011]


Plot dari film ini adalah persaingan dua orang mentalis (sok penting) di negeri entah berantah. Tak perlu menjelaskan secara detail bagaimana ceritanya karena akan sangat membuang waktu. Intinya, The Mentalist sepuluh kali lipat lebih menyeramkan (tolong bagian ini jangan diartikan secara harfiah) daripada official poster yang sudah corny dan menjijikan itu. Kalau aja gue jago photoshop, tanpa segan gue bakal mengedit poster film agar tampak lebih elegan dan pantas dipasang untuk postingan kali ini.

Sejak awal, film dibuka dengan tidak senonoh. Dan semakin mencabik-cabik hati dan perasaan terdalam gue yang tampan dan menggemaskan ini begitu melihat hasil secara keselurhan.

1. Ceritanya sangat merendahkan intelijensia penonton. Entah penonton Indonesia yang masih belum bisa menerima tontonan bergenre fiksi fantasi seperti ini atau bagaimana gue nggak mau ngurusin, tapi segala yang terjadi dalam The Mentalist terasa begitu annoying dan lebay. Dari mulai segi kostum sampe properti yang sangat murahan.

2. Skenario olahan Walmer Sitohang pun sama seperti cara penyutradaraan dia yang sok-sok ber Nayato ria. Serius, dialog film ini absurd dan belibet. Dan disini pula kalian bakal ngelihat scene-scene menyerupai Nayato tapi dengan kualitas rendah yang sangat mengganggu mata.

3. Soal akting, gue nggak tau ngapain aja Deddy Corbuzier dan Limbad di film ini. Mereka tidak kelihatan seperti berakting. Tapi juga tidak kelihatan sedang melakukan peragaan sulap. Lalu ngapain? Asumsi gue sih lagi niat ngelenong. Belum lagi penampilan dua bintang muda tidak bermasa depan cerah seperti Hafil Andrio sebagai Zhoe dengan tatanan make up ala Edward Cullen lagi mengalami pendarahan otak dan Meiditha Badawijaya sebagai Jhane dengan bodi dan muka yang teramat merusak pemandangan. Woi, bagian casting siapa sih? *gak santai*

4. Visual efeknya juga totally sinema laga di Indosiar. Makin diperparah dengan tata musik dari Tya Subiakto yang please, sangat merusak mood lantaran tidak sesingkron itu dengan jalan cerita. Bahkan agar terdengar keren saja tidak.

5. Tambahan: kalian akan melihat dengan sangat 'artistik' comotan adegan ketika Edward Cullen menyelamatkan Bella Swan dari mobil yang akan menabrak dalam Twilight.

Hell, betapa gue pengen jadi invisible man saking malunya membuang uang percuma demi tontonan tidak layak konsumsi seperti ini diantara lima orang lain yang ada dalam studio 4 dan sepertinya juga tidak niat menonton karena sibuk bermesraan dengan pasangan masing-masing. Persetan deh sama alibi yang dikeluarkan saat jumpa pers tentang kenapa tak ada prosesi screening atau gala premiere dengan alasan ingin memberikan kejutan pada penonton. Excuse me, kejutan yang mana ya? Atraksi paling nggak jelas yang dilakukan Limbad dan Deddy itu? Oh my evil, mending gue ngepel lantai bioskop!

Harusnya Hengky Kurniawan tidak perlu memasang namanya sebagai produser dengan sedemikian narsis. Alangkah lebih sopan jika dia memakai nama samaran seperti H. Kurniawan atau Hengky K agar tak memperburuk citra sebagai artis yang banting setir jadi produser dan memproduseri film gagal seperti ini. Itupun jika The Mentalist layak disebut film. Atau sinetron yang diputar di bioskop? Entahlah, biar waktu yang menjawab. Sekian.


Kehormatan Di Balik Kerudung [2011]


"Aku seperti daun kering yang menunggumu.." - Syahdu

Syahdu (Donita) memutuskan untuk mencari ketenangan batin setelah tersakiti oleh cinta di rumah sang kakek di Pekalongan. Dalam perjalanan kesana, tepatnya ketika menunggu kereta datang, dia bertemu dengan seorang wartawan bernama Ifand (Andhika Pratama) dan kemudian merasakan desir-desir aneh bernama cinta. Sayang pertemuan itu hanya sebentar dan tak ada alasan untuk berharap lebih jauh. Namun siapa yang sangka begitu sampai di tempat sang kakek, takdir malah mempertemukan mereka kembali. Dan cinta itupun berjalan mengikuti alurnya.

Awalnya memang indah, namun kedekatan Ifand dan Syahdu tak disukai warga setempat. Hingga sang kakek meminta Syahdu untuk menjauhi Ifand demi nama baiknya dan nama Syahdu sendiri. Terlebih ketika gadis-gadis kampung meminta Syahdu dengan halus untuk menjauhi Ifand demi Sofiya (Ussy Sulistiawaty), gadis setempat yang sudah lama mendambakan cinta Ifand. Tak tahan, Syahdu memilih kembali ke rumahnya. Apakah keputusan Syahdu tepat? Dan bagaimana kisah cinta antara dia dan Ifand yang sudah terjalin erat?

Kehormatan Di Balik Kerudung merupakan debut komposer kenamaan Indonesia bernama Tya Subiakto Satrio. Diadaptasi dari novel berjudul sama buah karya Ma’mun Affany yang sepertinya nggak begitu eksis. Bahkan nggak ada embel-embel ‘based on best seller book’ di poster seperti kebiasaan film Indonesia kekinian yang diangkat dari sebuah novel. Terlepas dari best seller atau nggak, apakah film produksi kesekian Starvision ini worthy untuk ditonton?

Dari segi cerita dan tema sepertinya udah basi ya. Hanya modifikasi dari novel cinta berbalut nuansa islami yang sudah diadaptasi lebih dulu. Cuma tinggal utak atik template, karakter dan setting cerita, jadi deh film baru. Sayangnya film ini nggak seniat film sejenis yang lebih dulu beredar tadi seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban atau Dalam Mihrab Cinta. Atau lebih baik nggak usah dibandingkan. Karena setelah diadaptasi, film ini telah kehilangan banyak hal. Bahkan unsur religi yang tertanam kuat dalam novelnya pun hilang nggak berbekas. Jadi jangan sebut Kehormatan Di Balik Kerudung sebagai drama reliji. Cukup drama cinta picisan yang dibuat bak sinetron. Atau lebih tepat drama komedi dengan dialog yang super-duper berlebihan. Serius? Komedi?

Amalia Putri sebagai penulis skenario kelihatan kurang begitu jeli menangkap inti cerita yang ada dalam novel. Atau asumsi gue dia menulis skenario secara on the spot alias jalan begitu ada dilokasi syuting. Kenapa gue bisa berasumsi kayak gini? Coba deh perhatiin betapa nggak singkronnya dialog-dialog dari scene ke scene yang dibuat sedikit sok nyastra itu. Kalo dialog sastranya dibuat dalam batas wajar sih nggak papa. Tapi karena terlalu sering bahkan hampir mendominasi, dialog tersebut membuat gue ketawa ngakak di atas ka’bah. Serius, dialognya tuh quotable yang lebay biadab dan absurd. Contohnya kayak gini:

Ifand: “Assalamuallaikum, Syahdu, ada apa?”
Syahdu: “Aku takut Ifand. Takut seperti embun yang hilang sebelum pagi datang.”

Gue langsung pasang ekspresi bingung tertampan ngedengernya (nggak usah dibayangin, please!). Bingung antara ingin tertawa atau gigit kursi bioskop. Parahnya dalam dialog selanjutnya nggak ada kalimat tanya dari Ifand seperti: “Apa maksud kamu Syahdu?”, sehingga Syahdu nggak perlu susah-susah pula menjelaskan kepada kita yang nggak henti dibuat mengernyitkan kening berkali-kali karena dialog semacam itu tetap ada hingga film selesai. Hell!

Dari segi akting, serius, bahkan saking ngefansnya sama Donita, nggak membuat gue untuk nggak ngelempar sandal liat aktingnya di film ini yang lebay jaya. Ekspresinya itu loh berlebihan. Coba apa deh maksud dia pasang ekspresi ketakutan begitu sampai pertama kali di rumah sang kakek dan ekspresi lebay lainnya yang nggak menjelaskan apapun. Setali tiga uang, Andhika Pratama juga melakukan hal serupa. Kalo nggak salah lihat, hampir tiap dia berbicara, kepalanya selalu dibuat miring-miring nggak jelas. Penghayatan atau emang ada masalah sama kepala lo Dik? Rasanya hanya Ussy yang berakting cukup normal meski karakter dia terlihat dangkal dan bodoh disini.

Lalu bagaimana dengan usaha Tya Subiakto dalam mengarahkan film pertamanya ini? Gue akui sinematografinya keren. Lanskap Bromo dapat tersaji sedemikian indah. Mungkin terlihat agak ke Nayato-Nayatoan mengingat lelembut satu ini bertindak sebagai DOP. Tapi ada beberapa part yang membuat filmnya berbeda meski pada akhirnya terpaksa memperlihatkan kedok yang Nayato banget. Nggak heran juga sih kalo banyak yang menyamakan. Dan nggak heran juga banyak yang berasumsi kalau film ini sebenarnya bikinan om Naya yang malu mengakui lalu memakai nama Tya Subiakto. Entahlah... biar Tuhan, Nayato, Tya, Chand Parwes dan Doraemon yang tahu (?)

Aduh, kayaknya gue terlalu kepanjangan deh reviewnya. At least, meski terlihat benar, nggak bisa dipungkiri kalau Kehormatan Di Balik Kerudung memiliki borok. Alur lompat-lompat. Plot hole bertebaran. Dialog najis tralala. Akting lebay. Tata musik annoying. Dan semua hal yang membuat judul film ini akan menjadi sebuah judul tanpa arti dan terlalu berat. Kehormatan? Kehormatan apa jeng?

NB: Kasian Ma’mun Affany adaptasi novelnya dibikin ancur kayak gini.

Pocong Minta Kawin [2011]


Guess what, siapa hantu paling eksis di Indonesia raya tercinta? Jawabannya nggak lain dan nggak bukan adalah POCONG. Sebagai setan yang memiliki ciri khas tersendiri dan hanya muncul di Indonesia saja, hantu berbungkus kain kafan ini sudah membuat sineas kita yang pada dasarnya memang suka kekeringan ide, semakin annoying dalam hal mengekplorasi genre horor dengan pocong sebagai pionir untuk menarik penonton ke bioskop.

Pocong Minta Kawin adalah film horor kesekian yang memakai judul pocong. Film horor kesekian yang membuat imej pocong sebagai hantu menyeramkan di Indonesia rusak. Film horor kesekian yang akhirnya harus masuk ke tempat sampah seperti film berjudul pocong-pocong sebelumnya. Film horor kesekian yang... what the F?

Ningsih (Chika Waode) adalah cewek yang mesti galau seumur hidup karena bergigi maju lima meter. Gara-gara itu pula calon suaminya membatalkan acara pernikahan mereka. Ketika sedang asyik curhat nasib diatap rumah susun, Ningsih dikagetkan oleh seruan Yuli Gaga (Julia Perez) yang malah membuatnya terjatuh dari atap dan meninggal. Nggak lama kemudian, empat mahasiswa kere sebut saja cowok A, B, C dan D, mencari kos murah dan menemukan bahwa kamar bekas Ningsih disewakan dengan harga meriah selangit. Dari sinilah teror Ningsih, pocong bergigi maju lima meter, di mulai.

Plotnya simpel. Plotnya basi. Dan coba tebak siapa penulis naskahnya. Oh my god, yes, Armantono. Tapi gue nggak yakin kalo ini hasil pikiran Armantono. Gue yakin banget kalo ini bualannya Harry Dagoe Suharyadi (HSD) aja biar filmnya bisa sedikit terangkat. Mengingat track record Armantono sangat jarang menulis skrip untuk genre horor. Tapi gatau lagi sih kalau dia maksa-maksa nulis horor sehingga jadinya ancur kayak gini. Buktinya PMK adalah kali kedua HSD dan Armantono duet setelah sampah lainnya bertajuk Di Kejar Setan.

Film ini disutradarai oleh Chiska Doppert. Merupakan film ketiga Jeng Chis setelah Ada Apa Dengan Pocong? Dan Tumbal Jailangkung. Lupakan judul Missing karena Jeng Chis memberikan konfirmasi  bahwa di film itu dia hanya bertindak sebagai asisten sutradara. Dan entah kenapa Nayato memakai namanya. Jadi cukup jelas, Missing adalah bagian dari sampah om Naya.

Meski ada kesamaan di bebeberapa part yang bisa dimaklumi secara dia udah bertahun-tahun kerja bareng sang guru, semakin kesini jeng Chis jelas memiliki teknik yang berbeda. Pembeda Nayato dan jeng Chis adalah dari standar eksplorasi dan tidak terlalu suka memakai pakem flashback yang menjadi kedigdayaan sang guru tersebut. Di satu sisi itu horor menjadi mudah dinikmati. Tapi disisi lain horor itu jadi kehilangan taji; yaitu rasa curiousity atas apa yang terjadi.

Dan hasilnya, Pocong Minta Kawin telah gagal menjadi horor ataupun horor komedi. Komedinya super garing level biadap. Sedang horornya sama sekali tidak menyeramkan. Lalu apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh proyek aji mumpung HDS ini jika pada akhirnya nyampah lagi-nyampah lagi? Apa dada Julia Perez? Apa gigi maju yang dipake Chika Waode? Atau akting kancrut ensemble castnya? Om my evil, please, mending HSD balik aja bikin film-film niat festival mengingat dia ga ada bakat eksis di genre ginian. Kayaknya HSD kurang belajar dari Di Kejar Setan. Atau entahlah... hanya Tuhan dan HSD yang tau. Seperti gue yang pengen boker di dalam bioskop gara-gara pas masuk studio liat poster resmi PMK dipajang dengan elegan. Terlebih lagi dengan tagline “gagal cuci centong, jadi pocong deh” yang sumpah najis abis. Bikin gue pengen sumpelin mulut HSD pake kancut mbak-mbak penjaga tiket. Ups..!

Perempuan² Liar [2011]


Tampaknya 2011 menjadi tahun sial bagi rumah produksi MVP Pictures. Gimana nggak sial kalo film-film yang mereka edarkan tahun ini hampir semuanya flop dipasaran. Lalu ada Perempuan² Liar yang sepertinya akan bernasib sama seperti Cewek Gokil, Cowok Bikin Pusing dan Mudik yang rilis terlebih dahulu.

Dom (Tora Sudiro) dan Mino (Dallas Pratama) adalah kakak beradik yang bekerja sebagai debt collector di Jakarta. Saat asyik melakukan ‘pesta perempuan’ di sebuah hotel, mereka berdua dipertemukan dengan Mey (Maeeva Amin), cewek yang sedang galau ditengah prosesi pernikahannya dengan Rocky (Gary Iskak), pria pilihan sang ayah yang tak dia cintai. Seolah mendapat kesempatan, bersama Cindy (Rina Diana), sang adik, Mey pun memaksa Dom dan Mino untuk membawa mereka kabur. Petualangan gila dan liar pun dimulai setelahnya.

Premis yang terlihat menarik? Jawabannya adalah tidak setelah melihat hasil keseluruhan film yang dibidani oleh Rako Prijanto ini. Lagi dan lagi. Sebuah proyek kekeringan ide. Proyek tambal sulam yang entah dengan tujuan apa dibuat kalo hasilnya nggak begitu menarik—parahnya lagi, almost nyampah. Lebih parah lagi, merupakan hasil mix and match dari beberapa film luar seperti The Hangover, American Pie 2, The Sweetest Thing, A Life Less Ordinary dan salah satu film korea yang judulnya nggak sempet gue inget.

Naskahnya ditulis oleh Raditya Mangunsong dan merupakan duet ketiganya dengan Rako Prijanto setelah menjiplak mentah-mentah komedi korea berjudul A Tale of Legendary Libido yang kemudian bertransformasi menjadi Penganten Sunat. Sedang Perempuan² Liar menjadi film ke 13 sang sutradara. Setelah debut lewat Ungu Violet yang ceritanya juga hasil jiplak dari music video solois wanita asal negeri ginseng bernama Kiss. Oh my evil, parah sekali fakta di balik filmografi orang-orang ini!

Oke, kalo dari sisi cerita udah super duper nggak beres, hal apalagi yang setidaknya bisa menarik penonton untuk berbondong menyaksikan film ini? Sebenernya gue ragu sih bilang, tapi mungkin hanya adegan buka-bukaan ga niat antara Maeeva Amin dan Rina Diana dengan muka standard itu saja yang bisa menarik penonton terutama laki-laki. Bahkan kehadiran Tora dan Dallas sangat tidak menarik minat wanita. Satu karena akting mereka kancrut. Dua, karena mereka sudah bosan dengan muka yang itu-itu aja. Selebihnya, mending uangnya ditabung untuk keperluan yang lebih worth it. Semisal, beliin gue pulsa gitu. Pasti pahala kalian nambah deh hehehe…

Terakhir, coba bandingkan poster film ini dengan poster film komedi romantis fenomenal asal Thailand: Hello Stranger!




Pacar Hantu Perawan [2011]


SELAMATKAN PERFILMAN INDONESIA DENGAN TIDAK MENONTON FILM-FILM BUSUK! TERUTAMA FILM KK DHEERAJ!


Lupakan soal jalan cerita karena demi gue yang ganteng ini, Pacar Hantu Perawan adalah film paling nggak berperi kemanusiaan yang adil dan beradap, yang pernah dibuat oleh hewan. Ups, maaf ya kalo kasar banget. Habis gue mesti marah sama siapa dong? Masa iya gue mesti nyalahin emak gue? Tetangga gue? Guru SD gue? Nggak, nggak, gue pasti nyalahin lo, om E’ek Raj. Karena pada titik ini elo udah beneran keterlaluan. Lo udah melakukan pembodohan masal. Dan mempermalukan muka lo sendiri. Dan menyeret-nyeret muka perfilman bangsa gue. Eh, ralat, gue lupa, om E’ek kan uda nggak punya muka ya. Pantesan...

Gue yakin film ini dibikin tanpa naskah. Kalopun iya, palingan naskahnya cuma satu yang sebenarnya kosong karena sebelum take adegan, sang sutradara (sebut saja Yoyok Dumprink ;Red) dan tentu saja sang produser yang memakai kacamata kuda (sebut saja KKD ;Red) cuma memberi intruksi seperti berikut: “Heh banci kaleng, ntar lo pokoknya manja-manja aja ama Natha Narita. Trus buat lo Sisik (panggilan sayang KKD untuk Depe), lo ntar ngebacot sambil pasang ekspresi sensual biar taktik marketing kita yang bilang meki lo udah virgin lagi bisa kebukti! Dan terakhir buat kalian jeng Misa sama Jeng Vicky, ntar kalian ngikuti instruksi dari anak buah gue disana aja, maklum, gue gak bisa bacot inggris, Cint!”

Lalu bagaimana dengan departemen akting? Oh lupakan, hampir nggak ada yang bisa dibangga-banggain dari film ini. Dewi Perssik, makin lama aktingnya tuh makin apa banget deh. Mending lo baca koran aja di rumah. Pasangan ternajis abad ini, Natha Naritha dan Rafi Cinaoun, ya ampun, ga ada artis lain yang rada benaran dikit ya? Jonathan Frizzy, no komen ah. Maklum deh, aktor gak laku pengen eksis. Vicky Vette, kok gue agak gimana gitu ya liat payudara big size lo yang diekspos terlalu berlebihan. Mungkin selain akting Misa Campo yang kebetulan masih ada hubungan darah sama gue, hanya Olga Syahputra dengan bulu matanya yang rancak bana itu, yang bisa deh sedikit membuat gue tersenyum ala kadarnya. Selebihnya, ijinkan gue dengan segala kerendahan hati melempar tai gue ke layar bioskop! Dan menyuruh ke seluruh jaringan 21 untuk tidak memutar film ini!

Film ini sampah banget deh. Selain soal logika cerita yang begitu merendahkan intelijensia seorang manusia. Ada juga soal pemotongan adegan yang amat-sangat-sangat tidak berperikehewanan. Mungkin lebih ke soal gimana cara pihak LSF menyiasati agar film tai kayak gini bisa tayang. Hingga film yang emang dari asalnya udah menjijikan, terlihat makin menjijikan. Guess what, salah siapa? Tentu aja salah om E’ek. Karena berkat ketololannya, draft awal Pacar Hantu Perawan disensor habis-habisan sampe dia mesti melakukan syuting ulang untuk menambah durasi yang hilang hingga akhirnya durasi berjalan 70 menit lebih. Karena jelas dengan durasi 60 menit, pihak bioskop nggak akan mau memutar. Dan cara untuk mengakali adalah dengan memberi prolog kredit ternggak jelas dan terlama sepanjang hewan pernah membuat film.

Hell, demi keamanan dunia, please jangan tonton film ini. Cukup gue aja deh,toh gue kan niatnya nonton cuma buat review. Udah kalian tonton film bermutu aja. Jangan bikin E’ek Raj kesenengan karena filmnya laku. Karena kalo hal ini sampe terjadi, dia malah bakal lebih heboh memproduksi tai-tai lagi. Please ya, jangan di tonton. Biarkan om E’ek bangkrut dan membuka pabrik garmen aja. Setidaknya dia nggak perlu sok tau membuat film dengan insting bisnisnya yang patut diacungi jari tengah. Dari sini saja, bisa kita bandingkan bahwa Nayato akan langsung terlihat seperti Terrence Malick jika disejajarkan dengan E’ek Raj yang hanya tampak seperti seekor semut yang bentar lagi bakal gue injek-injek!

Sekali lagi, KK Dheeraj melemparkan tai di muka perfilman nasional. Tapi kali ini dengan dosis yang sudah tak bisa dimaafkan. Melebihi dosis nista pada film-film dia sebelumnya. Bikin gue terheran-heran dan serius mikir di gunung 2 hari 2 malam mengenai tingkah polah produser idiot hasil persilangan kuntilanak dan pocong satu ini. Apa sih maksud dia melakukan semua hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh manusia? Kalo memakai alasan demi memberikan kontribusi bagi perfilman tanah air, mending lo mencret aja di WC umum. Kalo pengen kaya tanpa memikirkan stigma apa yang di racunkan pada masyarakat Indonesia, yang sudah bosan dengan tontonan payudara kalo lewat internet saja mereka sudah puas dan nggak merasa di bodohi, mending lo mati aja buru-buru. Gara-gara ulah lo, penonton Indonesia semakin jengah dengan film bangsanya sendiri. Membuat mereka mengagung-agungkan produk luar negeri yang sudah jelas lebih segalanya. Dan yang paling parah lagi, menganak tirikan hal yang seharusnya mereka banggakan. Film Indonesia dipandang sebelah mata. Diacuhkan. Dilecehkan. Miris banget!

Tarung: City of Darkness [2011]


ADVISORY WARNING: REVIEW INI TIDAK BEGITU PENTING. PELIS, JANGAN DIBACA! 

Info mengenai film dari sutradara kebanggaan kita satu ini sudah tercium lama sekali dengan judul awal Fight: City Of Darkness. Sebelum memakai nama asli dia-yang-tak-boleh-disebut, sutradara 'serba bisa' dengan seribu nama ini mencantumkan alter ego Lee Ngan Cheong yang entah dicomotnya darimana (asumsi gue sih setelah puasa boker 2 hari 2 malam di gunung Hua kuo) pada poster teasernya dibawah produksi Videocam Film. Tapi menjelang peluncuran resmi, apalagi dengan dilepasnya trailer yang sangat bergaya dia-yang-tak-boleh-disebut, film ini akhirnya berganti judul menjadi Tarung: City of Darkness dibawah rumah produksi yang namanya ikutan berganti pula menjadi Jelita Alip Film.Wah, dunia yang aneh -____-

Dibilang terobosan untuk genre sebenarnya tidak juga. Dia-yang-tak-boleh-disebut pernah bermain-main dengan ranah action dan kriminal pada film drama galau yang muncul dan menyampah lebih dulu di jaringan 21 meski porsinya hanya sekedar tempelan. Makanya, begitu melihat trailer Tarung yang tersebar lebih dahulu di youtube, gue sudah antipati. Sangat bercita rasa dia-yang-tak-boleh-disebut sekali. Plus kebiasaan trailer dari film hasil kreasinya yang suka membunuh isi filmnya sendiri. Yup, gimana nggak membunuh kalau dengan melihat trailernya saja kita sudah tau bagaimana nasib film ini.

Sudah, lupakan soal cerita karena sama sekali nggak worth it. Dimana nantinya hanya akan membuat kalian mengerutkan jidat dan nggak bisa kembali rata sampai pulang ke rumah, bahkan kalau mau, hingga berhari-hari kemudian. Seperti biasa lah, naskah yang ditawarkan sangat lemah bin maksa. Meski jujur saja at the first time memiliki premis yang cukup menarik kalau saja jatuh ditangan sutradara dan penulis skenario yang tepat. Bukannya jatuh di sineas yang lagi-lagi bermental sakit jiwa seperti ini. Lalu, apakah Tarung layak untuk disimak?

TIDAK! ABSOLUTETY NO! Kecuali kalian ini membuang waktu dan uang lalu mereview seperti gue. Yah, setidaknya gue masih mempunyai niat lain, disamping hobi rare ini, yaitu menyadarkan kalian dari sialnya menonton sampah model beginian. Memang apa sih yang membuat film ini sebegitu buruknya dimata gue meski dia-yang-tak-boleh-disebut sudah mencoba alternatif berebeda? Apa? Apa?

1. Akting kancrut dari semua pemain! Gimana nggak kancrut, kalo hampir semua aktor cowok yang pernah bermain di film-film dia-yang-tak-boleh-disebut minus Zaky Zimah, Andhika Pratama, Fero Walandouw dan Dallas Pratama pada reuni menunjukkan akting ternajis, terlebay dan kawan-kawan. Momen terburuk adalah ketika mendapati Volland Humangio berada ditengah-tengah mereka. Hampir dikatakan Volland tidak sedang berakting. Lalu ngapain? Bokerkah? Bukan, tentu aja untuk jadi bahan sempalan supaya cerita jadi panjang. Toh tanpa kemunculannya, sebenarnya film ini masih tetap bisa berjalan.

2. Akting kancrut Cinta Dewi yang awalnya ditujukan sebagai pemanis namun tidak manis sama sekali Sayang, aktingnya gitu-gitu melulu dan dia tak mau berusaha melakukan improvisasi selain improv untuk lebih berani pamer badan yang memang,  hell, lumayan seksi. Cinta Laura eh Cinta Dewi kelihatan beneran lagi akting ketika sedang menari diatas meja pada opening film. Selebihnya, forget it. Apalagi begitu mengetahui bulu keteknya belum dicukur dengan begitu sempurna. Oh shit, mau nyaingin Eva Arnaz? Langakahi mayat KKD dulu (?).

3. Kebodohan karakterisasi yang dibuat tanpa latar belakang dan seperti biasa, hanya untuk mempermudah dia-yang-tak-boleh-disebut mengeksplorasi jalan cerita hingga menjadi makin tidak-tidak

4. Kebodohan jalan cerita. Coba cek logika ketika tokoh Galang yang diperankan oleh ubur-ubur menolong adik tololnya dengan janji akan melunasi hutang dalam 3 hari. Tapi selama 3 hari kok dia cuma jalan-jalan, lontang lantung nggak jelas? Tolong KKD, buruan cium gue daripada terus lo siksa gue kayak gini *eh, salah cantumin nama woy!*

5. Editing yang berantakan dari Tiara Puspa Rani. Apalagi pace film yang lumayan cepat seperti ini membuat TPR sepertinya sangat kewalahan. Makanya jangan mau kerja sama KKD *salah sebut lagi woy!*

6. Banyak kebiasaan buruk sang sutradara yang akhirnya malah menjadi trade mark. Mari kita cek.

A. Hujan? Ada!
B. Clubbing? Jelas!
C. Cewek buka-bukaan? Tentu!
D. Gas elpiji 3kg? Hell of course!
E.  Gelap-gelapan? Yes iyeslah, judulnya aja uda mengandung kata Darkness!
F.  Adegan tengok kanan kiri sebelum berjalan? Tetep!
G. Darah? Gak usah ditanya!
F. Kereta api? WOW, GUE SYOK KENAPA BANYAK SEKALI FOOTAGE KERETA API NONGOL TANPA TUJUAN YANG JELAS DI FILM INI! APAA MAKSUDNYA?!?!

Kurang apalagi ya? Sepertinya kurang efek angin-anginan layaknya film india doang deh. Tumben dia-yang-tak-boleh-disebut-namanya lupa masukin.

7. ....

Kayaknya udahan deh yah, gue kan nggak lagi mau bikin skripsi!

Baiklah, masih yakin untuk menonton? Keputusan ada ditangah kalian. Akhir kata, tontonlah film Indoensia bermutu. Sekian dan sampai jumpa di review film dia-yang-tak-boleh-disebut  bergenre selain horor selanjutnya.

FAKTA TIDAK PENTING: Itu tolong ya, komentar-komentar di poster bisa dibuktiin nggak? Terutama yang terakhir. Mungkin maksudnya "KICKASS NAYATO" kalee, bukan "KICKASS ACTION!"

Rating ?

Get Married 3 [2011]


"Edward... Jacob... Bella.." - Mama Rendy

Kisah berpusat setelah kelahiran 3 bayi kembar tidak identik dari pasangan Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Fedi Nuril). Dimana mereka memutuskan untuk mengurus bayi-bayi itu sendiri tanpa campur tangan siapapun, termasuk orang tua masing-masing dan tentunya tiga sahabat karib Mae: Guntoro (Desta), Eman (Amink) dan Beni (Ringgo). Tapi baru saja beberapa bulan berlangsung, Mae mendadak terserang sindrom baby blues atau penyakit stres bawaan ibu setelah melahirkan.

Spontan, keadaan rumah jadi kacau. Hingga pertengkaran antara Mae dan Rendy pun tak bisa dihindari. Merasa gengsi untuk meminta kembali kehadiran mertua dan ibunya, Rendy malah meminta bantuan pada ketiga sahabat karib Mae. Yang akhirnya malah membuat Babe dan Emak Mae (Jaja Mihardja – Meriam Bellina) serta Ibu dan Sophie, Adik Rendy (Ira Wibowo – Kimberly Ryder), hadir di rumahnya.

Merasa makin lama makin dijajah oleh kehadiran orang-orang itu yang tak memperbolehkan Rendy mengurus anak-anaknya sendiri , dia menyuruh Bobby (Billy W. Polli) untuk mendatangkan Nyai (Rata Riantiarno), mertua dari Babe alias nenek si Mae, dengan harapan bisa mengusir kehadiran pasukan ‘baby sitter dadakan'  itu dari rumahnya. Namun bukannya membaik, keadaan malah menjadi kacau balau. Dan kini, sekali lagi hubungan Rendy dengan Mae terpaksa tidak baik-baik saja. Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka?

Seri Get Married pernah dibuka dengan begitu menyenangkan oleh Hanung Bramantyo empat tahun silam. Dan menurun pada sekuel pertama walau raihan penonton tetap memuaskan meski tidak sebanyak predesornya. Lalu bagaimana dengan nasib sekuel kedua ini?

Tak perlu berpanjang-panjang, jika pada Get Married 2 gue menyebutkan film produksi Starvision tersebut telah kehilangan beberapa esensi yang terdapat dalam prekuelnya. Di seri ketiga, dengan sangat kecewa gue mesti bilang bahwa film yang naskahnya di tulis oleh Cassadra Massardi ini telah kehilangan segalanya. Entah itu pondasi cerita, komedi, selipan satir, chemistry antar pemain maupun soundtrack. Nggak ada yang bisa dibanggakan dari kisah Mae-Rendy selain keterpaksaan dari berbagai segi. Okelah, 20 menit awal gue masih bisa nyaman duduk di kursi, tapi semakin lama, film jadi semakin membosankan dengan banyolan yang sama sekali tidak lucu dan keklisean standar film indonesia dalam menggampangkan penyelesaian konflik. Nggak salah kan, kalo kursi bioskop sampe habis gue makan. Bahkan, sebelum film diakhiri.

Salah, langkah Chand Parwes Servia untuk memperpanjang kisah Get Married sampai titik ini jelas sebuah kesalahan. Dan gue harap cukup sampai disini saja. Jangan sampai ada Get Married 4 dua tahun lagi. Karena dalam seri ketiga yang dibidani oleh Monty Tiwa sudah sangat jauh dari kesan menghibur selain potongan kegaringan plus kejayusan yang melanda dan tak pernah berhenti ditampilkan untuk menjadi sajian komedi yang diharapkan mampu menghibur namun juntrungannya malah berakhir gagal. Cukup disayangkan. Entah salah siapa, penulisnya yang gak kreatif atau sutrdaranya yang gagal mengeksekusi. Tanyakan pada rumput yang bergoyang. Sekian

Rating 2.9/10

Tumbal Jailangkung (2011)


Ternyata Chiska Doppert dan Nayato Fio Nuala atau Ian Jacobs atau Koya Pagayo adalah dua orang yang berbeda. Dalam debutnya, lewat film berjudul Missing, mbak Pret (panggilan sayang gue buat Chiska) terlihat masih abu-abu antara itu beneran filmnya kah atau film sang guru. Pun di film Gotcha! beberapa tahun setelahnya. Aura-aura om Naya masih tercium disana-sini. Tapi setelah lama vakum dan muncul dengan dua film teranyarnya di tahun ini, Mbak Pret telah membuktikan bahwa dia memang bukan alter ego. Melainkan wanita titisan om gue, yang telat diberi tongkat estafet, yang pastinya akan melanjutkan kiprah sang guru ketika beliau wafat kelak (amin ya Allah, as soon as possible buanget!). Nggak percaya? Mari kita buktikan lewat review gue kali ini!

Tumbal Jailangkung. Bagi gue bukanlah horor seperti genre yang sudah tergeneralisasi dari sono. Melainkan drama suspense. Karena film ini lebih menitik beratkan pada faktor psikologis karakter bernama Linda (Soraya Larasati) yang mengetahui dirinya telah hamil setelah diputusin cowoknya. Kehamilan Linda bukan akibat berhubungan dengan sang pacar, Richard (Rocky Jeff), melainkan dijadikan pemuas nafsu dua sahabat Richard, Hanung (Romeo Sianipar) dan Galung (Taza Rudman).

Linda jelas galau akut. Usaha bunuh diri dengan membenturkan kepala ke cermin gagal total karena ketahuan sahabatnya, Vena (Violensia Jeanette), serta sepupu Vena yang bernama Ivan, yang memuja Linda dalam diam namun tak pernah disadari oleh cewek itu. Mereka pun membawa Linda ke sebuah villa untuk menenangkan diri. Bukannya tenang, disana Linda malah berjodoh dengan boneka jelangkung yang telah memilih untuk menyalurkan hasrat setan dalam diri Linda untuk menuntut balas.

Naskah olahan Aurellia tak menawarkan sesuatu yang baru. Dia hanya sibuk menyulam rangkaian benang merah dari film Jelangkung, Exorcism, Kuntilanak, The Grudge dan Ringu. Apa yang tersaji di layar asli kreasi mbak Pret. Dia mencoba berimajinasi sekuat tenaga dengan bertapa di gua selama tujuh hari sepuluh malam (?) dan hasilnya, taraaa... nggak jauh-jauh dari kata “ini sinetron dibawa ke bioskop, atau bioskopnya nayangin sinetron?”. Karena dengan durasi yang cuma seuprit, film yang diproduseri oleh Lucki Lukman Hakim ini (eh, dia siapa ya, kok eksis di blog gue?) serasa seabad lamanya. Ritme lambat dengan banyaknya adegan plus dialog nggak bernas.

Sebenarnya gue dari lima menit awal udah pengen aja gitu pura-pura salah masuk studio lalu pindah ke foodcourt. Lihat deh adegan awalnya tuh maksa abis. Kata guru gue, teknik kamera yang dipake out of focus. Masalahnya kalo digunakan untuk adegan yang singkron sih gapapa. Lha ini? Malah bikin pusing. Mungkin maunya mbak Pret pengen kelihatan keren kayak film-film Nolan (aduh kejauhan kalee...) tapi hasilnya malah kayak lagi liat video rekaman adek gue lagi nyanyi di kamar mandi. Itupun masih bagusan adek gue kemana-mana.

Dari segi akting sangat beragam, unsur sinetronisme cek akting Rocky Jeff dan Violensia. Unsur gak niat cek akting cover boy Danny Weller dan dua bule nyasar yang kayaknya diganti sama mpok atiek dan mpok nori kayaknya nggak masalah. Sedang Soraya nggak buruk-buruk amat!

Gue nggak ngerekomendasiin film ini. Lo mau nonton terserah, nggak juga terserah. Nontonpun paling ya gitu doang. Mudah dilupakan. Nggakpun juga masih banyak film lain. Nonton film yang ada guenya mungkin (nanti, 100 tahun lagi rilis!). At least, posternya menjijikan banget yak? Menipu tuh! Mungkin biar dikira film esek-esek apaan tau. Tapi film ini gak ada adegan gitu-gituannya. Ada sih penampilan bule pake bikini. tapi gue kecewa karena taunya malah di blur. Mbak Pret pilih bermain aman rupanya. Hmm... boleh deh. Cukup tau aja.

Rating 1.5/10

Kado Hari Jadi [2008]


Awalnya gue nggak menyangka kalau judul film semanis ini ternyata hanya sebuah kedok dari film panjang pertama Paul Agusta yang bergenre thriller. Film dari sutradara yang sudah malang melintang lebih dulu lewat beberapa film pendek ini sama sekali nggak so sweet seperti bayangan awal. Apalagi begitu membaca sinopsis yang langsung menimbulkan rasa penasaran dengan berbagai ekspetasi. Sebrutal apa sih filmnya?

Tertipu dengan judul yang cantik jadi urusan belakang. Toh guepun tetep nekat nonton Kado Hari Jadi yang naskahnya ditulis Dalih Sembiring ini. Cerita dibuka oleh suara dering telepon lalu disusul ketukan di pintu kamar kos Yoga (Rifnu Wikana). Dan setelah pintu dibuka, tau-tau orang di depan pintu itu membiusnya. Begitu bangun dari efek obat bius, Yoga mendapati dirinya tengah berada di sudut ruangan dengan kondisi tangan terikat kebelakang dan duduk disebuah kursi besi. Sementara di depan matanya terdapat sebuah pensil tajam dan silet di atas kepala. What the hell going on? Pertanyaan itulah yang akan terus berkecamuk sampai setidaknya satu jam kedepan. Itupun dengan catatan, kalau kalian tetap bertahan duduk dikursi. Dan dengan setia menyimak kenapa karakter pria diatas bisa tiba-tiba mendapat perlakuan tak menyenangkan seperti itu.

Jujur aja, gue rada eneg sama film yang berbau penyiksaan. Bukan soal seberapa banyak darah yang sajikan, berliter-liter juga gak masalah bagi gue. Yang bikin eneg adalah ekploitasi kekerasan fisik yang terkadang nampak seperti nyata. yang terkadang di shoot secara membabi buta. Untuk ukuran film senada, Rumah Dara masih satu-satunya yang pernah terjadi di ranah perfilman lokal. Gue jerit-jerit, man, liat kesadisan yang sebenarnya nggak seberapa jika dibandingkan dengan buatan sineas luar. Korea misalnya. Lalu gimana dengan film yang masuk dalam seleksi International Film Festival Rotterdam 2009 ini?

Soal urusan teknis seperti pergerakan kamera yang labil (dan baru gue tau kalo katanya disengaja), sound serta gambar yang buram-buram gak jelas to the max, gue masih bisa maklum. Ini film indepeden dengan bujet minimalis, guys. So, cukup menghargailah kalo in the end terlihat kurang sempurna. Tapi gue udah nggak bisa maklum ketika cerita filmnya semakin diikuti semakin gak jelas bahkan almost maksa.

Nggak tau kenapa gue ngerasa pointless sama cerita yang dihadirkan. Terlalu bertele dan banyak karakter nggak penting yang entah dengan tujuan apa di munculkan. Misalnya seperti cameo Ladya Cherryl yang lagi gosip di depan rumah. Singkron gak sih? Trus adegan di kamar yang memperlihatkan cewek SMA serta bacotan dia yang corny ama pacarnya dengan akting pas-pasan. Coba aja kalo karakter lebih diminimalis dan hanya bertumpu pada sosok Yoga, Tika (Kartika Jahja) si cewek psycho, Adam (Jeffrey Sirrie) calon suami Tika dan Irma (Hukla Turagan) pacar Yoga. Pasti film berdurasi seuprit ini nggak akan segitu membosankan. Tapi balik lagi ke soal bagaimana si penulis naskah juga sih.

Lalu yang nggak bisa gue maklumi selajutnya adalah banyaknya bloppers yang cukup mengganggu. Pertama adalah darah, gue sempet jetlag pas salah satu adegan tembok dibor. Oke, itu darahnya kok gitu doang. Terus soal alur penceritaan non linear. Gak masalah sih sebenarnya, cuman yang bikin eneg adalah penempatan gambar bekas siksaan yang nggak jelas dan berbeda antara satu adegan dengan adegan lain ketika shoot menyorot tubuh korban. Apakah ini kekurang jelian dari editornya Lucky Kuswandi atau memang disengaja? Entahlah... Mungkin bagian ini terasa personal karena kekurang kerjaan gue terlalu detail dalam memperhatikan film.

At least, bagi gue yang menarik dari film ini cuma premis dan cerita di 20 menit awal. Selepas itu, gue udah terlanjur bosan dan sama sekali nggak menikmati. Bahkan gue udah nggak peduli dengan nasib Yoga dan kenapa-kenapanya sampe dia bisa kena siksa. Bahkan gue seharusnya nggak perlu merasa tertipu karena adegan slashernya terkesan biasa saja meski Rifnu Wikana sudah berakting semeyakinkan itu.

Rating 3/10

Ada Apa Dengan Pocong? [2011]


"Dimana-mana dukun mintanya primbon, bukan kamus," - Boy

Gue agak lupa gimana ceritanya, karena di pertengahan sempat dibikin ngantuk akibat mati bosan padahal durasinya cuma sejam lebih dikit. Pokoknya tentang 4 cowok dengan karakter aneh yang diteror oleh pocong sekaligus kuntilanak. Mereka adalah Boy (Zaky Zimah) yang homo wannabe, Wawan (Dallas Pratama) si penakut, Tedi (Jerry Likumahua) yang Budi—budek dikit serta Hary (Raymond) yang dijuluki body panser. Lalu, kenapa 4 cowok ini diteror? Dan bagaimana menghentikan teror itu? Yakinlah, kalian nggak bakal terlalu peduli nasib kenapa mereka bisa dikejar setan dan bagaimana. Atau mungkin ingin menyarankan alternatif ending yang lain. Seperti menegak baygon mungkin. Biar bisa berakhir happily ever after a la dongeng klasik?Who knows.

Hell, pocong dan kuntilanak kembali dieksploitasi lagi (dan lagi, dan lagi, sampe gue bosan lalu pengen boker di dalam bioskop saking eneknya) dalam satu paket film bergenre komedi-horor yang berakhir nanggung dan sedikit mengecewakan berlabel Ada Apa Dengan Pocong? Ya, kecewa. Gue mikirnya pas duduk di bioskop bisa nyante dan fun. Tapi ternyata nggak tuh.

To be honest, bagi gue film ini nggak sesampah yang dibayangkan. Meski dari segi judul uda corny mampus tapi terbukti sukses membawa penonton remaja galau, para vividism dan orang-orang kurang kerjaan berbondong-bondong masuk bioskop. Taktik pasar yang jitu rupanya. Terlepas dari entah apa rekasi Mira Lesmana dan Riri Riza nanti. Mungkin mereka menyesal memakai judul Ada Apa Dengan Cinta? dulu sehingga ingin segera merilis ulang film Dian Sastro dan Nicholas Saputra dengan judul, Cinta, Ada Apa Denganmu? atau apapun itu, whatever.

Beruntung kali ini bukan lagi ulah dedemit yang merupakan aib perfilman Indonesia, om Naya, yang menyutadarai, melainkan anak asuhnya. Chiska Doppert. Familiar? Ya, dia orang yang sama yang pernah membesut Missing beberapa tahun lalu. Sempet dikira alter ego om Naya. Tapi ternyata bukan (meski gue sendiri masih ragu). Cara penyajian mereka berdua sangatlah berbeda. Chiska lebih halus dan lembut dalam bertutur. Meski pada akhirnya, di berbagai part terlihat nggak jauh beda sama gurunya. Saran gue kalo mau berguru jangan sama om Naya. Kayak nggak ada guru lain aja. Sama gue mungkin, belajar ngata-ngatain orang tapi. Hehehe....

Seperti yang udah gue singgung di paragraf ketiga, Ada Apa Dengan Pocong bukanlah film yang buruk. Naskah besutan Ule Sulaeman gue akui sudah mencoba untuk menyajikan hal-hal baru—meski pada akhirnya basi juga. Sayang, ekskusi dari sang sutradara berakhir klise seperti kebanyakan horor yang di tawarkan enam bulan kebelakang di tahun ini. Komedi yang disajikan terlampau garing bin usang. Zaky Zimah dan Raymond sudah cukup membosankan untuk dipaksa memerankan karakter tipikal seperti ini. Ampuh memang dibeberapa adegan, tapi kalau terlalu sering kan nggak lucu juga. Parahnya, ini film bergenre komedi tapi kenapa scoringnya serasa film horor yang horor, bukan horor komedi. Jadinya Ada Apa Dengan Pocong? adalah komedi Horor yang nanggung (gara-gara salah scoring kalee jeng Chis). Poin aneh lagi adalah pengambaran flashback story yang terlalu drama dalam penjabaran dan tentu saja terlalu maksa. Apa nggak ada alternatif lain selain kepentok pohon, jatuh terbentur batu terus mati. Apakah tidak anak SD sekali?

Kebodohan-kebodohan karakter, cerita yang maksa, terlalu bertele dan banyak dialog absurd yang maunya lawak tapi gagal dan berujung pada dialog goblok lah yang membuat film ini begitu menyiksa. Well, kalo aja para bintang-bintangnya bukan ini-ini lagi, Ada Apa Dengan Pocong mungkin bisa dibilang berbeda. Sayang, bagi penikmat film lokal yang baik dan benar, pasti akan antipati duluan dengan beberapa nama pemerannya. Bahkan hanya dengan melihat poster AADC wannabe itu. Beruntung cuma pada teaser dikasi pernak pernik warna. Apa jadinya kalo poster resmi yang nempel di bioskop seperti itu? Gue yakin Rudi Soedjarwo bakal langsung kena stroke karena masterpiece nya disamain dengan film seperti ini.

At least, dengan hasil mendekati 20.000 penonton dihari pertama rilis, film ini lumayan banyak diminati rupanya. Dan jangan heran jika nanti muncul film-film senada. Dan semoga bisa lebih lagi dan memakai bintang-bintang baru. Agar tak terkesan klise dan menjemukan. Juga jangan sampai memasang nama sutradara Nayato lagi jika nggak ingin di cap sampah! Pelis, penikmat film indonesia sudah bosan dengan keklisean yang melanda akhir-akhir ini. Seperti dialog Boy di salah satu adegan, yang mungkin bisa jadi gambaran seperti apa komentar sinis penonton sekarang: "Kenapa hidup gue jadi berubah drastis begini sih? Dimane-mane di teror setan. Kalo gak pocong, kuntilanak.."

Rating 2/10

Cin.. Tetangga Gue Kuntilanak! [2010]


Rasanya setelah melihat film ini, gue mau bikin permintaan maaf secara resmi pada pembuat film Untukmu. Dimana ketika mereview Untukmu, gue menyebutkan kalo film itu sangat bla-bla-bla. Tapi ternyata oh ternyata, gue telah berdosa. Setidaknya Untukmu terasa seperti The Tree of Life yang barusan menang Cannes daripada film tai anjing seperti ini.

Gue nggak tau orang-orang primitif idiot (hell, uda primitif, idiot pula!) macam apa yang mengedarkan film tai anjing seperti ini. Eh ralat, ini bukan film. Ini tai yang beneran tai. Harusnya lembaga sensor malu dan tak mengedarkan film indonesia yang penuh adegan tambalan dari potongan scene film luar dan animasi yang tersebar di yutub. Pun dengan pemain yang sangatlah nggak layak disebut artis. Jangan lupa pula ada karakter Joker wannabe disini juga posternya yang sudah menggambarkan film secara kesulurahan.

Yakinlah, menonton film ini akan menimbulkan gejala bulanan seperti muntah kelabang, panas dingin 7 hari 7 malam non stop full service dan tak lupa bonus tidur dihantui mimpi buruk bertemu Cynthiara Alona berkepala tengkorak dan tanpa wignya yang kayak Sadako itu. Semoga orang-orang laknat kayak mereka berhenti bikin film yang akan memalukan nama baik mereka sendiri nantinya. Gue yakin anak-anak mereka kelak nggak bakalan bangga kalo ayah mereka pernah membuat spesies lain dari tai ini. Cukup Nayato dan KKD saja, yang langsung gue sembah-sembah setelah nonton film ini sambil nahan boker. Karena setidaknya derajat mereka naik satu tingkat dibanding para dedemit di belakang layar Cin.. Tetangga Gue Kuntilanak!

Gue gak mau melanjutkan mereview dan berpanjang lebar seperti sebelumnya. Intinya film ini sangat..

ANJING!!!

At least, jangan bertannya kenapa gue nekat menonton? Karena gue juga nggak tahu jawabannya. Sekian!

Rating - /10

Oh Tidak..! [2011]


Melihat nama-nama orang dibalik layar, jelas sekali bahwa Oh Tidak..! bukanlah film yang ditujukan untuk mengisi slot kosong di televisi. Tapi entah kenapa selain beredar cuma di 2 gedung blitz megaplex, secara keseluruhan kualitas film ini memang membuat orang yang melihatnya akan berteriak “OH TIDAK!”.

Bercerita soal Gilang (Fathir Muchtar), seorang cowok metroseksual yang mempunyai pacar bernama Meisye (Marsha Timothy). Nah, saking perhatiannya sama diri sendiri, Meisye sempat mempertanyakan cinta yang ada dihati Gilang untuk dirinya. Menginjak usia hubungan 2 tahun, Gilang berusaha memperbaiki semuanya. Tapi sungguh sial karena disaat itu pula rombongan sirkus yang tak lain adalah keluarganya datang kerumah mengacau semua.

Ada sang mama (Marcella Loumowa) yang ingin bercerai dari suaminya (Djarwo Kuat) lantaran pria itu tergoda cewek di pengajian, ada nenek (Djaety) yang punya teman khayalan bernama Pamela hingga kerap kali ngomong sendiri, ada kakek (Sutrisna) yang hiperseks dan nggak sadar umur, serta paman (Arie Dagienks) pengidap kepribadian ganda gara-gara stres ditinggal sang istri yang ternyata seorang lesbian. Parahnya, dia lesbi sama pembantunya sendiri! Hal itulah yang akhirnya membuat Gilang terpaksa banyak melakukan kebohongan agar jangan sampai Meisya tau keadaan keluarganya yang aneh tapi nyata.

To be honest, plot film ini unik dan menarik sebenarnya. Dibeberapa momen bahkan gue sempat dibuat tersenyum sekilas. Tapi entah kenapa makin lama Upi gagal memikat penonton. Ritme cerita berjalan naik turun. Banyak komedi kering kerontang yang chessy tapi tetap dihadirkan. Dan parahnya lagi, Ardy Octaviand selaku sutradara mengeksekusi film ini dengan sangat berantakan dan malas menurut gue. Liat saja para aktor aktrisnya yang dibiarkan tampil tanpa penjiwaan sama sekali. Itu terlihat jelas dari akting kakek, nenek dan paman. Juga Fathir Muchtar. Gue gak enjoy liat si Fathir. Kancut banget aktingnya. Beruntung, masih ada Marsha Timothy yang berakting seperti biasa. Hingga membuat gue betah mengikuti film ini sampai selesai.

So far, pilihan yang tepat bagi Starvision untuk mengedarkan film ini secara terbatas. Toh ternyata nggak penting-penting juga dan mudah dilupakan. Oh Tidak..! bisa dibilang film terburuk yang ada dalam daftar film seorang Upi Avianto. Dan tentu saja penurunan bagi sutradara setelah mendapat predikat lumayan dalam mengeksekusi Coklat Stroberi. Salut untuk ketau dirian mereka—I mean, orang-orang dibalik layar Oh Tidak..! Nggak kayak sutradara dan produser you know how yang nggak tau diri, bahkan dengan pede gede mengedarkan film mereka secara nasional meski telah mengetahui bahwa filmnya amatlah sampah. Fakta teraneh, film itu laris manis dipasaran. Oh pelis...

Rating 2/10

Satu Jam Saja [2010]


Bisa dibilang Satu Jam Saja adalah proyek film impian Rano Karno. Dia sangat menyukai lagu ciptaan Sylvia Theorupun itu sehingga dengan penuh semangat menuliskannya menjadi sebuah skenario film layar lebar. And then voila… rilislah film arahan Ario Rubbik ini dipasaran pada oktober tahun lalu. Beragam tanggapan pun datang dari para reviewer guna menunjukkan seberapa nggak asyiknya film ini secara frontal. Including me..

Bercerita tentang persahabatan antara Gadis (Revalina S. Temat), Hans (Andhika Pratama) dan Andika (Vino G. Bastian) yang terjalin sejak SMA. Pada suatu hari Gadis mengetahui dirinya tengah hamil anak Hans. Sayangnya, Hans yang kalut malah menghilang begitu saja. Gadis pun berusaha mengugurkan kandungannya. Tapi niat itu batal ketika Andika datang menolongnya. Andika mau menikahi Gadis karena perasaan bersalah dan mengganggap hamilnya Gadis karena ketidak becusan dia menjaga sahabatnya itu. Dan tentu saja agar Gadis tak mendapat pandangan negative dari orang-orang disekitar atas kehamilannya di luar nikah.

Berita pernikahan Gadis pun sampai ke telinga Hans. Diapun masuk kembali kedalam kehidupan dua sahabatnya itu dengan harapan bisa bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap Gadis. Lalu bagaimanakah kisah ini harus diakhiri?

Jujur aja, tema seperti ini tuh klasik banget. Mungkin kalo gue idup di jaman Rano Karno dan teman seperjuangan masih eksis, baru gue bisa ngerasain kalo film ini tuh penting. Dan parahnya, Rano Karno selaku penulis skenario membuat karakter-karakternya berpikiran jaman dulu. Oh pelis, apa iya hamil diluar nikah mesti seribet ini? Dijaman serba canggih yang bahkan keperawanan uda nggak ada artinya lagi (seperti gambaran film-film om Naya). Rano Karno terlalu bertele dalam mengambarkan tiap-tiap adegan dengan dialog nothing yang nggak berdampak apa-apa. Bahkan asumsi gue dia juga bingung merajut kisah yang tampak jelas 'mulai nggak tau arah kemana' ketika sosok Hans dihadirkan kembali. Maksa banget!

Nggak cuma itu, selain cerita yang vintage parah tanpa modernisasi disana sini, cara penyutradaraan sang sutrdara juga ikut-ikutan melodrama kayak ceritanya. Slow motion tanpa tujuan yang jelas. Seringkali scene-scenenya terlihat kosong. Entahlah. Terlihat sangat tak bersemangat sekali. Belum lagi musik scoring yang jarang terdengar. Sekali terdengar malah kering. Tak membawa intensitas apapun.

Beruntung ada Revalina S. Temat yang cantik seperi biasa dan Vino G. Bastian yang selalu all out. Lupakan karakter Hans dan tentunya Andhika Pratama yang ngapain sih disini? At least, Satu Jam Saja bukan film yang buruk. Dengan catatan, beredar ketika nenek-kakek gue masih kinclong. Sekian!

rating 3.5/10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...