Showing posts with label Sci-Fi. Show all posts
Showing posts with label Sci-Fi. Show all posts

The Mentalist [2011]


Plot dari film ini adalah persaingan dua orang mentalis (sok penting) di negeri entah berantah. Tak perlu menjelaskan secara detail bagaimana ceritanya karena akan sangat membuang waktu. Intinya, The Mentalist sepuluh kali lipat lebih menyeramkan (tolong bagian ini jangan diartikan secara harfiah) daripada official poster yang sudah corny dan menjijikan itu. Kalau aja gue jago photoshop, tanpa segan gue bakal mengedit poster film agar tampak lebih elegan dan pantas dipasang untuk postingan kali ini.

Sejak awal, film dibuka dengan tidak senonoh. Dan semakin mencabik-cabik hati dan perasaan terdalam gue yang tampan dan menggemaskan ini begitu melihat hasil secara keselurhan.

1. Ceritanya sangat merendahkan intelijensia penonton. Entah penonton Indonesia yang masih belum bisa menerima tontonan bergenre fiksi fantasi seperti ini atau bagaimana gue nggak mau ngurusin, tapi segala yang terjadi dalam The Mentalist terasa begitu annoying dan lebay. Dari mulai segi kostum sampe properti yang sangat murahan.

2. Skenario olahan Walmer Sitohang pun sama seperti cara penyutradaraan dia yang sok-sok ber Nayato ria. Serius, dialog film ini absurd dan belibet. Dan disini pula kalian bakal ngelihat scene-scene menyerupai Nayato tapi dengan kualitas rendah yang sangat mengganggu mata.

3. Soal akting, gue nggak tau ngapain aja Deddy Corbuzier dan Limbad di film ini. Mereka tidak kelihatan seperti berakting. Tapi juga tidak kelihatan sedang melakukan peragaan sulap. Lalu ngapain? Asumsi gue sih lagi niat ngelenong. Belum lagi penampilan dua bintang muda tidak bermasa depan cerah seperti Hafil Andrio sebagai Zhoe dengan tatanan make up ala Edward Cullen lagi mengalami pendarahan otak dan Meiditha Badawijaya sebagai Jhane dengan bodi dan muka yang teramat merusak pemandangan. Woi, bagian casting siapa sih? *gak santai*

4. Visual efeknya juga totally sinema laga di Indosiar. Makin diperparah dengan tata musik dari Tya Subiakto yang please, sangat merusak mood lantaran tidak sesingkron itu dengan jalan cerita. Bahkan agar terdengar keren saja tidak.

5. Tambahan: kalian akan melihat dengan sangat 'artistik' comotan adegan ketika Edward Cullen menyelamatkan Bella Swan dari mobil yang akan menabrak dalam Twilight.

Hell, betapa gue pengen jadi invisible man saking malunya membuang uang percuma demi tontonan tidak layak konsumsi seperti ini diantara lima orang lain yang ada dalam studio 4 dan sepertinya juga tidak niat menonton karena sibuk bermesraan dengan pasangan masing-masing. Persetan deh sama alibi yang dikeluarkan saat jumpa pers tentang kenapa tak ada prosesi screening atau gala premiere dengan alasan ingin memberikan kejutan pada penonton. Excuse me, kejutan yang mana ya? Atraksi paling nggak jelas yang dilakukan Limbad dan Deddy itu? Oh my evil, mending gue ngepel lantai bioskop!

Harusnya Hengky Kurniawan tidak perlu memasang namanya sebagai produser dengan sedemikian narsis. Alangkah lebih sopan jika dia memakai nama samaran seperti H. Kurniawan atau Hengky K agar tak memperburuk citra sebagai artis yang banting setir jadi produser dan memproduseri film gagal seperti ini. Itupun jika The Mentalist layak disebut film. Atau sinetron yang diputar di bioskop? Entahlah, biar waktu yang menjawab. Sekian.


Glitch: Tersesat Dalam Waktu [2009]

rating 5/10

poster film ini nggak sepenuhnya berbohong. dengan embel-embel "TEROBOSAN BARU FILM INDONESIA", semua orang diyakinkan bahwa dengan menonton film besutan david poernomo ini, mereka akan mendapatkan sesuatu yang berbeda. ya, gue akui, baru kali ini, setelah pasca mati suri, penonton indonesia disuguhi film bergenre fiksi fantasi. tapi terobosan yang digunakan hanya dari segi genre. sedang dari semua, sama aja kayak film-film lain.

bercerita tentang andi, teten dan dara yang berkumpul merayakan kepulangan andi dari jepang di sebuah kafe. saat dalam perjalanan mengantar teten pulang, tiba-tiba tanpa sengaja mereka terseret masuk ke dalam sebuah fortex yang menghubungkan dengan tempat lain dalam satu garis lurus. jadi, yang semula ada di jakarta, tiba-tiba mereka nyasar ke bukit tinggi!

sejak masuk dalam lorong waktu itulah mereka mulai mengalami hal-hal ganjil. dan dengan bantuan dosen andi di tokyo, profesor leman, mereka menemukan fakta, bahwa bukan hanya mereka yang mengalami kejadian langka itu, tapi juga orang lain. sayangnya hanya andi dan kawan-kawan yang dipilih oleh tuhan untuk terlibat jauh ke dalam untuk memecahkan misteri dibalik keanehan fenomena waktu.

dari plot, sebenarnya cukup menjanjikan. namun sayang, mungkin karena kendala budget or something else, film ini tampak apa-adanya. jadi kesan fiksi fantasi yang dibawa hanya sekedar tempelan belaka. lihat aja scene-scene yang memperlihatkan fenomena-fenomena ajaib yang seharusnya bisa dibikin semenarik mungkin malah dibuat dengan visual efek yang ala kadarnya. nggak heran kalo gue samain film glitch dengan film televisi di indosiar yang pemainnya itu-itu mulu (you know-lah...).

jalinan ceritanya juga gitu. terlalu banyak scene yang harusnya dibuang juga nggak masalah tapi tetep dimasukin. jadinya gue sempet bosen tapi nggak berniat untuk mematikan komputer dan beranjak. karena jujur aja, gue penasaran dan bertanya-tanya, lho kok gini sih? lho kok gitu sih. jangan gitu sayang.. jangan gitu sayang.. (eh, kok jadi nyanyi?). 

back to the topic, gue penasaran sama endingnya, sayangnya, dari sekian scene keanehan waktu yang dihadirkan sama sekali nggak bisa diselesaikan dengan baik gimana jawabannya. membuat scene-scene ajaib itu sia-sia dibuat dan meninggalkan tanda tanya besar di otak. apa iya film ini diniatkan untuk mengajak penonton berpikir? kalo emang jawabannya seperti itu, salah besar, karena  glitch terlalu biasa untuk menjadi film pintar yang mengharuskan orang untuk berpikir.

belum lagi akting pemainnya yang tivi banget. bikin apa yang ditawarkan makin ngebosenin. dan gue ngerasa sayang ngebuang waktu buat nonton. tapi tetep aja gue tonton seperti alasan gue diatas. dan juga biar bisa ngereview. hahaha...

kalo aja dari berbagai segi; pemain, sutradara, spesial efek dan skenario bisa lebih mantep dan efisien dari ini, gue yakin film ini bakalan berbeda. tapi nyatanya biasa aja. hasilnya juga biasa aja pas tayang di 21.

bukan film sampah, menarik sih sebenarnya, dan sedikit menawarkan hal-hal baru bagi film indonesia. tapi, cukup cuma sampe disitu aja.selebihnya, tanyakan pada rumput yang bergoyang...

http://www.smileycodes.info
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...