Showing posts with label Ngomongin Orang. Show all posts
Showing posts with label Ngomongin Orang. Show all posts

Malaikat Tanpa Sayap [2012]


"Namun tak kau lihat lihat terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..."

Ada sesuatu tentang permainan takdir . Semenjak bisnis sang Ayah (Surya Saputra) bangkrut, Vino (Adipati Dolken) diharuskan keluar dari kotak rasa nyaman. Hidup pun serba tak mudah sejak saat itu. Mulai ancaman dikeluarkan dari sekolah, keegoisan sang Ibu (Kinaryosih) yang tak mau terus-terusan hidup miskin sampai masa depan Wina (Geccha Qheagaveta), adiknya, yang jika tak segera ditolong, akan memiliki satu kaki seumur hidup.

Ditengah kegalauan itu dan sosok Ayah yang tak bisa diandalkan, seorang Calo organ tubuh (Agus Kuncoro) menawarkan pilihan pada Vino. Pilihan yang dianggapnya mudah jika saja kemudian dia tak bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda). Pertemuan yang membuat Vino gamang pada tekad awal. Sayangnya, kemudian Vino sadar tak ada pilihan untuk lari. Atau untuk sekadar bernapas sejenak.

Firstly, gue sempat antipati sama karya terbaru Rako Prijanto kali ini. Setelah menghadirkan komedi-komedi sampah yang plotnya hasil mix and match film asing. Hampir tak ada harapan bagi gue untuk percaya atau memilih menghamburkan uang demi tontonan tidak bermutu. Sayangnya kali ini gue salah. Karena Malaikat Tanpa Sayap hadir dengan begitu elegan ditengah ritme seragam yang terus menerus meneror bioskop tanpa pencapaian berarti.

Dibalik ranah klise tentang drama kematian, Malaikat Tanpa Sayap mencuat sebagai film yang terbilang memenuhi elemen-elemen drama secara utuh; kedalaman cerita, karakterisasi yang jelas, akting rupawan dari ensemble cast-nya, sajian gambar menarik dan tentu saja unsur mellow yang disajikan apa adanya. Jauh dari kesan lebay, tangisan tidak pada tempatnya dan segala sesuatu yang memaksa kita untuk terenyuh. Karena unsur tersebut disajikan secara natural, tidak mendayu-dayu dan memaksa penonton.

Well, inilah Rako Prijanto yang dulu gue kenal lewat Ada Apa Dengan Cinta? sebagai penata skrip. Yang kemudian berani debut sutradara lewat Ungu Violet dengan hasil lumayan meski plotnya menyedihkan. Dan berani menyajikan kisah cinta unik lewat Merah Itu Cinta. Nggak salah kalo dia bilang “Malaikat Tanpa Sayap film yang gue banget” karena film ini memang sangat Rako. Rako yang dulu. Rako yang selalu menyelipkan quote di film-filmnya. Ditangan Rako film ini memiliki nyawa dan berbeda. Terutama dengan pemilihan pemain yang benar-benar tepat.

Unfortunately, masih ada beberapa hal yang cukup mengganggu. Seperti sempalan twist yang terlihat tak alami dan maksa. Juga kesalahan fatal yang membuat elemen surprise hilang bahkan sejak pertama kali durasi di buka. Oh please…

Sayangnya gue harus maklum. Rako berusaha serius saja sudah lebih dari cukup. Soundtrack ciptaan Dewi Lestari pas banget sama film ini. Dan Maudy Ayunda juga cantik. “Embun gak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta. Sama kayak aku, aku nggak punya alasan buat nggak jatuh cinta sama kamu, Maudy. Dan kalo ngomongin masa depan, kamu harus janji dulu sama aku kalo kamu bakal ngejalaninya sama aku... ”

My Last Love [2012]


Menurut penelitian gue selama dua hari empat malam, produk terbaru MD Pictures ini adalah proyek cari untung semata dari Punjabi Bersaudara. Iya, setelah mengalami stres dini tingkat Afganistan akibat mega proyek mereka bertajuk Di Bawah Lindungan Ka’bah gagal total di pasaran, maka dibuatlah film dengan budget pas-pasan yang kemungkinan bisa mendatangkan banyak penonton. Maka dipilihlah sutradara paling produktif se-Indonesia (MURI mana MURI?!?) untuk mempermudah proses agar rumah produksi tersebut tidak perlu gulung tikar.

Nggak susah memang untuk berspekulasi seperti ini. Karena gue yakin banget Punjabi Bersaudara tau bagaimana reputasi Om Naya selama ini. Bagaimana sepak terjang sutradara yang sering diperbincangkan (keburukannya) oleh banyak orang tersebut. So nggak usah heran jika hasil akhir film inipun layak sekali masuk tong sampah seperti biasa. Yang perlu diherankan adalah: kenapa Punjabi Bersaudara nekat memilih Nayato? Oke, gue ulang lagi biar kesan dramatisnya lebih terasa: KENAPA PUNJABI BERSAUDARA NEKAT MEMILIH NAYATO? Apa karena saking hopeless nya? Oh, co cuit #abaikan

My Last Love diadaptasi dari novel (yang kata posternya) best seller buah karya Agnes Davonar. Tapi menurut gue nggak perlu juga memberi embel-embel adaptasi kalo hasil akhirnya malah lebih mirip film non adaptasi hasil mix and match dedramaan galau macam Pupus, Kangen, Cinta Pertama dan 18+. Gimana nggak aneh kalau selain nama karakter dan benang merah yang bias, My Last Love sukses dirombak sana-sini dengan seenaknya. Ckck..

Seperti kebiasaan Nayato yang nggak perlu memakai naskah, My Last Love juga bernasib serupa. Nggak aneh kalo dialognya sangat annoying biadab. Kayak gini contoh yang gue visualisasiin pake gaya skrip film:

INT. LORONG RUMAH SAKIT – MALAM

IBU ANGEL
Bagaimana keadaan Angel?

NADYA
Angel kecelakaan Bu...

Nah, lho. Si Ibu nanya apa, jawabnya apa?

Yang jadi pertanyaan gue: Ery Sofid yang sering banget jadi penulis naskah di film Nayato beneran kerja atau cuma dicomot nama doang sih kayak kasus Chiska Doppert di film Missing? Feeling gue, kalopun ada gosip naskah ditulis on the spot, masa iya sebegini dangkal dan tidak bermutunya dialog yang ada. Atau jangan-jangan, Nayato sebenarnya udah menggunakan sistim yang dipopulerkan oleh Damien Dematra dengan memegang berbagai posisi di film mereka? Iya, jadi sebenernya Nayato jugalah yang menulis naskah di setiap filmnya. Tapi karena nggak bakat dan hasilnya jelek, maka dipakai nama orang lain agar pencitraan dirinya tak semakin buruk.

Eh, ini kok gue jadi gosipin orang sih? Huehuehue.... habis filmnya nggak bermutu sih. Jadi bingung mau komen apaan. Mau komen wajah Donita yang cantik gue udah males. Setelah putus dengan Donita dan sadar bahwa aktingnya jelek di film Kehormatan Di Balik Kerudung, gue udah nggak mau bahas Donita lagi. Meski sebenarnya kecantikan Donita terpancar banget di film ini berkat cara-cara ajaib Nayato meng-capture muka eksotis dara pemilik nama asli Noni Anisah tersebut.

Selain Donita, ensemble cast lain juga nggak ada beda. Mereka semua pada berlomba menampilkan akting terburuk. Dari Evan Sanders yang sibuk ajeb-ajeb sampe Jordi Onsu yang gagal menjadi highlite komedi sebagai hiburan. And then, nggak ada cerita film ini bikin gue nangis darah. Yang ada malah bikin gue sibuk ketawa sendiri dari awal film di mulai hingga kredit film muncul saking gak tahan melihat ulah busuk Nayato yang sudah terbaca.

Adegan paling lucu terjadi di ending film. Gimana bisa gitu Angel yang tau Martin, orang yang dia cintai di  meninggal pangkuannya, malah sibuk baca puisi? Bukan inalilahi atau sekalian nyanyi "apalah artinya kata cinta? yang kau ucap semua hanya mimpi. apalah artinya cincin ini? yang kau bilang pengikat janji suciku...."*

Please kalo kayak gini prosesnya jangan cegah gue untuk gantung diri. Faham ya? (smile)


* lirik lagu "Apalah Artinya" oleh Donita

Mother Keder [2012]


Belakangan sulit menemukan sajian komedi buatan sineas lokal yang beneran nendang sampe bikin ketawa ngakak dua hari dua malam. Kalopun ada dengan berbagai tambahan varian seperti satir, romantis atau horor, nggak pernah sukses memancing tawa penonton. Dikarenakan rata-rata dari film tersebut hanya mengandalkan adegan slapstik atau ketololan nggak bermutu yang terkadang menghina intelijensia penonton.

Mother Keder: Emakku Ajaib Bener adalah sebuah film yang diadaptasi dari buku bergenre personal literature karangan Viyanthi Silvana, mantan Putri Indonesia Fotogenik tahun 2001. Gue udah baca buku tersebut. Lumayan lucu deh untuk ukuran buku berisi curhat random. Gaya tulisan Vivi yang ngepop mampu menerjemahkan segala tingkah polah keajaiban sang ibu dengan baik. Nggak heran jika kemudian ada seorang yang tertarik untuk mengangkatnya dalam format film.

Masalahnya disini, bahasa visual berbeda dengan bahasa buku. Kalo bukunya lucu, belum tentu filmnya bernasib serupa. Coba ingat kembali Kambing Jantan. Buku curhat Raditya Dika tersebut lucu ketika dibaca. Tapi begitu diadaptasi jadi film malah berakhir garing dan flat banget. Makanya gue sedikit pesimis kalo apa yang ditulis oleh Vivi dalam bukunya ini tak mampu diterjemahkan dengan baik. Dan sayangnya, kenyataan itu benar-benar terjadi.

Kisah Ibu Kosasih sebagai emak ajaib yang diperankan dengan sangat total oleh Ira Maya Sopha telah gagal menjadi sajian komedi yang ‘komedi’ sejak awal dimulai. Terlihat sangat tidak konsisten jika lima menit awal ada scene monolog Vivi (Qory Sandioriva) namun tidak digunakan lagi sampai film berakhir. Sehingga fokus pengaturan porsi siapa yang harus jadi main character setelah durasi berjalan 15 menit terlihat nggak jelas. Entah itu kisah Vivi, Dinda (Jill Gladys) atau Ibu Kosasih. Karena saking tumplek-blek, gue bingung mencerna dan harus bersimpati pada siapa.

Gue akui, masih ada usaha dari Reka Wijaya selaku penulis skenario, untuk mengatur kerandoman dalam buku menjadi satu paduan yang utuh. Mother Keder masih mempunyai satu benang lurus sampai film berakhir. Tapi proses penyajian Eko Nobel untuk debutnya kali ini membuat Mother Keder terlihat seperti potongan-potongan sketsa yang disatukan secara paksa. Sehingga penonton akan sulit untuk ikut larut dalam kisah yang sebenarnya mempunyai niat mulia untuk menginspirasi banyak orang.

Tanggung, ya Mother Keder adalah film yang serba tanggung. Dari awal film ini seperti kebingungan untuk diarahkan jadi drama komedi, pure komedi atau pure drama. Kalo komedi kok kurang lucu. Kalo drama kok nggak niat. Padahal tujuan nonton karena pengen hepi-hepi di dalam bioskop, tapi kok nggak hepi sama sekali. Nah....!

Selain Ira Maya Sopha, deretan cast juga bermain serba tanggung. Paling parah adalah penampilan Qory Sandioriva. Dia sama sekali gak mempunyai bakat akting. Gue nggak tahu sepanjang durasi dia akting atau lagi ngapain. Yang jelas gue nggak dapet feel seorang Vivi dalam dirinya.

And then, dengan sangat berat hati gue memasukan Mother Keder dalam list film adaptasi dari buku yang gagal. Hematnya sih dikembalikan ke tujuan awal saja; menjadikan film ini sebagai sitcom berdurasi 30 menit yang tayang tiap hari pas jam-jam prime time di televisi. Toh untuk disebut sebagai film, tampilan Mother Keder nggak jauh beda dengan FTV tanpa commercial break.

Kafan Sundel Bolong: Aziz Gagap vs Mr. Bean. Jiplak?


Advisory Warning: Sebelum lanjut membaca, jangan lupa sediain baskom untuk wadah muntah.

Di sore yang mendung ceria ini gue langsung heboh kemana-mana pas secara gaib menemukan trailer film tai terbaru KK Dheeraj yang berjudul Kafan Sundel Bolong. Kenapa? Bukankah film E’ek Raj emang selalu stagnansi ke arah jamban melulu? Whatever, peduli setan soal jamban. Gue nggak terima karena untuk filmnya kali ini dia ngejiplak beberapa scene dalam komedi situasi Mr. Bean. Hell, siapa sih yang nggak tau sosok bloon ikonik tersebut? Keterlaluan! Basicly, pikir gue sih mereka gapapa nyampah asal jangan jiplak. Malu-maluin banget lah kalo kayak gini. What the fuck with you om beroo?

Sebenernya gue ga perlu seheboh ini banget karena shit-stuff kayak ini, ini dan ini udah sering dilakuin E'ek Raj. Lupa penjiplakan apa saja yang dia and the gank tebarkan di tiap filmnya? Coba baca-baca lagi skandal apa yang uda gue beberkan beberapa waktu lalu dengan sangat elegan di postingan yang berhubungan sama E'ek Raj. Kalau gak ada waktu, buruan cekidot ke tulisan di bawah.

Pertama-tama gue bakalan kasih lihat trailer Kafan Sundel Bolong which is mahakarya E'ek Raj di awal tahun 2012, yang di klaim khusus untuk menghormati Ratu Horor Suzanna. Wah, gue hakkul yakin banget kalau almarhumah Suzanna bakalan ga ridho dunia akhirat dipersembahin film kayak gini.


Setelah melihat trailer berikut, ngerasa nggak ada sesuatu yang familiar? Coba perhatikan sekali lagi. Kalau udah, sekarang gue bakalan kasi skrinsyut topik terpanas di awal tahun yang bikin gue mencak-mencak di awal.




Skrinsyut 1 sampe 3 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul Reclaims His Trousers. Cek videonya disini --> Mr. Bean


Skrinsyut 4 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul Credit Card Mix Up. cek Videonya disini --> Mr. Bean


Skrinsyut 5 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul In The Toilet. cek Videonya disini --> Mr.Bean


Skrinsyut 6 di ambil dari salah satu episode Mr. Bean berjudul Getting Up Late For The Dentist. cek Videonya disini --> Mr.Bean

Nah, nah, parah banget kan? Ini masih trailer. Gimana coba filmnya nanti? Semoga ini bukan awal mimpi buruk!

Garuda Di Dadaku 2 [2011]


“Garuda di dadaku, garuda kebangganku. Ku yakin hari ini pasti menang!”

Well, siapa sih yang nggak kenal lirik lagu di atas? Yakin deh, dari yang tua sampe anak kecil pun pasti hapal di luar kepala sama lagu yang resmi jadi mars suporter bola di Indonesia ketika menonton pertandingan ini. Adalah sebuah lagu ciptaan mantan ketua Jakmania, Feri Indra Rasyif, yang kemudian dipopulerkan oleh Netral sebagai pengisi soundtrack film terlaris ke empat di tahun 2009 silam dengan jumlah pendapatan 1.371.131 penonton berjudul Garuda Di Dadaku.

Dalam predesornya yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, kita diperkenalkan pada bocah 12 tahun bernama Bayu (Emir Mahira) yang begitu mencintai bola. Bahkan Bayu punya impian menjadi pemain bola profesional. Unfortunately, niat itu ditentang oleh sang kakek (Ikranagara) yang dengan segala cara, berusaha memusnakan mimpi cucunya tersebut.

Lewat sekuel bertajuk Garuda Di Dadaku 2, Emir Mahira yang baru saja mendapat penghargaan sebagai Aktor Terbaik dalam ajang FFI 2011 lewat film Rumah Tanpa Jendela kembali melanjutkan kiprahnya. Tetap berperan sebagai Bayu yang sekarang sudah menjadi kapten sepak bola timnas U-15. Bersama anggota timnya, dia berusaha agar dapat menjuarai kompetisi junior tingkat Asean di bawah pelatihan Wisnu (Rio Dewanto). Sebagai seorang coach, sikap Wisnu yang terlampau keras terkadang membuat masalah antar anggota tim. Termasuk semakin memperpanas konflik internal dalam diri Bayu yang tengah menginjak remaja.

Dalam sekuelnya kali ini, urusan naskah tetap diserahkan pada Salman Aristo. Namun posisi sutradara tak lagi dijabat Ifa. Karena kini ada nama Rudi Soedjarwo yang diberi titah untuk melanjutkan apa yang sudah dihasilkan sutradara Sang Penari dua tahun lalu. Sudah bukan rahasia kalo terkadang sebuah sekuel hasinya nggak akan bisa menyamai predesornya. Nggak cuma di Indonesia aja kok. Karena di industri perfilman negara manapun hal tersebut sudah lumrah terjadi. Lalu bagaimana dengan film ini?

Gue lumayan ngikuti film-film Rudi Soedjarwo sejak Bintang Jatuh. Jadi gue bisa sedikit tahu kalo Rudi adalah seorang yang labil cara ngedirectnya. Dia pernah bikin film bagus. Ada Apa Dengan Cinta? keren tuh. Sayangnya beberapa tahun kebelakang dia terjebak dengan pola yang dibuatnya sendiri. Hasilnya nggak buruk sih. Nggak nyampah juga. Tapi sedikit di luar ekspetasi hingga muncul komentar “ohh gini doang filmnya Rudi setelah sukses AADC?”. Di awal tahun, gue terkesima dengan Batas. Lalu dilanjutkan dengan Lima Elang yang tak bisa tampil memuaskan dari segi cerita dan turnover karakter. Kini, dengan sasaran penonton anak-anak seperti film sebelumnya, gue sedikt was-was kalo apa yang ada di Lima Elang bakal nongol lagi. Dan ternyata, iya aja.

Garuda Di Dadaku 2 terlalu serius dan berat untuk ukuran film anak-anak. Gue suka cara Rudi ngedirect yang begitu enerjik dan dinamis, tapi sekali lagi, gue nggak suka sama ceritanya. Selain Salman Aristo yang enggan kembali mendekatkan penonton dengan karakter yang ada karena begitu film dimulai, tanpa basa-basi langsung dikasih makan gelaran konflik aja, pengambaran Rudi dalam mengembangkan karakter tokohnya terlampau berlebihan. Membuat gue sedikit mengernyitkan dahi. Kok jadi gini?

Garuda Di Dadaku 2 tak mampu tampil semenyenangkan film pertamanya. Tak mampu juga menyentuh emosi lantaran terlalu banyak konflik yang kadang tersaji dengan tidak alami hingga bisa dibilang akan gampang terlupakan begitu saja.

Jika dibandingin dengan Tendangan Dari Langit yang rilis menjelang lebaran lalu, gatau kenapa gue lebih notice ke film Hanung tersebut. Konfliknya alami, mampu menguras emosi dan down to earth. Di film ini kita gak bakal nemuin hal-hal kayak gitu. Bahkan adegan pertandingan bola yang hampir mengisi 60% durasi terlihat biasa saja. Ditambah highlight komedi yang dibawakan Ramzi ternyata tak mampu bekerja seefektif terdahulu. Garing abis. Nggak heran kalau gue menguap beberapa kali saking capeknya menikmati gelaran cerita yang tidak begitu memikat.

Untungnya ensemble cast bermain tak begitu mengecewakan. Akting Emir Mahira terlihat semakin terasah. Rio Dewanto juga tampil tak mengecewakan meski nggak ada bedanya dengan aktingnya dalam FTV sih. Monica Sayangbati, wow, gue makin speechless. Gue suka akting dia dalam Lima Elang. Gatau kenapa Monica tampak semakin menarik meski agak ilfil melihat kebiasaanya memainkan bibir sehingga terkesan jutek. Atau memang bawaan ya?

At least, bukan film yang buruk. Rudi sudah berusaha sebaik mungkin menampilkan sajian yang menghibur. Sayangnya, Garuda Di Dadaku sudah terlalu membekas. Hemat gue sih kalo sekuelnya ini nggak dilanjutkan lagi, sepertinnya nggak masalah.

Hot: Yang Jiplak... Yang Jiplak...


Rasanya udah sering ya Indonesia melakukan plagiat or jiplak or something like that. Dari mulai lagu, sinetron, poster film layar lebar sampai isi filmnya sendiri. What the hell's going on? I don't know...

Kini menyusul film-film kacrut lain, yang dijiplak malah semakin tidak bermutu, bahkan hancur, muncul sebuah plagiat baru dari blockbuster perfilman Korea Selatan produksi 2003 yang akan rilis akhir Desember di seluruh Indonesia berjudul My Blackberry Girlfriend. Yup, dari judul emang sudah sedikit mengingatkan dengan My Sassy Girl yang dibintangi oleh Cha Tae Hyun dan Jun Ji Hyun itu. Coba tanya deh, siapa sih yang nggak kenal film ini? Hampir semua pecinta film drama romantis pasti udah nonton dong atau paling nggak, pernah dengar hypenya.

Awalnya sih gue nggak begitu notice sama proyek adaptasi Rapi Films dari novel besutan Agnes Davonar ini. In my opinion, karya-karya Agnes terlalu corny dan lebay untuk ukuran sebuah novel. Jualan dia emang sesuatu yang lagi hitz. Nggak heran kalo banyak produser tertarik mengadaptasi setiap karya dia. Dari mulai kisah Gaby dan Lagunya, Surat Kecil Untuk Tuhan sampai yang baru aja rilis pertengahan bulan November; Ayah, Mengapa Aku Berbeda? hingga yang lagi gue omongin. Dan dua adaptasi novelnya lagi yang akan edar tahun depan di bawah bendera MD Pictures berjudul My Last Love dan My Idiot Brother.

Tapi setelah ngelihat trailer My Blackberry Girlfriend gue langsung syok dan pengen bentur-benturin jidat di tembok dengan bersahaja. Kok mirip? Nah, gue langsung aja ubek-ubek google dan nggak lupa buka website resmi Agnes Davonar sendiri. Dan dilihat dari sinposis serta pernak-perniknya memang terlihat amat mirip. Oh come on! Kalau nggak percaya coba compare dua trailer film yang lagi gue omongin dibawah ini!



Gue juga nemuin dua film hasil plagiat yang masuk daftar rilis tahun 2011. Film pertama adalah Skandal yang 80% mirip dengan box office India berjudul Murder besutan Anurag Basu sampai 13B yang dijiplak dengan trash quality oleh The King of Kancut; KKD, menjadi Pelukan Janda Hantu Gerondong. Mirip gimana-gimananya nggak bisa gue jelasin dengan detail sih secara gue agak gaptek dalam soal membuat skrinsut. Kalo curious boleh deh lihat filmnya via donlod atau youtube.



Terakhir, gimana yah tanggapan kalian dengan poster film-film ini? Aduh gue pengen ngakak nih...


Ayah, Mengapa Aku Berbeda? [2011]


“Mereka bilang aku berbeda. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal, aku dilahirkan dengan cara yang sama...” ~ Angel

Memanfaatkan sebuah euphoria sebenarnya sah-sah saja. Itu Indonesia banget. Nggak usah heran kalo perfilman kita selalu saja latah mengeksploitasi hal itu. Dan nggak usah heran pula kalo hasilnya kebanyakan hancur total alias menyampah sembarangan!

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? adalah sebuah trend lanjutan dari suksesnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Dimana dengan jeli sang produser membaca market: bagaimana cara mengeruk keuntungan dari labilers se-Indonesia raya. Maka diadaptasilah sebuah novel yang diklaim sudah dibaca 2 juta readers secara online. Dan langsung memilih Dinda Hauw yang mendadak jadi ‘sesuatu’ setelah debutnya sukses menarik 748.842 penonton sebagai pemeran utama. Sampai disini nggak ada masalah memang. Tapi semua berubah tidak menyenangkan ketika menikmati jalinan visualisasi dari novel besutan Agnes dan Teddy, atau yang lebih kita kenal dengan Agnes Davonar.

Film ini sudah menjengkelkan sejak awal. Dan semakin menjadi-jadi hingga credit akhir muncul. Gimana enggak, dari awal kita sudah disodori dengan tangisan-tangisan lebay tidak pada tempatnya. Hell, bikin film tearjerker sih tearjerker aja. Tapi nggak mesti gini-gini juga kali. Masa iya tiap ngapa-ngapain keluar air mata, dikit-dikit keluar air mata. Kenapa nggak nikahin gue aja sekalian? Fuck off banget lah! Bahkan gue udah nggak peduli gimana nasib akhir Angel; cewek tersial di dunia yang diperankan dengan sangat biasa oleh Dinda Hauw. Karena gue udah capek diajak untuk terus bersimpati pada karakter stupid bin corny di layar bioskop. Thanks untuk kerja tim penulis skenarionya: Titien Wattimena, Djamil Aurora dan Agnes Davonar, karena telah membuat film berdurasi 99 menit ini tidak penting untuk disimak.

Hal diatas makin diperburuk oleh jajaran pemeran pembantu di film ini. Selain Fendy Chow dan Kiki Azhari dengan akting nggak banget a la sinetron di RCTI, swear KK Dheeraj gue timpuk sama pispot, Rafi Cinoun adalah kesalahan terbesar Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Hell, bagian casting tolong bersihin mata pake insto dong. Masa iya lo milih artis kek gini. Minimal yang rada beneran dikit deh. Ditinjau dari segi mana sih coba kalo muka Rafi tuh enak dipandang? *pengen muntah sambil kayang*

Selain cerita dan akting yang failed, kegagalan demi kegagalan terus berlanjut hingga membuat film arahan Findo Purwono ini makin tidak jelas. Seperti gambaran kedokteran yang ngasal, bloopers dimana-mana dan subtitle adegan gagu yang muncul disaat-saat nggak worth it. Bikin gue berkali-kali mengerutkan jidat saking gagal pahamnya.

And yes, cukup seperti itulah siksaan yang disodorkan oleh produksi terbaru Rapi Film di tahun 2011 ini. Nggak horror, nggak drama, film-film produksinya emang bikin gue ngoceh ngalor ngidul sambil ngupil. Percayalah, bagian terbaik film ini terletak ketika secara tiba-tiba terdengar suara Agnes Monica dengan hitz-nya berjudul Rapuh. At least, bukan film yang buruk. Tapi terkadang kita harus tahu dimana batas antara cerita dalam novel yang perlu divisualisasikan agar tidak tampak berlebihan dan menyedihkan. Lalu apakah jawaban dari pertanyaan “Ayah, mengapa aku berbeda?”, tanyain aja sama rumput yang bergoyang.

By the way sebelum gue tutup reviewnya, masih perlu nggak gue kasih detail sinopsis ceritanya?

The Mentalist [2011]


Plot dari film ini adalah persaingan dua orang mentalis (sok penting) di negeri entah berantah. Tak perlu menjelaskan secara detail bagaimana ceritanya karena akan sangat membuang waktu. Intinya, The Mentalist sepuluh kali lipat lebih menyeramkan (tolong bagian ini jangan diartikan secara harfiah) daripada official poster yang sudah corny dan menjijikan itu. Kalau aja gue jago photoshop, tanpa segan gue bakal mengedit poster film agar tampak lebih elegan dan pantas dipasang untuk postingan kali ini.

Sejak awal, film dibuka dengan tidak senonoh. Dan semakin mencabik-cabik hati dan perasaan terdalam gue yang tampan dan menggemaskan ini begitu melihat hasil secara keselurhan.

1. Ceritanya sangat merendahkan intelijensia penonton. Entah penonton Indonesia yang masih belum bisa menerima tontonan bergenre fiksi fantasi seperti ini atau bagaimana gue nggak mau ngurusin, tapi segala yang terjadi dalam The Mentalist terasa begitu annoying dan lebay. Dari mulai segi kostum sampe properti yang sangat murahan.

2. Skenario olahan Walmer Sitohang pun sama seperti cara penyutradaraan dia yang sok-sok ber Nayato ria. Serius, dialog film ini absurd dan belibet. Dan disini pula kalian bakal ngelihat scene-scene menyerupai Nayato tapi dengan kualitas rendah yang sangat mengganggu mata.

3. Soal akting, gue nggak tau ngapain aja Deddy Corbuzier dan Limbad di film ini. Mereka tidak kelihatan seperti berakting. Tapi juga tidak kelihatan sedang melakukan peragaan sulap. Lalu ngapain? Asumsi gue sih lagi niat ngelenong. Belum lagi penampilan dua bintang muda tidak bermasa depan cerah seperti Hafil Andrio sebagai Zhoe dengan tatanan make up ala Edward Cullen lagi mengalami pendarahan otak dan Meiditha Badawijaya sebagai Jhane dengan bodi dan muka yang teramat merusak pemandangan. Woi, bagian casting siapa sih? *gak santai*

4. Visual efeknya juga totally sinema laga di Indosiar. Makin diperparah dengan tata musik dari Tya Subiakto yang please, sangat merusak mood lantaran tidak sesingkron itu dengan jalan cerita. Bahkan agar terdengar keren saja tidak.

5. Tambahan: kalian akan melihat dengan sangat 'artistik' comotan adegan ketika Edward Cullen menyelamatkan Bella Swan dari mobil yang akan menabrak dalam Twilight.

Hell, betapa gue pengen jadi invisible man saking malunya membuang uang percuma demi tontonan tidak layak konsumsi seperti ini diantara lima orang lain yang ada dalam studio 4 dan sepertinya juga tidak niat menonton karena sibuk bermesraan dengan pasangan masing-masing. Persetan deh sama alibi yang dikeluarkan saat jumpa pers tentang kenapa tak ada prosesi screening atau gala premiere dengan alasan ingin memberikan kejutan pada penonton. Excuse me, kejutan yang mana ya? Atraksi paling nggak jelas yang dilakukan Limbad dan Deddy itu? Oh my evil, mending gue ngepel lantai bioskop!

Harusnya Hengky Kurniawan tidak perlu memasang namanya sebagai produser dengan sedemikian narsis. Alangkah lebih sopan jika dia memakai nama samaran seperti H. Kurniawan atau Hengky K agar tak memperburuk citra sebagai artis yang banting setir jadi produser dan memproduseri film gagal seperti ini. Itupun jika The Mentalist layak disebut film. Atau sinetron yang diputar di bioskop? Entahlah, biar waktu yang menjawab. Sekian.


Kehormatan Di Balik Kerudung [2011]


"Aku seperti daun kering yang menunggumu.." - Syahdu

Syahdu (Donita) memutuskan untuk mencari ketenangan batin setelah tersakiti oleh cinta di rumah sang kakek di Pekalongan. Dalam perjalanan kesana, tepatnya ketika menunggu kereta datang, dia bertemu dengan seorang wartawan bernama Ifand (Andhika Pratama) dan kemudian merasakan desir-desir aneh bernama cinta. Sayang pertemuan itu hanya sebentar dan tak ada alasan untuk berharap lebih jauh. Namun siapa yang sangka begitu sampai di tempat sang kakek, takdir malah mempertemukan mereka kembali. Dan cinta itupun berjalan mengikuti alurnya.

Awalnya memang indah, namun kedekatan Ifand dan Syahdu tak disukai warga setempat. Hingga sang kakek meminta Syahdu untuk menjauhi Ifand demi nama baiknya dan nama Syahdu sendiri. Terlebih ketika gadis-gadis kampung meminta Syahdu dengan halus untuk menjauhi Ifand demi Sofiya (Ussy Sulistiawaty), gadis setempat yang sudah lama mendambakan cinta Ifand. Tak tahan, Syahdu memilih kembali ke rumahnya. Apakah keputusan Syahdu tepat? Dan bagaimana kisah cinta antara dia dan Ifand yang sudah terjalin erat?

Kehormatan Di Balik Kerudung merupakan debut komposer kenamaan Indonesia bernama Tya Subiakto Satrio. Diadaptasi dari novel berjudul sama buah karya Ma’mun Affany yang sepertinya nggak begitu eksis. Bahkan nggak ada embel-embel ‘based on best seller book’ di poster seperti kebiasaan film Indonesia kekinian yang diangkat dari sebuah novel. Terlepas dari best seller atau nggak, apakah film produksi kesekian Starvision ini worthy untuk ditonton?

Dari segi cerita dan tema sepertinya udah basi ya. Hanya modifikasi dari novel cinta berbalut nuansa islami yang sudah diadaptasi lebih dulu. Cuma tinggal utak atik template, karakter dan setting cerita, jadi deh film baru. Sayangnya film ini nggak seniat film sejenis yang lebih dulu beredar tadi seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban atau Dalam Mihrab Cinta. Atau lebih baik nggak usah dibandingkan. Karena setelah diadaptasi, film ini telah kehilangan banyak hal. Bahkan unsur religi yang tertanam kuat dalam novelnya pun hilang nggak berbekas. Jadi jangan sebut Kehormatan Di Balik Kerudung sebagai drama reliji. Cukup drama cinta picisan yang dibuat bak sinetron. Atau lebih tepat drama komedi dengan dialog yang super-duper berlebihan. Serius? Komedi?

Amalia Putri sebagai penulis skenario kelihatan kurang begitu jeli menangkap inti cerita yang ada dalam novel. Atau asumsi gue dia menulis skenario secara on the spot alias jalan begitu ada dilokasi syuting. Kenapa gue bisa berasumsi kayak gini? Coba deh perhatiin betapa nggak singkronnya dialog-dialog dari scene ke scene yang dibuat sedikit sok nyastra itu. Kalo dialog sastranya dibuat dalam batas wajar sih nggak papa. Tapi karena terlalu sering bahkan hampir mendominasi, dialog tersebut membuat gue ketawa ngakak di atas ka’bah. Serius, dialognya tuh quotable yang lebay biadab dan absurd. Contohnya kayak gini:

Ifand: “Assalamuallaikum, Syahdu, ada apa?”
Syahdu: “Aku takut Ifand. Takut seperti embun yang hilang sebelum pagi datang.”

Gue langsung pasang ekspresi bingung tertampan ngedengernya (nggak usah dibayangin, please!). Bingung antara ingin tertawa atau gigit kursi bioskop. Parahnya dalam dialog selanjutnya nggak ada kalimat tanya dari Ifand seperti: “Apa maksud kamu Syahdu?”, sehingga Syahdu nggak perlu susah-susah pula menjelaskan kepada kita yang nggak henti dibuat mengernyitkan kening berkali-kali karena dialog semacam itu tetap ada hingga film selesai. Hell!

Dari segi akting, serius, bahkan saking ngefansnya sama Donita, nggak membuat gue untuk nggak ngelempar sandal liat aktingnya di film ini yang lebay jaya. Ekspresinya itu loh berlebihan. Coba apa deh maksud dia pasang ekspresi ketakutan begitu sampai pertama kali di rumah sang kakek dan ekspresi lebay lainnya yang nggak menjelaskan apapun. Setali tiga uang, Andhika Pratama juga melakukan hal serupa. Kalo nggak salah lihat, hampir tiap dia berbicara, kepalanya selalu dibuat miring-miring nggak jelas. Penghayatan atau emang ada masalah sama kepala lo Dik? Rasanya hanya Ussy yang berakting cukup normal meski karakter dia terlihat dangkal dan bodoh disini.

Lalu bagaimana dengan usaha Tya Subiakto dalam mengarahkan film pertamanya ini? Gue akui sinematografinya keren. Lanskap Bromo dapat tersaji sedemikian indah. Mungkin terlihat agak ke Nayato-Nayatoan mengingat lelembut satu ini bertindak sebagai DOP. Tapi ada beberapa part yang membuat filmnya berbeda meski pada akhirnya terpaksa memperlihatkan kedok yang Nayato banget. Nggak heran juga sih kalo banyak yang menyamakan. Dan nggak heran juga banyak yang berasumsi kalau film ini sebenarnya bikinan om Naya yang malu mengakui lalu memakai nama Tya Subiakto. Entahlah... biar Tuhan, Nayato, Tya, Chand Parwes dan Doraemon yang tahu (?)

Aduh, kayaknya gue terlalu kepanjangan deh reviewnya. At least, meski terlihat benar, nggak bisa dipungkiri kalau Kehormatan Di Balik Kerudung memiliki borok. Alur lompat-lompat. Plot hole bertebaran. Dialog najis tralala. Akting lebay. Tata musik annoying. Dan semua hal yang membuat judul film ini akan menjadi sebuah judul tanpa arti dan terlalu berat. Kehormatan? Kehormatan apa jeng?

NB: Kasian Ma’mun Affany adaptasi novelnya dibikin ancur kayak gini.

Pocong Minta Kawin [2011]


Guess what, siapa hantu paling eksis di Indonesia raya tercinta? Jawabannya nggak lain dan nggak bukan adalah POCONG. Sebagai setan yang memiliki ciri khas tersendiri dan hanya muncul di Indonesia saja, hantu berbungkus kain kafan ini sudah membuat sineas kita yang pada dasarnya memang suka kekeringan ide, semakin annoying dalam hal mengekplorasi genre horor dengan pocong sebagai pionir untuk menarik penonton ke bioskop.

Pocong Minta Kawin adalah film horor kesekian yang memakai judul pocong. Film horor kesekian yang membuat imej pocong sebagai hantu menyeramkan di Indonesia rusak. Film horor kesekian yang akhirnya harus masuk ke tempat sampah seperti film berjudul pocong-pocong sebelumnya. Film horor kesekian yang... what the F?

Ningsih (Chika Waode) adalah cewek yang mesti galau seumur hidup karena bergigi maju lima meter. Gara-gara itu pula calon suaminya membatalkan acara pernikahan mereka. Ketika sedang asyik curhat nasib diatap rumah susun, Ningsih dikagetkan oleh seruan Yuli Gaga (Julia Perez) yang malah membuatnya terjatuh dari atap dan meninggal. Nggak lama kemudian, empat mahasiswa kere sebut saja cowok A, B, C dan D, mencari kos murah dan menemukan bahwa kamar bekas Ningsih disewakan dengan harga meriah selangit. Dari sinilah teror Ningsih, pocong bergigi maju lima meter, di mulai.

Plotnya simpel. Plotnya basi. Dan coba tebak siapa penulis naskahnya. Oh my god, yes, Armantono. Tapi gue nggak yakin kalo ini hasil pikiran Armantono. Gue yakin banget kalo ini bualannya Harry Dagoe Suharyadi (HSD) aja biar filmnya bisa sedikit terangkat. Mengingat track record Armantono sangat jarang menulis skrip untuk genre horor. Tapi gatau lagi sih kalau dia maksa-maksa nulis horor sehingga jadinya ancur kayak gini. Buktinya PMK adalah kali kedua HSD dan Armantono duet setelah sampah lainnya bertajuk Di Kejar Setan.

Film ini disutradarai oleh Chiska Doppert. Merupakan film ketiga Jeng Chis setelah Ada Apa Dengan Pocong? Dan Tumbal Jailangkung. Lupakan judul Missing karena Jeng Chis memberikan konfirmasi  bahwa di film itu dia hanya bertindak sebagai asisten sutradara. Dan entah kenapa Nayato memakai namanya. Jadi cukup jelas, Missing adalah bagian dari sampah om Naya.

Meski ada kesamaan di bebeberapa part yang bisa dimaklumi secara dia udah bertahun-tahun kerja bareng sang guru, semakin kesini jeng Chis jelas memiliki teknik yang berbeda. Pembeda Nayato dan jeng Chis adalah dari standar eksplorasi dan tidak terlalu suka memakai pakem flashback yang menjadi kedigdayaan sang guru tersebut. Di satu sisi itu horor menjadi mudah dinikmati. Tapi disisi lain horor itu jadi kehilangan taji; yaitu rasa curiousity atas apa yang terjadi.

Dan hasilnya, Pocong Minta Kawin telah gagal menjadi horor ataupun horor komedi. Komedinya super garing level biadap. Sedang horornya sama sekali tidak menyeramkan. Lalu apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh proyek aji mumpung HDS ini jika pada akhirnya nyampah lagi-nyampah lagi? Apa dada Julia Perez? Apa gigi maju yang dipake Chika Waode? Atau akting kancrut ensemble castnya? Om my evil, please, mending HSD balik aja bikin film-film niat festival mengingat dia ga ada bakat eksis di genre ginian. Kayaknya HSD kurang belajar dari Di Kejar Setan. Atau entahlah... hanya Tuhan dan HSD yang tau. Seperti gue yang pengen boker di dalam bioskop gara-gara pas masuk studio liat poster resmi PMK dipajang dengan elegan. Terlebih lagi dengan tagline “gagal cuci centong, jadi pocong deh” yang sumpah najis abis. Bikin gue pengen sumpelin mulut HSD pake kancut mbak-mbak penjaga tiket. Ups..!

Perempuan² Liar [2011]


Tampaknya 2011 menjadi tahun sial bagi rumah produksi MVP Pictures. Gimana nggak sial kalo film-film yang mereka edarkan tahun ini hampir semuanya flop dipasaran. Lalu ada Perempuan² Liar yang sepertinya akan bernasib sama seperti Cewek Gokil, Cowok Bikin Pusing dan Mudik yang rilis terlebih dahulu.

Dom (Tora Sudiro) dan Mino (Dallas Pratama) adalah kakak beradik yang bekerja sebagai debt collector di Jakarta. Saat asyik melakukan ‘pesta perempuan’ di sebuah hotel, mereka berdua dipertemukan dengan Mey (Maeeva Amin), cewek yang sedang galau ditengah prosesi pernikahannya dengan Rocky (Gary Iskak), pria pilihan sang ayah yang tak dia cintai. Seolah mendapat kesempatan, bersama Cindy (Rina Diana), sang adik, Mey pun memaksa Dom dan Mino untuk membawa mereka kabur. Petualangan gila dan liar pun dimulai setelahnya.

Premis yang terlihat menarik? Jawabannya adalah tidak setelah melihat hasil keseluruhan film yang dibidani oleh Rako Prijanto ini. Lagi dan lagi. Sebuah proyek kekeringan ide. Proyek tambal sulam yang entah dengan tujuan apa dibuat kalo hasilnya nggak begitu menarik—parahnya lagi, almost nyampah. Lebih parah lagi, merupakan hasil mix and match dari beberapa film luar seperti The Hangover, American Pie 2, The Sweetest Thing, A Life Less Ordinary dan salah satu film korea yang judulnya nggak sempet gue inget.

Naskahnya ditulis oleh Raditya Mangunsong dan merupakan duet ketiganya dengan Rako Prijanto setelah menjiplak mentah-mentah komedi korea berjudul A Tale of Legendary Libido yang kemudian bertransformasi menjadi Penganten Sunat. Sedang Perempuan² Liar menjadi film ke 13 sang sutradara. Setelah debut lewat Ungu Violet yang ceritanya juga hasil jiplak dari music video solois wanita asal negeri ginseng bernama Kiss. Oh my evil, parah sekali fakta di balik filmografi orang-orang ini!

Oke, kalo dari sisi cerita udah super duper nggak beres, hal apalagi yang setidaknya bisa menarik penonton untuk berbondong menyaksikan film ini? Sebenernya gue ragu sih bilang, tapi mungkin hanya adegan buka-bukaan ga niat antara Maeeva Amin dan Rina Diana dengan muka standard itu saja yang bisa menarik penonton terutama laki-laki. Bahkan kehadiran Tora dan Dallas sangat tidak menarik minat wanita. Satu karena akting mereka kancrut. Dua, karena mereka sudah bosan dengan muka yang itu-itu aja. Selebihnya, mending uangnya ditabung untuk keperluan yang lebih worth it. Semisal, beliin gue pulsa gitu. Pasti pahala kalian nambah deh hehehe…

Terakhir, coba bandingkan poster film ini dengan poster film komedi romantis fenomenal asal Thailand: Hello Stranger!




Pacar Hantu Perawan [2011]


SELAMATKAN PERFILMAN INDONESIA DENGAN TIDAK MENONTON FILM-FILM BUSUK! TERUTAMA FILM KK DHEERAJ!


Lupakan soal jalan cerita karena demi gue yang ganteng ini, Pacar Hantu Perawan adalah film paling nggak berperi kemanusiaan yang adil dan beradap, yang pernah dibuat oleh hewan. Ups, maaf ya kalo kasar banget. Habis gue mesti marah sama siapa dong? Masa iya gue mesti nyalahin emak gue? Tetangga gue? Guru SD gue? Nggak, nggak, gue pasti nyalahin lo, om E’ek Raj. Karena pada titik ini elo udah beneran keterlaluan. Lo udah melakukan pembodohan masal. Dan mempermalukan muka lo sendiri. Dan menyeret-nyeret muka perfilman bangsa gue. Eh, ralat, gue lupa, om E’ek kan uda nggak punya muka ya. Pantesan...

Gue yakin film ini dibikin tanpa naskah. Kalopun iya, palingan naskahnya cuma satu yang sebenarnya kosong karena sebelum take adegan, sang sutradara (sebut saja Yoyok Dumprink ;Red) dan tentu saja sang produser yang memakai kacamata kuda (sebut saja KKD ;Red) cuma memberi intruksi seperti berikut: “Heh banci kaleng, ntar lo pokoknya manja-manja aja ama Natha Narita. Trus buat lo Sisik (panggilan sayang KKD untuk Depe), lo ntar ngebacot sambil pasang ekspresi sensual biar taktik marketing kita yang bilang meki lo udah virgin lagi bisa kebukti! Dan terakhir buat kalian jeng Misa sama Jeng Vicky, ntar kalian ngikuti instruksi dari anak buah gue disana aja, maklum, gue gak bisa bacot inggris, Cint!”

Lalu bagaimana dengan departemen akting? Oh lupakan, hampir nggak ada yang bisa dibangga-banggain dari film ini. Dewi Perssik, makin lama aktingnya tuh makin apa banget deh. Mending lo baca koran aja di rumah. Pasangan ternajis abad ini, Natha Naritha dan Rafi Cinaoun, ya ampun, ga ada artis lain yang rada benaran dikit ya? Jonathan Frizzy, no komen ah. Maklum deh, aktor gak laku pengen eksis. Vicky Vette, kok gue agak gimana gitu ya liat payudara big size lo yang diekspos terlalu berlebihan. Mungkin selain akting Misa Campo yang kebetulan masih ada hubungan darah sama gue, hanya Olga Syahputra dengan bulu matanya yang rancak bana itu, yang bisa deh sedikit membuat gue tersenyum ala kadarnya. Selebihnya, ijinkan gue dengan segala kerendahan hati melempar tai gue ke layar bioskop! Dan menyuruh ke seluruh jaringan 21 untuk tidak memutar film ini!

Film ini sampah banget deh. Selain soal logika cerita yang begitu merendahkan intelijensia seorang manusia. Ada juga soal pemotongan adegan yang amat-sangat-sangat tidak berperikehewanan. Mungkin lebih ke soal gimana cara pihak LSF menyiasati agar film tai kayak gini bisa tayang. Hingga film yang emang dari asalnya udah menjijikan, terlihat makin menjijikan. Guess what, salah siapa? Tentu aja salah om E’ek. Karena berkat ketololannya, draft awal Pacar Hantu Perawan disensor habis-habisan sampe dia mesti melakukan syuting ulang untuk menambah durasi yang hilang hingga akhirnya durasi berjalan 70 menit lebih. Karena jelas dengan durasi 60 menit, pihak bioskop nggak akan mau memutar. Dan cara untuk mengakali adalah dengan memberi prolog kredit ternggak jelas dan terlama sepanjang hewan pernah membuat film.

Hell, demi keamanan dunia, please jangan tonton film ini. Cukup gue aja deh,toh gue kan niatnya nonton cuma buat review. Udah kalian tonton film bermutu aja. Jangan bikin E’ek Raj kesenengan karena filmnya laku. Karena kalo hal ini sampe terjadi, dia malah bakal lebih heboh memproduksi tai-tai lagi. Please ya, jangan di tonton. Biarkan om E’ek bangkrut dan membuka pabrik garmen aja. Setidaknya dia nggak perlu sok tau membuat film dengan insting bisnisnya yang patut diacungi jari tengah. Dari sini saja, bisa kita bandingkan bahwa Nayato akan langsung terlihat seperti Terrence Malick jika disejajarkan dengan E’ek Raj yang hanya tampak seperti seekor semut yang bentar lagi bakal gue injek-injek!

Sekali lagi, KK Dheeraj melemparkan tai di muka perfilman nasional. Tapi kali ini dengan dosis yang sudah tak bisa dimaafkan. Melebihi dosis nista pada film-film dia sebelumnya. Bikin gue terheran-heran dan serius mikir di gunung 2 hari 2 malam mengenai tingkah polah produser idiot hasil persilangan kuntilanak dan pocong satu ini. Apa sih maksud dia melakukan semua hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh manusia? Kalo memakai alasan demi memberikan kontribusi bagi perfilman tanah air, mending lo mencret aja di WC umum. Kalo pengen kaya tanpa memikirkan stigma apa yang di racunkan pada masyarakat Indonesia, yang sudah bosan dengan tontonan payudara kalo lewat internet saja mereka sudah puas dan nggak merasa di bodohi, mending lo mati aja buru-buru. Gara-gara ulah lo, penonton Indonesia semakin jengah dengan film bangsanya sendiri. Membuat mereka mengagung-agungkan produk luar negeri yang sudah jelas lebih segalanya. Dan yang paling parah lagi, menganak tirikan hal yang seharusnya mereka banggakan. Film Indonesia dipandang sebelah mata. Diacuhkan. Dilecehkan. Miris banget!

Simfoni Luar Biasa [2011]


"And I'm flying into the night. Flying into the sky. And go higher and higher again...." - Jayden

Sebagian orang mungkin akan mengira jika karya terbaru dari Awi Suryadi ini merupakan kloningan film Perancis berjudul Les Choristes yang rilis pada tahun 2004 dan memakai judul The Chorus untuk peredaran internasional. Nyatanya, Simfoni Luar Biasa memiliki jalan cerita yang berbeda. Kalaupun nantinya ada kesamaan sedikit, wajar deh ya.

Jayden (Christian Bautista) adalah seorang musisi berbakat yang karirnya stuck di tempat. Masalahpun datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dimulai dari penjualan album yang mengenaskan, perform panggung yang dilabeli dengan kata “garing”, hingga diusir paksa dari apartemen lantaran nggak mampu bayar uang sewa. Mengikuti saran dari sang tante yang bernama Helena (Maribeth), Jayden pun meninggalkan Manila, tempat dimana dia tumbuh besar. Jayden memilih untuk tinggal di Jakarta bersama Marlina (Ira Wibowo), sosok ibu yang selama bertahun-tahun meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas.

Di Jakarta, Jayden memulai hidup dari nol. Awalnya memang tidak mudah. Namun sifat welcome dari keluarga baru rupanya mampu mempermudah proses adaptasi tersebut. Termasuk dalam mengambil keputusan menjadi guru musik di sekolah luar biasa yang dibina oleh yayasan Ibunya. Mampukah Jayden membawa perubahan dalam hidupnya? Dan tentu saja perubahan bagi anak-anak cacat yang diasuhnya?

Actually, film ini menawarkan premis yang cukup menarik. Apalagi ada nama Christian Bautista yang jelas jadi selling point utama. Tapi rupaya Awi Suryadi, tidak mampu mengkoordinir apa yang ada dengan baik. Sehingga film yang diharapkan bisa menginspirasi banyak orang, malah cenderung datar dan mudah dilupakan.

Pelantun tembang The Way You Look At Me ini sebenarnya mampu berakting dengan baik. Tapi nyatanya, dari awal film dimulai hingga kredit akhir, gue sama sekali nggak tau apa yang dilakuin sama Christian Bautista selain plonga-plongo tanpa ekspresi dan emosi. Padahal jajaran pendukung sudah bersusah payah membangun karakter dengan sedemikian kuat. Sebut saja Ira Maya Sopha, Sophie Navita, Gista Putri sampai Verdi Solaiman. Tapi apa daya, nggak ada jalinan chemistry yang terbangun dengan baik gegara pemenang Philippine Idol tersebut. Membuat pemain lain sepertinya sudah membuang-buang bakat mereka. Sori bagi yang ngefans sama Christian Bautista. Gue nggak sentimen kok sama dia. Tapi aktingnya emang biasaaaa banget!

Hal ini diperparah dengan naskah olahan Awi Suryadi dan Maggie Tiojakin yang penuh lubang disana-sini. Dan mereka tampak tidak terlalu capek-capek untuk menambal bagian yang bolong itu. Hal ini yang akhirnya membuat Simfoni Luar Biasa nggak bisa tampil dengan sempurna. Banyak hal yang begitu mengganggu jika kalian mau mencermati. Seperti bagaimana proses anak-anak cacat ini bisa seajaib itu menghafalkan lagu berbahasa inggris. Lalu bagaimana pula seorang labil seperti Jayden bisa membuat harmonisasi nada dengan begitu cepat padahal scene sebelumnya membuat bocah-bocah penderita disabilitas ini menurut saja, Jayden nampak kesusahan. Belum lagi penyelesaian banyak konflik yang (lagi-lagi) semudah membalikan telapak tangan. Sebut saja konflik antara Jayden dengan Dimas yang diperankan dengan baik oleh Verdi Solaiman. Tapi nggak usah heran deh. Ini kan kebiasaan perfilman kita? Bener kan? Makanya nggak salah jika kesan akhir dari produksi terbaru Delon Tio ini terlihat sangat terburu-buru.

Beruntungnya eksekusi seada-adanya saja a la Awi Suryadi setelah menyampah dengan Pengantin Topeng tahun lalu, tertutupi oleh muskalitas dari anak-anak kecil yang sumpah, bikin gue merinding disko. Ya, merinding, karena vokal mereka bener-bener gokil!

Meski jauh dari kata memuaskan, apalagi dengan poster resmi yang sangat tidak menjual, Simfoni Luar Biasa tetaplah bisa menjadi alternatif tontonan Indonesia yang berbeda. Cukup mampu memberi warna ditengah serbuan film dengan tema yang nggak bisa jauh dari kata kunti dan pocong. Dan sensualitas bodi cewek.

Tendangan Dari Langit [2011]


“Menengo kon, rame ae!” - Wahyu

Gue melihat karya terbaru dari sutradara kenamaan Indonesia ini tanpa ekspetasi apapun. Bahkan cenderung antipati. Entahlah, mungkin efek dari film Ayat-Ayat Cinta yang membuat gue sedikit muak dan nggak respek. Tapi setelah melihat karya Hanung Bramantyo sesudah film dengan jumlah penonton 3.581.947 tersebut seperti “?” yang masih menyisakan kontroversinya hingga tulisan ini gue publish, serta Lentera Merah (2006) dan Get Married (2007), gue yakin dan memaklumi, harusnya dulu nggak perlu membenci sosok Hanung sebegitunya. Mungkin dalam Ayat-Ayat Cinta dia hanya terpeleset, untuk kemudian bangun kembali. Dan itu terbukti. Meski sempat terseok dengan film yang mudah terlupakan. Hanung bisa membuktikan bahwa dia memang layak menjadi sutradara yang karya-karyanya patut kita tunggu dan apresiasi.

Tendangan Dari Langit, adalah film terbaru sekaligus garapan kedua Hanung di tahun ini. Bercerita tentang perjuangan from zero to hero seorang remaja kampung bernama Wahyu (Yosie Kristanto) yang mencintai bola melebihi apapun. Sayang, bakat itu tak pernah diakui oleh sang Ayah (Sujiwo Tedjo). Bahkan dengan tegas beliau melarang anaknya bermain bola. Namun dengan dorongan sang paman, Hasan (Agus Kuncoro), yang melihat ada bakat besar dalam diri keponakannya itu, Wahyu akhirnya tertarik untuk melanjutkan mimpinya menjadi pemain bola profesional.

Plot yang basi. Jelas. Rentetan kisah from nothing to something memang nggak bisa lepas dari film bertema seperti ini. Tapi dengan lihai, Fajar Nugros selaku penulis skenario mampu meracik keklisean yang ada menjadi menarik untuk diikuti. Lihat saja, Tendangan Dari Langit tampak begitu fresh dengan segala bumbu yang menghiasi seperti dimasukannya unsur cinta monyet, persahabatan dan hubungan keluarga. Karena Fajar mampu menampilkannya dengan porsi yang pas dan tidak berlebihan. Meski dibeberapa bagian terlihat kurang matang. Seperti kisah cinta segitiga antara Wahyu, Indah (Maudy Ayunda) dan Hendra (Giorgino Abraham) yang terasa hanya untuk mengulur durasi.

Didukung jajaran ensemble cast yang mumpuni, membuat film ini makin berkilau. Sebut saja Yosie Kristanto yang begitu meyakinkan lewat debutnya. Serta beberapa karakter pendukung yang diperankan oleh para pendatang baru maupun aktor aktris lawas yang rupanya mampu memberi highlight tersendiri. Nggak boleh ketinggalan penampilan spesial dari Irfan Bachdim dan saudara iparnya, Kim Kurniawan, dimana selain mampu menjadi taktik dan strategi penjualan filmnya, rupanya mereka bisa berakting tidak mengecewakan sebagai dirinya sendiri

Jadi nggak heran, kalau siapapun bakal mengalami gejala jatuh cinta pada pandangan pertama sama film yang soundtracknya di nyanyikan oleh band Kotak ini. Atau guenya aja yang lebay? Entahlah, ada euphoria tersendiri yang terjadi ketika gue nonton film ini. Dimana satu studio sumpek dipenuhi penonton di hari pertama pemutaran reguler. Karena berasa lagi nggak kayak nonton film, tapi nonton pertandingan bola. Haha.. gimana nggak rusuh tuh, habis seisi studio pada heboh teriak “GOOL!!” bahkan ada yang tepuk tangan saat ada adegan bola masuk ke gawang.

Oke, dari segi cerita, lumayan. Ekskusi sang sutradara, keren. Pemilihan soundtrack, dahsyat. Sinematografi dari Faozan Rizal, ciamik! Akting, cadas! Terus apalagi ya? Jadi bingung gue saking speechlessnya pas nonton film ini. At least, sebagai tontonan keluarga, Tendangan Dari Langit adalah sebuah film dengan paket komplit. Ada drama yang mengharu biru, komedi, tegang, semua campur jadi satu. Atau malah gue prediksi bisa jadi film terbaik tahun ini. Salut aja deh untuk orang-orang dibelakang layar Tendangan Dari Langit. Bikin gue bisa sedikit bangga jadi orang Indonesia kalau film yang di produksi modelnya kayak gini. Bukan kayak... ah, males bahas deh. Ayo, segera datang ke bioskop!


Rating 8.9/10

Anakluh [2011]


“Kebencian hanya akan membuang energi yang baik...” - Idayu

Gimana jadinya kalo ibu dan anak sama-sama jatuh cinta pada satu laki-laki yang sama? Seperti itulah konsep sederhana yang ditawarkan oleh Anakluh. Sebuah film yang diangkat dari novel Anakluh Berwajah Bumi karya Ugi Agustono. Konsep yang cukup menarik memang. Itupun jika dieksekusi dengan baik. Namun sayang, sutradara sekelas Eduart Pesta Sirait yang memulai karir sejak 1976 dan menelurkan film-film sukses pada masanya seperti Chicha yang mendapat penghargaan festifal film di Cairo pada tahun 1977, Gadis Penakluk, Bila Saatnya Tiba, Blok M sampe karya terakhirnya, Joshua Oh Joshua, enggan meng-up to date cara mendirect hingga berkesan sangat old style sekali. Terlihat dari penggunaan footage yang itu-itu mulu tiap perpindahan adegan. Mungkin niatnya ingin menjelaskan latar tempat, tapi apa perlu hampir disetiap perpindahan scene? Oh come on.

Jadinya guepun bingung mau menyalahkan siapa, sang sutradara atau penulis naskah filmnya; Muzafarsyah dan Ugi Agustono yang juga bertindak sebagai salah satu produser, kenapa filmnya jadi seperti itu. Harusnya setelah tau ada campur tangan langsung dari penulis novel, Anakluh yang dalam bahasa Indonesia berarti perempuan, bisa lebih sedikit mempunyai gereget. Tapi entah kenapa 89 menit berlalu, film ini tampak terburu-buru dalam penjabaran ceritanya. Beberapa momen yang diharapkan bisa menarik simpati malah berakhir garing. Belum lagi nuansa Bali yang digembor-gemborkan bakal membuat film ini berbeda, meski terlihat indah dalam pengambilan angle-nya, malah hanya berkesan tempelan semata. Bagian terparah adalah kesetiaan film ini pada novelnya yang enggak menjelaskan pekerjaan karakternya.

Disebut film televisi nyasar ke bioskop? Bisa jadi, meski kualitasnya sedikit diatas. Tapi entah kenapa menurut gue film ini nggak perlu banget masuk ke bioskop. Toh ketika rilis di bioskop pun hanya tayang dibeberapa tempat lalu hilang begitu saja tanpa bekas. Kenapa bisa begitu?

Mungkin nih, alasan pertama dari novelnya yang masih begitu asing dan belum seterkenal buku lain yang diadaptasi ke layar lebar lebih dulu. Kedua, market yang dituju jelas untuk wanita. Remajapun paling cuma segelintir. Apalagi dengan tema chicklit banget, mana ada labilers cowok yang mau nonton? Ketiga, kurang promo dan poster yang nggak mempunyai daya tarik. Keempat, para pemain yang kurang menjual. Selain Rizki Hanggono, gue belum begitu familiar dengan Shara Aryo yang menjadi tokoh sentral sebagai single mother dan Suci Winata yang berperan sebagai Kirei. Kalo Masayu Clara sih sering liat dia di sinetron. Makanya nggak kaget kalo akting para pemain masih rada kaku dan rada lebay a la sinetron kita. Yang paling parah malah ada yang berakting kayak hafalan rumus matematika didepan kelas. Haha… bagian castingnya parah banget. Minimal, biarpun figuran atau pemain pendukung, cari talent yang rada bener dikit kek. Kan rugi udah buang duit buat bayar mereka kalo hasil aktingnya kayak robot korslet. Sedang kemungkinan terakhir paling balik ke soal minimnya bujet produksi dan kopi rol film.

Rasanya bagian menyenangkan dari film ini adalah masuknya lagu-lagu dari Seventeen yang cukup familiar dan enak didengar meski kadang agak janggal penempatannya. Selebihnya Anakluh hanyalah drama picisan dengan konklusi akhir yang mendarah daging serta dipenuhi adegan serta akting khas sinema elektronik. Menghibur memang, namun akan begitu sangat mudah dilupakan.

Rating 4/10

THE NEXT ANTICIPATED MOVIE


Bosan dengan film yang beredar belakangan ini, yang makin lama makin patut dipertanyakan tingkat kewarasan orang-orang dibelakangnya (nyindir bagi yang merasa, bagi yang nggak, pelis nyante aja gausa kepedean), ada kabar mengejutkan dari segelinitir sineas berbakat yang sudah punya fanbase sendiri dan selalu dinantikan kehadirannya. Terutama tentang proyek film mereka yang patut diantisipasi. Penasaran? Cek ulasan gue dibawah ini!


NIA DINATA: LANGIT BIRU | ARISAN 2

Setelah baru saja mengedarkan secara terbatas film dokumenter berjudul Working Girls, bersama Kalyana Shira Films dan Blue Cater Pillar, Nia Dinata kembali bersiap merilis film musikal anak-anak berjudul Langit Biru yang di produserinya. Kembali menggunakan jasa dua wanita yang sebelumnya pernah bekerja sama lewat film Perempuan Punya Cerita; Melisa Karim dibagian skenario dan Lasja F. Susatyo di bangku sutradara. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari dan persahabatan anak-anak SMP. Masa dimana mereka baru saja tumbuh dan mudah sekali terpengaruh.

Nggak cuma itu aja, Teh Nia Dinata juga bakal melanjutkan kisah para kaum sosialita ibu kota dalam sekuel Arisan! Masih tetap di produksi oleh Kalyana Shira yang rencananya bakal rilis akhir tahun sesudah Langit Biru. Tetap dibintangi oleh aktor aktris terdahulu plus karakter baru yang dimainkan oleh Rio Dewantoro, Atiqoh Hasiholan dan Istri Surya Saputra; Cynthia Lamusu. Mungkin kalian bakal bertanya seperti apa cerita sekuel ini nantinya mengingat beberapa tahun sebelumnya pernah muncul Arisan! The Series. Penasaran kan?

AFFANDI ABDUL RAHMAN : NEGERI 5 MENARA | THE PERFECT HOUSE

Novel best seller probabilitasnya untuk diangkat kelayar lebar sangatlah besar. Dan kali ini adalah novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi yang ikut menyemarakan rangkaian film based on book. Film produksi Million Picture ini ditulis naskahnya oleh Salman Arsito sedang yang duduk di kursi sutradara adalah Affandi Abdul Rahman dan sedang dalam tahap menuju proses syuting setelah melakukan serangkaian audisi mencari pemain yang pas memerankan karakter dalam buku.


Kalau Negeri 5 Menara masih belum ada kepastian kapan tayang, proyek sang sutradara berjudul The Perfect House sudah siap meneror diakhir tahun. Bahkan film bergenre thriller produksi VL Production ini sekarang sudah melakukan world premiere di Puchon International Film Festival ke 15. Setelah melihat trailernya yang sangat hollywood sekali, gue jadi nggak sabar dengan hype film ini di negeri sendiri.

GARETH EVANS : SERBUAN MAUT


Kabar heboh yang membanggakan datang dari film Serbuan Maut (The Raid) garapan terbaru Gareth Evans setelah sukses dengan Merantau. Apa sih yang heboh? You know what guys, bahkan filmnya sendiri masih belum rampung, pihak Sony Pictures berani memegang lisensi untuk diedarkan di luar negeri dan beberapa negara lain. Satu kata, W-O-W! Meski disutrdarai oleh sineas asing, kita patut bangga dengan hal ini. Nama perfilman kita yang nggak jelas jadi ikut eksis man! Harusnya hal kayak gini tuh bisa jadi masukan buat sutradara lain terutama yang sering bikin tai-tai di jaringan 21 (you know what I MEAN). Bikin film yang bener dikit napa? Orang asing aja peduli sama perfilman kita, masa elo-elo yang anak bangasa sendiri malah bikin hal-hal nggak guna demi meriah materi. Eh, sori kalo agak sedikit curcol.

JOKO ANWAR : IMPETIGORE | MODUS ANOMALI


Berita yang lebih heboh datang dari sutradara Joko Anwar. Setelah agak lama nggak bikin film, tahun ini dia mengumumkan dua proyek film terbaru berbau-bau horor berjudul Impetigore dan Modus Anomali yang diproduseri oleh Lala Timothy. Well, judul yang unik dan pasti membuat kita penasaran. Apalagi bikinan Joko Anwar. Hell, filmnya sendiri masih dalam proses syuting yang sedianya dilakukan secara back to back, so, tinggal tunggu surprise aja gimana hasilnya. Kabar terakhir film Modus Anomali yang berbujet 2.5 Milyar telah masuk nominasi 2011 Network Asian Fantastic Films.

UPI AVIANTO: HI5TERIA


Kabar terakhir datang dari Upi Avianto, cewek yang sukses melakukan debut lewat 30 Hari Mencari Cinta ini tengah disibukan dengan proyek film baru yang diproduserinya. Film ini merupakan omnibus horor berjudul Hi5teria. Melihat judul yang memakai angka lima, jelas sekali kalau film yang disutradarai oleh lima sineas muda (yang diharapakan bisa melanjutkan tongkat estafet untuk membuat film bermutu) menampilkan 5 kisah horor. Lima orang itu adalah Nicho Yudifar, Billy Christian, Adri, Harvan, dan Chairun Nissa. Hi5teria sendiri sekiranya bakal rilis awal tahun 2012 seperti yang ditulis oleh Upi lewat akun twitternya.

Well, banyak pilihan film bermutu didepan mata guys. Siap-siap berekspetasi dan ternganga melihat hasil mereka nantinya. Semoga memuaskan!

Tumbal Jailangkung (2011)


Ternyata Chiska Doppert dan Nayato Fio Nuala atau Ian Jacobs atau Koya Pagayo adalah dua orang yang berbeda. Dalam debutnya, lewat film berjudul Missing, mbak Pret (panggilan sayang gue buat Chiska) terlihat masih abu-abu antara itu beneran filmnya kah atau film sang guru. Pun di film Gotcha! beberapa tahun setelahnya. Aura-aura om Naya masih tercium disana-sini. Tapi setelah lama vakum dan muncul dengan dua film teranyarnya di tahun ini, Mbak Pret telah membuktikan bahwa dia memang bukan alter ego. Melainkan wanita titisan om gue, yang telat diberi tongkat estafet, yang pastinya akan melanjutkan kiprah sang guru ketika beliau wafat kelak (amin ya Allah, as soon as possible buanget!). Nggak percaya? Mari kita buktikan lewat review gue kali ini!

Tumbal Jailangkung. Bagi gue bukanlah horor seperti genre yang sudah tergeneralisasi dari sono. Melainkan drama suspense. Karena film ini lebih menitik beratkan pada faktor psikologis karakter bernama Linda (Soraya Larasati) yang mengetahui dirinya telah hamil setelah diputusin cowoknya. Kehamilan Linda bukan akibat berhubungan dengan sang pacar, Richard (Rocky Jeff), melainkan dijadikan pemuas nafsu dua sahabat Richard, Hanung (Romeo Sianipar) dan Galung (Taza Rudman).

Linda jelas galau akut. Usaha bunuh diri dengan membenturkan kepala ke cermin gagal total karena ketahuan sahabatnya, Vena (Violensia Jeanette), serta sepupu Vena yang bernama Ivan, yang memuja Linda dalam diam namun tak pernah disadari oleh cewek itu. Mereka pun membawa Linda ke sebuah villa untuk menenangkan diri. Bukannya tenang, disana Linda malah berjodoh dengan boneka jelangkung yang telah memilih untuk menyalurkan hasrat setan dalam diri Linda untuk menuntut balas.

Naskah olahan Aurellia tak menawarkan sesuatu yang baru. Dia hanya sibuk menyulam rangkaian benang merah dari film Jelangkung, Exorcism, Kuntilanak, The Grudge dan Ringu. Apa yang tersaji di layar asli kreasi mbak Pret. Dia mencoba berimajinasi sekuat tenaga dengan bertapa di gua selama tujuh hari sepuluh malam (?) dan hasilnya, taraaa... nggak jauh-jauh dari kata “ini sinetron dibawa ke bioskop, atau bioskopnya nayangin sinetron?”. Karena dengan durasi yang cuma seuprit, film yang diproduseri oleh Lucki Lukman Hakim ini (eh, dia siapa ya, kok eksis di blog gue?) serasa seabad lamanya. Ritme lambat dengan banyaknya adegan plus dialog nggak bernas.

Sebenarnya gue dari lima menit awal udah pengen aja gitu pura-pura salah masuk studio lalu pindah ke foodcourt. Lihat deh adegan awalnya tuh maksa abis. Kata guru gue, teknik kamera yang dipake out of focus. Masalahnya kalo digunakan untuk adegan yang singkron sih gapapa. Lha ini? Malah bikin pusing. Mungkin maunya mbak Pret pengen kelihatan keren kayak film-film Nolan (aduh kejauhan kalee...) tapi hasilnya malah kayak lagi liat video rekaman adek gue lagi nyanyi di kamar mandi. Itupun masih bagusan adek gue kemana-mana.

Dari segi akting sangat beragam, unsur sinetronisme cek akting Rocky Jeff dan Violensia. Unsur gak niat cek akting cover boy Danny Weller dan dua bule nyasar yang kayaknya diganti sama mpok atiek dan mpok nori kayaknya nggak masalah. Sedang Soraya nggak buruk-buruk amat!

Gue nggak ngerekomendasiin film ini. Lo mau nonton terserah, nggak juga terserah. Nontonpun paling ya gitu doang. Mudah dilupakan. Nggakpun juga masih banyak film lain. Nonton film yang ada guenya mungkin (nanti, 100 tahun lagi rilis!). At least, posternya menjijikan banget yak? Menipu tuh! Mungkin biar dikira film esek-esek apaan tau. Tapi film ini gak ada adegan gitu-gituannya. Ada sih penampilan bule pake bikini. tapi gue kecewa karena taunya malah di blur. Mbak Pret pilih bermain aman rupanya. Hmm... boleh deh. Cukup tau aja.

Rating 1.5/10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...