Showing posts with label Review. Show all posts
Showing posts with label Review. Show all posts

Malaikat Tanpa Sayap [2012]


"Namun tak kau lihat lihat terkadang malaikat, tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan..."

Ada sesuatu tentang permainan takdir . Semenjak bisnis sang Ayah (Surya Saputra) bangkrut, Vino (Adipati Dolken) diharuskan keluar dari kotak rasa nyaman. Hidup pun serba tak mudah sejak saat itu. Mulai ancaman dikeluarkan dari sekolah, keegoisan sang Ibu (Kinaryosih) yang tak mau terus-terusan hidup miskin sampai masa depan Wina (Geccha Qheagaveta), adiknya, yang jika tak segera ditolong, akan memiliki satu kaki seumur hidup.

Ditengah kegalauan itu dan sosok Ayah yang tak bisa diandalkan, seorang Calo organ tubuh (Agus Kuncoro) menawarkan pilihan pada Vino. Pilihan yang dianggapnya mudah jika saja kemudian dia tak bertemu dengan Mura (Maudy Ayunda). Pertemuan yang membuat Vino gamang pada tekad awal. Sayangnya, kemudian Vino sadar tak ada pilihan untuk lari. Atau untuk sekadar bernapas sejenak.

Firstly, gue sempat antipati sama karya terbaru Rako Prijanto kali ini. Setelah menghadirkan komedi-komedi sampah yang plotnya hasil mix and match film asing. Hampir tak ada harapan bagi gue untuk percaya atau memilih menghamburkan uang demi tontonan tidak bermutu. Sayangnya kali ini gue salah. Karena Malaikat Tanpa Sayap hadir dengan begitu elegan ditengah ritme seragam yang terus menerus meneror bioskop tanpa pencapaian berarti.

Dibalik ranah klise tentang drama kematian, Malaikat Tanpa Sayap mencuat sebagai film yang terbilang memenuhi elemen-elemen drama secara utuh; kedalaman cerita, karakterisasi yang jelas, akting rupawan dari ensemble cast-nya, sajian gambar menarik dan tentu saja unsur mellow yang disajikan apa adanya. Jauh dari kesan lebay, tangisan tidak pada tempatnya dan segala sesuatu yang memaksa kita untuk terenyuh. Karena unsur tersebut disajikan secara natural, tidak mendayu-dayu dan memaksa penonton.

Well, inilah Rako Prijanto yang dulu gue kenal lewat Ada Apa Dengan Cinta? sebagai penata skrip. Yang kemudian berani debut sutradara lewat Ungu Violet dengan hasil lumayan meski plotnya menyedihkan. Dan berani menyajikan kisah cinta unik lewat Merah Itu Cinta. Nggak salah kalo dia bilang “Malaikat Tanpa Sayap film yang gue banget” karena film ini memang sangat Rako. Rako yang dulu. Rako yang selalu menyelipkan quote di film-filmnya. Ditangan Rako film ini memiliki nyawa dan berbeda. Terutama dengan pemilihan pemain yang benar-benar tepat.

Unfortunately, masih ada beberapa hal yang cukup mengganggu. Seperti sempalan twist yang terlihat tak alami dan maksa. Juga kesalahan fatal yang membuat elemen surprise hilang bahkan sejak pertama kali durasi di buka. Oh please…

Sayangnya gue harus maklum. Rako berusaha serius saja sudah lebih dari cukup. Soundtrack ciptaan Dewi Lestari pas banget sama film ini. Dan Maudy Ayunda juga cantik. “Embun gak perlu warna untuk membuat daun jatuh cinta. Sama kayak aku, aku nggak punya alasan buat nggak jatuh cinta sama kamu, Maudy. Dan kalo ngomongin masa depan, kamu harus janji dulu sama aku kalo kamu bakal ngejalaninya sama aku... ”

My Last Love [2012]


Menurut penelitian gue selama dua hari empat malam, produk terbaru MD Pictures ini adalah proyek cari untung semata dari Punjabi Bersaudara. Iya, setelah mengalami stres dini tingkat Afganistan akibat mega proyek mereka bertajuk Di Bawah Lindungan Ka’bah gagal total di pasaran, maka dibuatlah film dengan budget pas-pasan yang kemungkinan bisa mendatangkan banyak penonton. Maka dipilihlah sutradara paling produktif se-Indonesia (MURI mana MURI?!?) untuk mempermudah proses agar rumah produksi tersebut tidak perlu gulung tikar.

Nggak susah memang untuk berspekulasi seperti ini. Karena gue yakin banget Punjabi Bersaudara tau bagaimana reputasi Om Naya selama ini. Bagaimana sepak terjang sutradara yang sering diperbincangkan (keburukannya) oleh banyak orang tersebut. So nggak usah heran jika hasil akhir film inipun layak sekali masuk tong sampah seperti biasa. Yang perlu diherankan adalah: kenapa Punjabi Bersaudara nekat memilih Nayato? Oke, gue ulang lagi biar kesan dramatisnya lebih terasa: KENAPA PUNJABI BERSAUDARA NEKAT MEMILIH NAYATO? Apa karena saking hopeless nya? Oh, co cuit #abaikan

My Last Love diadaptasi dari novel (yang kata posternya) best seller buah karya Agnes Davonar. Tapi menurut gue nggak perlu juga memberi embel-embel adaptasi kalo hasil akhirnya malah lebih mirip film non adaptasi hasil mix and match dedramaan galau macam Pupus, Kangen, Cinta Pertama dan 18+. Gimana nggak aneh kalau selain nama karakter dan benang merah yang bias, My Last Love sukses dirombak sana-sini dengan seenaknya. Ckck..

Seperti kebiasaan Nayato yang nggak perlu memakai naskah, My Last Love juga bernasib serupa. Nggak aneh kalo dialognya sangat annoying biadab. Kayak gini contoh yang gue visualisasiin pake gaya skrip film:

INT. LORONG RUMAH SAKIT – MALAM

IBU ANGEL
Bagaimana keadaan Angel?

NADYA
Angel kecelakaan Bu...

Nah, lho. Si Ibu nanya apa, jawabnya apa?

Yang jadi pertanyaan gue: Ery Sofid yang sering banget jadi penulis naskah di film Nayato beneran kerja atau cuma dicomot nama doang sih kayak kasus Chiska Doppert di film Missing? Feeling gue, kalopun ada gosip naskah ditulis on the spot, masa iya sebegini dangkal dan tidak bermutunya dialog yang ada. Atau jangan-jangan, Nayato sebenarnya udah menggunakan sistim yang dipopulerkan oleh Damien Dematra dengan memegang berbagai posisi di film mereka? Iya, jadi sebenernya Nayato jugalah yang menulis naskah di setiap filmnya. Tapi karena nggak bakat dan hasilnya jelek, maka dipakai nama orang lain agar pencitraan dirinya tak semakin buruk.

Eh, ini kok gue jadi gosipin orang sih? Huehuehue.... habis filmnya nggak bermutu sih. Jadi bingung mau komen apaan. Mau komen wajah Donita yang cantik gue udah males. Setelah putus dengan Donita dan sadar bahwa aktingnya jelek di film Kehormatan Di Balik Kerudung, gue udah nggak mau bahas Donita lagi. Meski sebenarnya kecantikan Donita terpancar banget di film ini berkat cara-cara ajaib Nayato meng-capture muka eksotis dara pemilik nama asli Noni Anisah tersebut.

Selain Donita, ensemble cast lain juga nggak ada beda. Mereka semua pada berlomba menampilkan akting terburuk. Dari Evan Sanders yang sibuk ajeb-ajeb sampe Jordi Onsu yang gagal menjadi highlite komedi sebagai hiburan. And then, nggak ada cerita film ini bikin gue nangis darah. Yang ada malah bikin gue sibuk ketawa sendiri dari awal film di mulai hingga kredit film muncul saking gak tahan melihat ulah busuk Nayato yang sudah terbaca.

Adegan paling lucu terjadi di ending film. Gimana bisa gitu Angel yang tau Martin, orang yang dia cintai di  meninggal pangkuannya, malah sibuk baca puisi? Bukan inalilahi atau sekalian nyanyi "apalah artinya kata cinta? yang kau ucap semua hanya mimpi. apalah artinya cincin ini? yang kau bilang pengikat janji suciku...."*

Please kalo kayak gini prosesnya jangan cegah gue untuk gantung diri. Faham ya? (smile)


* lirik lagu "Apalah Artinya" oleh Donita

Xià Àimĕi [2012]


"Udah, sogok aja kayak film-film indonesia!" - AJ Park

Coba tebak, poster apakah yang gue pasang di atas? Bukan, itu bukan versi live action dari anime Jepang terpopuler: Sailor Moon. Bukan pula drama mandarin yang hanya tayang di Blitz Megaplex. Apalagi iklan aplikasi terbaru dari Yahoo! Indonesia untuk pangsa pasar pria dewasa. Salah semua guys! Gambar tersebut adalah poster film Xià Àimĕi. Drama lokal yang mencoba untuk berbeda. Eh, berbeda? Yakin beda?

Bercerita tentang Xià Àimĕi (Franda), gadis lugu asal Yangshuo Guangxi, sebuah desa kecil di daratan China. Àimèi bersama gadis lain diboyong ke Indonesia oleh Jack (Ferry Salim), pria necis pemilik Lé Mansion, sebuah club mewah di Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Àimĕi yang diubah nama menjadi Xi Xi baru sadar kalau dia adalah korban human trafficking. Terlebih ketika Jack menjadikannya komoditi pemuas nafsu pria kaya, kabur pun menjadi jalan satu-satunya agar merdeka. Untuk kabur, Xi Xi meminta bantuan Lielie (Shareefa Danish) dan Pauline (Jasmine Julia Machate) teman satu kamar di Lé Mansion serta AJ Park (Samuel Rizal) pegawai Discovery Underworld International berdarah Korea. Sanggupkah Xi Xi kembali ke Negara asalnya dengan bantuan mereka?

Well, apa yang di tawarkan oleh produksi terbaru Falcon Pictures ini sebenarnya lumayan menjanjikan. Sayangnya ide besar tersebut gagal disampaikan dengan baik. Skenario hasil rembukan Alyandra, Tohaesa dan Sally Anom terlalu payah untuk kemudian di ekskusi oleh Alyandra yang selain bertindak sebagai penulis naskah juga memegang bagian penyutradaraan, DOP dan tata musik.

Lihat saja, sepanjang 72 menit kita akan melihat betapa pincangnya film ini. Naskah yang buruk semakin hancur lebur dengan gaya penyutradaraan Alyandra yang terkesan dikejar sesuatu. Sehingga ditinjau dari berbagai sisi film ini mempunyai banyak nilai minus. Seperti akting para aktor dan aktris yang so pathetic serta editing yang kasar.

Ngomongin akting, rasanya hanya Shareefa Danish yang sanggup membawakan karatkter dangkal yang diembankan padanya dengan baik. Franda yang baru saja memulai debut layar lebar memang tidak buruk, tapi peforma aktingnya belum mampu meyakinkan banyak orang kalau dia beneran sedang tertindas selain sepanjang film hanya sibuk menundukan kepala. Bagian paling ganggu adalah penampilan Ferry Salim dengan jambul khatulistiwa wannabe dan gaya necisnya yang terlalu berlebihan (bahkan di keseharian pun!). Belum lagi tambahan highlite komedi gagal dan teramat sangat maksa dari Gilang Dirgahari. Membuat gue nggak berhenti mikir untuk segera keluar dari studio saking muaknya.

Berterima kasihlah pada Franda. Karena dia adalah satu-satunya alasan gue (dan cowok-cowok lain) untuk bertahan menyaksikan film ini sampai credit title muncul. Andai saja produksinya tak terlalu buru-buru serta mau meluangkan waktu dalam proses penggodokan naskah, mungkin Xià Àimĕi mampu tampil lebih berisi dan memikat. Tidak seperti sekarang yang rasanya sia-sia saja memasukan berbagai unsur menarik jika digarap hanya setengah-setengah. Pada akhirnya Xià Àimĕi pun telah gagal untuk tampil berbeda. Sebuah debut film yang mengecewakan bagi Alyandra dan Franda.

Ummi Aminah [2012]


“Mulutnyah!” ~ Zubaidah

Aditya Gumay adalah satu dari sekian sutradara kita yang nggak pernah muluk-muluk dalam proses membuat film. Minimal sekali dalam satu tahun dia merilis sebuah karya. Ya, memang hanya satu saja. Tapi efeknya bisa membekas sampai film berikutnya muncul. Lihat, belum habis hype Emak Ingin Naik Haji (2009) dan Rumah Tanpa Jendela (2011) yang muncul dengan begitu sederhana namun mampu membuat hati menangis, di awal tahun 2012 ini hadir kembali satu karya terbarunya bertajuk Ummi Aminah.

Ummi Aminah bercerita tentang seorang ustadzah terkenal bernama Aminah (Nani Wijaya) yang memiliki ribuan jemaah setia. Meski dijadikan sosok panutan karena syiar agamanya mampu menggugah siapapun, tak lantas membuat hidup Aminah dan keluarga besarnya jauh dari cobaan. Tema 'ustadzah juga manusia' inilah yang kemudian dijadikan duet Adenin Adlan dan Aditya Gumay sebagai menu utama.

Meski suguhan konflik terlihat klise a la sinetron di televisi yang makin hari makin nggak berguna (tapi mendatangkan banyak rejeki bagi orang-orang yang bekerja di belakangnya), Ummi Aminah mampu tampil dengan tidak berlebihan apalagi menggurui. Satu kata: sederhana. Apa yang dituturkan Aditya Gumay dalam filmnya kali ini nggak terlalu dibuat lebay jaya. Karena bisa aja hal kayak gini terjadi di sekitar kita. Atau mostly udah sering kita alami. Fakta inilah yang kemudian mampu secara reflek membuat penonton untuk tidak hanya sekedar terlibat secara mata, tapi juga batin.

Satu kelebihan lain adalah keputusan tepat yang diambil penulis skenario untuk tidak terlalu menghakimi kaum LGBT seperti yang terjadi dalam segmen cerita anak Aminah bernama Zidan (Ruben Onsu). Disini sosok Zidan sengaja di abu-abukan untuk kemudian jadi bahan kontemplasi orang-orang yang sering memandang mereka sebelah mata. Bahwa sosok seperti Zidan ada disekitar kita. Dan mereka juga manusia. Nggak perlulah sok-sok ngejudge seolah kita ini Tuhan seperti beberapa film yang kadang membuat posisi mereka terlihat tak pada tempatnya.

Sebagai sebuah film, Ummi Aminah memang jauh dari kata sempurna seperti hakikat manusia itu sendiri. Tapi untungnya hal tersebut tidak terlalu mengganggu sehingga merusak isi film karena dengan sukses tertutupi oleh akting para ensemble cast yang begitu mumpuni. Lihat saja duet Ummi dan Abah yang diperankan secara alami oleh Nani Wijaya dan Rasyid Karim. Juga kelebayan Zubaidah (Genta Windi) yang mampu mengocok perut di saat yang seringnya tidak tepat. Iya, karena kadang pas kita kita udah larut dalam suasana sentimentil mendadak dibuat tertawa akibat celetukan komedinya. Highlite yang terbilang berhasil.

Anyway, salut untuk pemilihan ending yang terbilang berani hingga tak terkesan stereotip seperti film bergenre drama sejenis. Ya, setidaknya bisa memperingatkan kita bahwa hidup nggak semudah Mario Teguh dalam menulis quote-quote yang terkadang berkesan bullshit (ups...).

Ummi Aminah adalah film pembuka tahun yang memuaskan. Unfortunately melihat fakta di lapangan bahwa penonton kita lebih senang nonton film berbau paha dan belahan dada ketimbang film bermutu seperti ini membuat hati ini sakit. Benar-benar nggak habis pikir deh. Sulit memang menerka pasar. Semoga Aditya Gumay nggak kapok membuat film-film setema sebangun seperti Ummi Aminah. Film yang sederhana dan dekat dengan keseharian. Film yang mampu menyentuh dan membuat kita keluar dari bioskop dengan membawa ‘sesuatu’...

Pulau Hantu 3 [2012]


Ngomongin soal Jose Poernomo nggak bisa lepas dari masterpiece-nya berjudul Jelangkung bareng Rizal Mantovani yang menjadi salah satu tonggak kebangkitan perfilman kita. Tapi setelah ‘horor-bener’ bertajuk Angkerbatu-nya gagal dipasaran, Jose banting setir membuat film horor-seksi beberapa bulan setelah merilis film yang menjadikan setan sebagai zombie tersebut.

Premis yang ditawarkan Pulau Hantu (2007) memang nggak seoriginal itu. Tapi dari sini Jose seolah menemukan nafas baru untuk kemudian dilanjutkan oleh para pengekor dengan kualitas murahan. Terbukti Pulau Hantu emang sukses besar bahkan menjadi salah satu dari 10 film terlaris rilisan 2007 dengan raihan 650.000 penonton. Nggak heran jika kemudian muncul sekuelnya bertajuk Pulau Hantu 2 di tahun 2008.

Kini, setelah tiga tahun berlalu, dan ditunggu-tunggu sebagian penikmat film kategori vividism seperti ini, Jose Poernomo kembali melanjutkan kisah Pulau Madara dengan tambahan angka 3 di belakangnya. Tetap memakai formula yang sama, sajian horor berbumbu tampilan dada dan paha para wanita cantik. Bedanya, jika antara predesor dengan sekuelnya masih memiliki keterkaitan, sekuel kedua ini tampaknya hanya dibuat untuk bersenang-senang. Jalinan plot tak teratur dan scene demi scene yang tak mempunyai kolerasi satu sama lain membuat siapapun bisa dengan mudah menduga kalau usaha Jose dan Punjabi grup hanya untuk mengeruk keuntungan.

Basicly, untuk urusan ‘mempermainkan’ penonton, gue lebih suka cara Jose dalam mendirect Pulau Hantu 3 dibanding seri sebelumnya. Tapi dari segi kedalaman cerita dan pernak-perniknya, gue merasa seri ini adalah seri terburuk atau seharusnya nggak perlu ada.

Emang sih gue menikmati film ini. Di satu sisi gue seneng, mencak-mencak kegirangan. Disisi lain gue merasa kasihan sama filmmaker kayak gini yang baru di awal tahun udah nyampah aja. Selain tampilan bodi-bodi yang dahsyat, kita bakalan disuguhi dengan akting kacrut dari para pemain dan kegaringan skenario yang levelnya udah biadab banget. Unsur komedi yang harusnya menjadi highlight seri ini terlihat kering dan maksa. Lihat saja durasi-durasi awal yang kriuk to the max. Bikin gue pengen banget stand up comedy di depan Jose soal bagaimana menyajikan komedi yang mengakak kayangkan penonton. Itupun dengan catatan gue udah sukses berguru sama Olga Syahputra lhoo. Eh, ini kenapa jadi out of the topic gini sih?

At least, gue menganggap keseruan menonton Pulau Hantu 3 sebagai gulity pleasure meski sedikit terganggu dengan cara pemotongan LSF yang nggak banget. Mungkin gue juga harus masuk LSF agar mereka tau bagaimana cara sensor yang baik dan benar tanpa menghilangkan esensi dan nggak terkesan amatir. Gue nggak ngedukung kekecewaan Jose mengingat filmnya dipotong beberapa menit karena emang nggak worth it. Tapi sebagai penikmat film, yang nonton ke bioskop bayar, gue nggak mau pemotongan adegan terjadi dengan tidak elegan kayak proses sensor di tivi.

By the way, kenapa posternya jadi turun derajat ya? Kayaknya gue juga perlu bikinin poster biarrr—

*Tulisan sengaja terpotong karena review isinya kebanyakan menyombongkan diri. Which is hal itu nggak boleh dilakukan oleh seorang manusia yang unyu seperti gue. Salam Super!

Garuda Di Dadaku 2 [2011]


“Garuda di dadaku, garuda kebangganku. Ku yakin hari ini pasti menang!”

Well, siapa sih yang nggak kenal lirik lagu di atas? Yakin deh, dari yang tua sampe anak kecil pun pasti hapal di luar kepala sama lagu yang resmi jadi mars suporter bola di Indonesia ketika menonton pertandingan ini. Adalah sebuah lagu ciptaan mantan ketua Jakmania, Feri Indra Rasyif, yang kemudian dipopulerkan oleh Netral sebagai pengisi soundtrack film terlaris ke empat di tahun 2009 silam dengan jumlah pendapatan 1.371.131 penonton berjudul Garuda Di Dadaku.

Dalam predesornya yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, kita diperkenalkan pada bocah 12 tahun bernama Bayu (Emir Mahira) yang begitu mencintai bola. Bahkan Bayu punya impian menjadi pemain bola profesional. Unfortunately, niat itu ditentang oleh sang kakek (Ikranagara) yang dengan segala cara, berusaha memusnakan mimpi cucunya tersebut.

Lewat sekuel bertajuk Garuda Di Dadaku 2, Emir Mahira yang baru saja mendapat penghargaan sebagai Aktor Terbaik dalam ajang FFI 2011 lewat film Rumah Tanpa Jendela kembali melanjutkan kiprahnya. Tetap berperan sebagai Bayu yang sekarang sudah menjadi kapten sepak bola timnas U-15. Bersama anggota timnya, dia berusaha agar dapat menjuarai kompetisi junior tingkat Asean di bawah pelatihan Wisnu (Rio Dewanto). Sebagai seorang coach, sikap Wisnu yang terlampau keras terkadang membuat masalah antar anggota tim. Termasuk semakin memperpanas konflik internal dalam diri Bayu yang tengah menginjak remaja.

Dalam sekuelnya kali ini, urusan naskah tetap diserahkan pada Salman Aristo. Namun posisi sutradara tak lagi dijabat Ifa. Karena kini ada nama Rudi Soedjarwo yang diberi titah untuk melanjutkan apa yang sudah dihasilkan sutradara Sang Penari dua tahun lalu. Sudah bukan rahasia kalo terkadang sebuah sekuel hasinya nggak akan bisa menyamai predesornya. Nggak cuma di Indonesia aja kok. Karena di industri perfilman negara manapun hal tersebut sudah lumrah terjadi. Lalu bagaimana dengan film ini?

Gue lumayan ngikuti film-film Rudi Soedjarwo sejak Bintang Jatuh. Jadi gue bisa sedikit tahu kalo Rudi adalah seorang yang labil cara ngedirectnya. Dia pernah bikin film bagus. Ada Apa Dengan Cinta? keren tuh. Sayangnya beberapa tahun kebelakang dia terjebak dengan pola yang dibuatnya sendiri. Hasilnya nggak buruk sih. Nggak nyampah juga. Tapi sedikit di luar ekspetasi hingga muncul komentar “ohh gini doang filmnya Rudi setelah sukses AADC?”. Di awal tahun, gue terkesima dengan Batas. Lalu dilanjutkan dengan Lima Elang yang tak bisa tampil memuaskan dari segi cerita dan turnover karakter. Kini, dengan sasaran penonton anak-anak seperti film sebelumnya, gue sedikt was-was kalo apa yang ada di Lima Elang bakal nongol lagi. Dan ternyata, iya aja.

Garuda Di Dadaku 2 terlalu serius dan berat untuk ukuran film anak-anak. Gue suka cara Rudi ngedirect yang begitu enerjik dan dinamis, tapi sekali lagi, gue nggak suka sama ceritanya. Selain Salman Aristo yang enggan kembali mendekatkan penonton dengan karakter yang ada karena begitu film dimulai, tanpa basa-basi langsung dikasih makan gelaran konflik aja, pengambaran Rudi dalam mengembangkan karakter tokohnya terlampau berlebihan. Membuat gue sedikit mengernyitkan dahi. Kok jadi gini?

Garuda Di Dadaku 2 tak mampu tampil semenyenangkan film pertamanya. Tak mampu juga menyentuh emosi lantaran terlalu banyak konflik yang kadang tersaji dengan tidak alami hingga bisa dibilang akan gampang terlupakan begitu saja.

Jika dibandingin dengan Tendangan Dari Langit yang rilis menjelang lebaran lalu, gatau kenapa gue lebih notice ke film Hanung tersebut. Konfliknya alami, mampu menguras emosi dan down to earth. Di film ini kita gak bakal nemuin hal-hal kayak gitu. Bahkan adegan pertandingan bola yang hampir mengisi 60% durasi terlihat biasa saja. Ditambah highlight komedi yang dibawakan Ramzi ternyata tak mampu bekerja seefektif terdahulu. Garing abis. Nggak heran kalau gue menguap beberapa kali saking capeknya menikmati gelaran cerita yang tidak begitu memikat.

Untungnya ensemble cast bermain tak begitu mengecewakan. Akting Emir Mahira terlihat semakin terasah. Rio Dewanto juga tampil tak mengecewakan meski nggak ada bedanya dengan aktingnya dalam FTV sih. Monica Sayangbati, wow, gue makin speechless. Gue suka akting dia dalam Lima Elang. Gatau kenapa Monica tampak semakin menarik meski agak ilfil melihat kebiasaanya memainkan bibir sehingga terkesan jutek. Atau memang bawaan ya?

At least, bukan film yang buruk. Rudi sudah berusaha sebaik mungkin menampilkan sajian yang menghibur. Sayangnya, Garuda Di Dadaku sudah terlalu membekas. Hemat gue sih kalo sekuelnya ini nggak dilanjutkan lagi, sepertinnya nggak masalah.

Bukan Pocong Biasa [2011]


Menonton film horor Indonesia kini sangatlah menjengkelkan. Tema yang diambil itu-itu mulu. Pocong lagi pocong lagi dengan segala pernak pernik judul corny. Hampir serupa tapi tak sama. Parahnya, terkadang nggak ada yang diutak-atik selain pemain dan sutradara. And then, Bukan Pocong Biasa termasuk salah satunya.

Honestly, entah kenapa gue males banget mereview film ini begitu tahu hasil akhirnya yang sangat mengecewakan. Bahkan saking hopelessnya, gue berniat untuk tidak mereviewnya. Untuk apa? Untuk sekedar menambah jumlah postingan? Sepertinya begitu #eh. Untungnya gue segera sadar diri dan langsung ngebacot apaan deh meski hype filmnya sendiri sudah menghilang lantaran karya ke lima Chiska Doppert di tahun 2011 ini emang, gitu deh...

Tak perlu berpanjang lebar dengan membuat sinopsis, hal repetitif kayak gini sudah sangat menyiksa mental. Okelah, ini film niatnya menghibur. Tapi kalo hasilnya nggak menghibur gimana coba? Siapa yang mesti gue salahin? Emak gue? Tetangga-tetangga gue? Beberapa kali gue mencoba berpikir positif kalo Zaky Zimah itu layaknya Mr.Bean yang hanya dengan melihat muka najisnya saja gue bakal ketawa. Tapi Mr.Bean dan Zaky adalah sosok yang jelas berbeda. Ibarat bumi dan langit, seberusaha keras apapun Zaky melucu, film ini akan tetap garing karena lawakan dia yang repetitif tadi. Lawakan memakai mimik bego apalah itu. Not works, dude! Kalo perlu gue lempar deh sepatu gue yang udah bolong-bolong ini ke layar saking sebelnya. Sebodo dengan hasil akhir gue dilempar keluar petugas dari studio 4 Matos 21.

Terus lagi, tiga pocong dengan pemeran pocong utama yang mukanya sekilas mirip Aming, bahkan lebih menyeramkan dari Aming secara harfiah, sangat tidak membantu membuat film ini mengakak kayangkan penonton unyu seperti gue. Apalagi penonton lain yang sepanjang durasi hampir nggak ada yang ketawa sama sekali. Nggak heran sih, triple kriuk gini... Yang ada malah bikin gue jadi pengen ngelempar tas gue ke layar. Oke, sepatu dan tas gue udah jadi korban lho. Lalu apalagi? Apa perlu hape dan baju juga ikutan gue lempar? Eh, sabar Bee.. Sabar. Inget pencitraan!

Well, yakin deh kalo gini terus, film Indonesia bakalan stuck di tempat. Kenapa sih nggak bikin komedi yang lebih elegan. Yang lebih bermutu gimana gitu daripada film kek gini? Memang sih setingkat lebih baik dari film Nayato atau KKD. Tapi tetep aja hasilnya memuakan!

Semoga tahun depan nggak ada film model ginian lagi. Perlu ditekankan aja, penonton udah jenuh lho dengan hal-hal usang seperti ini. Kenapa nggak kepikiran untuk bikin sesuatu yang fresh from the oven. Bukan mengekor sesuatu yang sebenarnya udah basi level biadab. Kasian juga kalo udah bikinnya susah, keluar duit banyak, tapi nggak begitu laku amat di pasar. Iya kan? And please stop mempelesetkan judul film lagi. Cukup Ada Apa Dengan Cinta?, Kejarlah Daku Kau Kutangkap dan Bukan Cinta Biasa. Jangan sampe tahun depan gue lihat ada film judulnya Poconggg Di Dadaku dengan pemeran Jupe yang boobsnya memang begitulah. Karena gue bakal melempar diri sendiri ke bulan dengan senang hati. Sekian curhat hari ini.

Arisan! 2 [2011]


“Socialite tuh kan harus social, nggak cuma dateng ke party foto cekrak cekrek masuk majalah dong!” ~ Andien

Delapan tahun adalah jarak yang lumayan panjang untuk sebuah sekuel. Meski sempat diragukan, toh pada kenyataanya Arisan! 2 tetap hadir kembali menyapa para pecinta film pertama yang lumayan hitz di tahun 2003. Tidak ada lagi campur tangan Joko Anwar sebagai penulis skenario. Karena dengan gagah, Nia Dinata yang juga bertindak sebagai sutradara sekaligus produser, melanjutkan apa yang sudah Joko hantarkan dalam prekuelnya.

Diumur yang sudah mendekati kepala empat, banyak hal telah berubah dalam geng arisan. Sakti (Tora Sudiro) dan Nino (Surya Saputra) tak lagi menjalin hubungan. Sebagai seorang sutradara film bertema LGBT, Nino memilih berpacaran dengan brondong kemayu berumur 21 tahun bernama Octa (Rio Dewanto). Sedang Sakti  memilih jadi pria simpanan seorang sugar daddy bernama Gerry (Pong Harjatmo).

Berbeda dengan Meimei (Cut Mini) yang memilih untuk menikmati hidup sendiri pasca perceraian, Andien (Aida Nurmala), janda beranak dua ini, malah menyibukan diri dengan ‘pria-pria’ santapan setelah ditinggal sang suami untuk selamanya. Lalu Lita (Rachel Maryam) yang berprofesi sebagai pengacara dan tengah disibukan dengan pencalonan diri dalam suatu partai, tengah berusaha menjadi single mother yang baik bagi bocah tampan dengan identitas suami yang dirahasiakan.

Seperti dikatakan Rachel Maryam dalam behind the scene Arisan! 2: “sayang banget nonton yang pertama kalo nggak nonton yang kedua” memang benar adanya. Meski dari segi penceritaan terlihat kedodoran akibat terlalu banyak plot saling tumpang tindih dan alternatif penyelesaian yang mau nggak mau terkesan cheesy, ditangan seorang Nia, film ini tetap fun to watch bahkan it's a must! Karena dari sini, kita sebagai orang awam, akan dibuat 'melek sedikit' melihat pergumulan kaum jetset dan topeng-topeng dalam kehidupan mereka. Hell yeah, meski terkadang rada lebay juga sih dibeberapa part. But I don't know why masih terlihat natural.

Berterima kasihlah Nia karena Arisan! 2 didukung oleh ensemble cast yang benar-benar luar biasa. Para pemain lawas nggak usah diragukan lagi gimana aktingnya. Cut Mini, Rachel, Tora, Surya dan Aida terlihat sangat hitz banget membawakan peran masing-masing. Sedang untuk pemain ‘sempalan’ ternyata mampu tampil lebih daripada lima pemain utama tadi. Coba tengok Rio Dewanto yang nggondek, Sarah Sechan dengan tingkah snob-nya, Atiqah Hasiholan yang terlihat so so gorgeous, Edward Gunawan yang calm banget and of course Adinia Wirasti yang tampil begitu berkilau dalam artian sebenarnya!

At least, kalo lo butuh tontonan Indonesia yang ringan, kocak karena sentilan isu dalam balutan satir yang menghibur dengan gaya elegan, bukan corny atau malah menyampah, rasanya sayang banget melewatkan film ini. Simpelnya sih karena Nia Dinata sukses mengajak penonton untuk menikmati sedikit guilty pleasure setelah terjebak stagnansi dalam rutinitas sehari-hari. Lihat saja, selain dibintangi aktor aktris papan atas dan sinematografi yang indah, kita juga diajarkan sesuatu tentang arti sebuah persahabatan: teman datang dan pergi, tapi teman-teman sejati akan selalu di hati.

By the way, jarang-jarang banget kan gue muji-muji kayak gini?

Poconggg Juga Pocong [2011]


"ketika galau datang menghampiri, bershowerlah.." ~ Poconggg

Arief Muhammad, remaja yang coba mencetak sejarahnya hari ini. Berkat sebuah keisengan, dia menjadi sosok yang sangat diperbincangkan. Hingga pada suatu saat kesempatan datang untuk menuliskan sampah-sampahnya dalam sebuah buku which we then call Poconggg Juga Pocong. Meski nggak ngefollow dia di twitter bersama 1,321,626 ababil lainnya yang tertera dalam akun saat terakhir me-recheck, gue tau bahwa @Poconggg adalah seleb tweet. Begitu juga ketika Maxima Pictures coba mengambil keuntungan dari keeksisan sosok yang lagi hype dimana-mana ini. Maka jadilah Poconggg Juga Pocong The Movie, yang naskah filmnya dikembangkan oleh Haqi Achmad dan Arief Muhammad dari rangkaian cerita random dalam buku.

Dimas (Ajun Perwira) masuk golongan cowok cupu di SMA. Fortunately he’s not alone. Karena ada Sheila (Saphira Indah), sahabat plus seseorang yang Dimas puja setengah hidup, yang sedikit-banyak bisa memperbaiki taraf kecupuannya di masa SMA.

Kelamaan memuja dalam diam, membuat Dimas ngerasa hidupnya nggak lengkap. Therefore dia menyusun rencana menembak Sheila bertepatan dengan April Mop. Karena menurut hematnya, kalo nanti yang didapat adalah sebuah penolakan, dia tinggal bilang: “gotcha, april mob!” dan fakta yang terjadi memang begitu. Semenjak itu, hidup Dimas berubah. Karena ketika bangun keesokan hari, dia sudah bertransformasi menjadi seikat Pocong yang tetap aja dianggap cupu oleh Anjaw (Rizki Mocil) and the gank meski sudah hidup di dunia setan. Dimas pun makin galau begitu tahu Sheila sudah tak mungkin tergapai lagi.

Berkat kekepoan tiada tara, gue menyempatkan beli buku Poconggg. Honestly, novelnya garing biadap. Udah tipis, mahal, kriuk pula. Gue bingung apa yang membuat buku ini best seller. Karena yang nulis @Poconggg? Of course, yes! Dan semakin menyangsikan filmnya begitu melihat beberapa cast seperti Rizky Mocil yang emang langganan Maxima, Guntur Triyoga and the fact kalo gue sentimen sama akting sok cool-nya dan langsung pingsan dengan anggun begitu melihat nama sutradara yang dipilih: Jeng Chiska Doppert! Serius, gue langsung galau. Beruntung ada nama Nycta Gina, mantan gue pas jaman SD, masuk ke jajaran pemain utama. Setidaknya ada alasan krusial buat gue menonton film ini. Dan bagaimanakah hasil akhirnya pemirsa?

Gue bingung mau nyalahin siapa ketika #PJPTheMovie tak mampu membuat gue ketawa. Akting ensemble cast, Chiska Doppert atau editor filmnya yang terlihat sangat amatir? Entahlah.. Yang jelas film ini sekriuk novelnya. Padahal dilihat dari segi naskah yang dialognya hitz banget di ranah twitter, gue yakin kalo bakalan ketawa kayang. Tapi yang terjadi, gue malah berulang kali ngebatin “oh come on!”. Hal ini membuktikan kalo Jeng Chis tak perlu memaksa dirinya untuk terus-menerus berada di jalur komedi. Dia nggak punya naluri itu. Komedi nya nggak mampu dia visualin dengan baik. Padahal uda yakin adegan slapstick di film ini bisa mengundang tawa penonton pada umumnya, gue pada khususnya.

Itu masih naskah dan proses visualisasi, gimana dengan akting si Poconggg? Nggak usah berharap banyak deh ya. Ajun Perwira sebagai pionir utama tak mampu berakting lepas alias kurang greget. Nycta Gina yang gue jadiin alasan pun nyatanya tampil senada. Malah mengingatkan gue akan aktingnya sebagai Jeng Kelin.

Untungnya, #PJPTheMovie tidak terlalu jatuh ke jurang seperi pendahulunya, Kambing Jantan, yang dobel kriuk plus dobel garing level 10. Eh kok kayak maicih? Gue iklan nih! Harusnya presiden maicih kasih gue royalti dongs!. Faktanya film ini masih memiliki beberapa poin menarik seperti soundtrack yang ear catchy dan perbendaharaan kata baru yang kemungkinan sedang dan akan trend.

In the end, ini cuma masalah selera. Kalo sebagian orang suka dengan komedi yang ditawarkan oleh sosok dibalik seikat @Poconggg yang jadi fenomena di dunia pertwitteran saat ini, sah-sah aja. Kalopun ada yang tidak menyukai, itu juga sah-sah saja. Karena tawaran komedi khusus ditujukan untuk pangsa abegeh yang kemakan hype Pocong hobi galau ini -___-

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? [2011]


“Mereka bilang aku berbeda. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal, aku dilahirkan dengan cara yang sama...” ~ Angel

Memanfaatkan sebuah euphoria sebenarnya sah-sah saja. Itu Indonesia banget. Nggak usah heran kalo perfilman kita selalu saja latah mengeksploitasi hal itu. Dan nggak usah heran pula kalo hasilnya kebanyakan hancur total alias menyampah sembarangan!

Ayah, Mengapa Aku Berbeda? adalah sebuah trend lanjutan dari suksesnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Dimana dengan jeli sang produser membaca market: bagaimana cara mengeruk keuntungan dari labilers se-Indonesia raya. Maka diadaptasilah sebuah novel yang diklaim sudah dibaca 2 juta readers secara online. Dan langsung memilih Dinda Hauw yang mendadak jadi ‘sesuatu’ setelah debutnya sukses menarik 748.842 penonton sebagai pemeran utama. Sampai disini nggak ada masalah memang. Tapi semua berubah tidak menyenangkan ketika menikmati jalinan visualisasi dari novel besutan Agnes dan Teddy, atau yang lebih kita kenal dengan Agnes Davonar.

Film ini sudah menjengkelkan sejak awal. Dan semakin menjadi-jadi hingga credit akhir muncul. Gimana enggak, dari awal kita sudah disodori dengan tangisan-tangisan lebay tidak pada tempatnya. Hell, bikin film tearjerker sih tearjerker aja. Tapi nggak mesti gini-gini juga kali. Masa iya tiap ngapa-ngapain keluar air mata, dikit-dikit keluar air mata. Kenapa nggak nikahin gue aja sekalian? Fuck off banget lah! Bahkan gue udah nggak peduli gimana nasib akhir Angel; cewek tersial di dunia yang diperankan dengan sangat biasa oleh Dinda Hauw. Karena gue udah capek diajak untuk terus bersimpati pada karakter stupid bin corny di layar bioskop. Thanks untuk kerja tim penulis skenarionya: Titien Wattimena, Djamil Aurora dan Agnes Davonar, karena telah membuat film berdurasi 99 menit ini tidak penting untuk disimak.

Hal diatas makin diperburuk oleh jajaran pemeran pembantu di film ini. Selain Fendy Chow dan Kiki Azhari dengan akting nggak banget a la sinetron di RCTI, swear KK Dheeraj gue timpuk sama pispot, Rafi Cinoun adalah kesalahan terbesar Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Hell, bagian casting tolong bersihin mata pake insto dong. Masa iya lo milih artis kek gini. Minimal yang rada beneran dikit deh. Ditinjau dari segi mana sih coba kalo muka Rafi tuh enak dipandang? *pengen muntah sambil kayang*

Selain cerita dan akting yang failed, kegagalan demi kegagalan terus berlanjut hingga membuat film arahan Findo Purwono ini makin tidak jelas. Seperti gambaran kedokteran yang ngasal, bloopers dimana-mana dan subtitle adegan gagu yang muncul disaat-saat nggak worth it. Bikin gue berkali-kali mengerutkan jidat saking gagal pahamnya.

And yes, cukup seperti itulah siksaan yang disodorkan oleh produksi terbaru Rapi Film di tahun 2011 ini. Nggak horror, nggak drama, film-film produksinya emang bikin gue ngoceh ngalor ngidul sambil ngupil. Percayalah, bagian terbaik film ini terletak ketika secara tiba-tiba terdengar suara Agnes Monica dengan hitz-nya berjudul Rapuh. At least, bukan film yang buruk. Tapi terkadang kita harus tahu dimana batas antara cerita dalam novel yang perlu divisualisasikan agar tidak tampak berlebihan dan menyedihkan. Lalu apakah jawaban dari pertanyaan “Ayah, mengapa aku berbeda?”, tanyain aja sama rumput yang bergoyang.

By the way sebelum gue tutup reviewnya, masih perlu nggak gue kasih detail sinopsis ceritanya?

Sang Penari [2011]


"Sus, ronggeng iki duniaku, wujud dharma baktiku untuk Dukuh Paruk!" ~ Srintil

Ini kisah Srintil (Prisia Nasution) yang merasa memiliki keterikatan magis sebagai penari ronggeng sejak kecil. Ini kisah Rasus (Oka Antara) , pria lugu yang tumbuh besar dengan satu cinta, satu nama wanita di hatinya; Srintil. Ini kisah dua manusia yang harus memilih untuk hidup. Dimana pilihan itu nanti akan membuat keadaan disekitar mereka mau tak mau akan berubah.

Seperti itulah sedikit gambaran yang bisa gue tuliskan tentang Sang Penari. Sebuah film yang dibuat dari hati. Sebuah film produksi anak bangsa yang patut diapresiasi lebih. Diadaptasi dari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk buah karya Ahmad Tohari, penulis asal Banyumas. Disutradarai oleh Ifa Isfansyah berdasar naskah yang dia tulis bersama Salman Aristo dan salah satu produser, Shanty Harmayn.

Rasanya nggak salah menyerahkan proyek adapatasi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala ini kedalam bentuk visual di pundak seorang Ifa yang angkat nama lewat Garuda Di Dadaku. Ditangan Ifa, Sang Penari terlihat lebih hidup berkat kejeliannya menangkap berbagai aspek menarik yang tersaji selama 109 menit. Didukung oleh sinematografi dari Yadi Sugandi dengan tatanan tone gloomy tahun 1950-1960 nya, tata busana dari Chitra Subiyakto, tim artistik yang begitu detail menuangkan hiruk pikuk jaman dulu, serta scoring olahan Aksan dan Titi Sjuman, semakin membuat mata ini tak mau berpaling dari layar. Semua melebur jadi satu dengan sempurna. Saling mendukung satu sama lain.

Nggak cuma itu aja, Sang Penari terlihat semakin berkilau dengan ensemble cast yang begitu kompeten dibidangnya. Sebut saja Pia (sapaan akrab Prisia Nasution) yang berakting begitu total setelah tampil nggak worthy dalam debutnya sebagai pacar Fauzi Baadilah di omnibus horor berjudul Takut: Faces of Fear. Lalu jangan lupakan chemistry antara Pia dengan lawan mainnya, Oka Antara yang dapet banget. Selain dua nama tadi, juga bisa disaksikan kehadiran bintang sekelas Slamet Rahardjo, Dewi Irawan, Landung Simatupang, Lukman Sardi dan Tio Pakusodewo yang bermain pas dengan karakter yang diemban masing-masing.

Sayangnya Sang Penari juga tidak sesempurna itu. Dia juga memiliki kekurangan yang sedikit membuat kening berkerut karena munculnya scene-scene nggak penting dibeberapa part sehingga meninggalkan lubang kecil yang tak mampu tertambal dengan baik. Bukan itu saja, kurangnya penjelasan bagi penonton awam seperti gue yang nggak pernah tahu ada novel Ronggeng Dukuh Paruk, terlihat akan menjadi kendala besar bagi sebagian penonton. Terutama bagi generasi yang tumbuh ketika invasi produk dan tingkah laku a la luar negeri sudah menjadi gaya hidup. Belum lagi kebijakan lembaga sensor film yang cukup mengganggu disalah satu adegan karena kasar banget motongnya, bikin gue makin kecewa.

Terlepas dari itu, Sang Penari tetaplah film bermutu. Apalagi production value-nya pantas diberi kredit. Kalau saja film ini rilis lebih dulu daripada Di Bawah Lindungan Ka’bah, semua pasti akan menjagokan Sang Penari dalam ajang Oscar 2012 untuk mewakili Indonesia dibanding film berbujet besar tapi kosong dan nggak ada apa-apanya itu.

At least, inilah contoh film yang bikin kita bangga jadi penduduk Indonesia. Ayo, dukung film Indonesia bermutu!

The Mentalist [2011]


Plot dari film ini adalah persaingan dua orang mentalis (sok penting) di negeri entah berantah. Tak perlu menjelaskan secara detail bagaimana ceritanya karena akan sangat membuang waktu. Intinya, The Mentalist sepuluh kali lipat lebih menyeramkan (tolong bagian ini jangan diartikan secara harfiah) daripada official poster yang sudah corny dan menjijikan itu. Kalau aja gue jago photoshop, tanpa segan gue bakal mengedit poster film agar tampak lebih elegan dan pantas dipasang untuk postingan kali ini.

Sejak awal, film dibuka dengan tidak senonoh. Dan semakin mencabik-cabik hati dan perasaan terdalam gue yang tampan dan menggemaskan ini begitu melihat hasil secara keselurhan.

1. Ceritanya sangat merendahkan intelijensia penonton. Entah penonton Indonesia yang masih belum bisa menerima tontonan bergenre fiksi fantasi seperti ini atau bagaimana gue nggak mau ngurusin, tapi segala yang terjadi dalam The Mentalist terasa begitu annoying dan lebay. Dari mulai segi kostum sampe properti yang sangat murahan.

2. Skenario olahan Walmer Sitohang pun sama seperti cara penyutradaraan dia yang sok-sok ber Nayato ria. Serius, dialog film ini absurd dan belibet. Dan disini pula kalian bakal ngelihat scene-scene menyerupai Nayato tapi dengan kualitas rendah yang sangat mengganggu mata.

3. Soal akting, gue nggak tau ngapain aja Deddy Corbuzier dan Limbad di film ini. Mereka tidak kelihatan seperti berakting. Tapi juga tidak kelihatan sedang melakukan peragaan sulap. Lalu ngapain? Asumsi gue sih lagi niat ngelenong. Belum lagi penampilan dua bintang muda tidak bermasa depan cerah seperti Hafil Andrio sebagai Zhoe dengan tatanan make up ala Edward Cullen lagi mengalami pendarahan otak dan Meiditha Badawijaya sebagai Jhane dengan bodi dan muka yang teramat merusak pemandangan. Woi, bagian casting siapa sih? *gak santai*

4. Visual efeknya juga totally sinema laga di Indosiar. Makin diperparah dengan tata musik dari Tya Subiakto yang please, sangat merusak mood lantaran tidak sesingkron itu dengan jalan cerita. Bahkan agar terdengar keren saja tidak.

5. Tambahan: kalian akan melihat dengan sangat 'artistik' comotan adegan ketika Edward Cullen menyelamatkan Bella Swan dari mobil yang akan menabrak dalam Twilight.

Hell, betapa gue pengen jadi invisible man saking malunya membuang uang percuma demi tontonan tidak layak konsumsi seperti ini diantara lima orang lain yang ada dalam studio 4 dan sepertinya juga tidak niat menonton karena sibuk bermesraan dengan pasangan masing-masing. Persetan deh sama alibi yang dikeluarkan saat jumpa pers tentang kenapa tak ada prosesi screening atau gala premiere dengan alasan ingin memberikan kejutan pada penonton. Excuse me, kejutan yang mana ya? Atraksi paling nggak jelas yang dilakukan Limbad dan Deddy itu? Oh my evil, mending gue ngepel lantai bioskop!

Harusnya Hengky Kurniawan tidak perlu memasang namanya sebagai produser dengan sedemikian narsis. Alangkah lebih sopan jika dia memakai nama samaran seperti H. Kurniawan atau Hengky K agar tak memperburuk citra sebagai artis yang banting setir jadi produser dan memproduseri film gagal seperti ini. Itupun jika The Mentalist layak disebut film. Atau sinetron yang diputar di bioskop? Entahlah, biar waktu yang menjawab. Sekian.


Kehormatan Di Balik Kerudung [2011]


"Aku seperti daun kering yang menunggumu.." - Syahdu

Syahdu (Donita) memutuskan untuk mencari ketenangan batin setelah tersakiti oleh cinta di rumah sang kakek di Pekalongan. Dalam perjalanan kesana, tepatnya ketika menunggu kereta datang, dia bertemu dengan seorang wartawan bernama Ifand (Andhika Pratama) dan kemudian merasakan desir-desir aneh bernama cinta. Sayang pertemuan itu hanya sebentar dan tak ada alasan untuk berharap lebih jauh. Namun siapa yang sangka begitu sampai di tempat sang kakek, takdir malah mempertemukan mereka kembali. Dan cinta itupun berjalan mengikuti alurnya.

Awalnya memang indah, namun kedekatan Ifand dan Syahdu tak disukai warga setempat. Hingga sang kakek meminta Syahdu untuk menjauhi Ifand demi nama baiknya dan nama Syahdu sendiri. Terlebih ketika gadis-gadis kampung meminta Syahdu dengan halus untuk menjauhi Ifand demi Sofiya (Ussy Sulistiawaty), gadis setempat yang sudah lama mendambakan cinta Ifand. Tak tahan, Syahdu memilih kembali ke rumahnya. Apakah keputusan Syahdu tepat? Dan bagaimana kisah cinta antara dia dan Ifand yang sudah terjalin erat?

Kehormatan Di Balik Kerudung merupakan debut komposer kenamaan Indonesia bernama Tya Subiakto Satrio. Diadaptasi dari novel berjudul sama buah karya Ma’mun Affany yang sepertinya nggak begitu eksis. Bahkan nggak ada embel-embel ‘based on best seller book’ di poster seperti kebiasaan film Indonesia kekinian yang diangkat dari sebuah novel. Terlepas dari best seller atau nggak, apakah film produksi kesekian Starvision ini worthy untuk ditonton?

Dari segi cerita dan tema sepertinya udah basi ya. Hanya modifikasi dari novel cinta berbalut nuansa islami yang sudah diadaptasi lebih dulu. Cuma tinggal utak atik template, karakter dan setting cerita, jadi deh film baru. Sayangnya film ini nggak seniat film sejenis yang lebih dulu beredar tadi seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban atau Dalam Mihrab Cinta. Atau lebih baik nggak usah dibandingkan. Karena setelah diadaptasi, film ini telah kehilangan banyak hal. Bahkan unsur religi yang tertanam kuat dalam novelnya pun hilang nggak berbekas. Jadi jangan sebut Kehormatan Di Balik Kerudung sebagai drama reliji. Cukup drama cinta picisan yang dibuat bak sinetron. Atau lebih tepat drama komedi dengan dialog yang super-duper berlebihan. Serius? Komedi?

Amalia Putri sebagai penulis skenario kelihatan kurang begitu jeli menangkap inti cerita yang ada dalam novel. Atau asumsi gue dia menulis skenario secara on the spot alias jalan begitu ada dilokasi syuting. Kenapa gue bisa berasumsi kayak gini? Coba deh perhatiin betapa nggak singkronnya dialog-dialog dari scene ke scene yang dibuat sedikit sok nyastra itu. Kalo dialog sastranya dibuat dalam batas wajar sih nggak papa. Tapi karena terlalu sering bahkan hampir mendominasi, dialog tersebut membuat gue ketawa ngakak di atas ka’bah. Serius, dialognya tuh quotable yang lebay biadab dan absurd. Contohnya kayak gini:

Ifand: “Assalamuallaikum, Syahdu, ada apa?”
Syahdu: “Aku takut Ifand. Takut seperti embun yang hilang sebelum pagi datang.”

Gue langsung pasang ekspresi bingung tertampan ngedengernya (nggak usah dibayangin, please!). Bingung antara ingin tertawa atau gigit kursi bioskop. Parahnya dalam dialog selanjutnya nggak ada kalimat tanya dari Ifand seperti: “Apa maksud kamu Syahdu?”, sehingga Syahdu nggak perlu susah-susah pula menjelaskan kepada kita yang nggak henti dibuat mengernyitkan kening berkali-kali karena dialog semacam itu tetap ada hingga film selesai. Hell!

Dari segi akting, serius, bahkan saking ngefansnya sama Donita, nggak membuat gue untuk nggak ngelempar sandal liat aktingnya di film ini yang lebay jaya. Ekspresinya itu loh berlebihan. Coba apa deh maksud dia pasang ekspresi ketakutan begitu sampai pertama kali di rumah sang kakek dan ekspresi lebay lainnya yang nggak menjelaskan apapun. Setali tiga uang, Andhika Pratama juga melakukan hal serupa. Kalo nggak salah lihat, hampir tiap dia berbicara, kepalanya selalu dibuat miring-miring nggak jelas. Penghayatan atau emang ada masalah sama kepala lo Dik? Rasanya hanya Ussy yang berakting cukup normal meski karakter dia terlihat dangkal dan bodoh disini.

Lalu bagaimana dengan usaha Tya Subiakto dalam mengarahkan film pertamanya ini? Gue akui sinematografinya keren. Lanskap Bromo dapat tersaji sedemikian indah. Mungkin terlihat agak ke Nayato-Nayatoan mengingat lelembut satu ini bertindak sebagai DOP. Tapi ada beberapa part yang membuat filmnya berbeda meski pada akhirnya terpaksa memperlihatkan kedok yang Nayato banget. Nggak heran juga sih kalo banyak yang menyamakan. Dan nggak heran juga banyak yang berasumsi kalau film ini sebenarnya bikinan om Naya yang malu mengakui lalu memakai nama Tya Subiakto. Entahlah... biar Tuhan, Nayato, Tya, Chand Parwes dan Doraemon yang tahu (?)

Aduh, kayaknya gue terlalu kepanjangan deh reviewnya. At least, meski terlihat benar, nggak bisa dipungkiri kalau Kehormatan Di Balik Kerudung memiliki borok. Alur lompat-lompat. Plot hole bertebaran. Dialog najis tralala. Akting lebay. Tata musik annoying. Dan semua hal yang membuat judul film ini akan menjadi sebuah judul tanpa arti dan terlalu berat. Kehormatan? Kehormatan apa jeng?

NB: Kasian Ma’mun Affany adaptasi novelnya dibikin ancur kayak gini.

Pocong Minta Kawin [2011]


Guess what, siapa hantu paling eksis di Indonesia raya tercinta? Jawabannya nggak lain dan nggak bukan adalah POCONG. Sebagai setan yang memiliki ciri khas tersendiri dan hanya muncul di Indonesia saja, hantu berbungkus kain kafan ini sudah membuat sineas kita yang pada dasarnya memang suka kekeringan ide, semakin annoying dalam hal mengekplorasi genre horor dengan pocong sebagai pionir untuk menarik penonton ke bioskop.

Pocong Minta Kawin adalah film horor kesekian yang memakai judul pocong. Film horor kesekian yang membuat imej pocong sebagai hantu menyeramkan di Indonesia rusak. Film horor kesekian yang akhirnya harus masuk ke tempat sampah seperti film berjudul pocong-pocong sebelumnya. Film horor kesekian yang... what the F?

Ningsih (Chika Waode) adalah cewek yang mesti galau seumur hidup karena bergigi maju lima meter. Gara-gara itu pula calon suaminya membatalkan acara pernikahan mereka. Ketika sedang asyik curhat nasib diatap rumah susun, Ningsih dikagetkan oleh seruan Yuli Gaga (Julia Perez) yang malah membuatnya terjatuh dari atap dan meninggal. Nggak lama kemudian, empat mahasiswa kere sebut saja cowok A, B, C dan D, mencari kos murah dan menemukan bahwa kamar bekas Ningsih disewakan dengan harga meriah selangit. Dari sinilah teror Ningsih, pocong bergigi maju lima meter, di mulai.

Plotnya simpel. Plotnya basi. Dan coba tebak siapa penulis naskahnya. Oh my god, yes, Armantono. Tapi gue nggak yakin kalo ini hasil pikiran Armantono. Gue yakin banget kalo ini bualannya Harry Dagoe Suharyadi (HSD) aja biar filmnya bisa sedikit terangkat. Mengingat track record Armantono sangat jarang menulis skrip untuk genre horor. Tapi gatau lagi sih kalau dia maksa-maksa nulis horor sehingga jadinya ancur kayak gini. Buktinya PMK adalah kali kedua HSD dan Armantono duet setelah sampah lainnya bertajuk Di Kejar Setan.

Film ini disutradarai oleh Chiska Doppert. Merupakan film ketiga Jeng Chis setelah Ada Apa Dengan Pocong? Dan Tumbal Jailangkung. Lupakan judul Missing karena Jeng Chis memberikan konfirmasi  bahwa di film itu dia hanya bertindak sebagai asisten sutradara. Dan entah kenapa Nayato memakai namanya. Jadi cukup jelas, Missing adalah bagian dari sampah om Naya.

Meski ada kesamaan di bebeberapa part yang bisa dimaklumi secara dia udah bertahun-tahun kerja bareng sang guru, semakin kesini jeng Chis jelas memiliki teknik yang berbeda. Pembeda Nayato dan jeng Chis adalah dari standar eksplorasi dan tidak terlalu suka memakai pakem flashback yang menjadi kedigdayaan sang guru tersebut. Di satu sisi itu horor menjadi mudah dinikmati. Tapi disisi lain horor itu jadi kehilangan taji; yaitu rasa curiousity atas apa yang terjadi.

Dan hasilnya, Pocong Minta Kawin telah gagal menjadi horor ataupun horor komedi. Komedinya super garing level biadap. Sedang horornya sama sekali tidak menyeramkan. Lalu apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh proyek aji mumpung HDS ini jika pada akhirnya nyampah lagi-nyampah lagi? Apa dada Julia Perez? Apa gigi maju yang dipake Chika Waode? Atau akting kancrut ensemble castnya? Om my evil, please, mending HSD balik aja bikin film-film niat festival mengingat dia ga ada bakat eksis di genre ginian. Kayaknya HSD kurang belajar dari Di Kejar Setan. Atau entahlah... hanya Tuhan dan HSD yang tau. Seperti gue yang pengen boker di dalam bioskop gara-gara pas masuk studio liat poster resmi PMK dipajang dengan elegan. Terlebih lagi dengan tagline “gagal cuci centong, jadi pocong deh” yang sumpah najis abis. Bikin gue pengen sumpelin mulut HSD pake kancut mbak-mbak penjaga tiket. Ups..!

Perempuan² Liar [2011]


Tampaknya 2011 menjadi tahun sial bagi rumah produksi MVP Pictures. Gimana nggak sial kalo film-film yang mereka edarkan tahun ini hampir semuanya flop dipasaran. Lalu ada Perempuan² Liar yang sepertinya akan bernasib sama seperti Cewek Gokil, Cowok Bikin Pusing dan Mudik yang rilis terlebih dahulu.

Dom (Tora Sudiro) dan Mino (Dallas Pratama) adalah kakak beradik yang bekerja sebagai debt collector di Jakarta. Saat asyik melakukan ‘pesta perempuan’ di sebuah hotel, mereka berdua dipertemukan dengan Mey (Maeeva Amin), cewek yang sedang galau ditengah prosesi pernikahannya dengan Rocky (Gary Iskak), pria pilihan sang ayah yang tak dia cintai. Seolah mendapat kesempatan, bersama Cindy (Rina Diana), sang adik, Mey pun memaksa Dom dan Mino untuk membawa mereka kabur. Petualangan gila dan liar pun dimulai setelahnya.

Premis yang terlihat menarik? Jawabannya adalah tidak setelah melihat hasil keseluruhan film yang dibidani oleh Rako Prijanto ini. Lagi dan lagi. Sebuah proyek kekeringan ide. Proyek tambal sulam yang entah dengan tujuan apa dibuat kalo hasilnya nggak begitu menarik—parahnya lagi, almost nyampah. Lebih parah lagi, merupakan hasil mix and match dari beberapa film luar seperti The Hangover, American Pie 2, The Sweetest Thing, A Life Less Ordinary dan salah satu film korea yang judulnya nggak sempet gue inget.

Naskahnya ditulis oleh Raditya Mangunsong dan merupakan duet ketiganya dengan Rako Prijanto setelah menjiplak mentah-mentah komedi korea berjudul A Tale of Legendary Libido yang kemudian bertransformasi menjadi Penganten Sunat. Sedang Perempuan² Liar menjadi film ke 13 sang sutradara. Setelah debut lewat Ungu Violet yang ceritanya juga hasil jiplak dari music video solois wanita asal negeri ginseng bernama Kiss. Oh my evil, parah sekali fakta di balik filmografi orang-orang ini!

Oke, kalo dari sisi cerita udah super duper nggak beres, hal apalagi yang setidaknya bisa menarik penonton untuk berbondong menyaksikan film ini? Sebenernya gue ragu sih bilang, tapi mungkin hanya adegan buka-bukaan ga niat antara Maeeva Amin dan Rina Diana dengan muka standard itu saja yang bisa menarik penonton terutama laki-laki. Bahkan kehadiran Tora dan Dallas sangat tidak menarik minat wanita. Satu karena akting mereka kancrut. Dua, karena mereka sudah bosan dengan muka yang itu-itu aja. Selebihnya, mending uangnya ditabung untuk keperluan yang lebih worth it. Semisal, beliin gue pulsa gitu. Pasti pahala kalian nambah deh hehehe…

Terakhir, coba bandingkan poster film ini dengan poster film komedi romantis fenomenal asal Thailand: Hello Stranger!




Pacar Hantu Perawan [2011]


SELAMATKAN PERFILMAN INDONESIA DENGAN TIDAK MENONTON FILM-FILM BUSUK! TERUTAMA FILM KK DHEERAJ!


Lupakan soal jalan cerita karena demi gue yang ganteng ini, Pacar Hantu Perawan adalah film paling nggak berperi kemanusiaan yang adil dan beradap, yang pernah dibuat oleh hewan. Ups, maaf ya kalo kasar banget. Habis gue mesti marah sama siapa dong? Masa iya gue mesti nyalahin emak gue? Tetangga gue? Guru SD gue? Nggak, nggak, gue pasti nyalahin lo, om E’ek Raj. Karena pada titik ini elo udah beneran keterlaluan. Lo udah melakukan pembodohan masal. Dan mempermalukan muka lo sendiri. Dan menyeret-nyeret muka perfilman bangsa gue. Eh, ralat, gue lupa, om E’ek kan uda nggak punya muka ya. Pantesan...

Gue yakin film ini dibikin tanpa naskah. Kalopun iya, palingan naskahnya cuma satu yang sebenarnya kosong karena sebelum take adegan, sang sutradara (sebut saja Yoyok Dumprink ;Red) dan tentu saja sang produser yang memakai kacamata kuda (sebut saja KKD ;Red) cuma memberi intruksi seperti berikut: “Heh banci kaleng, ntar lo pokoknya manja-manja aja ama Natha Narita. Trus buat lo Sisik (panggilan sayang KKD untuk Depe), lo ntar ngebacot sambil pasang ekspresi sensual biar taktik marketing kita yang bilang meki lo udah virgin lagi bisa kebukti! Dan terakhir buat kalian jeng Misa sama Jeng Vicky, ntar kalian ngikuti instruksi dari anak buah gue disana aja, maklum, gue gak bisa bacot inggris, Cint!”

Lalu bagaimana dengan departemen akting? Oh lupakan, hampir nggak ada yang bisa dibangga-banggain dari film ini. Dewi Perssik, makin lama aktingnya tuh makin apa banget deh. Mending lo baca koran aja di rumah. Pasangan ternajis abad ini, Natha Naritha dan Rafi Cinaoun, ya ampun, ga ada artis lain yang rada benaran dikit ya? Jonathan Frizzy, no komen ah. Maklum deh, aktor gak laku pengen eksis. Vicky Vette, kok gue agak gimana gitu ya liat payudara big size lo yang diekspos terlalu berlebihan. Mungkin selain akting Misa Campo yang kebetulan masih ada hubungan darah sama gue, hanya Olga Syahputra dengan bulu matanya yang rancak bana itu, yang bisa deh sedikit membuat gue tersenyum ala kadarnya. Selebihnya, ijinkan gue dengan segala kerendahan hati melempar tai gue ke layar bioskop! Dan menyuruh ke seluruh jaringan 21 untuk tidak memutar film ini!

Film ini sampah banget deh. Selain soal logika cerita yang begitu merendahkan intelijensia seorang manusia. Ada juga soal pemotongan adegan yang amat-sangat-sangat tidak berperikehewanan. Mungkin lebih ke soal gimana cara pihak LSF menyiasati agar film tai kayak gini bisa tayang. Hingga film yang emang dari asalnya udah menjijikan, terlihat makin menjijikan. Guess what, salah siapa? Tentu aja salah om E’ek. Karena berkat ketololannya, draft awal Pacar Hantu Perawan disensor habis-habisan sampe dia mesti melakukan syuting ulang untuk menambah durasi yang hilang hingga akhirnya durasi berjalan 70 menit lebih. Karena jelas dengan durasi 60 menit, pihak bioskop nggak akan mau memutar. Dan cara untuk mengakali adalah dengan memberi prolog kredit ternggak jelas dan terlama sepanjang hewan pernah membuat film.

Hell, demi keamanan dunia, please jangan tonton film ini. Cukup gue aja deh,toh gue kan niatnya nonton cuma buat review. Udah kalian tonton film bermutu aja. Jangan bikin E’ek Raj kesenengan karena filmnya laku. Karena kalo hal ini sampe terjadi, dia malah bakal lebih heboh memproduksi tai-tai lagi. Please ya, jangan di tonton. Biarkan om E’ek bangkrut dan membuka pabrik garmen aja. Setidaknya dia nggak perlu sok tau membuat film dengan insting bisnisnya yang patut diacungi jari tengah. Dari sini saja, bisa kita bandingkan bahwa Nayato akan langsung terlihat seperti Terrence Malick jika disejajarkan dengan E’ek Raj yang hanya tampak seperti seekor semut yang bentar lagi bakal gue injek-injek!

Sekali lagi, KK Dheeraj melemparkan tai di muka perfilman nasional. Tapi kali ini dengan dosis yang sudah tak bisa dimaafkan. Melebihi dosis nista pada film-film dia sebelumnya. Bikin gue terheran-heran dan serius mikir di gunung 2 hari 2 malam mengenai tingkah polah produser idiot hasil persilangan kuntilanak dan pocong satu ini. Apa sih maksud dia melakukan semua hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh manusia? Kalo memakai alasan demi memberikan kontribusi bagi perfilman tanah air, mending lo mencret aja di WC umum. Kalo pengen kaya tanpa memikirkan stigma apa yang di racunkan pada masyarakat Indonesia, yang sudah bosan dengan tontonan payudara kalo lewat internet saja mereka sudah puas dan nggak merasa di bodohi, mending lo mati aja buru-buru. Gara-gara ulah lo, penonton Indonesia semakin jengah dengan film bangsanya sendiri. Membuat mereka mengagung-agungkan produk luar negeri yang sudah jelas lebih segalanya. Dan yang paling parah lagi, menganak tirikan hal yang seharusnya mereka banggakan. Film Indonesia dipandang sebelah mata. Diacuhkan. Dilecehkan. Miris banget!

Badai Di Ujung Negeri [2011]


Badai (Arifin Putra) adalah seorang marinir yang ditugaskan menjaga pos perbatasan Indonesia di sebuah pulau di Laut Cina Selatan. Pada suatu hari ditemukan mayat perempuan yang membuat geger warga setempat. Hingga pandangan skeptis mereka terhadap tentara yang seringkali dianggap nggak penting, semakin menjadi. Peristiwa tersebut mempertemukan Badai dengan Joko (Yama Carlos), sahabat lama yang bertugas di kapal KRI. Sebagai sahabat, hubungan mereka tidaklah seakrab dulu karena suatu peristiwa di masa lalu.

Kehebohan kembali terjadi setelah ditemukan satu mayat anak kecil yang akhirnya membuat Badai merasa harus secepatnya bertindak sebelum ada korban selanjutnya, meski masalah cintanya dengan Anissa (Astrid Tiar) juga tengah mengalami cobaan. Berdasar petunjuk yang ditemukan pada tubuh mayat terakhir, Badai melakukan penyelidikan di pulau Bawah tanpa melapor pada atasannya, Lektkol Zein (Adrian Alim). Dari situlah terkuak bahwa sedang terjadi konspirasi yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Badai Di Ujung Negeri merupakan film terbaru arahan Agung Sentausa setelah cukup lama absen pasca membidani Garasi pada tahun 2006 silam. Lalu bagaimanakah konklusi akhir debut produksi Quanta Pictures yang bujetnya lumayan wow ini?

Dari segi akting nggak ada yang terlalu gimana. Yang jelas jauh dari kata mengecewakan. Arifin Putra tetap berakting sebagai pria dewasa sekaku dalam filmnya yang rilis pada bulan Mei berjudul Batas. Astrid Tiar yang memulai debut layar lebar dan Yama Carlos yang sudah banyak wara-wiri di berbagai judul film, tampil terlampau biasa. Namun akting Jojon rupanya mampu menjadi highlite tersendiri. Dimana dia begitu mumpuni melepas bayang-bayang sebagai komedian dan berakting serius sebagai sosok villain bernama Piter. Meski sebenarnya agak susah juga bagi kita untuk melupakan gimik yang sudah melekat erat pada pelawak bernama asli Djuri Masdjan itu.

Dari segi cerita, nasib film ini sejalan dengan Simfoni Luar Biasa. Terlalu banyak plot hole. Dan lagi-lagi, penulis naskahnya, Ari M. Syarief, tidak mau susah-susah untuk menjelaskan. Di dukung oleh penyutradaraan Agung Sentausa yang terbilang matang namun malah keasyikan menyajikan gambar-gambar cantik dengan bantuan sinematografer sekelas Padri Nadeak. Emang sih kerja mereka menampilkan sisi ekostik pulau Tanjung Pinang, dibalut dengan tone yang lembut dan tenang, membuat mata gue begitu terpesona. Apalagi pas adegan yang mengharuskan syuting di bawah air. Dua kata: speechless dan keren. Tapi tetep aja dibikin galau kalau kecantikan yang mereka sajikan tanpa dibarengi tendensi yang jelas.

Contoh kecil yang paling ganggu nih: apa alasan Anissa di culik oleh komplotan pembajak kapal tanker? Kalau jawaban untuk diselamatkan oleh Badai, salah besar! Karena Badai sendiri sedang sibuk dengan penyelidikannya di pulau Bawah. Disini terlihat ada penekanan seolah-olah Anissa penting banget harus di culik. Badai Di Ujung Negeri bukan film yang diangkat dari komik Marvel kan? Yang mana tokoh utama harus bertindak bak superhero kesiangan dan harus menyelamatkan sang kekasih? Seenggaknya kalo memang mau dibuat seperti itu, harus ada penjelasan yang lebih masuk akal dong.

Belum lagi eksekusi action dan adegan akhir terlihat kurang matang aja. Entah kenapa pada bagian ini gue merasa anti klimaks. Mungkin karena nurut sama kode etik bla-bla-bla, adegan di tengah laut itu terlihat kering kerontang dan nggak bernyawa. Ibarat lagi mau nyalain petasan, eh tiba-tiba apinya mati. Kecewa banget kan? Beruntung masih ada Thoersi Argeswara yang sekali lagi bikin gue merinding dengan tata musiknya setelah trilogi Merah Putih.

At least, meski hasilnya masih jauh dari kata sempurna, gue nggak sungkan untuk ngacungin empat jempol buat debut produksi Quanta Pictures yang sudah berani mengambil konsekuensi ditengah percaturan film nasional dengan ide yang nggak pernah berkembang dari tema yang ini lagi-ini lagi tanpa perubahan berarti. Jelas, butuh keberanian besar membuat film dengan tujuan menentang tren. Dan nggak salah jika apresiasi lebih patut kita berikan.

Simfoni Luar Biasa [2011]


"And I'm flying into the night. Flying into the sky. And go higher and higher again...." - Jayden

Sebagian orang mungkin akan mengira jika karya terbaru dari Awi Suryadi ini merupakan kloningan film Perancis berjudul Les Choristes yang rilis pada tahun 2004 dan memakai judul The Chorus untuk peredaran internasional. Nyatanya, Simfoni Luar Biasa memiliki jalan cerita yang berbeda. Kalaupun nantinya ada kesamaan sedikit, wajar deh ya.

Jayden (Christian Bautista) adalah seorang musisi berbakat yang karirnya stuck di tempat. Masalahpun datang bertubi-tubi dalam hidupnya. Dimulai dari penjualan album yang mengenaskan, perform panggung yang dilabeli dengan kata “garing”, hingga diusir paksa dari apartemen lantaran nggak mampu bayar uang sewa. Mengikuti saran dari sang tante yang bernama Helena (Maribeth), Jayden pun meninggalkan Manila, tempat dimana dia tumbuh besar. Jayden memilih untuk tinggal di Jakarta bersama Marlina (Ira Wibowo), sosok ibu yang selama bertahun-tahun meninggalkan dia tanpa alasan yang jelas.

Di Jakarta, Jayden memulai hidup dari nol. Awalnya memang tidak mudah. Namun sifat welcome dari keluarga baru rupanya mampu mempermudah proses adaptasi tersebut. Termasuk dalam mengambil keputusan menjadi guru musik di sekolah luar biasa yang dibina oleh yayasan Ibunya. Mampukah Jayden membawa perubahan dalam hidupnya? Dan tentu saja perubahan bagi anak-anak cacat yang diasuhnya?

Actually, film ini menawarkan premis yang cukup menarik. Apalagi ada nama Christian Bautista yang jelas jadi selling point utama. Tapi rupaya Awi Suryadi, tidak mampu mengkoordinir apa yang ada dengan baik. Sehingga film yang diharapkan bisa menginspirasi banyak orang, malah cenderung datar dan mudah dilupakan.

Pelantun tembang The Way You Look At Me ini sebenarnya mampu berakting dengan baik. Tapi nyatanya, dari awal film dimulai hingga kredit akhir, gue sama sekali nggak tau apa yang dilakuin sama Christian Bautista selain plonga-plongo tanpa ekspresi dan emosi. Padahal jajaran pendukung sudah bersusah payah membangun karakter dengan sedemikian kuat. Sebut saja Ira Maya Sopha, Sophie Navita, Gista Putri sampai Verdi Solaiman. Tapi apa daya, nggak ada jalinan chemistry yang terbangun dengan baik gegara pemenang Philippine Idol tersebut. Membuat pemain lain sepertinya sudah membuang-buang bakat mereka. Sori bagi yang ngefans sama Christian Bautista. Gue nggak sentimen kok sama dia. Tapi aktingnya emang biasaaaa banget!

Hal ini diperparah dengan naskah olahan Awi Suryadi dan Maggie Tiojakin yang penuh lubang disana-sini. Dan mereka tampak tidak terlalu capek-capek untuk menambal bagian yang bolong itu. Hal ini yang akhirnya membuat Simfoni Luar Biasa nggak bisa tampil dengan sempurna. Banyak hal yang begitu mengganggu jika kalian mau mencermati. Seperti bagaimana proses anak-anak cacat ini bisa seajaib itu menghafalkan lagu berbahasa inggris. Lalu bagaimana pula seorang labil seperti Jayden bisa membuat harmonisasi nada dengan begitu cepat padahal scene sebelumnya membuat bocah-bocah penderita disabilitas ini menurut saja, Jayden nampak kesusahan. Belum lagi penyelesaian banyak konflik yang (lagi-lagi) semudah membalikan telapak tangan. Sebut saja konflik antara Jayden dengan Dimas yang diperankan dengan baik oleh Verdi Solaiman. Tapi nggak usah heran deh. Ini kan kebiasaan perfilman kita? Bener kan? Makanya nggak salah jika kesan akhir dari produksi terbaru Delon Tio ini terlihat sangat terburu-buru.

Beruntungnya eksekusi seada-adanya saja a la Awi Suryadi setelah menyampah dengan Pengantin Topeng tahun lalu, tertutupi oleh muskalitas dari anak-anak kecil yang sumpah, bikin gue merinding disko. Ya, merinding, karena vokal mereka bener-bener gokil!

Meski jauh dari kata memuaskan, apalagi dengan poster resmi yang sangat tidak menjual, Simfoni Luar Biasa tetaplah bisa menjadi alternatif tontonan Indonesia yang berbeda. Cukup mampu memberi warna ditengah serbuan film dengan tema yang nggak bisa jauh dari kata kunti dan pocong. Dan sensualitas bodi cewek.

Masih Bukan Cinta Biasa [2011]


“Voni Vino, nggak mau susah banget sih mamamu kasih nama?!” – Tommy

Kisah berlangsung satu tahun pasca kejadian dalam predesornya. Kini Tommy (Ferdy Taher) berubah menjadi rocker insyaf. Dia bukan lagi vokalis The Boxis karena Lintang (Wulan Guritno), sang istri, melarang Tommy nge-band lagi. Alhasil, kerjaan Tommy tiap hari hanya menjadi penjaga rumah selagi istri dan anak gadisnya yang bernama Niki (Olivia Jensen) sibuk dengan urusan masing-masing di kantor dan sekolah.

Pada suatu hari ketenangan dalam rumah tangga Tommy berubah 180 derajat ketika datang sosok pemuda dengan style berandal bernama Vino (Axel Andaviar) yang mengaku sebagai anak dari Tommy. Benarkah dia anak Tommy? Kalau memang benar, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Lintang dan Niki menerima Vino jika memang dia anak kandung dari sosok rocker tobat tersebut?

Masih Bukan Cinta Biasa memang masih menawarkan hal yang tak jauh beda dari prekuelnya. Masih memiliki kisah yang serupa. Serta masih dibintangi oleh pemain yang sama pula. Bahkan, sampai ke jajaran bintang tamunya! Lalu, jika memang seperti ini, apa yang sebenarnya ingin ditawarkan dari film yang naskahnya ditulis dan disutradarai oleh sineas bernama Benni Setiawan ini? Lupakan premis yang sebelas-dua belas dengan Bukan Cinta Biasa. Toh, film produksi ketiga Wanna B Pictures ini tetap layak menjadi hiburan.

Meski 60% durasi diisi dengan adegan serupa tapi tak sama, Masih Bukan Cinta Biasa tetap memiliki beberapa poin yang seru untuk dilihat. Pertama poin drama yang lumayan menyentuh. Iya, mata gue berkaca-kaca melihat suasana sentimentil yang berhasil diciptakan oleh Benni Setiawan dengan baik. Apalagi tone film yang dibuat sedemikian soft. Kedua, poin komedinya yang lumayan bikin tertawa meski nggak sampe ngakak kayang ke Afrika.

Malangnya, meski sudah agak gue puji-puji, film ini masih juga memiliki cacat yang lumayan ganggu bagi gue. Pertama soal perkembangan antar karakter yang stuck di jalan. Bahkan demi ambisi membuat kisah semakin menarik dan beda, Benni menenggelamkan karakter sentral Niki yang jadi penguasa pada film pertama. Diganti dengan sosok annoying dari Vino dengan progres karakter flat yang terkadang nggak menarik untuk diikuti. Kedua soal baju seragam Niki. Hell, terserah kalian mau bilang gue kurang kerjaan atau apa. Tapi hal ini sedikit banyak mengganggu mata gue. Bukankah pada Bukan Cinta Biasa seragam sekolahnya berwarna merah marun? Lalu kenapa sekarang jadi putih abu-abu? Pindah sekolah? Kenapa nggak pake kostum lama aja sih demi menyempurnakan kontinuitas? Dan kenapa nggak dijelaskan kalo memang pindah? Ketiga, unsur tearjerker yang ditawarkan terbilang over the top. Nggak perlu kaleee dilama-lamain. yang ada jadi aneh juga bawaannya! Keempat, posternya yang SHIIIT, itu siapa yang bikin? Ngeditnya ngasal banget. Gue yakin banget itu bukan kesengajaan! Coba perhatikan lengan Ferdy Taher yang terjepit sosok Olivia dan Axel. Dan silahkan benturkan kepala anda ke tembok!

Anyway, dibalik kekurangan tersebut, gue masih menikmati film ini kok ketimbang predesornya. Gue enjoy lihatnya, duduk santai dikursi sambil beberapa kali mengernyitkan dahi sedikit dan sesekali menahan tangis. Lebih untung lagi gue nggak mengeluarkan handphone dari tas untuk live tweet di twitter seperti biasa. Bukan, bukan karena gue begitu terbius akan kisahnya. Tapi sinyal SOS di dalam studio 4 membuat hidup kedua gue itu nggak berguna sesaat -___-

Rating 5.9/10
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...