Showing posts with label Horror. Show all posts
Showing posts with label Horror. Show all posts

Pulau Hantu 3 [2012]


Ngomongin soal Jose Poernomo nggak bisa lepas dari masterpiece-nya berjudul Jelangkung bareng Rizal Mantovani yang menjadi salah satu tonggak kebangkitan perfilman kita. Tapi setelah ‘horor-bener’ bertajuk Angkerbatu-nya gagal dipasaran, Jose banting setir membuat film horor-seksi beberapa bulan setelah merilis film yang menjadikan setan sebagai zombie tersebut.

Premis yang ditawarkan Pulau Hantu (2007) memang nggak seoriginal itu. Tapi dari sini Jose seolah menemukan nafas baru untuk kemudian dilanjutkan oleh para pengekor dengan kualitas murahan. Terbukti Pulau Hantu emang sukses besar bahkan menjadi salah satu dari 10 film terlaris rilisan 2007 dengan raihan 650.000 penonton. Nggak heran jika kemudian muncul sekuelnya bertajuk Pulau Hantu 2 di tahun 2008.

Kini, setelah tiga tahun berlalu, dan ditunggu-tunggu sebagian penikmat film kategori vividism seperti ini, Jose Poernomo kembali melanjutkan kisah Pulau Madara dengan tambahan angka 3 di belakangnya. Tetap memakai formula yang sama, sajian horor berbumbu tampilan dada dan paha para wanita cantik. Bedanya, jika antara predesor dengan sekuelnya masih memiliki keterkaitan, sekuel kedua ini tampaknya hanya dibuat untuk bersenang-senang. Jalinan plot tak teratur dan scene demi scene yang tak mempunyai kolerasi satu sama lain membuat siapapun bisa dengan mudah menduga kalau usaha Jose dan Punjabi grup hanya untuk mengeruk keuntungan.

Basicly, untuk urusan ‘mempermainkan’ penonton, gue lebih suka cara Jose dalam mendirect Pulau Hantu 3 dibanding seri sebelumnya. Tapi dari segi kedalaman cerita dan pernak-perniknya, gue merasa seri ini adalah seri terburuk atau seharusnya nggak perlu ada.

Emang sih gue menikmati film ini. Di satu sisi gue seneng, mencak-mencak kegirangan. Disisi lain gue merasa kasihan sama filmmaker kayak gini yang baru di awal tahun udah nyampah aja. Selain tampilan bodi-bodi yang dahsyat, kita bakalan disuguhi dengan akting kacrut dari para pemain dan kegaringan skenario yang levelnya udah biadab banget. Unsur komedi yang harusnya menjadi highlight seri ini terlihat kering dan maksa. Lihat saja durasi-durasi awal yang kriuk to the max. Bikin gue pengen banget stand up comedy di depan Jose soal bagaimana menyajikan komedi yang mengakak kayangkan penonton. Itupun dengan catatan gue udah sukses berguru sama Olga Syahputra lhoo. Eh, ini kenapa jadi out of the topic gini sih?

At least, gue menganggap keseruan menonton Pulau Hantu 3 sebagai gulity pleasure meski sedikit terganggu dengan cara pemotongan LSF yang nggak banget. Mungkin gue juga harus masuk LSF agar mereka tau bagaimana cara sensor yang baik dan benar tanpa menghilangkan esensi dan nggak terkesan amatir. Gue nggak ngedukung kekecewaan Jose mengingat filmnya dipotong beberapa menit karena emang nggak worth it. Tapi sebagai penikmat film, yang nonton ke bioskop bayar, gue nggak mau pemotongan adegan terjadi dengan tidak elegan kayak proses sensor di tivi.

By the way, kenapa posternya jadi turun derajat ya? Kayaknya gue juga perlu bikinin poster biarrr—

*Tulisan sengaja terpotong karena review isinya kebanyakan menyombongkan diri. Which is hal itu nggak boleh dilakukan oleh seorang manusia yang unyu seperti gue. Salam Super!

Bukan Pocong Biasa [2011]


Menonton film horor Indonesia kini sangatlah menjengkelkan. Tema yang diambil itu-itu mulu. Pocong lagi pocong lagi dengan segala pernak pernik judul corny. Hampir serupa tapi tak sama. Parahnya, terkadang nggak ada yang diutak-atik selain pemain dan sutradara. And then, Bukan Pocong Biasa termasuk salah satunya.

Honestly, entah kenapa gue males banget mereview film ini begitu tahu hasil akhirnya yang sangat mengecewakan. Bahkan saking hopelessnya, gue berniat untuk tidak mereviewnya. Untuk apa? Untuk sekedar menambah jumlah postingan? Sepertinya begitu #eh. Untungnya gue segera sadar diri dan langsung ngebacot apaan deh meski hype filmnya sendiri sudah menghilang lantaran karya ke lima Chiska Doppert di tahun 2011 ini emang, gitu deh...

Tak perlu berpanjang lebar dengan membuat sinopsis, hal repetitif kayak gini sudah sangat menyiksa mental. Okelah, ini film niatnya menghibur. Tapi kalo hasilnya nggak menghibur gimana coba? Siapa yang mesti gue salahin? Emak gue? Tetangga-tetangga gue? Beberapa kali gue mencoba berpikir positif kalo Zaky Zimah itu layaknya Mr.Bean yang hanya dengan melihat muka najisnya saja gue bakal ketawa. Tapi Mr.Bean dan Zaky adalah sosok yang jelas berbeda. Ibarat bumi dan langit, seberusaha keras apapun Zaky melucu, film ini akan tetap garing karena lawakan dia yang repetitif tadi. Lawakan memakai mimik bego apalah itu. Not works, dude! Kalo perlu gue lempar deh sepatu gue yang udah bolong-bolong ini ke layar saking sebelnya. Sebodo dengan hasil akhir gue dilempar keluar petugas dari studio 4 Matos 21.

Terus lagi, tiga pocong dengan pemeran pocong utama yang mukanya sekilas mirip Aming, bahkan lebih menyeramkan dari Aming secara harfiah, sangat tidak membantu membuat film ini mengakak kayangkan penonton unyu seperti gue. Apalagi penonton lain yang sepanjang durasi hampir nggak ada yang ketawa sama sekali. Nggak heran sih, triple kriuk gini... Yang ada malah bikin gue jadi pengen ngelempar tas gue ke layar. Oke, sepatu dan tas gue udah jadi korban lho. Lalu apalagi? Apa perlu hape dan baju juga ikutan gue lempar? Eh, sabar Bee.. Sabar. Inget pencitraan!

Well, yakin deh kalo gini terus, film Indonesia bakalan stuck di tempat. Kenapa sih nggak bikin komedi yang lebih elegan. Yang lebih bermutu gimana gitu daripada film kek gini? Memang sih setingkat lebih baik dari film Nayato atau KKD. Tapi tetep aja hasilnya memuakan!

Semoga tahun depan nggak ada film model ginian lagi. Perlu ditekankan aja, penonton udah jenuh lho dengan hal-hal usang seperti ini. Kenapa nggak kepikiran untuk bikin sesuatu yang fresh from the oven. Bukan mengekor sesuatu yang sebenarnya udah basi level biadab. Kasian juga kalo udah bikinnya susah, keluar duit banyak, tapi nggak begitu laku amat di pasar. Iya kan? And please stop mempelesetkan judul film lagi. Cukup Ada Apa Dengan Cinta?, Kejarlah Daku Kau Kutangkap dan Bukan Cinta Biasa. Jangan sampe tahun depan gue lihat ada film judulnya Poconggg Di Dadaku dengan pemeran Jupe yang boobsnya memang begitulah. Karena gue bakal melempar diri sendiri ke bulan dengan senang hati. Sekian curhat hari ini.

The Perfect House [2011]


“Anda tidak kenal dengan cucu saya Nak Julie...” ~ Madam Rita

The Perfect House adalah film keempat arahan Affandi Abdul Rahman, salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Indonesia. Memulai debut lewat Pencarian Terakhir yang cukup dapat beragam tanggapan positif. Setelah dua tahun berturut membidani dwilogi komedi romantis pasca debut, ditahun ini dia kembali mengangkat sebuah film dengan genre jarang terjamah yang melambungkan namanya di ranah scene lokal: thriller berbumbu psikologis.

Rencana cuti satu bulan yang telah lama diidamkan terpaksa Julie (Cathy Sharon) tunda lantaran harus menggantikan Lulu, private tutor satu agensi, yang kabur ketika mengajar di tempat Madam Rita (Bella Esperence). Awalnya Julie memang menolak, bahkan tidak berminat. Tapi setelah merasa memiliki kenangan silam yang sama dengan Januar (Endy Arfian), cucu Madam Rita, calon murid barunya, diapun mengiyakan tawaran dari atasannya tersebut. Tak masalah, meski jarak yang cukup jauh mengharuskan Julie untuk ikut tinggal di rumah besar bergaya Belanda milik kliennya itu.

Di hari pertama bekerja, sudah terlalu banyak perintah yang harus Julie patuhi. Termasuk mengiyakan peraturan yang tak masuk diakal. Makin lama tinggal, Julie merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan pemilik rumah. Terutama perlakuan Madam Rita kepada sang cucu yang terlampau protektif tanpa dibarengi dengan tendensi yang jelas. Dan hal itu membuat Julie tak mau tinggal diam. Pelan-pelan dia berusaha menguak misteri yang tercecer di sekitarnya. Semakin berhasil menguak satu persatu misteri, semakin dekat saja kematian menghampiri Julie. Sanggupkah Julie bertahan?

Actually, untuk ukuran pecinta film sejati, apa yang ditawarkan The Perfect House bukanlah sesuatu yang baru. Plot seperti ini sudah sering kita temui di film-film luar. Tapi untuk Indonesia, bolehlah kita sedikit memberi applause. Daripada disuguhi sajian membosankan dan repetitif horor kacrut yang tetep saja tak pernah kehilangan penonton, film yang sempat jadi official selection di Puchon ini mampu memberi nuansa baru yang cukup mengembirakan dengan tampilan dan cita rasa kelas internasional.

Sayangnya, The Perfect House tak sesempurna judulnya. Memang, memang bukan film yang sempurna yang gue cari. Hadir dengan kualitas diatas rata-rata saja sudah lebih dari cukup. Tapi tak dapat dipungkiri kalau ketidak sempurnaan itu cukup mengganggu kenikmatan menonton.

Seperti biasa, naskah cerita jadi kendala utama. Diberbagai sisi, skenario olahan Affandi Abdul Rahman dan Alim Sudio terlihat kurang matang. Sehingga banyak menimbulkan plot hole yang cukup mengganggu. Bahkan twist yang seharusnya terjaga diakhir harus rela kita ketahui dimenit-menit awal. Belum lagi semakin mendekati penutup, semakin kita dibuat bertanya-tanya tentang tujuan adegan demi adegan yang tak terjawab hingga film berakhir. Salah jika ingin menjadi sajian cerdas disaat penonton kita maunya nonton yang horor ringan. Minimal diberikan konklusi akhirlah. Itu saja lebih dari cukup. Hingga kekecewaan pun bisa sedikit terobati.

Beruntung gue nonton film ini bersama sutradara dan Vera lasut selaku produser. Jadi gue sempet mencetuskan beberapa pertanyaan yang dengan berani ditanyakan teman gue ketika dibuka sesi Q and A. Dan gue agak kaget dengan reaksi mereka yang terlihat kebingungan menjawab. Kemungkinan, masih kemungkinan, akan ada sekuel (atau prekuel) yang nantinya bisa menjadi jembatan rasa tidak puas penonton atas ceritanya. Itupun jika The Perfect House sukses. Tapi melihat kenyataan jumlah penonton sekarang, rasanya impossible harapan untuk mewujudkan hal itu meski segala kemungkinan selalu ada.

Terlepas dari hal diatas, The Perfect House tetaplah film bermutu dengan tampilan diatas rata-rata film nasional. Affandi dan Faozan Rizal, selaku sinematografer, mampu membuat gue nyaman dengan gambaran creepy yang disajikan lewat tone yang lembut. Didukung musik besutan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang mampu memacu adrenalin dibeberapa partnya. Sedang untuk urusan akting, lumayan lah. Kerja sama Cathy dan Bella pasca Hantu Bangku Kosong sedikit mengalami peningkatan yang signifikan. Terakhir, salut untuk spesial efek di ending cerita yang gokil banget. Bahkan sempet menutup mata saking ga tega ngelihat apa yang disajikan Affandi dengan begitu awesome dibarengi tone cerah ceria bermandikan darah. Sick!

IMO: Bisa gue bilang kalo poster The Perfect House adalah salah satu poster thriller Indonesia terkreatif yang pernah gue lihat. Coba perhatikan bentuk judulnya yang meski dibolak-balik akan tetap terbaca sama.

Pocong Minta Kawin [2011]


Guess what, siapa hantu paling eksis di Indonesia raya tercinta? Jawabannya nggak lain dan nggak bukan adalah POCONG. Sebagai setan yang memiliki ciri khas tersendiri dan hanya muncul di Indonesia saja, hantu berbungkus kain kafan ini sudah membuat sineas kita yang pada dasarnya memang suka kekeringan ide, semakin annoying dalam hal mengekplorasi genre horor dengan pocong sebagai pionir untuk menarik penonton ke bioskop.

Pocong Minta Kawin adalah film horor kesekian yang memakai judul pocong. Film horor kesekian yang membuat imej pocong sebagai hantu menyeramkan di Indonesia rusak. Film horor kesekian yang akhirnya harus masuk ke tempat sampah seperti film berjudul pocong-pocong sebelumnya. Film horor kesekian yang... what the F?

Ningsih (Chika Waode) adalah cewek yang mesti galau seumur hidup karena bergigi maju lima meter. Gara-gara itu pula calon suaminya membatalkan acara pernikahan mereka. Ketika sedang asyik curhat nasib diatap rumah susun, Ningsih dikagetkan oleh seruan Yuli Gaga (Julia Perez) yang malah membuatnya terjatuh dari atap dan meninggal. Nggak lama kemudian, empat mahasiswa kere sebut saja cowok A, B, C dan D, mencari kos murah dan menemukan bahwa kamar bekas Ningsih disewakan dengan harga meriah selangit. Dari sinilah teror Ningsih, pocong bergigi maju lima meter, di mulai.

Plotnya simpel. Plotnya basi. Dan coba tebak siapa penulis naskahnya. Oh my god, yes, Armantono. Tapi gue nggak yakin kalo ini hasil pikiran Armantono. Gue yakin banget kalo ini bualannya Harry Dagoe Suharyadi (HSD) aja biar filmnya bisa sedikit terangkat. Mengingat track record Armantono sangat jarang menulis skrip untuk genre horor. Tapi gatau lagi sih kalau dia maksa-maksa nulis horor sehingga jadinya ancur kayak gini. Buktinya PMK adalah kali kedua HSD dan Armantono duet setelah sampah lainnya bertajuk Di Kejar Setan.

Film ini disutradarai oleh Chiska Doppert. Merupakan film ketiga Jeng Chis setelah Ada Apa Dengan Pocong? Dan Tumbal Jailangkung. Lupakan judul Missing karena Jeng Chis memberikan konfirmasi  bahwa di film itu dia hanya bertindak sebagai asisten sutradara. Dan entah kenapa Nayato memakai namanya. Jadi cukup jelas, Missing adalah bagian dari sampah om Naya.

Meski ada kesamaan di bebeberapa part yang bisa dimaklumi secara dia udah bertahun-tahun kerja bareng sang guru, semakin kesini jeng Chis jelas memiliki teknik yang berbeda. Pembeda Nayato dan jeng Chis adalah dari standar eksplorasi dan tidak terlalu suka memakai pakem flashback yang menjadi kedigdayaan sang guru tersebut. Di satu sisi itu horor menjadi mudah dinikmati. Tapi disisi lain horor itu jadi kehilangan taji; yaitu rasa curiousity atas apa yang terjadi.

Dan hasilnya, Pocong Minta Kawin telah gagal menjadi horor ataupun horor komedi. Komedinya super garing level biadap. Sedang horornya sama sekali tidak menyeramkan. Lalu apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh proyek aji mumpung HDS ini jika pada akhirnya nyampah lagi-nyampah lagi? Apa dada Julia Perez? Apa gigi maju yang dipake Chika Waode? Atau akting kancrut ensemble castnya? Om my evil, please, mending HSD balik aja bikin film-film niat festival mengingat dia ga ada bakat eksis di genre ginian. Kayaknya HSD kurang belajar dari Di Kejar Setan. Atau entahlah... hanya Tuhan dan HSD yang tau. Seperti gue yang pengen boker di dalam bioskop gara-gara pas masuk studio liat poster resmi PMK dipajang dengan elegan. Terlebih lagi dengan tagline “gagal cuci centong, jadi pocong deh” yang sumpah najis abis. Bikin gue pengen sumpelin mulut HSD pake kancut mbak-mbak penjaga tiket. Ups..!

Pacar Hantu Perawan [2011]


SELAMATKAN PERFILMAN INDONESIA DENGAN TIDAK MENONTON FILM-FILM BUSUK! TERUTAMA FILM KK DHEERAJ!


Lupakan soal jalan cerita karena demi gue yang ganteng ini, Pacar Hantu Perawan adalah film paling nggak berperi kemanusiaan yang adil dan beradap, yang pernah dibuat oleh hewan. Ups, maaf ya kalo kasar banget. Habis gue mesti marah sama siapa dong? Masa iya gue mesti nyalahin emak gue? Tetangga gue? Guru SD gue? Nggak, nggak, gue pasti nyalahin lo, om E’ek Raj. Karena pada titik ini elo udah beneran keterlaluan. Lo udah melakukan pembodohan masal. Dan mempermalukan muka lo sendiri. Dan menyeret-nyeret muka perfilman bangsa gue. Eh, ralat, gue lupa, om E’ek kan uda nggak punya muka ya. Pantesan...

Gue yakin film ini dibikin tanpa naskah. Kalopun iya, palingan naskahnya cuma satu yang sebenarnya kosong karena sebelum take adegan, sang sutradara (sebut saja Yoyok Dumprink ;Red) dan tentu saja sang produser yang memakai kacamata kuda (sebut saja KKD ;Red) cuma memberi intruksi seperti berikut: “Heh banci kaleng, ntar lo pokoknya manja-manja aja ama Natha Narita. Trus buat lo Sisik (panggilan sayang KKD untuk Depe), lo ntar ngebacot sambil pasang ekspresi sensual biar taktik marketing kita yang bilang meki lo udah virgin lagi bisa kebukti! Dan terakhir buat kalian jeng Misa sama Jeng Vicky, ntar kalian ngikuti instruksi dari anak buah gue disana aja, maklum, gue gak bisa bacot inggris, Cint!”

Lalu bagaimana dengan departemen akting? Oh lupakan, hampir nggak ada yang bisa dibangga-banggain dari film ini. Dewi Perssik, makin lama aktingnya tuh makin apa banget deh. Mending lo baca koran aja di rumah. Pasangan ternajis abad ini, Natha Naritha dan Rafi Cinaoun, ya ampun, ga ada artis lain yang rada benaran dikit ya? Jonathan Frizzy, no komen ah. Maklum deh, aktor gak laku pengen eksis. Vicky Vette, kok gue agak gimana gitu ya liat payudara big size lo yang diekspos terlalu berlebihan. Mungkin selain akting Misa Campo yang kebetulan masih ada hubungan darah sama gue, hanya Olga Syahputra dengan bulu matanya yang rancak bana itu, yang bisa deh sedikit membuat gue tersenyum ala kadarnya. Selebihnya, ijinkan gue dengan segala kerendahan hati melempar tai gue ke layar bioskop! Dan menyuruh ke seluruh jaringan 21 untuk tidak memutar film ini!

Film ini sampah banget deh. Selain soal logika cerita yang begitu merendahkan intelijensia seorang manusia. Ada juga soal pemotongan adegan yang amat-sangat-sangat tidak berperikehewanan. Mungkin lebih ke soal gimana cara pihak LSF menyiasati agar film tai kayak gini bisa tayang. Hingga film yang emang dari asalnya udah menjijikan, terlihat makin menjijikan. Guess what, salah siapa? Tentu aja salah om E’ek. Karena berkat ketololannya, draft awal Pacar Hantu Perawan disensor habis-habisan sampe dia mesti melakukan syuting ulang untuk menambah durasi yang hilang hingga akhirnya durasi berjalan 70 menit lebih. Karena jelas dengan durasi 60 menit, pihak bioskop nggak akan mau memutar. Dan cara untuk mengakali adalah dengan memberi prolog kredit ternggak jelas dan terlama sepanjang hewan pernah membuat film.

Hell, demi keamanan dunia, please jangan tonton film ini. Cukup gue aja deh,toh gue kan niatnya nonton cuma buat review. Udah kalian tonton film bermutu aja. Jangan bikin E’ek Raj kesenengan karena filmnya laku. Karena kalo hal ini sampe terjadi, dia malah bakal lebih heboh memproduksi tai-tai lagi. Please ya, jangan di tonton. Biarkan om E’ek bangkrut dan membuka pabrik garmen aja. Setidaknya dia nggak perlu sok tau membuat film dengan insting bisnisnya yang patut diacungi jari tengah. Dari sini saja, bisa kita bandingkan bahwa Nayato akan langsung terlihat seperti Terrence Malick jika disejajarkan dengan E’ek Raj yang hanya tampak seperti seekor semut yang bentar lagi bakal gue injek-injek!

Sekali lagi, KK Dheeraj melemparkan tai di muka perfilman nasional. Tapi kali ini dengan dosis yang sudah tak bisa dimaafkan. Melebihi dosis nista pada film-film dia sebelumnya. Bikin gue terheran-heran dan serius mikir di gunung 2 hari 2 malam mengenai tingkah polah produser idiot hasil persilangan kuntilanak dan pocong satu ini. Apa sih maksud dia melakukan semua hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh manusia? Kalo memakai alasan demi memberikan kontribusi bagi perfilman tanah air, mending lo mencret aja di WC umum. Kalo pengen kaya tanpa memikirkan stigma apa yang di racunkan pada masyarakat Indonesia, yang sudah bosan dengan tontonan payudara kalo lewat internet saja mereka sudah puas dan nggak merasa di bodohi, mending lo mati aja buru-buru. Gara-gara ulah lo, penonton Indonesia semakin jengah dengan film bangsanya sendiri. Membuat mereka mengagung-agungkan produk luar negeri yang sudah jelas lebih segalanya. Dan yang paling parah lagi, menganak tirikan hal yang seharusnya mereka banggakan. Film Indonesia dipandang sebelah mata. Diacuhkan. Dilecehkan. Miris banget!

Ada Apa Dengan Pocong? [2011]


"Dimana-mana dukun mintanya primbon, bukan kamus," - Boy

Gue agak lupa gimana ceritanya, karena di pertengahan sempat dibikin ngantuk akibat mati bosan padahal durasinya cuma sejam lebih dikit. Pokoknya tentang 4 cowok dengan karakter aneh yang diteror oleh pocong sekaligus kuntilanak. Mereka adalah Boy (Zaky Zimah) yang homo wannabe, Wawan (Dallas Pratama) si penakut, Tedi (Jerry Likumahua) yang Budi—budek dikit serta Hary (Raymond) yang dijuluki body panser. Lalu, kenapa 4 cowok ini diteror? Dan bagaimana menghentikan teror itu? Yakinlah, kalian nggak bakal terlalu peduli nasib kenapa mereka bisa dikejar setan dan bagaimana. Atau mungkin ingin menyarankan alternatif ending yang lain. Seperti menegak baygon mungkin. Biar bisa berakhir happily ever after a la dongeng klasik?Who knows.

Hell, pocong dan kuntilanak kembali dieksploitasi lagi (dan lagi, dan lagi, sampe gue bosan lalu pengen boker di dalam bioskop saking eneknya) dalam satu paket film bergenre komedi-horor yang berakhir nanggung dan sedikit mengecewakan berlabel Ada Apa Dengan Pocong? Ya, kecewa. Gue mikirnya pas duduk di bioskop bisa nyante dan fun. Tapi ternyata nggak tuh.

To be honest, bagi gue film ini nggak sesampah yang dibayangkan. Meski dari segi judul uda corny mampus tapi terbukti sukses membawa penonton remaja galau, para vividism dan orang-orang kurang kerjaan berbondong-bondong masuk bioskop. Taktik pasar yang jitu rupanya. Terlepas dari entah apa rekasi Mira Lesmana dan Riri Riza nanti. Mungkin mereka menyesal memakai judul Ada Apa Dengan Cinta? dulu sehingga ingin segera merilis ulang film Dian Sastro dan Nicholas Saputra dengan judul, Cinta, Ada Apa Denganmu? atau apapun itu, whatever.

Beruntung kali ini bukan lagi ulah dedemit yang merupakan aib perfilman Indonesia, om Naya, yang menyutadarai, melainkan anak asuhnya. Chiska Doppert. Familiar? Ya, dia orang yang sama yang pernah membesut Missing beberapa tahun lalu. Sempet dikira alter ego om Naya. Tapi ternyata bukan (meski gue sendiri masih ragu). Cara penyajian mereka berdua sangatlah berbeda. Chiska lebih halus dan lembut dalam bertutur. Meski pada akhirnya, di berbagai part terlihat nggak jauh beda sama gurunya. Saran gue kalo mau berguru jangan sama om Naya. Kayak nggak ada guru lain aja. Sama gue mungkin, belajar ngata-ngatain orang tapi. Hehehe....

Seperti yang udah gue singgung di paragraf ketiga, Ada Apa Dengan Pocong bukanlah film yang buruk. Naskah besutan Ule Sulaeman gue akui sudah mencoba untuk menyajikan hal-hal baru—meski pada akhirnya basi juga. Sayang, ekskusi dari sang sutradara berakhir klise seperti kebanyakan horor yang di tawarkan enam bulan kebelakang di tahun ini. Komedi yang disajikan terlampau garing bin usang. Zaky Zimah dan Raymond sudah cukup membosankan untuk dipaksa memerankan karakter tipikal seperti ini. Ampuh memang dibeberapa adegan, tapi kalau terlalu sering kan nggak lucu juga. Parahnya, ini film bergenre komedi tapi kenapa scoringnya serasa film horor yang horor, bukan horor komedi. Jadinya Ada Apa Dengan Pocong? adalah komedi Horor yang nanggung (gara-gara salah scoring kalee jeng Chis). Poin aneh lagi adalah pengambaran flashback story yang terlalu drama dalam penjabaran dan tentu saja terlalu maksa. Apa nggak ada alternatif lain selain kepentok pohon, jatuh terbentur batu terus mati. Apakah tidak anak SD sekali?

Kebodohan-kebodohan karakter, cerita yang maksa, terlalu bertele dan banyak dialog absurd yang maunya lawak tapi gagal dan berujung pada dialog goblok lah yang membuat film ini begitu menyiksa. Well, kalo aja para bintang-bintangnya bukan ini-ini lagi, Ada Apa Dengan Pocong mungkin bisa dibilang berbeda. Sayang, bagi penikmat film lokal yang baik dan benar, pasti akan antipati duluan dengan beberapa nama pemerannya. Bahkan hanya dengan melihat poster AADC wannabe itu. Beruntung cuma pada teaser dikasi pernak pernik warna. Apa jadinya kalo poster resmi yang nempel di bioskop seperti itu? Gue yakin Rudi Soedjarwo bakal langsung kena stroke karena masterpiece nya disamain dengan film seperti ini.

At least, dengan hasil mendekati 20.000 penonton dihari pertama rilis, film ini lumayan banyak diminati rupanya. Dan jangan heran jika nanti muncul film-film senada. Dan semoga bisa lebih lagi dan memakai bintang-bintang baru. Agar tak terkesan klise dan menjemukan. Juga jangan sampai memasang nama sutradara Nayato lagi jika nggak ingin di cap sampah! Pelis, penikmat film indonesia sudah bosan dengan keklisean yang melanda akhir-akhir ini. Seperti dialog Boy di salah satu adegan, yang mungkin bisa jadi gambaran seperti apa komentar sinis penonton sekarang: "Kenapa hidup gue jadi berubah drastis begini sih? Dimane-mane di teror setan. Kalo gak pocong, kuntilanak.."

Rating 2/10

Cin.. Tetangga Gue Kuntilanak! [2010]


Rasanya setelah melihat film ini, gue mau bikin permintaan maaf secara resmi pada pembuat film Untukmu. Dimana ketika mereview Untukmu, gue menyebutkan kalo film itu sangat bla-bla-bla. Tapi ternyata oh ternyata, gue telah berdosa. Setidaknya Untukmu terasa seperti The Tree of Life yang barusan menang Cannes daripada film tai anjing seperti ini.

Gue nggak tau orang-orang primitif idiot (hell, uda primitif, idiot pula!) macam apa yang mengedarkan film tai anjing seperti ini. Eh ralat, ini bukan film. Ini tai yang beneran tai. Harusnya lembaga sensor malu dan tak mengedarkan film indonesia yang penuh adegan tambalan dari potongan scene film luar dan animasi yang tersebar di yutub. Pun dengan pemain yang sangatlah nggak layak disebut artis. Jangan lupa pula ada karakter Joker wannabe disini juga posternya yang sudah menggambarkan film secara kesulurahan.

Yakinlah, menonton film ini akan menimbulkan gejala bulanan seperti muntah kelabang, panas dingin 7 hari 7 malam non stop full service dan tak lupa bonus tidur dihantui mimpi buruk bertemu Cynthiara Alona berkepala tengkorak dan tanpa wignya yang kayak Sadako itu. Semoga orang-orang laknat kayak mereka berhenti bikin film yang akan memalukan nama baik mereka sendiri nantinya. Gue yakin anak-anak mereka kelak nggak bakalan bangga kalo ayah mereka pernah membuat spesies lain dari tai ini. Cukup Nayato dan KKD saja, yang langsung gue sembah-sembah setelah nonton film ini sambil nahan boker. Karena setidaknya derajat mereka naik satu tingkat dibanding para dedemit di belakang layar Cin.. Tetangga Gue Kuntilanak!

Gue gak mau melanjutkan mereview dan berpanjang lebar seperti sebelumnya. Intinya film ini sangat..

ANJING!!!

At least, jangan bertannya kenapa gue nekat menonton? Karena gue juga nggak tahu jawabannya. Sekian!

Rating - /10

Pelet Kuntilanak [2011]


Awal bulan, persis tanggal satu, om nayato udah sukses meneror kotoran ke jaringan 21 di negara gue, indonesia raya tercinta. Dengan judul film yang awalnya nggak penting memakai Pelet Celana Dalam dan berubah makin nggak penting menjadi Pelet Kuntilanak setelah mendapat banyak protes. Asumsi gue sih emang sengaja dibikin sensasi biar kena protes. Cih, tai banget sih! (Eits, sabar Bee, belum waktunya sadis. Ini kan masih prolog).

Sebenarnya gue males ya nulis review ini. Serius! Gue takut lepas kontrol setelah beberapa bulan gue nggak memanggil anjing atau menyebut nama anjing di review karena emang film yang gue tonton nggak buruk-buruk amat. Tapi untuk kali ini gue sudah nggak bisa nahan kesabaran. Bahkan gue udah berani sumpah keramat KALO GUE GAK BAKAL NONTON DAN REVIEW HOROR PRODUKSI NAYATO ANJING LAGI!! Pegang janji gue ya, guys.

Gini deh ya, film itu kan dibuat untuk ngehibur. Seseram-seramnya setan, seromantis-romantisnya drama percintaan, segaring-garingnya komedi slapstik, pasti tujuannya cuma satu: buat ngehibur. Tapi apa yang dilakukan oleh production house milik insan film sesat indonesia kedua setelah kk dheeraj kali ini sungguh TAI yang seTAI-TAINYA.

Sumpah, baru 10 menit duduk dibioskop gue udah nggak tenang. Perasaan gue udah campur aduk antara pengen boker, muntah, jeduk-jedukin kepala ke tembok, gigit kursi, sobek layar atau gantung diri. Karena film ini sangat nggak layak konsumsi. Oke, gue maklumi para pemainnya, terutama muka Debby Ayu yang sangat gak enak dilihat karena penuh bintik-bintik (meski bukan maunya Debby Ayu, tuh muka sangat mengganggu. dia artis kan? Harusnya bisa rawat itu muka deh). Tapi gue nggak bisa memaafkan apa yang telah dilakukan oleh sutradara kelas kakus bertitel Koya Pagayo atau Nayato atau apalah sejuta nama kloningan dia yang sangat menjijikan. Yang pasti sutradara TAI dan semua-muanya yang mengatasnamakan film horor esek-esek nggak jelas kayak gini pantas masuk neraka. Gue nggak peduli lo dapet makan dari sini. Karena apa yang lo hasilin sungguh nyiksa penonton lahir batin. Gue, maki-maki kayak gini tentu punya alasan karena filmnya emang jelek banget. Bahkan nggak bisa disebut film deh. Mungkin bisa juga disebut film yang diedarkan untuk tikus-tikus got. Nah, kayaknya yang itu baru cocok.

Cerita filmnya tuh dangkal, tentang 3 anjing betina yang sok-sok nggak peduli soal keperawanan. Yang sok-sok penting dengan make pelet dari dukun sok-sok mistik dan akhirnya muncul setan wanita yang sok-sok nyeremin padahal nggak ada apa-apanya. Tuh, dari sini aja udah sampah. Belum lagi dialog-dialog yang super absurd dan pantesnya tuh diobrolin antar tikus-tikus got. Jadi lupakan ceritanya karena emang nggak pantas gue tulis disini.

Nah hal diatas diperparah dengan ulah sutradara anjing yang kayak biasanya. Tapi entah kenapa gue lihat ini yang paling parah dari film dia yang udah-udah. udah ngedit gak bener, timeline loncat-loncat dan scoring basi itu merusak pendengaran dari awal sampe mendekati akhir (iya, gue udah keluar karena nggak tahan pengen bunuh diri). pokoknya semua elemen di film ini nggak ada yang beres deh!

In the end, Pelet Kuntilanak sangat nggak layak konsumsi. Bukan tontonan manusia normal. Pantesnya ditonton sama bangsa hewan-hewan pengerat dan lelembut. Itupun gue gak yakin mereka bakal betah nontonnya. Atau lebih tepatnya tontonan yang dianggap sekelas dengan The Tree of Life yang baru menang Cannes itu oleh Nayato sendiri saking hebatnya dia ngebangga-banggain cara menyutradarai film eh tai macam ini. Sori ye bagi kalian yang uda nonton dan kesindir. Ini sebagai penegas aja bahwa kalian goblok kalo nonton film ini. Gue juga goblok, makanya gue nggak mau kalian ikutan goblok kayak gue gara-gara nekat. Sangat dianjurkan bagi yang ingin mati muda atau orang-orang yang uda hopeless sama hidupnya. sekian

rating -/10

http://www.smileycodes.infohttp://www.smileycodes.info

Setan Facebook [2010]


Farah (Cindy Anggrina) adalah tipe cewek kuliahan alay masa kini yang demen update status-status nggak penting di facebook. Gara-gara hobi nggak worth it nya itu, dia sampe diusir sama dosennya dari kelas. Kejadian itu digunakan dengan baik oleh Tiar, sang musuh bebuyutan, untuk mengolok-olok Farah.

Keesokan harinya Farah sadar kalo status facebook-nya dibajak oleh seseorang. Dan cewek itu yakin banget kalo semua adalah ulah dari Tiar. Namun disaat akan melabrak, Cici (Maeeva Amin), teman Farah, menerima sms kalo Tiar ditemukan tewas secara nggak wajar dalam kamarnya. Semenjak itu, kejadian demi kejadian anehpun mulai memasuki kehidupan Farah. Sampai nyawa teman-temannya pun harus jadi korban. Farah yakin bahwa terror ini dilakukan bukan oleh manusia, melainkan setan facebook. Siapakah sosok dibalik setan facebook itu?

baru kali ini gue nemuin film horor indonesia yang lumayan oke dari segi cerita. eits, cukup bagian awal saja, seenggaknya gue udah sukses menikmati film setan facebook ini dengan damai. tapi setelah sepuluh menit berlalu, rasa nyaman yang dibangun hilang nggak berbekas. terima kasih untuk penulis skenarionya, M. Ilhamka Nizam dan Anggoro karena plot menjadi annoying, dipaksa untuk berhoror dan sadis nggak penting. ditambah dengan dialog corny binti maksa serta penampakan nggak perlu dari sosok setan yang bukannya menyeramkan tapi malah lucu (meski nggak selucu make up setan KKD sih). bahkan gue sudah nggak peduli dengan bumbu twist basi di penghujung film yang berakhir anti klimaks ini. atau mungkin menggantung. entahlah. itupun jika nanti benar akan ada setan twitter. yang dengan senang hati bakal gue lewatkan untuk menonton di bioskop karena udah males duluan kalo hasil film pertamanya aja kayak gini. pelis.

dari departemen akting diisi oleh wajah-wajah baru seperti boy hamzah, cindy anggrina, ricky ertan, sampe jehan sienna yang dimake over sehingga bertransformasi jadi setan facebook. sayang aja, semuanya berakting datar banget. nggak ada emosi yang bisa bikin gue yakin kalo ini film horor. apalagi menunjukan kalo mereka itu sedang main film.

dari segi visual efek, nggak ada yang spesial. yang ada malah unsur lebayisme, haha. entah kenapa masih jaman ada acara terbang-terbang kek gitu. dari scoring, ya ampun, ganggu banget. berisik. untung telinga gue gak kenapa-napa. coba kalo ada masalah, emang siapa yang mau tanggung jawab (eh, kok jadi curhat?). dan terakhir, dari segi penyutradaraan, hmm... bisa dibilang helfi kardit masih mencari-cari gimana trademark dia. kadang dia bisa nayato-wannabe ato bisa jadi dirinya sendiri. gatau juga deh. gelap.

at least, lewatkan film ini selagi sempet. sekian.

rating 1/10

http://www.smileycodes.info

Di Kejar Setan [2009]


Film besutan sutradara yang biasanya bikin film anak-anak ini, sebenernya uda dari jaman gak enak rilis di jaringan 21. tapi entah kenapa baru muncul versi DVD/VCD nya awal mei lalu. Mungkin karena alasan takut nggak ada yang mengoleksi, makanya butuh pemikiran ekstra pintar gimana cara menjual film sampah ini. Makanya deh, dengan bangga di kejar setan mengandeng distributor film ternama, yang selalu ngerilis home video bermutu yahud, jive collection, untuk setidaknya menjual film ini memakai nama istimewa jive. Haha, ini cuma asumsi gue loh. Pelis dong, kayaknya nggak banget aja, jive sampe mau-maunya ngedarin film kancut kek gini. Dan sekarang,saatnya membantai film ini.

1. cerita film ini sangat C.E.L.A.N.A.D.A.L.A.M! haha, gue gak becanda guys, tapi isinya ternyata sampah juga, sampah juga. Premisnya memakai premis film horror lokal yang udah jutaan kali dipake. Gerombolan remaja – syuting film – ada penampakan – mati! Klise banget kan?

2. poin pertama diperparah dengan skenario bikinan sang sutradara nya yang bertele-tele dan nggak jelas mau dibawa kemana. Awal cerita sih oke, catet, awalnya aja. Iya 5 menit pertama. Tapi setelah itu, wow, gue udah mau pingsan seketika.

3. poin kedua diperparah dengan akting bintang-bintangnya yang naudzubillah, komplit merusak film. Ada yang over lebay, nggak niat, kurang ekspresif. Haduh, apa seeeh? Apalagi cewek yang make wig tuh, sumpah ya muka loe kagak nahan. Pengen gue cedukin ke tembok tau gak. Lebay jaya deh pokoknya. Males gue litatnya, kenapa sih skenarionya nggak bikin dia mati awal-awal, ato kebagian peran jadi hantu yang mati diperkosa itu deh. Belum lagi wignya yang kayak wig ully artha. Bikin gue pengen muntah.

4. poin ketiga diperparah dengan durasi yang lamaaaaaaaaa banget. Gini deh, udah tau bintang-bintang baru ini gak bakat akting, tapi tetep aja dipaksa, yang tampak di layar malah adegan-adegan nggak penting yang makin lama makin nggak meaning karena artis yang mainin kayaknya perlu sekolah akting dulu ke Zimbabwe (itupun kalo disana ada). Bahkan penampilann djenar maesa ayu dan indra bekti kelihatan cuma numpang kentut doang.

5. poin ke empat diperparah dengan cara penyutradaraan harry dagoe suharyadi yang FTV banget. Eh lebih parah malah! Levelnya setara kayak film laga gak jelas di indosiar. cuma levelnya agak gue naikin keatas dikit. ya, paling nggak 5 menit pertama adalah alasan gue menaikan levelnya. meski versi panjang 5 menit itu ternyata... beuh, no komen dah!

6. poin kelima diperparah dengan scoring yang asal masuk, ibaratnya ngedit pake windows movie maker. Nggak tepat timing dan kadang motongnya sembarangan. Padahal jujur aja, soundtrack yang dimasukin lumayan enak. Ear catching didengerin pas lagi mau bobo. Untungnya, gue nggak ketiduran.

7. poin diatas makin diperparah dengan poster yang, o em ji, adik gue yang umurnya 3 tahun bikin gitu doang kayaknya bisa deh.

Intinya, sungguh kesia-siaan gue menonton film ini. Harusnya nggak usah aja kalo tau gini doang alias nyampah. Rasanya nggak masalah kalo film ini ngga rilis bentuk home video mengingat hasil akhirnya satu tingkat diatas KKD. Iya, satu tingkat karena gue yakin harry dagoe bisa bikin film lebih dari ini. Mungkin pas bikin film ini dia lagi mabuk, jadi hasilnya pun pantas dimuntahin.

Rating 1/10

http://www.smileycodes.info

Pocong Mandi Goyang Pinggul [2011]


Sebuah tragedi tak terlupakan...
Ketika malam suro datang dan kran air terbuka...Pocong juga datang!!
Shooting di Indonesia dan Hollywood, Amerika.

membawa seklumit sinopsis alay jaya diatas, kk dheeraj kembali beraksi di proyek film gak penting ketiganya ditahun 2011. Tetap bekerja sama dengan yoyok dumprink di posisi sutradara. serta melonys yang makin goblok dibagian skenario. And then, apa yang ingin ditawarkan kkd dari proyek film terbarunya kali ini?

Dari segi cerita? Oh lupakan. Gue gak mau menjelaskan panjang lebar karena bagian promosi film ini pun bingung menuliskan bagaimana sinopsisnya. sehingga ditulis seadanya dengan sangat bagus dan akan mendapat nilai 100 untuk pelajaran mengarang disekolah. karena cerita yang ditawarkan pocong mandi goyang pinggul sama sekali tidak bermutu seperti yang gue tulis diawal. Bahkan kalau nggak mempunyai niat maruk untuk menambah pundi-pundi, film ini bisa saja diselesaikan dalam waktu 10 menit doang. Tapi bukan melonys dong kalo dengan daya khayalnya yang superb jenius nggak ngebikin cabang cerita yang sama sekali tidak berhubungan. bahkan pada detik ini bisa gue bilang sudah sangat, sangat dan sangat memuakan. Apalagi dengan sok penting memasukan karakter petugas L.A.P.D yang hadir karena harus menyelediki sesuatu masalah abal-abal. Oh please…

Dari segi pemain? Hell yeah, you know how, kali ini memasang another international sex bomb berlabel sasha grey. Tapi apa, sasha tak ubahnya hanya semacam pajangan yang disuruh ngomong “miss you babe” lalu melakukan acara cium jauh dengan sangat datar dan tanpa ekspresi sama sekali. Parahnya, hampir disemua scene memperlihatkan dia cuma memakai kutang sama celana dalam doang. Tertarik? Ah, mending langsung search nama sasha grey di mbah google dengan embel-embel hot video dibelakang. Karena menonton sasha disini adalah sebuah kesia-siaan yang akan membuat lo semua stress mendadak.

Itu cuma sasha. Gimana dengan pemain pendukung lain? Kita cek aktor pendatang baru bernama chand kelvin yang kayaknya perlu khursus bahasa inggris. Akting chand terbilang lumayan kalo nggak mau dibilang buruk dengan mukanya yang cukup fresh dan enak dilihat. soalnya gue udah bosen ngelihat tampang andreano phillip yang statusnya diragukan antara cem-ceman atau anak kesayangan om dheeraj karena selalu bermain hampir di semua film terbaru produksi K2K akhir-akhir ini. Sebenarnya sih andreano juga ikut tampil di film ini. Tapi peran yang dia dapatkan sangat tidak penting. Bahkan nggak muncul pun sangat tidak berpengaruh.

Lalu ada sheza idris yang hadir sebagai pemanis dengan akting yang so sinetron serta another artis khusus peran murahan, baby margaretha, dengan ekspresinya yang lebay berani bertoples ria (tapi cuma keliatan dari belakang, dan itupun sudah bisa disaksikan gratis di trailer resmi tanpa sensor yang tersebar di youtube). nggak mau ketinggalan ada juga nama tatang gepeng yang kayaknya salah kasting dan berakting sangat jayus. Belum lagi penampilan numpang lewat dan nggak penting juga bagi kelangsungan film seperti annisa bahar yang gatau lagi nyanyi atau cuci piring disini, mpok nori yang gatau juga lagi akting atau ngepel, ucok baba dan tata dado yang kayaknya mending ngecat tembok aja daripada muncul dalam scene untuk memperpanjaaaaaaaaaaang durasi. snap snap snap! #ngomongalafitritropica

Dari segi tata musik terlihat sangat berlebihan. Musik yang dihadirkan seperti film-film thriller yang memacu adrenalin. Padahal scene yang ditampilkan sama sekali nggak cocok diiringi dengan musik seperti itu.

dari segi kualitas penyutradaraan gak ada masalah karena yang bermasalah, yah, seperti yang udah gue bilang, datang dari skenarionya. skenario pocong mandi superb disturbing. ditambah dengan kebiasaan film om kkd yang suka memasukan unsur twist-twist maksa. berharap filmnya akan terlihat pintar. namun tetep aja nggak jauh-jauh dari kata film bodoh!

jujur gue bingung menaruh film ini di genre apa. horor jelas tidak masuk syarat. apakah ditinjau dari penampakan hantu model itu lagi (muka hitam, rambut panjang pake baju putih) tanpa maksud apa-apa, bisa dibilang horor? drama juga gak begitu kuat. atau thriller? komedi? susah deh.mending gue manjat pohon cabe aja daripada mikirin.

yang pasti sekali lagi kita menemukan fakta bahwa om dheeraj selalu membuat film yang niatnya dari awal hanya menipu. lihat saja judul, poster dan segala aksesori yang menghantar film ini sampai ke jaringan 21. tak lain adalah upaya dari mengeruk materi. merasa tertipu dan ingin mengajukan gugatan? haha... tertawa kering aja deh. berharap suatu saat kalo kerja otak kkd masih kayak gini, dia beneran dipulangin ke negaranya. amin!

rating 0/10

http://www.smileycodes.info

Suster Keramas 2 [2011]


Kalau ditanya negara mana yang paling hobi mengelabui penonton dengan film yang judul dan posternya kadang nggak nyambung plus adegan penuh belahan dada nggak penting en nggak ada imbas apa-apa saking murahannya, jawabannya adalah Indonesia. Dan tanyankan kenapa hal itu bisa terjadi pada produser-produser seperti ody mulya hidayat atau KKD. Dijamin jawaban mereka akan super duper klise dan sama murahan seperti filmnya saking gak bisa mengarang kata-kata yang lebih intelek lagi jika ditanya oleh wartawan.

Seperti itulah film yang bakal gue review kali ini. and then, taraaa… (heboh deh gue), judulnya adalah suster keramas 2 arahan findo purwono dengan naskah olahan abbe ac. Memasang bintang-bintang muda seperti zidni adam, ricky harun dan violenzia jeanette. Serta penampilan khusus bintang jav yang merupakan teman seprofesi dari rin sakuragi dan maria ozawa bernama sola aoi atau sora aoi. Terserah lo mau make sola atau sora yang penting dia tuh bintang bokep dari negeri matahari terbit itu. Asal jangan panggil solar aja. Emang mau beli bahan bakar?

Cerita dibuka dengan adegan kebut-kebutan antara jack, tando dan shelly. Sampai akhirnya tiba-tiba shelly terjatuh dari motor hingga menyebabkan tulang kakinya patah dan menyembul keluar. Spontan, tando dan jack membawa shelly ke rumah sakit. Lalu cerita bercabang ke bandara. dimana cakil, seorang tour guide, sedang menunggu kedatangan michiko, turis asal jepang. Hingga suatu kejadian nggak penting membawa mereka ke rumah sakit yang sama dengan jack dan tando yang saat itu tengah menunggu shelly menjalani operasi di UGD. Sesampainya dirumah sakit, mereka mulai diganggu oleh penampakan-penampakan arwah penasaran. Apakah yang terjadi? Kenapa hantu-hantu itu muncul dan mengganggu mereka?

Melihat plot sekilas mungkin akan jadi film yang seru dan menegangkan mengingat fakta bahwa ada sentuhan twist di ending. Tapi ternyata, dengan kampungan findo sukses mengeksekusi filmnya sendiri dengan sangat garing dan garing. Kenapa? Karena ditilik dari segi horror, formula yang digunakan sangat basi. Dari segi drama juga terlalu standar. sentuhan komedi maksanya yang kampung banget pun, membuat gue pengen nyuruh tiga remaja pemeran utama diatas ngilang dan diganti oleh nunung, tukul dan sule. Mungkin gue bakalan betah karena mereka diem aja udah lucu, apalagi kalo udah mulai ngelawak. Harusnya findo bisa lebih pintar dalam memilih pemain. bukan asal comot ganteng ato cantik, tapi juga pinter akting. Karena tiga orang ini—eh, ralat, dua orang ini (ricky dan zidni) sangat jayus dan nggak lucu dalam mengeksplorasi naskah yang disodorkan. Yang ada malah bikin gue pengen muntah ditempat.

Beruntung ada jualan lain, apa lagi kalau bukan sola aoi yang unyu banget. Gatau kenapa nih cewek lucu aja kalo ngomong. malah kalo gue perhatiin, disetiap scene hampir sering liat ekspresi kebelet antara pengen ketawa saat diharuskan akting jejeritan ngelihat hantu. Sayangnya karakter yang diberikan buat dia cuma sebagai turis goblok (setipe dengan peran-peran yang diberikan sama rin dan maria). Bedanya kali ini sola memberi bonus adegan toples. Ih wow, kakkoi! Heran banget gimana film ini sanggup lolos sensor dan tukang demo itu malah lebih ngurusin film tanda tanya yang jelas lebih baik dari berbagai segi dan membawa perubahan ketimbang film pamer belahan dada yang emang udah disetting biar kelihatan (silakan cek behind the scene nya kalo gak percaya). Sangat nggak singkron banget sistem kinerja mereka!

Seperti yang udah gue singgung diatas, diantara banyak sekali hantu yang eksis di film ini dari mulai pocong, tuyul, suster ngesot sampe hantu abal-abal lainnya, kalian gak bakal nemuin sosok suster keramas disini. Lho kok? Gausa kaget deh. Karena proses awal film ini memang nggak ditujukan buat sekuel. Tapi berhubung pengen melanjutkan kesuksesan predesesornya, judulnya berubah jadi suster keramas dengan embel-embel 2 dibelakang plus judul lain dalam bahasa inggris; evil nurse. dan fakta yang paling parah adalah, udah tau dikibulin, yang nonton banyak banget. haha... kalo udah kayak gini, siapa ya yang mesti disalahin? susah emang ngurusin film indonesia.

anyway, sekedar curhat, seumur hidup nonton dibioskop baru kali ini gue nemu penonton kampung abis. gimana nggak, masa sekumpulan cewek-cewek pada teriak dan ketawa garing melihat komedi yang sama sekali nggak lucu. kalo semua penonton ketawa sih gak papa. anehnya cuma sederet bangku itu doang. pake jerit-jerit ahh ahh segala dan yes no yes no (kalo yang ini cuma lebay gue aja haha). intinya mereka tuh payah banget. tipe penonton C. penonton yang datang dengan tujuan gak jelas. pengen ngelawak kali ya. tapi lawakan mereka segaring filmnya sih. jadi gak mood deh ngikuti lawakan mereka. istifar mbak, mbak.... sayang banget, cantik-cantik otaknya geser!

rating 1/10

http://www.smileycodes.info

13 Cara Memanggil Setan [2011]


Kesan pertama saat melihat trailer yang tersebar di youtube, gue udah bernegatif thinking kalo film ini ngejiplak mentah-mentah horror The Eye 10. tapi setelah melihat secara keseluruhan, ternyata gue salah. Meski hampir senada, film ini berbeda. Dari segi cerita gue nggak mau terlalu ngebahas karena nggak penting. Apalagi soal dialog maksa yang entah buatan scriptwriter mana. Asumsi gue sih yang buat masih SMP karena bahasanya labil banget hahaha.. ^^

Film dibuka oleh adegan five vi yang kayaknya lagi mastrubasi-atau-nggapain-gue-nggak-begitu-ngeh karena tiba-tiba aja muncul penampakan super nggak berguna dari setan yang pernah dibuat oleh para filmmaker Indonesia dan five fi langsung dibuat mati seketika tanpa alasan yang jelas. Nampaknya terasa mubazir kehadiran five vi disini, mengingat ada nama nya tercantum di poster, karena ternyata penampilan ni cewek sangat sebentar dan nggak ada maksud yang mengisyaratkan hubungan terkait tentang isi film nantinya.

Lalu cerita berpindah ke para anak kuliahan yang tingkah laku dan gaya ngomongnya masih kayak anak smp karena tuntutan skenario. dan hal itu semakin diperparah dengan jajaran pemain yang sangat alay menurut gue. Coba deh perhatiin bintang karbitan yang entah ditemukan oleh bagian casting dari mana. Terutama peran cewek yang kebagian cerita ngejar venus selain debby ayu. gue nggak mau tau siapa namanya tapi dia tuh sangat nggak jelas dan abal-abal. Kenapa nggak sewa artis yang lebih mendingan dikit sih? Nanggung amat bikin film. Belum lagi akting ketiga cowok yang dulu sering melakukan penampakan di film televisi pagi di salah satu stasiun tivi swasta. Beruntungnya film ini tertolong oleh debby ayu yang udah lumayan punya nama di jagad layar lebar indonesia karena bisa sedikit menyegarkan suasana dan menarik minat penonton karena keberaniannya beradegan murahan.

Dari segi efek, oh pelis, very very disturbing. Serasa lagi liat film laga-laga nggak jelas di indosiar dengan beda format putar satu di tivi, satu lagi di layar bioskop. Efek yang diberikan masih kasar dan dibuat apa adanya. Terutama ketika scene yang menunjukan aksi show off ki kusumo. Belum lagi bagian make up yang atas nama dunia dan akhirat, mending gue suruh kerja jadi apaan selain tukang rias. Lihat deh, bentuk setankah yang dia dandanin ke cewek-cewek alay yang berperan jadi zombie-vampir-atau apapun lah menyebutnya. Karena bikin gue pengen meninggalkan tempat sejak menit kelima. Beruntung, gue tetap bertahan demi tujuan mulia untuk mereview film ini (kayak nggak penting banget deh gue).

trus gue sedikit jetlag sama ending film. Pertama menyoal adegan cipokan yang trik banget. Asumsi gue si debby ayu nggak mau dicium sama aktor figuran yang jelek. Dua soal pakaian debby ayu (gatau namanya, entah daster atau lingerie) yang bagian dadanya nampak transparan hingga memperlihatkan punting toketnya secara sengaja. kok nanggung amat kalo mau naked mbak?

dari segi sutradara gue nggak mau ngomong banyak. karena gue nggak mau cari kesalahan kesalahan lagi yang nantinya bakal cuma membuat darah tinggi gue kumat. yang pasti kalo film ini laku, gue cuma mau bilang selamat datang di era kemunduran film-film indonesia karena meski rilis di era 2000-an, apa yang coba dihadirkan film ini dari berbagai segi sangatlah jadul dan menyampah.

Tapi yang pasti, ditengah segala kebodohan-kebodohan yang terus bergulir, gue bisa menikmati film  horor seksi abal-abal ini tanpa banyak mengerutkan kening. Nggak ada adegan gue mencret atau pengen mencakar-cakar kursi bisokop saat menonton film sampah dari kkd atau om naya. Atau yang baru aja rilis, film misteri hantu selular. Mungkin karena saat masuk studio 2, gue sudah menekan ekspetasi sampai level terbawah. Karena memang menonton film ini nggak perlu memakai ekspetasi. Nikmati saja. Nggak ditontonpun juga nggak papa karena minggu depan juga ilang dan cepat rilis dalam bentuk kepingan home video. amin!

NB: Menilik soal poster yang terpajang di bisokop, gue langsung syok, kok jadi gini? Setauku poster resminya, seperti yang gue pajang diatas. tapi nggak tau kenapa tiba-tiba diedit lagi tanpa memikirkan undang-undang pengeditan poster (jika memang ada) karena sangat kelihatan kalo diedit secara asal-asalan. look that, cermati judul yang bekasnya masih terlihat dibawah. Dan potongan ngawur gambar malaikat dibelakang debby ayu? What the?

rating 0/10

http://www.smileycodes.info

Rekaman Jumat Angker

Niat awal sih mau gue review satu-satu. Tapi setelah melihat hasil akhir yang kayaknya nggak jauh beda dari film satu ke film lain, maka gue campur aja reviewnya. Karena meski tak serupa, film ini memiliki kesamaan yang menonjol. Dirilis ditahun yang sama, disutradarai orang yang sama, lokasi yang sama, genre yang sama dan kesampahan yang sama. So, dari pada banyak bacot, langsung aja cek mini review di bawah ini.

te[rekam] [2010]


film ini dianggap menjiplak film [.rec]. padahal lumayan berbeda karena hanya mencomot beberapa unsur seperti cara penceritaan bergaya found footage / mockumentary yang belakangan ini semakin popular dikembangkan sebagai varian film.

Awal-awal durasi te[rekam] tampak meyakinkan, bukan mengenai hal yang diklaim nyata, padahal jelas hanya untuk promosi film bergenre seperti ini (yang mana juga dilakukan oleh versi barat). Tapi lama-kelamaan, apalagi setelah jupe datang menggunakan pakaian superb ketat sampe kelihatan puting boobs-nya *ups*, film ini makin nggak jelas. Dan seperti kebiasaan film horror Indonesia lain, selalu saja menarsiskan mahluk halus yang harusnya malu-malu. Padahal biasanya film dengan tekstur seperti ini mestinya bisa lebih meminimalis segala sesuatu berbau ‘nampak’ agar terlihat seperti nyata. Bandingkan saja dengan film Indonesia serupa berjudul keramat, pasti film ini nggak ada apa-apanya. Coba pikir deh kalo bukan koya pagayo (alter ego dari nayato) yang mengeksekusi hasil akhir dengan sangat disturbing serta dukungan para pemain terkenal yang semakin mengaburkan kalo film ini kisah non-fiksi, pasti hasilnya akan tampak memuaskan. Atau setidaknya, nggak seperti ini.

rating 3/10

Pocong Rumah Angker [2010]


Tetap memakai alter ego koya pagayo. Nayato kembali memproduksi film berlabel sampah. Mengusung tema horror komedi yang garing segaring garingnya. membuat film ini sungguh membosankan. padahal durasinya cuman sejam lebih seuprit tapi serasa setahun lamanya. Karena dari awal, film emang udah nggak menarik untuk diikuti. Akting komedi zaky yang bikin gue kebelet beser ditempat, cerita yang nggak jelas, penampakan yang rajin serta kenggak-singkronan kenapa tu orang pas mati jadi setan pocong dan kuntilanak padahal jadi arwah cuma gara-gara cincin yang hilang. oh pelis…

rating 0/10

Pocong Jumat Kliwon [2010]


Kali ini nayato enggan memakai alter egonya. Jadi cukup memakai nama nayato tanpa embel-embel fio nuala. Dan hasilnya, tetep, komedi semakin nggak berasa, hantu semakin rajin bikin kejutan yang sama sekali nggak mengejutkan. Dan akhir kata, selamat karena dititik ini gue udah mulai jenuh sama formula nayato yang itu-itu aja. Jadi dengan segala hormat gue percepat filmnya agar sampai pada kemunculan aksi eksekusi yang, ya ampun, bodoh banget! kenapa film nayato selalu tidak bermutu seperti ini?

Lucunya diawal film ada adegan yang memperlihatkan para figuran memakai pakaian bertuliskan lewat tengah malam, kain kafan perawan dan affair. What the?

rating 0/10

***

Cukup sudah review singkatnya. Sekarang gue mau beberin beberapa fakta hasil temuan gue kenapa nayato bisa menjadi sutradara para incaran produser gelap mata karena kehebatannya menekan bujet produksi semurah-murahnya. Lihat aja dari hasil riset gue sama 3 film yang gue sewa dan selesai gue tonton marathon dalam waktu 4 jam ini.

1. lokasi rumah yang sama dan nggak ada perpindahan detail yang signifikan.
(poin pertama, hemat pengeluaran untuk lokasi karena rumah yang disewa udah jadi langganan tetap)
2. selalu ada adegan masak mi lalu benda berpindah secara ajaib. ingat adegan donita yang kehilangan mangkok di pocong rumah angker dan Jupe di te[rekam]. Sedang untuk pocong jumat kliwon cukup masak mi tapi pas mi-nya mau diangkat tiba-tiba berubah jadi rambut.
3. dialog nggak cerdas.
4. semua film nggak lepas dari tema remaja yang meyelidiki sesuatu dengan membawa kamera. (di film-film seebelum dan sesudah ini)
5. ending yang selalu gampang, dibikin lari-larian lalu diakhiri dengan jeritan serempak seolah-olah akan ada lanjutannya.
(poin dua sampe lima, meski berbeda tapi tetep berhubungan. iya, untuk menghemat bujet makanya dipilih penulis skenario yang bisa ngegaring dengan cerita daur ulang basi cuman beda nama tokoh serta ending cerita )
6. tata musik yang sama (kecuali di film te[rekam])
(poin enam, untuk mengehmat biaya penata musik, daripada bikin musik baru, makanya pake musik yang udah lama)
7. hantu yang selalu dibuat wanita berambut panjang.
(poin tujuh, untuk hemat biaya, dipakelah kostum dan wig dari film terdahulu)
8. pemain yang itu-itu mulu.
(poin enam, sama kayak poin-poin sebelumnya)
9. opening title yang fontnya serupa dan berwarna merah.
(tetep, untuk hemat biaya donlod font huruf)

Nah, cukup sekian ulasan kali ini. Nanti dilanjut di film-film nayato yang lain. Don’t go anywhere.

Hantu Sunat

Ini bukan judul film baru ya. Tapi kali ini gue mau review singkat dua film sekaligus yang beredar menjelang akhir tahun 2010. film pertama bergenre horror-komedi  sedang film kedua bergenre komedi doang tapi sama-sama memasukan unsur seksi di dalamnya. So, langsung aja baca bacotan gue dibawah ini.

Penganten Sunat [2010]


Film kesekian arahan rako prijanto yang bisa gue bilang paling ancur dari yang udah-udah. Sumpah, ceritanya parah banget karena jiplak mentah-mentah film korea A Tale of Legendary Libido. meski udah dirubah disana-sini, tapi tetep aja masih kelihatan. Kayak adegan kencing sampe keluar airnya kayak apaan tau, adegan cewek-cewek sekampung pada nafsu terus ngejar-ngejar japra karena tertarik sama alat kelamin yang super size and so on.

Dan hal diatas makin diperparah dengan akting semua, gue ulangi ya SEMUA PEMAIN,  yang kancut. Gak aming, gak mitha dan dara the virgin. Aduh, ngapain sih mereka semua. Pengen muntah gue. Terutama si dara tuh. Eh, tolong ya, gue tau ini proyek aji mumpung ketika lo tenar, tapi pelis banget dong tuh akting yang ekpresif dikit. Datar-datar-datar kayak intonasi suaranya. Belum lagi adegan adegan nudity maksa yang disensor, ya ampun, itu kan masih pake celana ketat. Nggak perlu gitu-gitu juga lah. plus seabrek adegan nggak penting binti maksa lainnya serta alur yang lompat-lompat.

Intinya film ini nggak banget. Aargh, untuk gue cuma nonton DVD nya. Nyewa pula. Coba kalo gue nonton dibioskop, pasti udah mencret gitu aja. Tambahan satu lagi, kenapa ya kalo ada rako prijanto disitu ada gary iskak? Dari ungu violet, d’bijis, krazy crazy krezy, merah itu cinta. Akrab bener. Jadi curiga gue…

Hantu Tanah Kusir [2010]


Miyabi come back! Dan lagi-lagi gak penting. Kehadiran dia Cuma teknik jualan film yang yah.. sampah seperti yang udah-udah. Film ini banyak banget bacot dan ribuan adegan maksa yang diharapkan lucu tapi sama sekali nggak lucu. Pengulangan-pengulangan yang biasa kita temui di film produksi maxima pictures ada disini semua. hasil akhirnya serba nanggung dari horror yang nggak nyeremin dan komedi yang garing abis. Beruntung scene akhir sebelum kredit title muncul membuat gue sedikit shock.

Gue kasian sama miyabi yang kayak orang bodoh disini. Dan tambah kasian sama yang jadi setan. Perasaan matinya biasa aja deh. Tapi kok setannya slaser bener pake putus-putusin kepala, congkel kornea mata dan kelupas pipi. Oh pelis, kenapa sih film Indonesia makin hari makin kayak gini.

For your information, kok posternya sepintas lalu mirip sama film premonition-nya Sandra bullock ya?

rating 1/10

http://www.smileycodes.info

Misteri Hantu Selular [2011]


tanpa ekpetasi apa-apa, gue menonton misteri hantu selular seorang diri. memilih pergi meninggalkan temen gue mencari kado ultah sedirian demi mengapresiasi film yang akhirnya hanya bisa gue sesali seumur hidup ketika harus menontonnya. dimana di dalam bioksop hanya berisi nggak lebih dari 10 orang berlabel abage labil macem gue. dan sambil kalian membaca review ini, izinkan dengan hormat gue muntah di baskom yang udah gue sediain di samping komputer. sapa tau saat mengingat-ingat isi film ini, otak gue menstimulasi tubuh untuk memuntahkan sesuatu dari dalam perut.

ok, gue nggak mau panjang lebar karena gue serasa nggak punya banyak waktu untuk mereview film paling tidak penting ini. bahkan dengan berani gue bandingin sama karya biang nyampah perfilman indonesia yang sudah senior. bagi gue film nayato all produk serasa the king's speech nya colin firth. sedang untuk sodara seperguruan om naya berstempel kk dheeraj seolah memproduseri film sekelas the social network. intinya, film ini masih lebih baik dari kedua seniornya. ya, mungkin namanya juga junior, jadi kalo mau nyampah juga mesti belajar dulu sama yang udah eksis.

film ini dibuka dengan sangat tidak wajar dimana muncul penampakan judul sebanyak dua kali. haha, bego ato bego, dimana-mana judul tuh muncul sekali aja. atau, oh, mau bikin trendsetter? sayang, cara lo norak. itu masih openingnya, gimana dengan ending yang maksa dengan cerita asal mula si kembar yang bla bla bla. sok penting dialognya pake nyebut ajian-ajian pocong semar mendem panca indra. tai!

lupakan cerita karena sangat nggak layak konsumsi. serius. gue bingung sama yang nulis skenario. apa deh isi otaknya ketika akan membuat cerita ribet kayak gini. dan itu didukung dengan sutradara debutan yang harus belajar lagi soal teknik-teknik film *dan baru gue tau kalo dia dosen salah satu universitas ternama*. gue emang nggak ngerti beginian, tapi gue sadar diri dengan nggak kampungan menyutadarai film kalo emang gak bisa. seenggaknya, bikin film sesuai bakat, nggak usah dipaksa. dan kredit khusus buat bagian spesial efek. heh, lo kira gue bodoh bisa lo tipu sama efek-efek kasar lo yang udah basi untuk membuat sosok menyeramkan. yang mana sosok-sosok itu dapat dilihat di youtube. haha, copas wajah setan kok murahan banget. mending bikin rias biasa aja deh daripada main efek tapi ga becus. belum lagi efek banjir darah, oh pelis, lo kata ini tontonan anak balita yang serasa 'wah hebat' setelah ngelihatnya? masih lebih baik FTV di indosiar daripada efek bikinan lo, tau!

dari segi pemain, ya ampun, sumpah gue sampe pengen cakar-cakar kursi bioskop saking annoyingnya. mari gue absen satu-satu:

gita sinaga dan umar syarif yang udah sering nongol di FTV tapi masih goblok aja akting. muka lo gak ekspresif. sama deh kayak aktingnya juga!

terus yang jadi vicky (lupa nama dan gak minat googling), gak usah sok kecakepan deh. akting lo kancut kayak yang udah-udah.

terus yang kribo-kribo tuh, gue udah tau lo jelek, tapi plis ya, gausa norak gitu. gue gak masalah sama wajah lo. tapi gue masalah sama akting lo yang lebay.

buat si cantik celine evangelsita, lo ngapain ya disini, cara ngomong lo dari syuting striping tetep aja dipelihara, rusak mood tau. sok penting deh.

terus yang jadi nenek-nenek tuh, biasa aja deh, jeng.

buat guruh soekarno putra, ya ampun, lo ngedukung film kayak gini? mau banget sih. kalo gue mending tidur dirumah!

rasanya masih banyak kalo mau gue sebutin penyebab betapa bodohnya film ini nampang di bioskop. di mana gue amini pasti bakalan cepet ilang masa edar. tapi gue sadar, gue udah terlalu sadis. abis mau gimana lagi, gak enak juga kalo mau muji-muji film ini. dan rasanya pak sutradara, indra tirtana, seperti yang gue baca di web sebelah, sudah legowo kalo filmnya pasti dicaci maki. toh sejak awal dia menyadari film pertamanya ini sampah yang gak bisa dibanggain dari berbagai segi. jadi sebodo amat!

at least, sumpah demi nama allah s.w.t dan tanpa efek dramatisasi lebayisme yang biasa gue lontarin, gue langsung pusing beberapa jam selama nonton dan setelah keluar bioskop. untung gak sampe yang kenapa-napa. coba kalo iya, efek horror yang sungguh memilukan :(

NB: posternya norak gila!

rating - /10

http://www.smileycodes.info

Dedemit Gunung Kidul [2011]


sori kalo kepanjangan kakak. hargai gue yang bikin postingan ini memakan waktu 5 jam: 4 jam untuk mikir, ngetik sambil denger mp3 dan sejamnya untuk edit. efek galau yang diberikan KKD sungguh dahsyat mengecilkan mutu otak gue #lebay

Insan perfilman paling tidak penting yang ada di Indonesia hadir kembali dengan suguhan terbarunya bertajuk dedemit gunung kidul. lalu, bentuk penyampahan apalagi sih yang kali ini dihadirkan oleh sang baginda raja terhormat, kk dheeraj, dengan horor maksa dimana judul film ini heboh diprotes warga gunung kidul? Lupakan membahas soal cerita filmnya karena gue sendiri bingung gimana cerita film ini.

Dedemit gunung kidul dibuka dengan credit title yang asyik menurut gue. dengan iringan lagu techno membuat gue sedikit bergoyang. Teringat nuansa ingar bingar yang terjadi kalo lagi clubbing. Tapi begitu melihat penampakan cuplikan annoying diantara nama orang dibalik film terdahsyat abad ini yang tersaji di layar,  membuat gue nggak minat lagi untuk melanjutkan acara goyang kepala. Dan setelah menonton hampir 20 menit film berjalan, gue mulai merasakan aura-aura bantal disekeliling gue. Sumpah, gue ngantuk. Bahkan penampakan-penampakan hantu yang lumayan bikin gue shock dan loncat dari kursi sampe kebentur atap bioskop *lebay* karena suka muncul nggak pada tempatnya, tetap nggak bisa bikin ngantuk gue ilang.

hal diatas semakin diperparah dengan cerita super datar dari awal sampe akhir serta faktor sebab-akibat yang terlalu mengada-ada, para pemain yang berakting totally suck dengan karakter sok cool pake nama kebule-bulean is like mark, jane, rodney, fabio, vicky, peter *plis deh, alay abis!* plus dialog-dialog kancrut yang terkesan dipenting-pentingin padahal bullshit parah, makin membuat gue pengen pergi meninggalkan ruangan. Tapi gue tetap bertahan sampai ke titik darah penghabisan supaya bisa memberikan pencerahan kepada lo-lo semua yang belum nonton. meski gue meragukan anjuran gue bakalan bisa dicerna.

Kalo gue boleh bilang sih film ini tuh kayaknya maksa untuk dibikin horror. Lebih tepat kearah drama berbumbu thriller. dimana penampakan-penampakan yang terjadi sepertinya nggak penting untuk dimunculin. Toh juga gak ada hubungan sama jalan cerita dan lumayan mengganggu karena munculnya tuh nggak sesuai sikon. Jadi gimana nggak heboh kalo gue sampe pengen mencret gara-gara ngelihat penampakan di adegan yang nggak gue duga bakal tiba-tiba ada setan? Yang mana si setan juga gak tau siapa. Kok aneh gitu tiba-tiba menghantui tanpa alasan.

sebenarnya menjadi keasyikan tersendiri melihat film olahan om dheeraj yang makin hari makin oke aja *gue nulis bagian ini sambil nahan muntah*.

1. Dimana kita bisa main tebak–tebak buah manggis template film apalagi yang kali ini dipakai.

Sayangnya alasan pertama belum gue temuin film ini sedang meng-copas film mana. dan berharap nanti penikmat vividism bisa memberikan info. Sori kalo kelihatan terlalu memojokan. Tapi melihat kenyataan di empat karya terakhir, rasanya nggak salah kalo gue sengaja berspekulasi kayak gini.

2. cerita absurd binti tolol apakah yang ditawarkan scriptwriter kesayangan berlabel melonys.

Dan sayangnya gue nggak berhenti dibodohi sepanjang film berlangsung. Saran gue sih, plis banget, om dheeraj yang ganteng *sekali lagi gue nulis bagian ini sambil nahan muntah* kalo bisa cari scriptwriter yang lain. Nggak, nggak usah pecat melonys. Cukup kasih dia kerjaan jadi clipper ato tukang bersih-bersih aja. Kasian juga anak orang gue suruh mecat gitu aja. Ato jangan-jangan…, melonys itu nama pena dari om dheeraj?

3. siapa-siapa pemain cewek yang berani pamer belahan dada dan bokong.

Dan kali ini muncul nama uli auliani. Yah, bodi nya emang oke dan kulitnya eksotik banget. Tapi kalo aktingnya flat, gimana jadinya? Mungkin karena poin dua kali ya. Jadi uli nggak bisa mengembangkan aktingnya yang berpatok pada skenario. Padahal mungkin uli bisa lebih baik daripada ini *sok tau*. Trus ada lagi sosok bule sok kecantikan yang entah dicomot om dheeraj darimana dan entah dengan tujuan apa. karena meski gambarnya terlihat cantik di poster (yang dengan ajaib disulap pake photoshop) membuat film ini makin tak menarik. Karena bulenya buluk *sori mbak, sengaja*. Rasanya si om kehilangan modal setelah menyewa tera Patrick hingga akhirnya memberikan peran ecek-ecek pada bule ecek-ecek yang sepanjang film memakai kacamata tanpa maksud. tambahan hal tanpa maksud pula terjadi dipinggir kolam renang ketika 4 cewek alay memakai bikini sok-sokan serasa model victoria secret dengan bodi gak jelas. Parahnya, ada satu cewek berani ngelepas beha lalu pamer bagian pinggir dadanya. By the way, dibayar berapa mbak, kenapa nggak sekalian main bokep aja biar malu keluarga lo *sori kalo yang bersangkutan ngebaca. no offense*.

Rasanya sudah jelas film ini seperti apa jadinya. Tetap mengulang kebodohan kebodohan yang sama. Dan gue nggak perlu berekspetasi tinggi karena om dheeraj juga seperti tak pernah serius membuat film ato seenggaknya mempunyai niat mulia membangkitkan gairah penonton Indonesia yang loyo dengan memproduksi film berkualitas. Selalu sampah dan mikirin keuntungan tanpa ada pikiran bahwa filmnya sukses mencabik-cabik daya pikir penontonnya.

Mengingat kontroversi judul dan poster yang sudah gue bahas dipostingan sebelumnya, rasanya film ini masih bakal bertahan paling tidak 2 minggu kedepan dengan tujuan membodohi penonton Indonesia.

For your information, gak ada adegan esek-esek di film ini. Hanya sebatas pameran bodi uli auliani yang bisa kita lihat di film-film sebelumnya dan nggak lupa, scene Victoria secret jadi-jadian yang membuat gue pengen lempar tai ke layar!

NB: gue setuju sama para demonstran gunung kidul yang membakar poster film ini. bikin gue pengen ikutan main bakar poster film ini juga. Lebih tepatnya semua poster film produksi K2K! saran aja ya om dheeraj yang uhuy-uhuy *gue nggak tau apa definisi uhuy disini. ngarang aja guenya, haha*, kalo nggak bisa bikin film nggak usah maksa gitu deh. balik aja ke negara lo sono. sumpek-sumpekin gue tau!

rating -0/10

http://www.smileycodes.info

Pocong Ngesot [2011]


he's come back again! nayato fio nuala kembali melakukan penampakan setelah awal febuari lalu meneror kita dengan film berjudul kalung jailangkung yang bisa gue bilang merupakan template sampah dari film jelangkung arahan jose poernomo dan rizal mantovani yang booming pada awal tahun 2000-an.

di film terbarunya ini (yang entah film keberapa, gue males ngitung karena udah kebanyakan eksis dan bikin malu) nayato masih memakai formula yang sama. cara ngedirect yang gitu-gitu mulu, lokasi yang itu-itu dan hampir nggak berubah dari film sampah satu ke film sampah lain, naskah dangkal yang nggak jelas ujung pangkalnya dan pemilihan pemain yang aktingnya gitu-gitu aja: flat, garing, lebay, bisa ngejerit sekencang mungkin dan berani pamer bodi. oh pelis...

dengan tidak penting nayato memilih film bergenre horror komedi yang baru-baru ini lagi 'in' jadi trademark tetapnya untuk bereksplorasi. mungkin sudah bosan dengan drama remaja menyesatkan yang endingnya selalu lebe atau horror yang cuman jual hal-hal basi dengan template cerita yang udah banyak dijumpai? ah, entahlah. ngapain gue pikirin. kayak dia mau aja mikirin efek samping penonton filmnya aja #for example: guweh!.

pocong ngesot, adalah film nayato yang memakai judul pocong setelah pocong kamar sebelah (2009), pocong jalan blora (2009), pocong jumat kliwon (2010) dan pocong rumah angker (2010). mungkin karena dia memang cerdas, akhirnya dinikahkanlah pocong dan suster ngesot sehingga beranak pinak dan kita ketahui sekarang hasil hubungan laknat mereka (setannya, bukan nayato) bernama pocong ngesot.

film ini bercerita tentang... apa ya? dari awal sebenarnya gue udah pengen lemparin tai gue di layar karena film dibuka dengan sangat tidak penting: lomba makan cabe; yang tidak ada hubungan sama jalan cerita bahkan tidak lucu sama sekali. tapi entah kenapa gerombolan cewek SMA dibelakang gue pada ngakak seolah mereka lagi liat nayato striptis. oh pelis...

dan setelah selesai lomba makan cabe, kebodohan demi kebodohan pun mengalir dengan lancar kek jalan tol. bacotan asal jeplak, jejeritan nggak perlu, penampakan super narsis yang gak jelas juntrungannya dari pocong multi gender (maksudnya bentuk manusia si pocong bernama susi bentuk setan bernama susanto) dan tuyul-tuyul. bahkan setelah film berakhir pun gue tetep gak ngerti apa guna film ini diedarkan. untuk membuat gue ketawa, oh pelis, nggak banget. gue nggak ketawa (dan gue udah anggap cewek-cewek dibelakang gue idiot tanpa susah-susah. karena dari awal sampe film selesai mereka nggak berhenti jejeritan sampe gue gak bisa bedain mana jeritan dan mana tertawa). untuk membuat gue muntah, nah, kayaknya itu jawaban paling tepat dari sekian pilihan yang ada.

intinya, lupakan soal cerita. toh nayato bisa membuat film tanpa membaca skenario. sumpah deh, film ini jablay kemana-mana. kalo aja kursi bioskop boleh gue makan, pasti udah gue makan saat itu juga biar emosi gue kembali stabil. lumayan lah hemat duit buat beli makanan. #apaan deh!

rasanya yang paling berkesan dari pocong ngesot adalah ketika gue nungguin antrian tiket sambil ngesot dan twitteran di tangga masuk. haha... pengalaman menonton yang buruk. terima kasih nayato. sampai jumpa lagi dalam waktu dekat. mmuach #sok akrab #abaikan

sebelum gue tutup, gue mau nanya nih sama tembok, kenapa ya hampir disemua filmnya, nggak ada adegan yang NGGAK PAKE KAMAR MANDI BUAT JADI SETTING CERITA? tanya kenapa?

rating 1/10

http://www.smileycodes.info
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...