Arisan! 2 [2011]


“Socialite tuh kan harus social, nggak cuma dateng ke party foto cekrak cekrek masuk majalah dong!” ~ Andien

Delapan tahun adalah jarak yang lumayan panjang untuk sebuah sekuel. Meski sempat diragukan, toh pada kenyataanya Arisan! 2 tetap hadir kembali menyapa para pecinta film pertama yang lumayan hitz di tahun 2003. Tidak ada lagi campur tangan Joko Anwar sebagai penulis skenario. Karena dengan gagah, Nia Dinata yang juga bertindak sebagai sutradara sekaligus produser, melanjutkan apa yang sudah Joko hantarkan dalam prekuelnya.

Diumur yang sudah mendekati kepala empat, banyak hal telah berubah dalam geng arisan. Sakti (Tora Sudiro) dan Nino (Surya Saputra) tak lagi menjalin hubungan. Sebagai seorang sutradara film bertema LGBT, Nino memilih berpacaran dengan brondong kemayu berumur 21 tahun bernama Octa (Rio Dewanto). Sedang Sakti  memilih jadi pria simpanan seorang sugar daddy bernama Gerry (Pong Harjatmo).

Berbeda dengan Meimei (Cut Mini) yang memilih untuk menikmati hidup sendiri pasca perceraian, Andien (Aida Nurmala), janda beranak dua ini, malah menyibukan diri dengan ‘pria-pria’ santapan setelah ditinggal sang suami untuk selamanya. Lalu Lita (Rachel Maryam) yang berprofesi sebagai pengacara dan tengah disibukan dengan pencalonan diri dalam suatu partai, tengah berusaha menjadi single mother yang baik bagi bocah tampan dengan identitas suami yang dirahasiakan.

Seperti dikatakan Rachel Maryam dalam behind the scene Arisan! 2: “sayang banget nonton yang pertama kalo nggak nonton yang kedua” memang benar adanya. Meski dari segi penceritaan terlihat kedodoran akibat terlalu banyak plot saling tumpang tindih dan alternatif penyelesaian yang mau nggak mau terkesan cheesy, ditangan seorang Nia, film ini tetap fun to watch bahkan it's a must! Karena dari sini, kita sebagai orang awam, akan dibuat 'melek sedikit' melihat pergumulan kaum jetset dan topeng-topeng dalam kehidupan mereka. Hell yeah, meski terkadang rada lebay juga sih dibeberapa part. But I don't know why masih terlihat natural.

Berterima kasihlah Nia karena Arisan! 2 didukung oleh ensemble cast yang benar-benar luar biasa. Para pemain lawas nggak usah diragukan lagi gimana aktingnya. Cut Mini, Rachel, Tora, Surya dan Aida terlihat sangat hitz banget membawakan peran masing-masing. Sedang untuk pemain ‘sempalan’ ternyata mampu tampil lebih daripada lima pemain utama tadi. Coba tengok Rio Dewanto yang nggondek, Sarah Sechan dengan tingkah snob-nya, Atiqah Hasiholan yang terlihat so so gorgeous, Edward Gunawan yang calm banget and of course Adinia Wirasti yang tampil begitu berkilau dalam artian sebenarnya!

At least, kalo lo butuh tontonan Indonesia yang ringan, kocak karena sentilan isu dalam balutan satir yang menghibur dengan gaya elegan, bukan corny atau malah menyampah, rasanya sayang banget melewatkan film ini. Simpelnya sih karena Nia Dinata sukses mengajak penonton untuk menikmati sedikit guilty pleasure setelah terjebak stagnansi dalam rutinitas sehari-hari. Lihat saja, selain dibintangi aktor aktris papan atas dan sinematografi yang indah, kita juga diajarkan sesuatu tentang arti sebuah persahabatan: teman datang dan pergi, tapi teman-teman sejati akan selalu di hati.

By the way, jarang-jarang banget kan gue muji-muji kayak gini?

Hot: Yang Jiplak... Yang Jiplak...


Rasanya udah sering ya Indonesia melakukan plagiat or jiplak or something like that. Dari mulai lagu, sinetron, poster film layar lebar sampai isi filmnya sendiri. What the hell's going on? I don't know...

Kini menyusul film-film kacrut lain, yang dijiplak malah semakin tidak bermutu, bahkan hancur, muncul sebuah plagiat baru dari blockbuster perfilman Korea Selatan produksi 2003 yang akan rilis akhir Desember di seluruh Indonesia berjudul My Blackberry Girlfriend. Yup, dari judul emang sudah sedikit mengingatkan dengan My Sassy Girl yang dibintangi oleh Cha Tae Hyun dan Jun Ji Hyun itu. Coba tanya deh, siapa sih yang nggak kenal film ini? Hampir semua pecinta film drama romantis pasti udah nonton dong atau paling nggak, pernah dengar hypenya.

Awalnya sih gue nggak begitu notice sama proyek adaptasi Rapi Films dari novel besutan Agnes Davonar ini. In my opinion, karya-karya Agnes terlalu corny dan lebay untuk ukuran sebuah novel. Jualan dia emang sesuatu yang lagi hitz. Nggak heran kalo banyak produser tertarik mengadaptasi setiap karya dia. Dari mulai kisah Gaby dan Lagunya, Surat Kecil Untuk Tuhan sampai yang baru aja rilis pertengahan bulan November; Ayah, Mengapa Aku Berbeda? hingga yang lagi gue omongin. Dan dua adaptasi novelnya lagi yang akan edar tahun depan di bawah bendera MD Pictures berjudul My Last Love dan My Idiot Brother.

Tapi setelah ngelihat trailer My Blackberry Girlfriend gue langsung syok dan pengen bentur-benturin jidat di tembok dengan bersahaja. Kok mirip? Nah, gue langsung aja ubek-ubek google dan nggak lupa buka website resmi Agnes Davonar sendiri. Dan dilihat dari sinposis serta pernak-perniknya memang terlihat amat mirip. Oh come on! Kalau nggak percaya coba compare dua trailer film yang lagi gue omongin dibawah ini!



Gue juga nemuin dua film hasil plagiat yang masuk daftar rilis tahun 2011. Film pertama adalah Skandal yang 80% mirip dengan box office India berjudul Murder besutan Anurag Basu sampai 13B yang dijiplak dengan trash quality oleh The King of Kancut; KKD, menjadi Pelukan Janda Hantu Gerondong. Mirip gimana-gimananya nggak bisa gue jelasin dengan detail sih secara gue agak gaptek dalam soal membuat skrinsut. Kalo curious boleh deh lihat filmnya via donlod atau youtube.



Terakhir, gimana yah tanggapan kalian dengan poster film-film ini? Aduh gue pengen ngakak nih...


Poconggg Juga Pocong [2011]


"ketika galau datang menghampiri, bershowerlah.." ~ Poconggg

Arief Muhammad, remaja yang coba mencetak sejarahnya hari ini. Berkat sebuah keisengan, dia menjadi sosok yang sangat diperbincangkan. Hingga pada suatu saat kesempatan datang untuk menuliskan sampah-sampahnya dalam sebuah buku which we then call Poconggg Juga Pocong. Meski nggak ngefollow dia di twitter bersama 1,321,626 ababil lainnya yang tertera dalam akun saat terakhir me-recheck, gue tau bahwa @Poconggg adalah seleb tweet. Begitu juga ketika Maxima Pictures coba mengambil keuntungan dari keeksisan sosok yang lagi hype dimana-mana ini. Maka jadilah Poconggg Juga Pocong The Movie, yang naskah filmnya dikembangkan oleh Haqi Achmad dan Arief Muhammad dari rangkaian cerita random dalam buku.

Dimas (Ajun Perwira) masuk golongan cowok cupu di SMA. Fortunately he’s not alone. Karena ada Sheila (Saphira Indah), sahabat plus seseorang yang Dimas puja setengah hidup, yang sedikit-banyak bisa memperbaiki taraf kecupuannya di masa SMA.

Kelamaan memuja dalam diam, membuat Dimas ngerasa hidupnya nggak lengkap. Therefore dia menyusun rencana menembak Sheila bertepatan dengan April Mop. Karena menurut hematnya, kalo nanti yang didapat adalah sebuah penolakan, dia tinggal bilang: “gotcha, april mob!” dan fakta yang terjadi memang begitu. Semenjak itu, hidup Dimas berubah. Karena ketika bangun keesokan hari, dia sudah bertransformasi menjadi seikat Pocong yang tetap aja dianggap cupu oleh Anjaw (Rizki Mocil) and the gank meski sudah hidup di dunia setan. Dimas pun makin galau begitu tahu Sheila sudah tak mungkin tergapai lagi.

Berkat kekepoan tiada tara, gue menyempatkan beli buku Poconggg. Honestly, novelnya garing biadap. Udah tipis, mahal, kriuk pula. Gue bingung apa yang membuat buku ini best seller. Karena yang nulis @Poconggg? Of course, yes! Dan semakin menyangsikan filmnya begitu melihat beberapa cast seperti Rizky Mocil yang emang langganan Maxima, Guntur Triyoga and the fact kalo gue sentimen sama akting sok cool-nya dan langsung pingsan dengan anggun begitu melihat nama sutradara yang dipilih: Jeng Chiska Doppert! Serius, gue langsung galau. Beruntung ada nama Nycta Gina, mantan gue pas jaman SD, masuk ke jajaran pemain utama. Setidaknya ada alasan krusial buat gue menonton film ini. Dan bagaimanakah hasil akhirnya pemirsa?

Gue bingung mau nyalahin siapa ketika #PJPTheMovie tak mampu membuat gue ketawa. Akting ensemble cast, Chiska Doppert atau editor filmnya yang terlihat sangat amatir? Entahlah.. Yang jelas film ini sekriuk novelnya. Padahal dilihat dari segi naskah yang dialognya hitz banget di ranah twitter, gue yakin kalo bakalan ketawa kayang. Tapi yang terjadi, gue malah berulang kali ngebatin “oh come on!”. Hal ini membuktikan kalo Jeng Chis tak perlu memaksa dirinya untuk terus-menerus berada di jalur komedi. Dia nggak punya naluri itu. Komedi nya nggak mampu dia visualin dengan baik. Padahal uda yakin adegan slapstick di film ini bisa mengundang tawa penonton pada umumnya, gue pada khususnya.

Itu masih naskah dan proses visualisasi, gimana dengan akting si Poconggg? Nggak usah berharap banyak deh ya. Ajun Perwira sebagai pionir utama tak mampu berakting lepas alias kurang greget. Nycta Gina yang gue jadiin alasan pun nyatanya tampil senada. Malah mengingatkan gue akan aktingnya sebagai Jeng Kelin.

Untungnya, #PJPTheMovie tidak terlalu jatuh ke jurang seperi pendahulunya, Kambing Jantan, yang dobel kriuk plus dobel garing level 10. Eh kok kayak maicih? Gue iklan nih! Harusnya presiden maicih kasih gue royalti dongs!. Faktanya film ini masih memiliki beberapa poin menarik seperti soundtrack yang ear catchy dan perbendaharaan kata baru yang kemungkinan sedang dan akan trend.

In the end, ini cuma masalah selera. Kalo sebagian orang suka dengan komedi yang ditawarkan oleh sosok dibalik seikat @Poconggg yang jadi fenomena di dunia pertwitteran saat ini, sah-sah aja. Kalopun ada yang tidak menyukai, itu juga sah-sah saja. Karena tawaran komedi khusus ditujukan untuk pangsa abegeh yang kemakan hype Pocong hobi galau ini -___-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...